Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 44: Gusti Raja


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


“Ibu kota Digdaya sangat ramai oleh pasukan,” komentar Nyai Bale. “Dan kenapa pula tempatnya harus di sini? Lihat, kakiku kotor oleh lumpur.”


Ki Pulung dan ketiga rekannya sesama pembunuh bayaran beralih memandang kaki Nyai Bale. Terlihat ada bekas lumpur pada kedua kaki dan ujung celana wanita sakti itu.


“Ternyata orang sakti bisa terperosok juga ke lumpur,” kata Ki Pulung. Dia orang yang paling pantas dan berani untuk mencandai Nyai Bale.


“Hihihi!” tawa Nyai Bale.


“Siapa yang datang kepada Nyai menawarkan pekerjaan ini?” tanya Ki Pulung.


“Utusan Gusti Raja. Kau pikir Gusti Raja akan turun langsung jauh-jauh ke Werang hanya untuk menemuiku?” jawab Nyai


“Apakah Nyai sudah pernah mendapat tugas?” tanya Ki Pulung.


“Belum. Kira-kira tugasku yang pantas membunuh siapa? Ini tugas membunuh pertamaku,” tanya Nyai Bale seperti anak baru.


“Membunuh Prabu Galang, Nyai,” celetuk Ganteng Susah.


“Kalau aku bisa membunuh raja sakti itu, mungkin aku yang akan menjadi penguasa Pasir Langit. Hihihi!” kata Nyai Bale yang ternyata pembawaannya low profile, suka bergurau dan tertawa.


“Ki Pulung, sehebat kelompokmu pun ternyata gagal membunuh Putri Ani,” kata Cira Keling.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Ki Pulung dengan tatapan tidak suka kepada wanita yang tidak jelas kecantikannya itu.


“Sebelum aku ke sini, aku melihat Putri Ani ada di luar Istana. Itu pertanda orang-orangmu gagal. Atau bahkan mereka semua mati?” jawab Cira Keling.


“Apakah Putri Ani gadis yang berkesaktian tinggi?” tanya Nyai Bale.


“Tidak, tetapi orang yang bersamanya,” jawab Ganteng Susa.

__ADS_1


“Benar. Aku tadi melihat Putri Ani bersama seorang pendekar sakti,” kata Cira Keling.


Tiba-tiba mereka berhenti bicara dan pandangan dialihkan ke sebuah lorong gelap. Itu bukan lorong yang tadi mereka masuki, tetapi lorong yang lain.


Dua orang lelaki berpakaian merah-merah bersenjata tombak seperti sepuluh lelaki di lorong mulut gua, keluar dari lorong yang gelap dan kemudian berdiri di mulut lorong sebagai penjaga.


Di belakang kedua lelaki bertombak itu ternyata ada satu sosok berjubah hitam yang menutup wajahnya dengan lilitan kain merah. Tidak adanya obor di dalam lorong membuat sosok itu terlihat gelap juga. Dia berhenti di dalam, tidak sampai keluar. Sepertinya sosok berjubah itu sengaja ingin menyembunyikan identitas wujudnya.


“Hormatku, Gusti Raja!” ucap Cira Keling lebih dulu sambil menjura hormat ke arah lorong tersebut.


“Hormatku, Gusti Raja!” ucap yang lainnya sambil menghormat, termasuk Nyai Bale yang menjadi orang bayaran tersakti di tempat itu.


“Bangunlah!” perintah sosok lelaki berjubah.


Mereka semua kembali tegak. Meski sosok berjubah yang disebut Gusti Raja itu berada di dalam lorong, tetapi dia bisa melihat kelima orang bayaran tersebut.


“Kita hanya bisa membunuh dua orang menteri. Dua orang lainnya belum bisa dibunuh. Kegagalan orang-orangmu di Muara Jerit, Ganteng Susa, mempersulit tujuan kita berikutnya. Terbukti, keenam Kelompok Manusia Atas yang menyerang Wisma Keputrian semuanya mati di tangan Prabu Galang sendiri. Menteri Keuangan pun kini sudah dijaga oleh Empat Jangkar Maut. Itu kian mempersulit untuk membunuh Menteri Keuangan,” kata Gusti Raja bernada omelan.


Sebenarnya jika mendengar jenis suara lelaki berjubah itu, bisa ditebak siapa sebenarnya dia. Namun sayang, suaranya hanya bisa dibaca, tidak bisa didengar.


“Tetap saja itu gagal!” bentak lelaki dalam lorong. “Aku membayar kalian bukan untuk gagal. Kegagalan itu sangat memungkinkan Istana tahu siapa orang di balik serangan ini. Aku dan seluruh keluarga besarku akan dimusnahkan. Siapa yang tahu pendekar penyelamat Putri Ani itu?”


“Orang-orangku tidak kenal dengan pendekar itu. Ilmu kebalnya sangat tinggi,” kata Ganteng Susa.


“Pendekar itu memakai rompi merah?” tanya Cira Keling kepada Ganteng Susa.


“Iya,” jawa Ganteng Susa.


“Tadi aku melihat Pasukan Keamanan Ibu Kota dan Pasukan Kaki Gunung mengepung dan menyergap pendekar berompi merah itu. Dia dengan mudah menghancurkan Pasukan Kaki Gunung. Lalu Putri Ani muncul dan pergi menghilang bersama lelaki itu,” kata Cira Keling.


“Sebenarnya aku menginginkan Nyai Bale yang mengeksekusi Putri Ani. Namun, Prabu Galang juga sudah sampai turun tangan. Semua pejabat Istana sudah waspada dan dikelilingi oleh pasukan khusus dan pendekar kerajaan. Aku ingin penyerangan ini dihentikan sementara sampai suasana kembali tenang dan Istana kembali menurunkan tingkat waspadanya. Untuk sementara kalian amankan diri kalian, karena Prabu Galang telah mengirim pasukan ke Teluk Busung untuk mencari kalian. Pedang yang kalian tinggalkan telah menjadi barang bukti. Di saat kondisi Istana dan Ibu Kota sedang siaga tinggi, bisa saja kita paksakan, tetapi itu juga akan berisiko tinggi. Kita akan menunggu sepekan dua pekan. Perintah baru akan aku kirim kepada kalian dengan kata sandi ‘satu serangan’,” kata Gusti Raja agak panjang.


“Bagaimana dengan bayaran kami, Gusti Raja?” tanya Gedek Gelek.

__ADS_1


“Jangan khawatirkan itu. Sesuai kesepakatan. Tiga hari uang kalian akan sampai, termasuk untukmu, Nyai Bale,” kata Gusti Raja.


“Hihihi! Aku jadi tidak enak hati. Aku belum bekerja, tetapi aku sudah dibayar,” kata Nyai Bale yang didahului dengan tawanya.


“Kesaktianmu yang tinggi jelas membuatmu mendapat tugas yang jauh lebih berat nanti,” kata Gusti Raja. Lalu katanya kepada semua, “Ingat, kalian dan orang-orang kalian, harus menyebut satu nama saja jika tertangkap dan bahkan jika kalian sudah di ambang maut.”


“Untuk itu, Gusti Raja sudah bisa membuktikan. Semua orang-orang kami yang sudah mati, hanya menyebut satu nama,” kata Gedek Gelek.


“Iya, aku tahu itu. Aku hanya mengingatkan kalian ke depannya,” kata Gusti Raja. “Sebelum aku pergi, apakah ada yang ingin kalian tanyakan?”


“Bukankah pengiriman pasukan ke Kerajaan Teluk Busung sama saja menantang perang, Gusti Raja?” tanya Ki Pulung.


“Benar, jika tidak ada kerja sama dari Kerajaan Teluk Busung. Jalan itu yang akan aku ambil untuk mengambil wilayah Kerajaan Pasir Langit satu per satu,” kata Gusti Raja. “Kalian tidak perlu memikirkan caranya. Kalian nanti cukup melaksanakan perintahku. Kalian akan kaya raya.”


“Bagaimana jika aku gagal melaksanakan tugas dan terbunuh?” tanya Nyai Bale.


“Maksudmu bayaranmu, Nyai?” tanya Gusti Raja.


“Benar. Hihihi!”


“Akan aku berikan kepada anak-anakmu,” jawab Gusti Raja. “Tapi aku terlalu bodoh jika mempercayai ketidakmampuanmu, Nyai.”


“Hihihi!” tawa Nyai Bale.


“Aku rasa cukup. Untuk sementara kalian bisa pulang dan beristirahat. Yang aku harapkan, kalian harus lebih memiliki strategi yang bagus untuk membunuh Putri Ani,” kata Gusti Raja.


Sosok berjubah hitam itu lalu berbalik dan berjalan lebih masuk ke dalam lorong. Kedua lelaki bertombak segera berbalik dan mengawal majikannya.


“Jauh-jauh aku datang hanya untuk pulang,” keluh Nyai Bale.


“Datang hanya untuk menjerumuskan kaki ke lumpur rawa. Hahaha!” kata Gedek Gelek lalu tertawa.


“Kita pulang sekarang dan mengatur siasat serangan lebih rapi,” kata Ki Pulung lalu berjalan menuju mulut gua lebih dulu.

__ADS_1


Mereka lalu pergi ke luar dan meninggalkan gua tersembunyi itu.


Sekedar bocoran. Sebenarnya lokasi gua itu tidak jauh dari tembok belakang Istana Pasir Langit. (RH)


__ADS_2