Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Putri Ani Saraswani tidak bisa menghindari kedatangan ayahandanya yang datang bersama Permaisuri Titir Priya dan Pangeran Tirta Gambang.


“Dari mana saja kau, Ani?” tanya Prabu Galang Digdaya agak membentak, padahal langkahnya belum berhenti dan putrinya juga belum menjura hormat. Pertanyaan lanjutan langsung menyusul bertubi-tubi, “Kau pasti dari Sanggana Kecil menyusul Joko Tenang? Apa yang terjadi denganmu sehingga dengan mudahnya kau masuk dalam jeratan asmara Prabu Dira pendusta itu? Tidak ada tujuan lain Prabu Dira menjeratmu dengan pesona cintanya selain untuk mengincar kekuasaanku di sini.”


“Sembah hormatku, Ayahanda,” ucap Putri Ani sembari menjura hormat. Dia bersikap tenang, meski telinganya panas mendengar Joko Tenang alias Prabu Dira dijelek-jelekkan.


Rincing Kila pun turun bersujud di lantai menghormat.


“Bangunlah!” perintah Prabu Galang dangan nada pelan dan menarik kedua sudut bibirnya ke dalam.


Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila bangkit berdiri. Sang putri melirik tajam kepada Pangeran Tirta Gambang.


“Kakak Putri jangan termakan fitnah bohong kepadaku. Aku tidak pernah memerintahkan seseorang pun untuk membunuh Kakak!” kata Pangeran Tirta Gambang menyangkal.


“Iya, Ani. Adikmu tidak terlibat sedikit pun di balik penyerangan-penyerangan itu,” kata Permaisuri Titir Priya yang mendekati putrinya dengan nada suara dan gerakan yang lembut.


“Tidak usah membahas itu. Aku hanya ingin kau menjawab dengan jujur, apakah Prabu Dira telah menodaimu,” kata Prabu Galang kepada putrinya.


Cukup terkejut Putri Ani di dalam hati mendengar perkataan ayahnya. Akal Putri Ani segera bermain.


“Iya. Prabu Dira telah menodaiku,” jawab Putri Ani dingin.


Terbeliaklah Prabu Galang, Permaisuri Titir Priya, Pangeran Tirta Gambang, dan Rincing Kila.


Khusus Rincing Kila, dia tidak menyangka mendnegar pengakuan itu. Ternyata ada satu kejadian yang luput dari pengawasannya, padahal dia pengawal pribadi Putri Ani.


“Gusti Prabu Dira telah menjamahku. Karenanya aku telah melupakan Agi Lodya dan kini Gusti Prabu Dira adalah lelakiku,” tandas Putri Ani.


“Benar-benar raja mata keranjang. Dia tidak bisa melihat perempuan cantik sedikit pun!” maki Prabu Galang, benar-benar emosi. Dia kepal kedua tangannya kuat sambil melangkah bolak-balik seperti seterikaan berkabel.


“Alangkah baiknya jika kau menikah dengan Prabu Dira secepatnya. Akan menjadi aib besar bagi Istana jika perutmu sampai membesar lebih dulu, Ani,” kata Permaisuri Titir Priya.


Terbeliak Putri Ani karena sudah diduga hamil, padahal dia mengenal Joko Tenang baru sekitar sepuluh hari.


“Tidak. Aku tidak mau menjadi yang kedua belas,” bantah Putri Ani.


“Menjadi yang kedua belas hanya kebagian ibu jari kaki Prabu Dira. Hahaha!” celetuk Pangeran Tirta Gambang lalu tertawa sendiri.


“Pangeran!” hardik Permaisuri Titir Priya sambil menatap tajam putranya.


Pangeran Tirta Gambang jadi diam, tapi tersenyum.


“Ini semua karena kesombongan Ayahanda yang menolak tawaran kerja sama Prabu Dira!” tukas Putri Ani.

__ADS_1


Terbeliak Prabu Galang Digdaya disalahkan. Ia jadi emosi, tapi masih ditahan.


“Aku melakukan langkah yang benar dengan menolak semua tawaran Kerajaan Sanggana Kecil. Pasir Langit adalah kerajaan kuat dan tidak terkalahkan. Aku tidak akan menurut diatur-atur oleh Sangana Kecil hanya karena katanya mereka memiliki raja dan para permaisuri yang sakti-sakti. Baru katanya, mereka tidak mengenal siapa Prabu Galang Digdaya sebenarnya,” kata Prabu Galang membela diri.


“Tapi akibatnya aku yang menjadi korban,” kata Putri Ani yang sengaja menyisipkan sandiwara untuk sekedar menyalahkan ayahnya yang masih dia benci.


“Bagaimana jika perutmu terlanjur membesar dan kau belum dinikahi oleh Prabu Dira? Ini akan mempermalukan Gusti Prabu, Ani. Prabu Dira harus bertanggung jawab,” tandas Permaisuri Titir Priya.


“Aku tidak peduli, seperti Ayahanda tidak pernah peduli dengan perasaanku di masa lalu. Aku tidak akan mempermasalahkan jika aku hamil tanpa suami dan putraku tanpa ayah,” kata Putri Ani.


Terbeliak lagi Prabu Galang dan istrinya mendengar perkataan putrinya.


“Anak kurang....” Gusarnya Prabu Galang, tapi dia masih mencoba menahan diri. Lalu katanya, “Aku akan memaksa Prabu Dira untuk menikahimu. Jika tidak, akan aku hadapi sebagai seorang ayah dari anak gadisnya. Biarkan satu raja yang tetap berkuasa. Apakah Raja Pasir Langit, atau Raja Sanggana Kecil!”


“Kakang Prabu ingin datang ke Sanggana Kecil?” tanya Permaisuri Titir Priya.


“Ini masalah kehormatanku. Jika Prabu Dira tidak mau bertanggung jawab, akan aku serang Kerajaan Balilitan lebih dulu!” tandas Prabu Galang.


“Aku tidak peduli apa yang ingin Ayahanda Prabu lakukan. Yang ingin aku tahu, jika bukan adikku yang berencana membunuhku, lalu apakah Ayahanda sudah tahu pelaku sebenarnya?” tanya Putri Ani.


“Mahapatih Olo Kadita.” Yang menjawab justru Pangeran Tirta Gambang, membuat Prabu Galang tidak bisa menutupi lagi meski punya niat.


“Lalu kenapa Ayahanda belum menangkapnya?” tanya Putri Ani.


“Besok, aku akan berangkat ke Sanggana Kecil untuk menuntut Prabu Dira agar menikahimu!” tandas Prabu Galang.


Setelah berkata seperti itu, Prabu Galang balik kiri dan melangkah pergi meninggalkan kamar Wisma Keputrian.


Putri Ani dan Rincing Kila lalu menjura hormat mengiringi kepergian ayah dan ibunya. Tinggallah Pangeran Tirta masih berdiri di tempatnya.


Melihat adiknya tidak ikut pergi, Putri Ani menghardik.


“Kenapa kau tidak pergi? Aku sedang marah!”


Terkesiap Pangeran Tirta Gambang lalu tersenyum getir. Pangeran itu lalu memutuskan pergi.


“Gusti Putri, apakah benar Gusti Prabu Dira sudah merenggut kesuci....”


“Kau pikir aku gadis murahan?!” bentak Putri Ani marah, seketika membuat Rincing Kila terdiam. Lalu katanya dengan pelan, “Gusti Prabu Dira sekarang adalah lelakiku, satu-satunya lelaki yang aku cintai. Aku ingin bersamanya tanpa gangguan siapa pun. Aku ingin bersamanya tanpa ada bayang-bayang ratu dan permaisurinya. Karena itulah, aku ingin menjadi ratu. Aku ingin nanti posisiku seperti Ratu Balilitan. Jadi tahta itu harus aku rebut.”


Merinding Rincing Kila mendengar niatan junjungannya. Jika ada yang mendengar dan melapor lebih dulu, bisa habis karir hidupnya.


“Panggil Kalawit!” perintah Putri Ani.


“Baik, Gusti,” ucap Rincing Kila.

__ADS_1


Seperginya Rincing Kila, Putri Ani pergi ke meja tulisnya. Dia mengambil serangkaian lontar dan alat tulis. Dia ingin menulis poin-poin tuntutannya kepada Prabu Dira.


Sementara itu, dalam perjalanannya kembali ke Istana Keprabuan, langkah Prabu Galang dihadang oleh seorang prajurit pembawa pesan.


“Hamba prajurit dari perbatasan timur, Gusti Prabu. Ingin mengabarkan bahwa pasukan Kerajaan Sanggana Kecil telah sampai di perbatasan timur dalam jumlah besar!” lapor prajurit itu setelah menjura hormat. Laporannya lancar.


“Apa?!” kejut Prabu Galang. “Prabu Dira ternyata tidak main-main. Dia benar-benar ingin menguasai kerajaanku. Kecurigaanku sebelumnya ternyata benar.”


“Kakang Prabu harus segera mengirim utusan tentang tuntutan pernikahan ini agar perang tidak lebih membesar,” kata Permaisuri Titir Priya.


“Tenang saja, Permaisuri. Jika pasukan Kerajaan Sanggana Kecil berani menyerang masuk ke wilayah Pasir Langit, mereka akan menemui kematian di tangan Pasukan Kaki Gunung. Hahaha!” kata Prabu Galang lalu tertawa kecil, membayangkan pasukannya dengan digdayanya menghancurkan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.


“Kakang Prabu jangan menganggap enteng serangan ini. Kita sudah diserang dari dalam dan luar,” kata Permaisuri Titir Priya.


Perkataan sang istri membuat Prabu Galang terdiam sejenak. Dia berpikir.


“Aku jadi yakin, serangan yang dilakukan oleh Mahapatih ada hubungannya dengan serangan yang dilakukan oleh Prabu Dira,” ucap Prabu Galang. Lalu panggilnya, “Kucari!”


“Hamba, Gusti Prabu,” sahut pendekar wanita tangan kiri raja.


“Kirim orang untuk memanggil Senopati Kampala!”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Kucari sembari menjura hormat.


Namun, tidak sampai setengah hari, Senopati Kampala yang berbasis di markas militer terbesar Kerajaan Pasir Langit di luar Ibu Kota, datang dengan membawa kabar buruk.


“Pasukan perbatasan timur telah kalah dan menyerah kepada pasukan Kerajaan Sanggana Kecil, Gusti!” lapor Senopati Kampala.


“Apa?!" kejut Prabu Galang bukan main. Ternyata hasil perang di perbatasan timur di luar espektasinya. “Berapa banyak pasukan musuh?”


“Sekitar tiga ribu kekuatan, Gusti,” jawab Senopati Kampala.


“Huh! Hanya tiga ribu,” ucapnya meremehkan. “Kerahkan sapuluh ribu pasukan darat ke wilayah timur untuk mencegah pasukan itu mendekati Ibu Kota.”


“Baik, Gusti Prabu.”


“Perintahkah kepada Laksamana Dudung Kulo untuk menyiapkan pasukan lautnya, jika-jika dibutuhkan naik ke darat!”


“Baik, Gusti Prabu.” (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan: Assalamu 'alaikum, Readers yang tercinta


Sehubungan Author sedang sakit, tapi berjuang tetap up, untuk sementara komentar kalian Author baca, tapi tidak Author balas atau like satu-satu. Semoga Author cepat sembuh dan tenang di sisi-Nya. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2