
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Lihat, ini ada guratan yang menjadi tanda siapa yang membuat pedang ini,” tunjuk Joko Tenang kepada pangkal bilah pedang yang kini dipegang oleh Putri Ani Saraswani.
Joko Tenang kini duduk di sisi Putri Ani, membuat sang putri merasa lebih grogi, terlebih pemuda berbibir merah itu sepertinya memakai parfum merek luar negeri. Tidak ada bau-bau keteknya sama sekali, padahal tadi sudah bertarung dan mengeluarkan banyak tenaga saat pengobatan.
Putri Ani memilih harus kuat-kuat hati dan sabar-sabar jantung.
“I-i-iya,” ucap Putri Ani tergagap. Ternyata putri raja itu bisa tergagap juga.
Joko Tenang sebagai seorang yang sangat berpengalaman terhadap perempuan, bisa menduga kuat kenapa sang putri jadi tergagap seperti itu, terlebih warna wajahnya menunjukkan rona malunya.
“Maafkan aku, Gusti Putri,” ucap Joko Tenang seraya tersenyum sadar diri.
Joko Tenang lalu berpindah tempat kembali ke seberang meja. Putri Ani jadi terbeliak karena terkejut, seolah-olah dia tidak mengharapkan itu terjadi.
Entah kenapa Putri Ani merasa lebih suka jika Joko Tenang duduk di sisinya, membawanya ke suasana masa lalu yang sudah sangat lama tidak dia rasakan lagi. Namun, hari ini dia kembali merasakan rasa itu, bahkan lebih bahagia meski bercampur kekikukan dan ke-maluan.
Pelukan kencang Joko Tenang yang membuat mereka saling beradu dada saat pertarungan, masih terasa kekhasan rasanya. Mungkin itu akan menjadi kenangan abadi dan satu-satunya momentum unik bagi sang putri yang rasanya gado-gado. Malu, bahagia, dan sakit beraduk satu di saat sakratul maut datang kepadanya.
Malu karena saat itu Joko Tenang masih rasa lelaki asing. Bahagia karena sebelumnya Putri Ani diam-diam sudah terkontaminasi oleh radiasi pesona Joko. Dan sakit karena memang lukanya memberi sakit yang menuju kepada kematian.
“Kenapa kau pindah, Joko?” tanya Putri Ani dengan senyum dan tatapan menyelidik.
“Ah tidak. Aku sepertinya membuat Gusti Putri tidak nyaman,” jawab Joko Tenang sembari tersenyum.
“Tidak apa-apa, aku merasa tidak terganggu,” kata Putri Ani buru-buru klarifikasi, agar tidak menjadi kabar abu-abu di mata netizen.
“Tapi, tentunya tidak mungkin aku berpindah lagi,” kata Joko Tenang dengan senyuman terkesan menggoda.
“Hihihi!” tawa Putri Ani mendengar perkataan Joko.
“Lagi pula, aku hanya seorang tukang kayu, tidak sepatutnya mensejajarkan diri dengan Gusti Putri,” kata Joko lagi.
“Kau terlalu merendah, Joko. Pertolonganmu kepadaku seharusnya membuatku harus memujamu,” kata Putri Ani sembari tersenyum seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
“Pertolongan yang berbuat lancang kepada Gusti Putri,” tambah Joko Tenang dengan senyum yang semakin lebar.
__ADS_1
“Jangan kau mengingatkan bagian yang itu, Joko, karena aku tidak akan bisa melupakannya dan akan membuat aku selalu malu hati,” kata Putri Ani lalu tertunduk malu, tapi tersenyum bahagia.
“Oh iya, Gusti. Jika pembunuhan terhadap Menteri terhubung pula dengan penyerangan kepada Gusti Putri, apakah tidak menutup kemungkinan ada target lain?” ujar Joko Tenang mengalihkan alur obrolan. Dia sadar bahwa pesonanya terlalu tinggi bagi seorang wanita, ia khawatir Putri Ani justru mabuk kepayang. Jika itu terjadi, mungkin Joko Tenang akan asik-asik saja, tapi akan berbahaya bagi hati dan perasaan sang putri.
Mendengar perkataan Joko Tenang, pikiran Putri Ani seolah-olah jadi terbuka dan menemukan sesuatu.
“Apakah para pembunuh itu membidik para pejabat yang dekat denganku?” tanya Putri Ani dengan kening berkerut serius.
“Jika pembunuhannya berencana matang seperti ini, biasanya orang di belakangnya pasti dikenal oleh korban. Gusti Putri adalah target yang memiliki status paling tinggi, itu berarti, bisa saja orang terdekat dengan Gusti Putri yang juga menjadi target bunuh, memiliki posisi yang lebih rendah,” kata Joko Tenang.
“Selain Menteri Ketahanan Pangan, dua menteri lain yang dekat denganku adalah Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan Hasil Laut. Berarti mereka juga dalam bahaya,” kata Putri Ani tegang.
“Mungkin jika memang misi pembunuhannya dilakukan di hari yang sama,” kata Joko Tenang.
“Jika begitu, kita harus ke rumah Paman Badaragi, Joko,” kata Putri Ani.
“Tapi, bukankah Gusti Putri sedang menunggu baju?” tanya Joko.
“Nyawa Paman Badaragi lebih penting dari punggungku,” kata Putri Ani sambil bangkit.
Joko Tenang bangkit sambil melepas rompi pusakanya. Seperti adegan-adegan mesra di film-film komedi, Joko Tenang lalu menempelkan sendiri rompinya ke punggung Putri Ani yang hanya diam berdebar melihat tindakan pemuda kepala tiga itu.
Dengan demikian, punggung Putri Ani jadi tertutup.
“Pakailah rompiku ini, tapi jangan lupa dikembalikan nanti,” kata Joko Tenang.
Putri Ani Saraswani kembali tersenyum malu karena perlakuan Joko Tenang yang begitu mengistimewakannya. Pada masa itu, perhatian meminjamkan baju demi melindungi seorang gadis belum populer. Namun, kalau meminjamkan uang sudah hal yang biasa, tentunya dengan bunga uang.
“Pasti akan aku kembalikan. Jika tidak, pasti akan aku simpan sebaik mungkin,” ucap sang putri sambil tertawa kecil cekikikan, seolah-olah lupa bahwa dia tadi hampir mati. Mungkin judul kebersamaan mereka adalah “Maut Berlalu, Cinta pun Bersemi”.
Putri Ani pun memasukkan kedua tangannya ke lubang lengan rompi pusaka tersebut. Setelah mengenakannya dengan sempurna, dia merasakan kehangatan yang nyaman.
“Rompimu sangat nyaman, Joko,” kata Putri Ani.
Joko Tenang hanya tersenyum. Sepertinya sang putri belum tahu bahwa itu rompi bukan sembarang rompi, tetapi rompi yang diwarisi.
Putri Ani lalu berjalan. Joko Tenang mengikuti.
__ADS_1
“Paman!” panggil Putri Ani.
“Hamba, Gusti Putri!” sahut Pantri Ewa lalu berjalan cepat mendatangi sang putri.
“Jika Rincing Kila atau Komandan Rambut Awut datang ke sini, suruh menyusulku ke kediaman Menteri Keuangan!” perintah Putri Ani.
“Baik, Gusti Putri,” ucap Pantri Ewa patuh. “Tapi bagaimana kalau ada pejabat yang datang bertanya tentang tutupnya rumah makan ini?”
“Paman pikirkan saja alasan yang masuk akal, tapi tidak membuat penyerangan itu ketahuan,” jawab Putri Ani.
“Baik, Gusti,” ucap Pantri Ewa jadi pusing sendiri.
“Aku pinjam satu kudamu, Paman,” ucap Putri Ani.
“Iya, Gusti,” ucap Pantri Ewa lagi.
Putri Ani Saraswani lalu berjalan lebih dulu menuju ke halaman rumah makan tersbut.
“Pendekar Joko!” panggil Pantri Ewa setengah berbisik, membuat Joko Tenang menahan langkahnya dan kembali memandang pemimpin tempat itu. Lalu katanya lagi setengah berbisik, “Tolong lindungi Gusti Putri.”
“Iya, Ki,” ucap Joko Tenang sembari tersenyum kepada Pantri Ewa.
Putri Ani Saraswani sudah naik ke punggung kudanya. Joko Tenang yang sebelumnya datang ke tempat itu tanpa kuda, menaiki kuda milik Pantri Ewa.
Joko Tenang dan Putri Ani Saraswani berkuda bersama meninggalkan tempat itu. Pantri Ewa memandang kepergian keduanya dengan senyum yang kecil. Ia menaruh khawatir kepada Putri Ani.
Singkat cerita.
Joko Tenang dan sang putri tiba di kediaman Menteri Kuangan. Para prajurit jaga menjura hormat dan menyambut kedua kuda.
Dari arah belakang rumah utama muncul Badira. Melihat sahabatnya datang bersama si cowok ganteng, bukan dengan Rincing Kila, Badira hanya bisa ternganga tidak percaya. Sebab, belum sampai sehari Putri Ani kenal dengan Joko Tenang, tetapi kenapa sudah mesra begitu?
“Paman ada di mana, Badira?” tanya Putri Ani langsung kepada sahabatnya itu.
“Pastinya ada di Instana,” jawab Badira sambil melirik kepada Joko Tenang. Lalu tanyanya, “Bukankah janji dengan Ayah sore hari?”
“Bukan perkara itu. Ini perkara yang lebih genting,” jawab Joko Tenang. (RH)
__ADS_1