
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Prabu Maninggal Kalo menunjukkan eskpresi gusar yang ditahan. Raja Kerajaan Teluk Busung itu menggenggam kuat rangkaian lontar di tangan kanannya.
Di depan singgasana lelaki berusia separuh abad plus tujuh belas tahun itu, para pejabatnya duduk menunduk, termasuk Panglima Kerajaan bernama Punuk Weling yang membawahi seluruh pasukan Kerajaan Teluk Busung, baik darat dan laut.
Agak jauh di depan tahta, tepatnya di tengah-tengah para pejabat sipil dan militer yang duduk menunduk, berlutut menunduk seorang prajurit biasa. Prajurit itu adalah pembawa pesan dari perbatasan. Pesan yang dibawa sudah tergenggam di tangan Prabu Maninggal Kalo.
“Lima ribu Pasukan Kaki Gunung Kerajaan Pasir Langit sudah berkemah di luar perbatasan utara,” kata Prabu Maninggal pelan, tapi terdengar jelas di telinga para pejabatnya. “Para pejabat Pasir Langit telah dibunuh oleh para pendekar dari wilayah kita. Jadi, mereka meminta kita menyerahkan seluruh orang-orang Penempa Busur dan Kelompok Manusia Atas. Jika dalam satu pekan permintaan mereka tidak sampai ke perbatasan, mereka akan memaksa masuk.”
Prabu Maninggal Kalo lalu menyerahkan surat lontar kepada pengawalnya untuk diberikan kepada Panglima Punuk Weling. Panglima Kerajaan itu kemudian membaca isi pesan dalam surat. Bacanya di dalam hati karena bukan untuk mengusir setan.
“Berperang melawan Kerajaan Pasir Langit adalah keburukan. Pasukan Kaki Gunung mereka sangat kuat, ditambah armada laut mereka handal dibandingkan angkatan laut kita. Kecuali kita mendapat bantuan dari Gusti Prabu Dira Pratakarsa Diwana,” kata Penasihat Lidah Datar. Itu julukan populernya karena lelaki yang lebih tua dari rajanya tersebut selalu datar nadanya jika berbicara dan bernyanyi. Entah lagu apa yang dia hafal.
“Waktu satu pekan, mustahil meminta bantuan kepada Kerajaan Sanggana Kecil jika kita memaksakan perang terjadi,” kata Panglima Punuk Weling. “Lebih baik kita penuhi permintaan mereka, Gusti Prabu.”
“Penempa Busur adalah salah satu pembuat persenjataan utama kita dan Kelompok Manusia Atas sering kita pakai jasanya dalam menaklukkan sejumlah pemberontak. Jadi, keduanya memiliki jasa kepada Kerajaan. Apakah kita akan menyerahkan mereka begitu saja?” tanya Mahapatih Tulang Sawit.
“Aku punya usulan. Namun, kita harus memanggil pemimpin Penempa Busur dan Kelompok Manusia Atas. Keterlibatan mereka di Kerajaan Pasir Langit harus mereka jelaskan dan pertanggungjawabkan,” kata Penasihat Lidah Datar. “Sebagai antisipasi, kita juga harus meminta pengajuan bantuan secepat mungkin kepada Gusti Prabu Dira. Jika seandainya gara-gara perkara ini perang sampai pecah antara Teluk Busung dengan Pasir Langit, kerugian yang akan kita derita bisa diperkecil dengan datangnya pasukan bantuan dari Sanggana Kecil.”
“Baik. Panglima Punuk, buat surat balasan untuk Pasukan Kaki Gunung bahwa kita akan mengirim orang-orang yang mereka minta dalam tiga hari setelah surat sampai!” perintah Prabu Maninggal Kalo.
__ADS_1
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Panglima Punuk Weling.
“Mahapatih, segera buat surat permohonan pengiriman bantuan untuk menghadapi ancaman perang Kerajaan Pasir Langit. Tulis lengkap dengan jenis pasukan yang mengancam kita!” perintah Prabu Maninggal Kalo.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Tulang Sawit patuh.
Maka, dua perintah itu segera dilaksanakan. Satu prajurit diutus ke perbatasan utara wilayah Kerajaan Teluk Busung menemui pemimpin Pasukan Kaki Gunung untuk menyampaikan surat balasan. Tiga prajurit pilihan dikirim tidak pakai L ke Kerajaan Sanggana Kecil yang akan memakan waktu cukup lama.
Sementara itu di Kadipaten Hutan Malam Abadi, sebanyak seratus pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana sudah bergabung dengan tim dari Pengirim Lintas Dunia yang dipimpin oleh Kembar Kelingking.
Awalnya Kembar Kelingking dan kelima rekannya merasa kikuk, karena mereka berurusan dengan seratus orang pendekar. Apa jadinya kalau mereka salah kata lalu dikeroyok ramai-ramai. Meski mereka berenam pun adalah pendekar yang bekerja.
Namun, kekikukan itu tidak berlangsung lama, cepat cair, karena para pendekar yang macam-macam karakter itu menganggap Kembar Kelingking adalah pemimpin di dalam proyek yang tugaskan oleh Prabu Dira.
Kelingking Kembar dan kelima rekannya memimpin para pendekar Pasukan Hantu Sanggana membuat gerobak-gerobak besar. Mereka juga dibantu oleh warga Kadipaten Hutan Malam Abadi yang tentunya dibayar.
Ratusan orang itu bekerja bahu-membahu menjadi tukang pembuat gerobak secara massal. Karena yang mengerjakan jumlahnya ratusan orang, maka kurang dari sepekan, sudah terbuat sebanyak dua puluh gerobak besar dan kuat.
Di saat gerobak-gerobak itu sedang dibuat, Kembar Kelingking melakukan survei rute air. Seperti yang sudah ada di bayangan kepalanya, ada sebuah sungai besar yang bernama Sungai Nadi Api. Lagi-lagi jangan tanya, kenapa aliran air namanya api!
Aliran Sungai Nadi Api yang paling dekat dengan wilayah Kerajaan Sanggana Kecil terletak di wilayah Kerajaan Baturaharja, tidak begitu jauh dari perbatasan. Dari titik itu, mereka akan mengangkut kayu menggunakan kapal besar menuju hilir yang akan melewati wilayah Kerajaan Baturaharja, Kerajaan Teluk Busung lalu wilayah Kerajaan Pasir Langit.
__ADS_1
Setelah mencari kapal besar, tidak ditemukan kapal sungai yang sesuai dengan keinginan. Jadi Kelingking Kembar hanya bisa menyewa tiga kapal ukuran sedang, tetapi masih bisa digunakan untuk berlayar ke hilir. Dua kapal dimodifikasi untuk mengangkut kayu gelondongan besar dan satu kapal untuk mengangkut manusia.
Finalnya, kayu-kayu sonokeling dalam bentuk gelondongan, dinaikkan ke atas gerobak-gerobak sehingga menjadi armada gerobak besar yang panjang. Untuk para pendorong gerobak, diambil tenaga dari orang-orang Kadipaten Hutan Malam Abadi. Jadi, Pasukan Hantu Sanggana bertugas sebagai keamanan. Saking pentingnya pengiriman kayu-kayu itu, Prabu Dira sampai menurunkan seratus pendekar untuk mengawal.
Rombongan besar itu jelas menarik perhatian orang-orang yang menjumpai mereka di perjalanan.
Demi kelancaran proses pengiriman, Ketua Pasukan Hantu Sanggana Delik Rangka mengajukan permohonan izin kepada penguasa setempat di wilayah Kerajaan Baturaharja yang mereka masuki. Karena Kerajaan Baturaharja adalah kerajaan di bawah perlindungan Kerajaan Sanggana Kecil, penguasa daerah itupun tidak berani neko-neko. Namun, beruntungnya masih dapat uang sirih.
Berbeda ketika tiga kapal pengangkut kayu berlayar memasuki wilayah kekuasaan Kerajaan Teluk Busung. Izin pelayaran di Sungai Nadi Api tidak dipermasalahkan oleh otoritas setempat. Namun, ketika kabar itu sampai di telinga Prabu Maninggal Kalo, dia cepat mengirim utusan mengejar armada tersebut selagi masih ada di wilayah Kerajaan Teluk Busung.
Sang prabu ternyata meminta bantuan agar Pasukan Hantu Sanggana mau membantu mengusir Pasukan Kaki Gunung dari perbatasan utara, di saat utusan yang dikirim ke Sanggana Kecil belum pulang membawa kabar.
“Kami ditugaskan untuk mengawal pengiriman kayu, bukan untuk yang lain, apalagi untuk berperang.” Itu jawaban yang diberikan Delik Rangka kepada utusan Prabu Maninggal Kalo.
Jika di wilayah Kerajaan Baturaharja dan Kerajaan Teluk Busung armada itu meminta izin, maka ketika memasuki wilayah Kerajaan Pasir Langit mereka tidak meminta izin, sehingga perjalanan mereka bersifat ilegal.
Armada itu akan berhenti di Kadipaten Bengiurang. Dari situ, kayu-kayu akan dinaikkan ke darat dan diangkut lewat darat menggunakan gerobak-gerobak untuk sampai di dekat Kadipaten Ombak Lelap, di mana Pantai Segadis berada.
Pengangkutan di wilayah kekuasaan Kerajaan Pasir Langit jelas bersifat serahasia mungkin.
Namun, rombongan besar seperti itu jelas tidak luput dari penglihatan prajurit pasukan Kerajaan Pasir Langit. Jumlah prajurit patroli yang hanya beberapa orang, dengan mudah dilumpuhkan dan dilenyapkan, dalam arti dibuang ke mana tahu.
__ADS_1
Kembar Kelingking yang berpengalaman lalu membuat tanda izin palsu untuk memudahkan mengelabui para prajurit patroli biasa. (RH)