Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Para menteri dan pejabat tingkat tinggi dibuat terkejut dengan kedatangan Pasukan Kaki Gunung dalam jumlah banyak ke kediaman mereka. Namun, ternyata itu bukan kondisi buruk bagi mereka. Kehadiran Pasukan Kaki Gunung hanya untuk meningkatkan keamanan di kediaman para pejabat, termasuk di kediaman Menteri Keuangan Badaragi.


Para pejabat hanya diberi tahu bahwa kembali terjadi penyerangan. Tidak menutup kemungkinan para pejabat termasuk yang menjadi target.


Kondisi Ibu Kota di malam itu juga sangat mencekam. Tidak ada yang diizinkan untuk keluar rumah. Beberapa warga yang keluar malam karena mabuk dan main adu ikan di tempat pelacuran harus mengalami peringkusan dan digiring ke penjara.


Satu orang tawanan dari Kelompok Manusia Atas sudah mati oleh siksaan. Hasilnya pun segera dilaporkan oleh Komandan Ati Urat kepada Prabu Galang Digdaya yang tidak melanjutkan tidur malamnya lagi.


“Hingga matinya, anggota Kelompok Manusia Atas tetap mengaku bahwa orang yang memberi perintah adalah Gusti Pangeran Tirta, Gusti,” lapor Komandan Ati Urat.


“Benar-benar anak kurang ajar!” geram Prabu Galang Digdaya. “Apakah ada hal yang kau ketahui tentang Putri Ani yang belum aku ketahui?”


Komandan Ati Urat terdiam sejenak dalam berlututnya. Sangat jelas bahwa dia sedang berpikir.


“Mungkin tentang pendekar tampan berbibir merah, Gusti,” kata Komandan Ati Urat akhirnya.


“Siapa orang itu?” tanya Prabu Galang.


“Hamba tidak mengenalnya, Gusti. Namun, Gusti Putri menyebutnya sebagai kekasihnya. Kami bertemu di kediaman Gusti Menteri Keuangan tadi siang,” jawab Komandan Ati Urat.


“Apa?” kejut Prabu Galang dengan mata melebar dan kening berkerut serius. “Putri Ani menyebutnya sebagai kekasih?”


“Benar, Gusti. Saat itu Gusti Putri marah karena aku menyebut pemuda itu orang asing. Gusti Putri memperkenalkan namanya Joko Tenang, kekasih Gusti Putri,” tandas Komandan Ati Urat.


“Bukankah itu pedagang kayu yang kayunya dibawa oleh Badaragi? Orang yang aku curigai sebagai orangnya Prabu Dira. Pantas saja ikan peri biru di kolam kamar putriku telah tidak ada, rupanya Agi Lodya sudah tergantikan oleh seseorang,” kata Prabu Galang.


Dia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir jarak dekat. Maksudnya itu, baru tiga langkah sudah balik lagi. Raut wajah Prabu Galang sangat menunjukkan bahwa dia berpikir keras.


Lalu katanya, “Aku sangat bahagia jika putriku itu bisa melupakan pengkhianat Agi Lodya, meski aku tidak yakin dia akan berbalik baik kepadaku. Namun ada yang aneh, Ati Urat.”

__ADS_1


“Apa itu, Gusti Prabu?” tanya Komandan Ati Urat penasaran juga.


“Orang yang bernama Joko Tenang itu baru satu dua hari berada di Ibu Kota, bagaimana mungkin Putri Ani secepat itu menganggapnya sebagai kekasih?” ujar Prabu Galang.


“Hamba hanya menyampaikan apa yang hamba saksikan sendiri, Gusti Prabu,” kata Komandan Ati Urat segera mengamankan diri.


“Atau tukang kayu itu memiliki siasat licik dengan cara mendekati putriku?” tanya Prabu Galang yang tidak bisa dijawab oleh Komandan Pasukan Pengaman Putri itu.


“Alangkah baiknya jika Gusti Prabu bertanya kepada Rincing Kila,” usul Komandan Ati Urat.


“Kucari, panggil Rincing Kila menghadap!” perintah Prabu Galang langsung merespon usulan Komandan Ati Urat.


“Baik, Gusti!” sahut pendekar wanita yang menjadi tangan kiri Prabu Galang Digdaya.


Kucari lalu menjura hormat dan pergi. Lagi-lagi, dia tidak perlu surat perintah atau surat izin mengemudi untuk menyampaikan perintah rajanya.


Singkat cerita.


Beruntung Kucari, orang yang dicari ternyata tidak pergi seperti Putri Ani yang kabur entah ke mana, jadi dia tidak perlu mencari-cari ke mana-mana.


“Kau jangan coba-coba mendustaiku, Rincing!” ancam Prabu Galang saat Rincing Kila sudah berlutut di hadapannya.


Sementara itu, Komandan Ati Urat masih berlutut di tempatnya sejak tadi.


“Mohon ampun, Gusti. Hamba tidak akan berani,” ucap Rincing Kila.


“Apakah putriku sekarang sedang dekat dengan pendekar dan tukang kayu yang bernama Joko Tenang?” tanya Prabu Galang.


“Mati aku!” pekik Rincing Kila mendengar pertanyaan itu, tapi di dalam hati. Dia kemudian menjawab, “Benar, Gusti.”


“Joko Tenang itu baru sehari dua hari di Ibu Kota. Datang untuk menawarkan kayunya kepadaku. Aku belum pernah bertemu dengan orang itu. Namun anehnya, bagaimana mungkin Putri Ani tiba-tiba sangat dekat dengan orang asing itu?” tanya Prabu Galang dengan hujjah yang komplit.


“Mohon maaf, Gusti Prabu. Joko Tenang lelaki yang sangat tampan dan pesonanya untuk memikat wanita sangat kuat,” jawab Rincing Kila secukupnya. Dia masih berusaha tidak menceritakan tentang kepahlawanan Joko Tenang.

__ADS_1


“Jawabanmu sangat irit, Rincing. Jelas sekali kau berusaha merahasiakan cerita yang lain. Ingat, aku siapa,” tukas Prabu Galang.


“Hamba sangat ingat, Gusti Prabu,” ucap Rincing Kila.


“Aku sangat kenal watak putriku. Putriku sangat sulit untuk dekat dengan seorang lelaki sejak dipenggalnya Agi Lodya. Pangeran Kerajaan Werang yang begitu tampan bahkan tidak bisa membuatnya tersenyum. Joko Tenang adalah orang asing. Jikapun dia setampan dewa, tidak mungkin Putri Ani sampai jatuh hati jika tidak ada sebab yang sangat memantaskan,” tandas Prabu Galang.


“Mohon ampun, Gusti Prabu. Tanpa pertolongan Joko Tenang, Gusti Putri dan aku pasti sudah tewas,” kata Rincing Kila akhirnya mengungkapkan juga.


“Apa?!” pekik Prabu Galang terkejut.


“Tadi pagi, Gusti Putri dan hamba diserang di Rumah Makan Muara Jerit. Pendekar yang menyerang kami memiliki kesaktian di atas kami. Gusti Putri dan hamba terluka parah yang seharusnya bisa membunuh kami. Saat penyerangan itu, Joko Tenang kebetulan ada di sana juga sedang mencicipi masakah telur ikan perut emas. Joko Tenang yang kemudian menolong kami. Jika pertolongan Joko Tenang terlambat sesaat saja, mungkin Gusti Putri sudah tinggal nama. Ketika kami berada di kediaman Gusti Menteri Keuangan, Gusti Putri kembali diserang oleh seorang pembunuh. Untuk kedua kalinya Joko Tenang menyelamatkan nyawa Gusti Putri. Dua penyelamatan nyawa itulah yang membuat Gusti Putri jatuh hati kepada Joko Tenang,” kisah Rincing Kila.


Cerita itu membuat Prabu Galang Digdaya terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Meski Rincing Kila sudah berhenti berkisah, Prabu Galang masih belum bertanya lagi.


“Bagaimana bisa Joko Tenang berada di lokasi penyerangan sebanyak dua kali?” tanya Prabu Galang lagi. Sepertinya dia tidak mau dengan mudah menerima kenyataan. Rasa curiganya masih lebih tinggi.


“Mohon ampun, Gusti Prabu. Hamba menilai apa yang dilakukan oleh Joko Tenang dalam menyelamatkan Gusti Putri bukanlah rekayasa. Joko Tenang adalah pendekar sakti yang baik,” kata Rincing Kila membela lelaki yang juga ia taksir.


“Kata Ati Urat, Putri Ani memperkenalkan Joko Tenang sebagai kekasihnya?” tanya Prabu Galang.


“Benar, Gusti,” jawab Rincing Kila tanpa berani mengelak, apalagi berdusta.


“Bagaimana jika Joko Tenang itu adalah telik sandi Kerajaan Sanggana Kecil dan seorang penipu ulung?” tanya Prabu Galang bermaksud menyudutkan Rincing Kila.


“Untuk hal itu, hamba sedikit pun tidak tahu dan tidak curiga,” jawa Rincing Kila.


“Lalu ke mana sekarang Putri Ani pergi?” desak Prabu Galang.


“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Gusti Putri tidak memberi tahu hamba,” jawab Rincing Kila.


“Putriku tidak akan pergi ke tempat yang banyak pengawalannya. Aku curiga dia pergi ke tempat Joko Tenang berada. Jika putriku sudah jatuh hati kepada seorang lelaki, dia pasti akan cepat sangat mencintainya,” kata Prabu Galang. Lalu dia pun menurunkan perintah kepada Komandan Ati Urat, “Bawa pasukanmu untuk menangkap Joko Tenang!”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Komandan Ati Urat.

__ADS_1


“Jika dia melawan, lumpuhkan. Jangan membunuhnya, karena aku ingin berbicara kepada orang yang telah menyelamatkan putriku!”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Komandan Ati Urat patuh. (RH)


__ADS_2