
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Rincing Kila benar-benar dilanda kebimbangan, tapi kebimbangan itu untuk Putri Ani junjungannya. Adapun dirinya telah luluh. Setelah bertemu dengan Ratu Tirana yang begitu ramah dan lembut, dirinya kini bahkan sangat ingin jadi selir Prabu Dira. Namun sayang, tawaran itu tidak ada untuk dirinya.
Entah, apakah dia bisa selengkap dan sedetail mungkin menjelaskannya kepada Putri Ani Saraswani, sebagaimana Ratu Tirana menjelaskan kepadanya.
Keramahan, kehangatan, bahkan keakraban yang diberikan oleh sang ratu membuatnya kehilangan pikiran negatif tentang jadi salah satu istri di antara para istri Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
“Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku?” sesal Rincing Kila saat meninggalkan Gerbang Naga Istana Sanggana Kecil.
“Memiliki istri yang banyak adalah simbol kharisma, keperkasaan dan kekuasaan bagi seorang raja. Wanita itu seperti harimau-harimau buas dan sangat berbahaya. Maka keberhasilan seorang lelaki dalam menaklukkan mereka, bahkan sampai bisa memeliharanya, jelas menunjukkan keperkasaan bagi lelaki itu. Kau bisa sebutkan satu nama ratu atau permaisuri, maka dia pasti wanita yang sangat berbahaya,” kata Ratu Tirana kepada Rincing Kila, saat mereka berada di Taman Bintang Kecil memerhatikan putra-putri Prabu Dira sedang bermain-main, tapi tanpa si sulung, Pangeran Arda Handara.
Betapa murah hatinya Ratu Tirana. Itu kesimpulan pikiran Rincing Kila karena saat itu dia didudukkan seperti bukan sebagai seorang pendekar atau seorang prajurit, tetapi dia didudukkan seperti seorang tamu yang setara dengan sang ratu. Dia duduk di sisi kiri sang ratu, satu kursi panjang sambil menikmati penganan kue dan minuman teh sari madu.
Bagi Rincing Kila, itu adalah penghargaan tertinggi yang pernah dia terima selama dia bernapas di kolong langit. Saat itu, seolah-olah dia pun salah satu permaisurinya Prabu Dira yang berkedudukan mulia.
“Jika kau menanyakan apakah aku merasa tersakiti dengan berbagi cinta dan suami, maka aku jawab tidak sama sekali. Justru aku yang mewajibkan Gusti Prabu untuk beristri banyak. Setiap istri yang dinikahi, awalnya bukan didorong karena sekedar untuk menyalurkan intisari kelelakian Gusti Prabu, tetapi dilatarbelakangi kebutuhan yang penting. Semisal Ratu Kerajaan Balilitan, Gusti Prabu menikahinya untuk menghindari perang,” tutur sang ratu dengan kekhasan senyumnya yang sejuk di mata tanpa kenal gender.
“Mohon maaf, Gusti Ratu. Apakah Gusti Ratu tidak mengalami rasa cemburu ketika melihat Gusti Prabu mesra dengan istri yang lain?” tanya Rincing Kila.
“Sebenarnya kau bertanya kepada wanita yang salah. Aku adalah seorang pengabdi. Hidupku memang dicurahkan semata-mata untuk mengabdi kepada Gusti Prabu. Jadi aku tidak memiliki rasa cemburu kepada istri yang lain. Namun, jika kau bertanya kepada permaisuri yang lain, mereka akan menjawab bahwa mereka memiliki rasa cemburu. Istri yang memiliki rasa cemburu paling tinggi adalah Permaisuri Mata Hijau. Namun, kami semua selalu mengedepankan kedamaian dan kebahagiaan. Bisa dibayangkan jika Permaisuri Mata Hati marah kepada salah satu madunya, kerusakan hubungan damai di antara sesama istri akan hancur. Mengedepankan kebersamaan, kebahagiaan kelompok, kekeluargaan, persaudaraan, tidak merasa penting sendiri, dan yang utama menaati Gusti Prabu. Seperti Permaisuri Mata Hati yang sakti mandraguna, kesaktiannya tunduk di bawah ketaatan. Jika memang menikahi Putri Ani Saraswani dibutuhkan untuk tujuan yang jauh lebih besar, aku dan para permaisuri tidak akan menentang, meski rasa keberatan itu pasti muncul di hati-hati para permaisuri.”
__ADS_1
“Jadi, apakah Gusti Prabu Dira berniat menikahi Gusti Putri Ani?” tanya Rincing Kila dengan jantung yang tegang, tapi bukan karena penyakit jantung.
“Hihihi!” Ratu Tirana tertawa lembut. Lalu jawabnya, “Pernikahan itu harus mempertemukan dua hati yang sama-sama suka dan rela. Gusti Prabu sudah memiliki sebelas istri yang akur. Untuk menjadi istri yang kedua belas, rasa cemburu harus bisa dijinakkan. Selama rasa cemburu tidak bisa dikendalikan, pernikahan justru akan membahayakan, bukan hanya menjadi ancaman bagi keharmonisan Gusti Prabu dengan para istrinya, tapi membahayakan juga bagi istri baru. Ingat, para istri Gusti Prabu ibarat harimau-harimau buas.”
Rincing Kila tersenyum lebar mendengar tausiyah poligami dari Ratu Tirana.
“Lihat putra-putri Gusti Prabu, banyak dan begitu menggembirakan. Untuk menghindari perebutan kekuasaan di masa yang akan datang, pembentukan karakter melalui pendidikan yang baik harus ditanamkan sejak dini. Kelak mereka akan tersebar dan menjadi raja-raja di berbagai wilayah, menciptakan dunia yang damai dan mensejahterakan rakyat luas.”
Mendengar itu, terbayang ilustrasi dunia impian di dalam kepala Rincing Kila.
Maka wajar jika Rincing Kila pergi meninggalkan Istana Sanggana Kecil seperti orang yang sudah dicuci otaknya. Jangan tanya memakai sabun apa?
Rincing Kila pulang seperti orang yang sudah tercerahkan. Dia merasa jauh lebih kenal Joko Tenang dibanding majikannya. Dia merasa menjadi orang penting yang kini memiliki sahabat seorang ratu sakti. Itu membuatnya bangga.
Kecenderungan itu ternyata tidak tergoyahkan dalam beberapa hari perjalanan pulang ke Kerajaan Pasir Langit. Namun, baru saja memasuki ibu kota Digdaya, dia dan kudanya sudah mendapat kepungan dari Pasukan Kaki Gunung.
Tombak-tombak runcing mengurung tubuh Rincing Kila dan kudanya, membuatnya tidak berkutik. Sebagai seorang pendekar, bisa saja dia melakukan perlawanan dengan dasar bahwa dia tidak merasa bersalah. Namun, melakukan perlawanan justru akan memperumit perkara. Dia berpikir, penyergapannya pasti karena dia pergi beberapa hari tanpa berita. Dan jika melawan pun akan berisiko terluka, terlebih yang menyergap adalah Pasukan Kaki Gunung yang perkasa.
Atas pertimbangan itulah, Rincing Kila memilih menyerah, sehingga tidak ada perlakuan buruk, kecuali tindakan tegas.
Rincing Kila dioper kepada pasukan Istana saat dia dibawa sampai di gerbang benteng Istana.
Dan ternyata, Rincing Kila dibawa menghadap ke depan Prabu Galang Digdaya. Rupanya kepulangannya sudah ditunggu-tunggu sebelumnya. Ciutlah perasaan Rincing Kila.
__ADS_1
“Ampuni hamba, Gusti Prabu!” ucap Rincing Kila bernada takut sambil sujud di hadapan Prabu Galang tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Dari mana kau?” tanya Prabu Galang, tapi dengan nada tenang, biasa-biasa saja.
Rincing Kila saja yang mungkin baperan sehingga langsung takut, padahal dia belum diancam oleh sang prabu.
“Hamba dari Kerajaan Sanggana Kecil, Gusti Prabu,” jawab Rincing Kila, tidak berani berdusta.
“Untuk apa kau ke sana? Apakah sebenarnya kau telik sandi Sanggana Kecil?” tanya Prabu Galang, tapi masih bernada datar, meski pertanyaannya menusuk.
“Tidak, Gusti Prabu! Hamba bukan telik sandi Sanggana Kecil! Demi Dewa, Gusti Prabu! Hamba diperintah oleh Gusti Putri!” teriak Rincing Kila panik, tapi tetap tidak berani mengangkat wajahnya dari lantai.
“Aku hanya bertanya. Kenapa kau panik seperti itu,” kata Prabu Galang enteng.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu,” ucap Rincing Kila lebih bisa tenang.
Untung saja dia tidak membalas, “Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?” Bisa dipancung dia jika berkata seperti itu.
“Ceritakan, apa yang junjunganmu perintahkan dan apa yang kau dapat di Kerajaan Sanggana Kecil!” perintah Prabu Galang dengan nada yang lebih menekan.
Jika sudah seperti itu kondisinya, Rincing Kila pun tidak bisa berdusta dan tidak bisa menyembunyikan sesuatu. Semua pun diceritakan dan Prabu Galang Digdaya menjadi pendengar yang baik.
Pada ujung cerita, wajah sang prabu mengeras dengan tatapan tajam. Sepasang tangannya mengepal kuat.
__ADS_1
Melihat reaksi itu, Rincing Kila jadi takut. (RH)