Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Putri Ani Saraswani seketika hanya fokus kepada satu hal, yaitu menahan aliran napas di saat seluruh tubuh dan panca inderanya tertutupi oleh air sungai yang dingin. Pikiran tentang Joko Tenang yang sangat tampan dan berbibir merah memesona, hilang sudah.


Putri Ani tidak tahu dirinya sudah sampai di mana. Apakah masih di dalam sungai, atau sudah sampai di Muara Jerit, atau tenggelam ke alam lain.


Dengan melompat ke dalam sungai, Putri Ani bisa melupakan Joko Tenang, bisa melupakan rasa sakit di hatinya, bisa mengalihkan kehancuran perasaan kepada kebuntuan inderanya.


Namun, di saat gadis cantik jelita itu terhanyut dalam dunianya yang tenggelam, dia merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya. Bukan hanya menyentuh, tetapi juga mencekal keras tangannya, yang dengan cepat beralih kepada lilitan secara penuh pada tubuhnya.


“Ini bukan lilitan ular, tetapi ini adalah pelukan seseorang,” kata batin Putri Ani. “Apakah ini adalah penghuni Muara Jerit? Atau ... apakah ini Joko Tenang?”


Putri Ani hanya bisa merasakan apa yang tubuhnya alami. Perasaannya semakin yakin bahwa tubuhnya dipeluk penuh oleh seseorang dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa melihat di dalam air yang gelap gulita, karenanya dia hanya bisa merasakan apa yang menempeli tubuhnya.


Putri Ani mencoba mengetahui apa yang membekap tubuhnya dengan cara kedua tangannya juga meraba sosok makhluk yang memeluknya.


Hasilnya, Putri Ani bisa merasakan bahwa makhluk itu bukan binatang air, tetapi sesosok tubuh manusia berotot yang normal. Ketika dia meraba sosok itu, dia bisa merasakan bentuk dadanya yang bidang. Ketika dia merabah wajahnya, dapat terasa bentuknya adalah wajah manusia. Ketika dia merabah tubuh bawah makhluk itu, dia pun bisa merasakan bahwa sosok itu berjenis lelaki.


Dari hasil perabaan tersebut, pikiran Putri Ani langsung terarah kepada Joko Tenang, bukan kepada lelaki lain.


Dugaan kuat bahwa sosok yang memeluknya di dalam air sungai yang mengalir gelap adalah Joko Tenang, justru menjadi tombol yang seketika membawa Putri Ani berpindah suasana hati. Hanya satu rasa yang dia rasakan, yaitu bahagia. Dia sangat bahagia.


Saat itu, Putri Ani Saraswani sudah tidak peduli bahwa Joko Tenang suami wanita lain. Dia tidak peduli bahwa diduakan sangat tidak ia sukai. Dia pun tidak peduli dengan kesulitan yang dia rasakan saat terbawa arus itu.


“Joko,” sebutnya lirih di dalam hati, bukan di dalam air.


Di dalam kondisi buruk itu, dia balas memeluk erat tubuh Joko Tenang yang hanya bisa dia rasakan. Pelukannya terhadap tubuh gagah itu membuatnya lebih nyaman dan semakin bahagia.


Putri Ani bisa merasakan tubuhnya ditarik oleh orang yang dipeluknya dengan erat. Namun, dia juga bisa merasakan bahwa dirinya masih di dalam air karena dia masih belum bisa bernapas. Dan pelan tapi pasti, dia mulai tidak kuat untuk menahan napas. Dia ingin berenang, tetapi dia berada di dalam pelukan dan dia pun tida mau melepaskan pelukannya.


Deg!


Terhentak jantung sang putri dan seketika membuat seluruh tubuhnya mengejang sesaat karena terkejut. Setelah itu dia melemaskan seluruh ototnya yang tegang. Dia pasrah.

__ADS_1


Kondisi itu terjadi karena Putri Ani merasakan bibirnya ditempeli oleh dua bagian sesuatu yang sama kenyalnya dengan kedua bibirnya. Dia yakin itu adalah kedua bibir merah Joko Tenang yang menempel rapat di kedua bibirnya. Dia bahkan bisa merasakan lidah lain yang bekerja mencoba membuka bibirnya.


Di saat Putri Ani nyaris kehabisan napas, Joko Tenang menempelkan bibirnya ke bibir sang putri untuk memberinya napas lewat mulut.


Apapun tujuan dari Joko memcium bibirnya dalam kondisi itu, Putri Ani hanya pasrah. Yang pasti dia bahagia dan gairah cintanya tersulut dan membakar. Faktor gairah itulah yang kemudian membuat bibir Putri Ani bermanuver di bibir Joko Tenang. Meski ciuman itu sekedar tempelan daging mulut, tetapi dia mengubahnya menjadi pergulatan bibir dua manusia dewasa yang berlawan jenis.


Joko Tenang yang awalnya terkejut mendapati bibirnya diajak bertarung, jadi terangsang dan balas memberikan jurus ringan, yang justru membuat Putri Ani kian penasaran merasakan kelegitan adegan tersebut.


Meski Joko Tenang memiliki sebelas wanita halal, bukan berarti kini dia menjadi lelaki yang antirangsangan. Karena Putri Ani yang cantik itu yang mengajak, Joko pun terajak.


“Hah!” pekik Putri Ani Saraswani nyaris kehabisan napas, seiring kepalanya muncul ke permukaan bersama kepala Joko Tenang yang masih dipeluknya dan Joko pun masih memeluknya.


Bagaimana tidak nyaris kehabisan napas, di saat diberi napas buatan, Putri Ani justru mengubahnya menjadi adegan saling menyumpal dengan bibir dan lidah?


Joko Tenang dan Putri Ani muncul di permukaan air sungai yang masih membawa tubuh mereka dalam aliran.


“Kenapa kau menceburkan diri, Gusti Putri?” tanya Joko Tenang pelan, agar tidak terkesan memarahi.


“Aku hanya ingin menenangkan perasaan dan hatiku yang sakit,” jawab Putri Ani jujur. “Lalu kenapa kau mengejarku, Joko? Lihatlah, aku tidak bisa menahan diri. Kau membuatku semakin cinta kepadamu.”


“Aku hanya tidak ingin kau terluka, Gusti Putri. Apalagi jika sampai mati tenggelam. Aku tidak ingin kau bunuh diri hanya karena patah hati. Aku yakin kau bisa menahan dan mengendalikan perasaan itu, Gusti Putri,” kata Joko Tenang.


“Jika kau mencintaiku, ini akan berbahaya bagimu, Gusti Putri,” kata Joko Tenang, sambil terus mempertahankan diri mereka tetap dalam kondisi mengapung dalam arus air sungai.


“Aku tidak takut, Joko,” bisik Putri Ani. Lalu tahu-tahu dia cepat menggeser bibirnya dan berhenti di bibir Joko Tenang, lalu merujak di sana.


Namun, kali ini Joko Tenang menahan diri, dia berpura-pura menjadi orang-orangan sungai yang tidak memberi reaksi.


Sikap Joko Tenang itu membuat Putri Ani kesal. Dia pun berhenti.


“Lepaskan aku!” pekik Putri Ani sambil meronta dan mendorong badan Joko Tenang.


Joko tidak bisa memaksa. Dia kendorkan pelukannya dan melepaskan tubuh Putri Ani yang kemudian berenang menuju ke tepi. Joko segera berenang mengikuti.


Ternyata mereka sudah bisa melihat banyak nyala lentera di tepi sungai yang juga dekat dengan muara. Nyala lentera-lentera itu ada di sebuah bangunan kayu yang besar. Mereka berdua kenal tempat itu. Rumah Makan Muara Jerit.

__ADS_1


Keduanya terus berenang. Agak lama, barulah mereka sampai di tepian sungai, tepatnya di kolong bagian rumah makan yang pernah menjadi kemunculan penyerang Putri Ani dan Rincing Kila.


Putri Ani Saraswani naik lebih dulu ke atas rumah makan lewat sisi samping.


Kemunculan Putri Ani dan Joko Tenang mengejutkan prajurit jaga di tempat itu. Prajurit jaga segera berlari datang. Namun, ketika mereka mengenali bahwa orang tersebut adalah Putri Ani, mereka segera turun bersujud menghormat.


“Perintahkan pelayan yang menginap di sini untuk membuatkan minuman panas!” perintah sang putri kepada para prajurit.


“Baik, Gusti Putri,” ucap para prajurit itu patuh.


Mereka lalu bubar diri untuk melaksanakan perintah dan kembali ke posisi tugas.


Putri Ani duduk di sisi meja makan dengan memasang wajah basah yang merengut, menunjukkan bahwa dia sedang marah kepada Joko Tenang.


“Gusti Putri, maafkan aku,” ucap Joko Tenang setelah duduk berseberangan meja dengan Putri Ani.


Namun, Putri Ani tidak menanggapi. Dia membuang wajah dan pandangannya ke tengah sungai yang gelap, seolah-olah tidak sudi memandang ketampanan Joko Tenang yang diterangi oleh lentera antiangin.


Joko Tenang terdiam sejenak. Dia menunggu ada reaksi dari Putri Ani. Namun, reaksinya tetap seperti itu. Kebisuan.


“Gusti Putri, maafkan aku karena telah melukai perasaanmu,” ucap Joko Tenang. Tulus.


Lagi-lagi Putri Ani memberikan keheningan, meski di dalam pikirannya terjadi kecamuk yang tidak pasti dan perasaannya seperti sedang diobok-obok.


Putri Ani mengabaikan Joko Tenang.


“Baiklah, Gusti. Aku telah diperingatkan oleh Istana agar hari ini pergi meninggalkan Ibu Kota. Jadi aku akan pulang pagi ini,” kata Joko Tenang yang membuat Putri Ani terbeliak.


Clap!


Tanpa basa basi lagi, Joko Tenang tahu-tahu menghilang seperti setan dari hadapan sang putri.


“Joko!” pekik Putri Ani terkejut.


Namun, panggilan Putri Ani terlambat. Joko Tenang telah pergi.

__ADS_1


Seperti seorang balita yang pergi ditinggal ibunya, seketika sedih memenuhi ruang hati sang putri.


“Hiks hiks hiks! Jokooo!” tangis Putri Ani. (RH)


__ADS_2