
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Alangkah terkejutnya Rayu Pelangi ketika tahu bahwa ayahnya diculik oleh lelaki sakti berbibir merah seperti perempuan, tapi bukan perempuan karena dia berjakun.
Yang lebih mengejutkan, ia, ibunya, dan seluruh orang yang bekerja di kediamannya harus dijemput oleh Pasukan Kaki Gunung. Dengan diculiknya Mahapati Olo Kadita, maka istri, anak serta seluruh pekerja dan prajurit di kediaman itu otomatis menjadi tersangka sementara, menurut hukum praduga bersalah Kerajaan Pasir Langit. Apalagi Prabu Galang Digdaya sudah tahu bahwa mahapatihnya adalah dalang pembunuhan dua menteri.
Ramu Kalila dan Rayu Pelangi pun merasakan apa yang pernah dirasakan oleh istri dan anak mendiang Menteri Aduh Mantang dan Balelewa. Namun, keluarga kedua mendiang menteri itu sudah dibebaskan kemarin.
Yang tidak disangka lagi, Prabu Galang juga memerintahkan penangkapan Menteri Sangka Ulet selaku adik Mahapatih Olo Kadita dan Menteri Ampi Dewata yang merupakan kakak ipar Ramu Kalila. Kedua kerabat Mahapatih itu naik menjadi menteri menggantikan dua menteri yang dibunuh atas perintah sang mahapatih.
Namun, Mahapatih Olo Kadita harus ditemukan, apakah dia benar-benar diculik atau sekedar sandiwara pura-pura diculik untuk mengamankan diri. Hingga saat ini, Prabu Galang Digdaya masih memiliki kecurigaan bahwa Mahapatih dan Prabu Dira bersekongkol. Dia menduga Prabu Dira bertugas menyerang dari luar dan Mahapatih Olo Kadita menyerang dari dalam.
Di saat anak buah Rempak Tujuh melakukan interogasi terhadap keluarga besar Mahapatih di Penjara Kayu Hitam, pasukan Kerajaan Pasir Langit pun melakukan pencarian atas hilangnya sang mahapatih.
Perwira yang diberi tanggung jawab untuk mencari Joko Tenang dan Mahapati Olo Kadita adalah Komandan Rambut Awut, Kepala Keamanan Ibu Kota.
Komandan Rambut Awut mengerahkan upaya maksimalnya demi menunaikan tugasnya. Dia kerahkan seluruh pasukannya. Dia bahkan pergi ke Rumah Makan Muara Jerit yang tutup sementara seperti usaha-usaha yang lain.
Sekedar mengingatkan, para prajurit jaga yang sekarang bertugas di rumah makan itu adalah anak buah Komandan Rambut Awut yang digaji oleh Putri Ani Saraswani. Namun, ketika ditanya tentang Joko Tenang, mereka mengaku tidak tahu. Maklum mereka sudah menikmati uang dari penguasa Kerajaan Sanggana Kecil.
Akhirnya, sang komandan merasa frustasi karena tidak kunjung berhasil menemukan sepotong pun petunjuk tentang Joko Tenang atau Mahapatih Olo Kadita.
“Aku akan mendapat amarah dari Gusti Prabu,” keluh Komandan Rambut Awut saat duduk ngopi di pos utama pasukannya.
“Aku punya usulan, Komandan,” kata Brabean, wakil Komandan Rambut Awut.
“Usulan apa?” tanya sang komandan.
“Agar orang yang bernama Joko itu keluar dan menampakkan diri, juga tidak berani melawan kepada kita,” kata Brabean dengan mimik liciknya. Ternyata, pangkatnya tetap dia sandang meski usai menjalani hukuman atas perintah Putri Ani.
“Apa?” tanya Rambut Awut dengan tatapan tidak yakin kepada wakilnya itu.
“Pertama-tama datang ke Ibu Kota, si Joko itu sangat akrab dengan tiga wanita di sini. Bagaimana jika kita tangkap, kita sandera di tengah Ibu Kota. Aku yakin, jika si Joko itu mendengar ketiga perempuan selingkuhannya kita sandera, dia pasti datang dan muncul menyerahkan diri,” kata Brabean.
“Usulan bagus. Jarang-jarang kau pintar, Brabean,” puji Rambut Awut. “Tapi, siapa ketiga wanita itu?”
__ADS_1
“Mereka itu Subini, Rinda dan Nangita,” jawab Brabean.
“Kau mau mengaduku dengan Ronda Galo? Dia bisa marah jika kakaknya kita tangkap,” kata Rambut Awut.
“Jika Komandan takut kepada Ronda Galo....”
“Aku tidak takut kepada Ronda Galo. Aku punya pasukan, dia tidak. Aku hanya tidak mau berurusan dengan pengawal Gusti Menteri Badaragi,” tandas Rambut Awut cepat memotong kata-kata Brabean.
“Iya, jika Komandan tidak mau berurusan dengan Ronda Galo, kita tangkap Subini dan Nangita saja,” kata Brabean lagi.
“Baiklah, pergi tangkap kedua perempuan itu!” perintah Rambut Awut.
Maka, Brabean memimpin puluhan Pasukan Keamanan Ibu Kota pergi untuk menangkap Subini dan Nangita.
“Apa salahku, Prajurit?!” jerit Subini ketika dia diseret oleh dua prajurit dari dalam rumahnya.
Namun, prajurit yang ditanya tidak menjawab.
“Ibuuu!” teriak anak lelaki Subini yang berusia remaja.
“Akk!” jerit si anak saat mendapat tendangan dari prajurit yang menyerbu rumahnya.
“Jandaaar!” jerit Subini melihat anaknya terjungkal di lantai rumah. Namun, dia tidak kuasa untuk melawan tenaga dan paksaan para prajurit yang menyeretnya.
Para pelayan lelaki Subini pun tidak berkutik. Pedang-pedang para prajurit itu sudah terhunus mengancam.
“Kau ditangkap karena kau dekat dengan lelaki berbibir merah itu,” kata Brabean memberi tahu Subini sebelum menggelandangnya pergi.
“Jika Joko tahu kau menyakiti aku, kau akan mati, Brabean!” teriak Subini begitu marah kepada Brabean.
“Tapi dia harus muncul dulu untuk membunuhku. Gusti Prabu sangat ingin memenggalnya. Hahaha!” kata Brabean santai, lalu tertawa.
Nasib yang sama dialami oleh Nangita, istri pelaut yang rumahnya sempat disewa oleh Joko Tenang.
Sama seperti Subini ketika ditangkap, dia pun mengamuk-amuk, tetapi tidak berdaya. Dia memaki-maki prajurit yang menangkapnya dengan paksa.
Pada akhirnya, Subini dan Nangita diikat bersama di sebuah tiang kayu di tengah-tengah Ibu Kota.
__ADS_1
Ditangkapnya kedua wanita itu ternyata menggemparkan warga Ibu Kota. Warga Ibu Kota tidak menyangka keduanya akan ditangkap oleh pasukan keamanan.
Mendengar kedua sahabatnya ditangkap dan diikat di tengah kota, Rinda segera datang untuk melihat kebenarannya. Alangkah terkejutnya Rinda melihat kedua sahabatnya diikat seperti penjahat negara.
Rinda hanya bisa melihat dua sahabatnya dari luar pagar prajurit yang mengurung area penyanderaan.
“Subiniii! Nangitaaa!” teriak Rinda memanggil.
“Rindaaa!” teriak Subini pula memanggil sahabatnya.
“Rinda, cari Joko. Beri tahukan kondisi kami!” teriak Nangita.
“Baik!” sahut Rinda. “Bertahanlah!”
Rinda yang tidak mendapat intimidasi dari prajurit keamanan, segera pergi berlari menuju ke kediaman Menteri Keuangan sore itu.
Di kediaman Menteri Badaragi, Rinda bertemu dengan adiknya yang baru kembali dari Istana bersama sang menteri.
“Ronda, kau tahu Joko Tenang ada di mana? Subini dan Nangita ditangkap oleh Pasukan Ibu Kota dan diikat di tengah kota,” tanya Rinda kepada adiknya. Itu salah satu upayanya untuk mencari Joko Tenang, karena dia sama sekali tidak tahu Joko Tenang ada di mana.
“Kenapa mereka ditangkap?” tanya Ronda Galo.
“Karena kami bersahabat dengan Joko Tenang. Pasukan Ibu Kota sedang mencari Joko. Jadi mereka menyandera Subini dan Nangita agar Joko muncul,” jelas Rinda dengan ekspresi panik.
“Aku tidak bisa membantu, Kak. Joko Tenang telah menculik Gusti Mahapatih,” kata Ronda Galo.
“Apa?!” pekik Rinda terkejut bukan main. “Joko Tenang menculik Gusti Mahapatih? Jadi, sebenarnya Joko itu penjahat atau orang baik?”
“Aku bisa membantu jika kau ingin mengabarkan penangkapan kedua temanmu kepada Joko Tenang,” kata Menteri Badaragi tiba-tiba menyela, setelah mendengar percakapan keduanya.
“Benarkah, Gusti?” tanya Rinda sumringah karena melihat ada harapan.
“Joko Tenang telah memesan kopi kepadaku melalui Pengirim Lintas Dunia. Jadi, Pengirim Lintas Dunia bisa menyampaikan pesan kepada anak buah Joko Tenang,” kata Badaragi. Lalu katanya kepada Ronda Galo, “Kau pergi saja ke Pengirim Lintas Dunia dan sampaikan tentang penyanderaan itu.”
“Tapi, Gusti. Bukankah itu sama saja memberi kabar kepada musuh Kerajaan?” kata Ronda Galo.
“Aku lebih tahu apa yang terjadi dengan Mahapatih Olo Kadita. Jika Joko Tenang muncul, itu akan lebih cepat menyelesaikan konflik ini,” kata Badaragi. (RH)
__ADS_1