
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Memasuki Kadipaten Hutan Malam Abadi, tepatnya di Kota Malam, Putri Ani Saraswani dibuat takjud dengan tatanan kota yang rapi. Meski lingkungan di tengah-tengah hutan, tetapi tata letak bangunan, kerataan jalan, bahkan ada sistem saluran airnya, membuat sang putri yang cantik jelita kagum.
“Pemerintah kota ini begitu rapi,” puji Putri Ani Saraswani sambil menjalankan kudanya pelan-pelan. Terlihat sekali bahwa dia adalah turis di daerah itu.
Sebenarnya bukan pemandangan yang asing dengan lingkungan berumah-rumah kayu seperti itu, karena di Ibu Kota dan di Istana Pasir Langit rata-rata rumah juga dari bambu dan kayu. Juga memiliki aliran air yang lebih kepada untuk kolam-kolam ikan. Namun, kerapian tata letaknya yang membuat Kota Malam terlihat begitu menarik.
Kota ini jelas sangat berbeda dengan Kadipaten Jalur Bukit yang sempat dilalui oleh sang putri. Kadipaten Jalur Bukit sama dengan permukiman-permukiman di Tanah Jawi pada umumnya. Hanya yang menjadi pembeda adalah urusan identitas. Ketika memasuki wilayah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil, Putri Ani harus memiliki papan nama kecil berwarna kuning yang kini terselip di sabuk pakaiannya. Tanda itu menunjukkan bahwa Putri Ani adalah tamu luar negeri, bukan rakyat Sanggana Kecil.
“Wahai, Cantik!” sapa seorang lelaki tiba-tiba seiring tubuhnya melompat dari samping dan mendarat di dekat kuda, tangannya langsung memegang tali di wajah kuda.
“Heah!” pekik Putri Ani terkejut sambil refleks menggebah kudanya dengan tali kendali di tarik satu sisi, membuat kepala kuda menghentak ke samping.
Tindakan Putri Ani dan kuda itu membuat si lelaki berpakaian putih-hitam terlempar, tetapi dengan lihainya lelaki berambut gondrong itu mengatur gerak tubuhnya menjadi salto yang keren.
Putri Ani dan kudanya tidak pergi ke mana-mana. Sang putri ingin tahu apa mau orang itu mengejutkannya. Dia memandang kepada orang itu.
Lelaki itu ternyata seorang pemuda dewasa yang tampan, sangat tampan. Wajahnya berhias kumis tipis yang rapi. Model pakaiannya bagus dan rapi.
“Kau hampir mencelakai aku, Nisanak Bidadari!” hardik pemuda itu, tapi tidak marah-marah amat, justru ujungnya memuji.
“Kau yang membuatku kaget. Untung saja bukan pedangku yang berbicara,” kata Putri Ani yang memang menyandang satu pedang bagus di pelana kudanya. “Apa maksudmu?”
“Sebagai pemuda tampan yang selalu menjadi rebutan gadis-gadis cantik, aku tidak bisa ditipu jika sudah melihat kecantikan yang sangat cemerlang seperti dirimu lewat di depan mataku, Dewi,” kata si pemuda yang percaya dirinya melampaui batas. “Namaku Joko Tingkir, julukan mahsyurku Pangeran Perkasa Dunia. Siapakah Dewi Bidadari gerangan yang begitu memikat hatiku?”
“Lelaki berlidah sepertimu adalah ciri-ciri penjahat wanita,” tukas Putri Ani.
“Oooh, itu tuduhan yang sangat menyakitkan, Dewi!” pekik Joko Tingkir dengan mimik seolah-olah menderita rasa sakit sambil memegangi dada kekarnya.
Tiba-tiba Joko Tingkir memanggil seorang warga lelaki yang sedang melintas membawa kapak panjang.
“Juparno, kemari!” panggil Joko Tingkir kepada lelaki itu.
“Hamba, Gusti!” sahut warga lelaki yang bernama Juparno. Dia datang mendekat lalu menjura hormat kepada Joko Tingkir.
“Sebutkan siapa aku di depan gadis cantik jelita ini, agar aku tidak terlihat buruk di matanya!” perintah Joko Tingkir sambil merangkul bahu Juparno, menunjukkan kemesraan di depan Putri Ani yang masih duduk di punggung kudanya. Bukan berarti Joko Tingkir penyuka sesama jenis.
__ADS_1
“Gusti bernama Joko Tingkir, Jagoan Kadipaten,” kata Juparno sambil senyum-senyum, sebab dia juga terpesona melihat kecantikan Putri Ani yang saat itu tanpa make up, tetapi memang dasarnya cantik.
“Nah, kau dengar sendiri, Dewi. Aku adalah Jagoan Kadipaten Hutan Malam Abadi, orang yang bertanggung jawab atas keamanan di kadipaten ini. Jadi, mana mungkin aku seorang penjahat wanita. Jika aku sampai berbuat seperti itu, bisa ternoda kehormatanku,” kata Joko Tingkir jumawa.
“Benar. Benar itu, Gusti. Apalagi Gusti Joko Tingkir adalah sahabat dekat Gusti Prabu Dira,” kata Juparno lebih menguatkan.
“Terima kasih, Sahabat,” ucap Joko Tingkir sambil menepuk-nepuk bahu Juparno tanda berterima kasih.
“Hamba mohon diri, Gusti,” ucap Juparno sambil membungkuk menjura hormat. Dia pun mengangguk sambil tersenyum kepada Putri Ani.
Juparno lalu pergi dan kembali memikul kapak bergagang panjangnya.
“Oh, jadi aku berhadapan dengan pendekar nomor satu di kadipaten ini,” ucap Putri Ani.
“Benar sekali,” kata Joko Tingkir. “Apakah aku boleh tahu nama Dewi sebenarnya?”
“Aku Putri Ani Saraswani, putri dari Kerajaan Pasir Langit,” jawab Putri Ani.
“Hah! Putri?” kejut Joko Tingkir. Setelah itu gestur tubuhnya seketika berubah santun. “Mohon maaf, Gusti Putri. Sepertinya aku salah menggoda wanita. Hahaha!”
“Tapi, seorang putri kerajaan tanpa pengawal? Bepergian seorang diri?” tanya Joko Tingkir.
“Karena aku pergi tidak ingin diketahui,” jawab Putri Ani.
“Tapi, kenapa Gusti Putri mengaku kepadaku?” cecar Joko Tingkir jadi agak curiga.
“Karena kau menyombongkan diri!” ketus Putri Ani.
“Hahaha! Aku tidak menyombongkan diri. Aku tidak bisa tahan untuk menebar pesona ketika melihat sesosok mutiara yang berkilau melintas di depan mataku,” kilah Joko Tingkir setelah tertawa jumawa.
“Joko Tingkir!” panggil seorang wanita separuh baya, tetapi dia berpakaian ala pendekar.
Joko Tingkir pun menengok ke seberang jalan dengan hati yang memaki, “Mengganggu saja!”
“Ada apa, Ni?” tanya Joko Tingkir setengah berteriak.
“Putramu memukul anak Kepala Kota sampai menangis!” sahut wanita tersebut.
__ADS_1
Seketika berubahlah raut wajah Joko Tingkir karena statusnya dibongkar di depan calon mangsa kebuayaannya. Itu juga membuat Putri Ani tersenyum sinis.
“Mereka masih anak-anak, nanti akur kembali. Aku sedang ada urusan penting!” teriak Joko Tingkir kesal.
“Aku dengar, Gusti Prabu sedang ada di Kota Abadi bersama Gusti Permaisuri Negeri Jang!” sahut wanita itu lagi tanpa peduli dengan kekesalan Joko Tingkir.
“Biarkan saja. Aku sedang menghadapi masalah yang jauh lebih penting!” sahut Joko Tingkir lagi, masih bernada kesal.
“Hihihi!” Wanita itu lalu berjalan pergi sambil tertawa. Sepertinya ada yang dia rahasiakan.
“Kurang ajar, dia pasti sengaja menelanjangiku di depan gadis cantik!” maki Joko Tingkir bicara kepada dirinya sendiri.
“Rupanya para wanita di sini sudah sangat hafal dengan tabiatmu, Tingkir,” kata Putri Ani yang bisa membaca apa yang dilakukan oleh pendekar wanita separuh baya tadi.
“Dia hanya iri karena dia tidak pernah digoda oleh lelaki paling tampan di Sanggana Kecil,” kata Joko Tingkir membela diri.
“Aku sangat tahu bahwa kau bukanlah lelaki tertampan di Sanggana Kecil,” bantah Putri Ani.
“Siapa yang kau tahu orang yang lebih tampan dari aku?” tanya Joko Tingkir cepat, nadanya sewot.
“Joko Tenang. Joko Tenang namanya. Kau pasti mengenalnya karena kalian sama-sama orang Hutan Malam Abadi,” jawab Putri Ani tegas.
“Siapa? Joko Tenang?” kejut Joko Tingkir.
Joko Tingkir jadi terdiam sejenak sambil menatap serius kepada Putri Ani.
“Sekitar sepuluh tahun Prabu Dira tidak memakai nama Joko Tenang, tapi kenapa gadis ini bisa kenal nama itu dan tahu Gusti Prabu lebih tampan dari aku. Jangan-jangan dia simpanan rahasia, Gusti Prabu,” batin Joko Tingkir.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Putri Ani.
“Ah, si Joko itu tidak tampan, dia itu cantik. Hahaha!” kata Joko Tingkir lalu tertawa sendiri.
“Tidak usah berlakon kau, Tingkir. Sebagai orang nomor satu di bidang keamanan kadipaten ini, kau pasti tahu Joko Tenang ada di mana,” kata Putri Ani.
“Jelas aku sangat tahu,” kata Joko Tingkir. “Tapi, aku akan memberi tahu jika Gusti Putri mau membelikanku sepotong daging sapi goreng.”
“Tidak masalah,” kata Putri Ani, lalu tersenyum kecil, membuat Joko Tingkir tersenyum lebih lebar. (RH)
__ADS_1