Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Prak prak prak...!


Para prajurit Pasukan Gajah Besi gelombang kedua melemparkan kendi-kendi yang mereka bekal ke badak-badakan Pasukan Kaki Gunung.


Kendi-kendi itu pecah di lapisan perisai-perisai. Ternyata kendi itu mengandung minyak kental. Baunya yang menyengat seketika menyebar di udara. Pasukan Kaki Gunung pun terkejut. Jika ada minyak, itu artinya mereka akan dibakar. Namun, tidak terlihat ada yang membawa api.


“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!”


Setelah melempari badak-badakan lawan dengan kendi minyak, para prajurit Gajah Besi kembali berteriak-teriak garang, seolah-olah itu adalah cara menaikkan performa tarung mereka. Entah kalau tarung di ranjang, mungkin gayanya sama.


Mereka lalu menyerbu badak-badakan. Tombak-tombak panjang yang menjadi senjata badak-badakan itu tidak berguna.


Ctar! Ctar! Ctar...!


Prajurit-prajurit Gajah Besi mengadukan kedua tinjunya di dekat lapisan perisai badak-badakan. Percikan sinar putih menyilaukan mata tercipta yang efeknya langsung membakar lapisan perisai yang dibaluri minyak kental.


Api pun berkobar cukup besar pada setiap badak-badakan yang mencoba melawan dengan serudukan. Para prajurit di dalam susunan perisai jadi panik. Bukan hanya dibakar sisi luar perisai mereka, tetapi prajurit-prajurit Gajah Besi juga mencoba membongkar badak-badakan itu dengan berbagai cara.


Ada yang ramai-ramai memukuli badak perisai seperti sekawanan kingkong yang memukuli mobil tertutup. Ada yang menggenggam tombak-tombak lalu menariknya dengan kuat. Untuk perbandingan tenaga, prajurit-prajurit Gajah Besi lebih kuat. Jadi, kalau adu-aduan tarik tombak, jelas prajurit Gajah Besi menang.


Prajurit Kaki Gunung yang tertarik keluar dari formasi Badak Berduri akan langsung dihabisi dan dikeroyok ramai-ramai.


Setelah formasi badak-badakan dibuat hampir hancur, sebagian Pasukan Gajah Besi melanjutkan menyerang ke barisan panah tombak.


“Panah!” teriak komandannya.


Set set set...!


Maka sebanyak puluhan anak panah tombak dilepaskan kepada pasukan yang datang.


Namun ternyata, pasukan panah tombak itu tidak lebih baik dari pasukan formasi Badak Berduri.


Ada beberapa prajurit Gajah Besi yang badan depannya terkena panah tombak, tetapi itu hanya membuat prajurit tersebut terdorong mundur dan jatuh, lalu meringis kesakitan tanpa menderita luka yang berdarah.


Sementara yang lain bisa menghindar dan menangkis. Ada pula yang melompat langsung ke prajurit panah, tetapi mengedepankan cangkangnya.


Di saat pasukan itu terus bertempur, Perwiratama Gonggong Sewa telah berlari di udara meuju ke posisi Panglima Untut yang saat itu berpenampilan ala nelayan desa. Maklum orang sakti.


Sest sets! Bess bess!


Kedatangan Perwiratama Gonggong Sewa langsung disambut dua sinar sabit warna merah. Sigap Gonggong Sewa menyilangkan kedua tangannya di depan badan, memunculkan lapisan sinar biru yang menamengi dirinya. Dua sinar sabit milik Panglima Untut termentahkan.

__ADS_1


Jleg!


Perwiratama Gonggong Sewa mendarat keras di depan Panglima Untut, sampai-sampai debunya menyeruak ke wajah sang panglima. Namun, itu bukan masalah. Panglima Untut langsung menerobos angin debu dengan serangan tinju yang beringas.


“Cari mati kau, Monyet!” teriak Panglima Untut.


Dak dak dak...!


Tinju bertubi-tubi Panglima Untut ditangkis dengan kokoh oleh Gonggong Sewa mengandalkan besi-besi perisai di kedua tangannya, sehingga terdengar bunyi tangkisan yang keras.


Dakk!


“Hukk!” keluh Panglima Untut saat tinjunya diadu dengan tendangan sepatu besi Gonggong Sewa. Ternyata tendangan itu mengandung tenaga dalam tinggi.


Panglima Untut sampai terjajar dua tindak. Setelah itu, giliran Gonggong Sewa yang mengagresi Panglima Untut dengan tinju-tinju bermata tombaknya.


Cras cras!


“Aaakh! Akk!” jerit Panglima Untut ketika dua tangannya terkena goresan mata tombak sebanyak dua kali.


Sebagai orang yang merasa sakti, Panglima Untut cukup mengelaki tonjokan Gonggong Sewa dengan miring kanan dan miring kiri. Dia bahkan tidak ngeri ketika mata tombak di tinju Gonggong Sewa hanya berjarak setengah jengkal dari cuping hidungnya.


Namun, ada satu gerakan yang mengejutkan Panglima Untut dan membuatnya tidak bisa menghindar. Ketika dia menghindar dengan cara memiringkan badan atas dan membiarkan tombak tinju menusuk ruang kosong satu jengkal dari wajahnya, tiba-tiba Gonggong Sewa mengibaskan tinjunya ke samping mengincar leher.


“Monyet keparat!” maki Panglima Untut sembari menahan sakit.


Sest sets! Bess bess!


Panglima Untut yang melompat mundur kembali mencoba peruntungan dengan melesatkan dua sinar merah berwujud sabit. Namun lagi-lagi, Gonggong Sewa menangkis dengan perisai sinar birunya.


Sross!


Setelah menangkis, Gonggong Sewa memunculkan seberkas sinar merah di tangannya kanannya. Dia lalu mengulurkan tangannya yang bersinar merah dengan tatapan tajam kepada Panglima Untut.


“Cung kuncung pucung ketuntung-ketuntung pucung,” rapal Gonggong Sewa yang entah apa artinya. Sepertinya itu bahasa dari alam gaib. Kemudian dia berteriak keras, “Jangan lepaaas!”


Seiring teriakan keras itu, Gonggong Sewa melakukan lemparan sekuat tenaga.


Srusss!


Sinar merah itu melesat dalam wujud bola api berekor panjang. Namun anehnya, lesatannya tidak langsung mengarah ke posisi Panglima Untut. Panglima Untut yang sudah mau menghindar jadi heran dan menahan gerakannya, lebih kepada memandang mengikuti gerakan sinar merah sebesar kelapa itu.


“Monyet!” maki Panglima Untut karena sinar itu melesat terbang memutarinya, seolah-olah sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghantam.

__ADS_1


Tsuk!


“Ekrr! Mooo ... nyeeet!” erang Panglima Untut sangat kesakitan tanpa lupa memaki.


Di saat Panglima Untut fokus mewaspadai sinar merah berekor yang terbang memutarinya, tiba-tiba dari belakang tengkuknya ditusuk oleh tombak tinju Gonggong Sewa. Ujung tombak di tinju Gonggong Sewa sampai tembus sedikit ke leher depan.


Darah langsung mengucur deras dari lubang leher Panglima Untut, terlebih ketika Gonggong Sewa menarik tinjunya yang juga mencabut mata tombaknya.


Ketika Panglima Untut hendak jatuh tumbang, Gonggong Sewa mencengkeram tengkuknya dengan tangan kiri.


Srusss!


Gonggong Sewa mengangkat tangan kanannya dengan pengerahan tenaga dalam. Sinar merah yang terbang berputar-putar melesat nemplok ke tangan kanan itu.


Srusss!


Gonggong Sewa melempar bola sinar merah itu jauh ke tengah-tengah Pasukan Kaki Gunung yang belum turun bertempur.


“Awaaas!” teriak prajurit di tengah barisan sambil buru-buru meninggalkan posisinya.


Bluarr!


Ledakan hebat terjadi yang mengejutkan semua prajurit. Ledakan itu membuat udara yang meliputi mereka juga bergetar.


Meski tidak ada yang terkena langsung oleh bola sinar merah berekor, tetapi ledakannya yang hebat mementalkan sejumlah prajurit. Mereka tidak mati, tapi cukup sekedar patah-patah tulang.


“Panglima Pasukan Kaki Gunung sudah matiii!” teriak Perwiratama Gonggong Sewa sambil mengangkat tinggi mayat PanglimaUntut yang lehernya masih mengucurkan darah.


“Huaaa...!” sorak Pasukan Gajah Besi sambil angkat kedua tangannya tinggi-tinggi memperlihatkan aneka rambut ketiaknya.


Terdiamlah seluruh prajurit Pasukan Kaki Gunung.


“Menyerah! Jatuhkan senjata kaliaaan!” teriak Gonggong Sewa mengandung tenaga dalam, sehingga menggema jelas dan didengar oleh semua prajurit.


Tlang!


Salah satu komandan Pasukan Kaki Gunung menjatuhkan senjata dan tamengnya lebih dulu, tanda menyerah. Itu kemudian diikuti oleh seluruh prajurit di dalam pasukannya.


Komandan yang lain akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan senjata dan tameng yang kemudian diikuti oleh seluruh prajurit Pasukan Kaki Gunung.


“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!” teriak para prajurit Gajah Besi sebagai ekspresi kemenangan mereka. Hampir tidak pernah mereka terdengar berkata-kata selain berteriak.


Dengan menyerahnya Pasukan Kaki Gunung penjaga perbatasan timur wilayah Kerajaan Pasir Langit, Panglima Raksasa Biru menjalankan gajahnya, yang kemudian diikuti oleh seluruh pasukan yang belum turun bertempur.

__ADS_1


Semakin mendekat gajah itu, semakin jelas pasukan musuh melihat wujud Panglima Raksasa Biru. (RH)


__ADS_2