
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Cantik dan berwajah imut. Warna kulit kuning langsat. Dia mengenakan pakaian warna merah sedada. Dengan bahu terbuka polos dan dada atas menyembul naik karena ketatnya pinjung berhias emas yang dikenakannya. Rambutnya disanggul penuh di atas, kian meluaskan area dada, bahu dan leher tanpa gangguan rambut. Perhiasan emas kian memperjelita penampilannya. Dia bernama Rayu Pelangi, putri dari Mahapatih Olo Kadita.
Rayu Pelangi ditemani oleh seorang pelayan dan dikawal oleh dua orang wanita berpakaian pendekar. Dia adalah aset utama bagi ayahnya, jadi harus dilindungi meski saat itu dia sedang berada di Istana.
Ketatnya kain sarung jariknya membuat langkahnya terbatas pendek-pendek, tetapi memberi keanggunan saat berjalan. Itu menunjukkan bahwa Rayu Pelangi sangat memahami norma-norma dan adab selaku anak bangsawan.
Saat itu dia sedang menuju ke Wisma Pangeran.
Sebelum kepergiannya menuju Wisma Pangeran, dia lebih dulu mendapat wejangan dari ayah dan ibunya.
“Pangeran sedang mendapat masalah dari Gusti Prabu. Pergilah kau menemuinya di Wisma Pangeran, hiburlah dia dengan kecantikanmu,” kata Mahapatih Olo Kadita kepada putrinya. Dia duduk santai bersandar pada punggung kursi besarnya.
“Apakah tidak apa-apa? Bukankah Gusti Pangeran sedang dihukum oleh Gusti Prabu?” tanya Rayu Pelangi.
“Gusti Prabu itu hanya memiliki dua anak. Putri Ani sekarang tidak jelas ada di mana. Dia tidak akan menjadi pengganti ayahnya karena memendam dendam kesumat. Seburuk-buruk kesalahan Pangeran Tirta, Gusti Prabu tidak akan menghukumnya, karena Gusti Prabu menaruh harapan besar kepadanya untuk jadi penerus,” kata Mahapatih.
“Maksud ayahmu, kau harus menjadi milik Pangeran Tirta. Lambat atau cepat, tahta akan jatuh kepadanya,” kata sang ibu yang bernama Ramu Kalila. Ini untuk pertama kali namanya ditulis.
“Dia akan suka jika kau datang, sudah lama dia tidak bertemu denganmu,” kata Mahapatih Olo Kadita.
“Tapi, apakah benar Gusti Pangeran dalang dari pembunuhan Menteri Aduh Mantang dan Menteri Balelewa?” tanya Rayu Pelangi.
“Itu tidak perlu kau pikirkan. Kau arahkan saja pesonamu untuk memikat Pangeran Tirta,” tandas Ramu Kalila.
Atas arahan dari kedua orangtuanyalah Rayu Pelangi pergi ke Wisma Pangeran.
Tidak seperti Wisma Keputrian, penjagaan di Wisma Pangeran tidak begitu ketat. Itu karena sebelumnya wisma itu selalu kosong di saat sang pangeran berada di Perguruan Tunas Mahkota di Kerajaan Teluk Busung.
Untuk melampiaskan rasa marah dan kekesalannya, Pangeran Tirta lebih memilih menghabiskan waktu dengan berlatih di halaman wisma yang luas dan berumput bagus seperti rumput lapangan golf.
Seorang prajurit datang mendekati Pangeran Tirta yang sedang berlatih tanpa baju, tapi tetap bercelana. Sang pangeran melirik sebentar prajurit tersebut sambil terus bergerak memperlancar tekhnik-tekhnik ilmu olah kanuragannya.
“Ada apa, Prajurit?” tanya Pangeran Tirta sambil melakukan gerakan tendangan baling-baling. Jangan ditanya seperti apa itu tendangan baling-baling karena jawabannya adalah tendangan yang mirip baling-baling.
__ADS_1
“Mohon ampun, Gusti. Putri Gusti Mahapatih yang bernama Rayu Pelangi datang ingin mengunjungi Gusti Pangeran,” lapor prajurit itu.
“Oh. Izinkan masuk!” perintah Pangeran Tirta setelah berhenti sejenak dalam gerakannya.
“Baik, Gusti,” ucap prajurit itu patuh.
Si prajurit segera pergi. Pangeran Tirta yang sudah banjir peluh kembali melanjutkan gerakannya.
Tidak berapa lama, dari arah luar depan wisma muncul sosok cantik nan imut yang diikuti oleh tiga orang wanita, yakni satu dayang dan dua pendekar.
Namun, demi menjaga privasi, ketiga orang yang menemani diperintahkan berhenti menunggu di pinggir halaman, cukup jauh dari posisi Pangeran Tirta berlatih. Sementara Rayu Pelangi berjalan lebih dekat kepada posisi sang pangeran.
Jleg!
Pangeran Tirta menutup gerakannya dengan satu salto keren yang mendarat kokoh di tanah berumput.
Plok plok plok!
Rayu Pelangi bertepuk tangan sembari tersenyum lebar, padahal sang pangeran belum memandang kepadanya.
Namun, suara tepukan tangan tunggal itu membuat Pangeran Tirta langsung menoleh memandang kepada Rayu Pelangi.
“Rayu Pelangi!” sebut Pangeran Tirta sembari tersenyum lebar. Dia mendatangi Rayu Pelangi yang segera menjura hormat kepada sang pangeran.
“Sembah hormat hamba, Gusti Pangeran,” ucap Rayu Pelangi.
“Kau semakin cantik saja, Rayu. Bangkitlah!” kata Pangeran Tirta.
Berbunga-bungalah hati Rayu Pelangi yang langsung mendapat poin bagus di mata Pangeran Tirta.
“Apakah kedatanganmu karena kau disuruh oleh Mahapatih?” tanya Pangeran Tirta.
“Tidak, Gusti. Mendengar Gusti Pangeran telah kembali, entah kenapa aku merasa rindu saja ingin bertemu dengan Gusti. Cukup lama kita tidak bertemu,” bantah Rayu Pelangi.
“Hahaha!” tawa Pangeran Tirta. “Namun sayang, aku pulang dengan kemarahan dan perasaan terhina.”
“Kenapa, Gusti?” tanya Rayu Pelangi cepat.
__ADS_1
“Aku difitnah. Aku dituduh sebagai dalang pembunuhan dua menteri dan bahkan mencoba membunuh kakakku sendiri,” jawab Pangeran Tirta bernada kesal.
“Tapi, memang bukan Gusti Pangeran pelakunya?”
“Jika aku pelakunya dan Ayahanda tahu, aku pasti sudah dipasung di penjara,” kata Pangeran Tirta yang sesekali memandang ke sembulan dada Rayu Pelangi.
Gadis itu bisa menangkap pergerakan mata sang pangeran. Sebagai anak seorang Mahapatih, Rayu Pelangi bukanlah sekedar seorang gadis kosong yang diumpankan. Dia juga memiliki kecerdasan dan terdidik.
“Maafkan aku, Rayu. Aku berkeringat,” ucap Pangeran Tirta yang sebelumnya memang akrab dengan Rayu Pelangi.
Mahapatih Olo Kadita memang mengkondisikan putrinya untuk akrab dengan Pangeran Tirta sejak usia kecil.
“Tidak apa-apa, Gusti. Aku memang tidak tapat waktu datang berkunjung,” kata Rayu Pelangi.
“Aku dengar, kau sudah menemukan jodoh?” tanya Pangeran Tirta, semata-mata menggoda karena sebenarnya dia tidak mendengar kabar apa-apa tentang gadis cantik itu.
“Ah!” pekik Rayu Pelangi terkejut mendengar itu. Wajahnya seketika agak memerah karena malu dituduh mengenai jodoh. “Gusti Pangeran jangan mengada-ada. Aku tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun. Ayah sangat melarangku untuk dekat dengan lelaki mana pun.”
“Tapi kenapa tidak melarangmu dekat denganku?” cecar Pangeran Tirta.
“Itu tidak mungkin Ayah lakukan,” kata Rayu Pelangi. “Aku rasa justru sebaliknya.”
“Sebaliknya apa?” tanya Pangeran Tirta.
“Gusti Pangeran pasti sudah terpikat oleh banyak pendekar-pendekar cantik di perguruan,” tukas Rayu Pelangi dengan tatapan yang terkesan cemburu.
“Kau salah. Aku di perguruan semata-mata untuk berguru, bukan untuk mencari wanita,” bantah Pangeran Tirta.
Di saat muda mudi itu bercakap-cakap, ada satu orang prajurit yang melangkah bergegas dan pergi menghadap kepada Prabu Galang Digdaya.
“Lapor, Gusti Prabu,” ucap prajurit tersebut.
“Katakan!” perintah Prabu Galang sambil menaburkan makanan ke kolam ikan.
“Putri Gusti Mahapatih Olo Kadita datang berkunjung ke Wisma Pangeran!” lapor si prajurit yang merupakan salah satu prajurit penjaga di Wisma Pangeran.
Mendengar laporan tersebut, Prabu Galang manggut-manggut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
“Hmmm. Berarti cocok,” ucap Prabu Galang kepada dirinya sendiri. Dia tidak bicara tentang rincian hal yang “cocok” itu. Hal itu dipendamnya sendiri. (RH)