
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Ketua Tujuh Perguruan Tunas Mahkota, Eba Kemayi, menyambut tamunya dengan minuman dingin sedingin es, yang jika diminum, usus-usus sampai menggigil. Sebelum Ketua Tujuh menemui tamu-tamunya, minuman dingin yang lebih dulu menemui para tamu.
Setelah otak dan usus para tamu dingin, barulah Eba Kemayi datang dengan dikawal oleh dua murid perempuan yang jauh lebih muda darinya. Wanita separuh baya itu tampil berwibawa dengan pakaian serba putih. Dia ramah karena suka tersenyum.
Eba Kemayi duduk berhadapan dengan Pipi Nira, Komandan Awir Lutung dan Komandan Rorotang di sebuah saung. Sementara dua prajurit Pasukan Kaki Gunung berdiri di luar saung.
“Apakah sudah dihabiskan teh kesejukannya?” tanya Eba Kemayi seraya tersenyum.
“Sudah, Ketua,” jawab Pipi Nira santun pula.
“Boleh aku mengenal nama kalian berdua?” tanya Eba Kemayi yang sudah mengenal Komandan Rorotang.
“Aku Pipi Nira, Pendekar Rantai Cantik. Ini Awir Lutung, Komandan Pasukan Kaki Gunung,” jawab Pipi Nira.
“Apakah Gusti Prabu Galang Digdaya langsung yang mengutus kalian atau pejabat lain?” tanya Eba Kemayi.
“Perintah Gusti Prabu lewat Mahapatih Olo Kadita, Ketua,” jawab Pipi Nira.
“Jadi, kalian ingin menjemput pulang Pangeran Tirta Gambang?” tanya Eba Kemayi untuk memastikan. Sebelumnya dia sudah diberi tahu oleh Jantung Kitik tentang niatan para tamu itu.
“Benar, Ketua,” jawab Pipi Nira.
“Pangeran Tirta sedang mendalami satu ilmu penting bagi kemajuan kesaktiannya. Pangeran sedang bersemadi, baru bisa keluar dari Sangkar Keheningan tiga hari lagi,” ujar Eba Kemayi.
“Mohon maaf, Ketua. Penjemputan ini sangat darurat. Jika kondisi tidak memungkinkan membawa pulang Gusti Pangeran dengan cara lunak, kami diperintahkan membawa paksa,” tandas Pipi Nira dengan nada yang tetap santun.
“Oh, sedemikian gentingnya,” ucap Eba Kemayi berkomentar. “Jika begitu penting, penghentian semadi Pangeran harus atas izin Guru Panji Kubilang. Sebab, penghentian akan membuat Pangeran Tirta harus mengulang dari awal usahanya untuk menguasai kesaktian itu. Butuh satu purnama lamanya jika harus mengulang kembali.”
“Mohon maaf, Ketua. Kami hanya membawa perintah yang memaksa. Tidak ada kelonggaran meski kondisi Gusti Pangeran demikian,” tandas Pipi Nira.
“Baiklah jika kalian memang memaksa. Tunggulah di sini. Aku harus menemui Guru Panji Kubilang lebih dulu,” kata Eba Kemayi.
“Baik, Ketua,” ucap Pipi Nira.
Maka pergilah Ketua Tujuh meninggalkan para tamunya yang harus menunggu di saung tersebut.
Singkat waktu.
Ternyata Pipi Nira dan kedua komandan harus menunggu hingga senja, barulah Ketua Tujuh datang bersama seorang pemuda tampan berambut gondrong sebahu tanpa ikat kepala. Pemuda itu berhidung mancung dan memiliki model mata dan alis yang mirip dengan Putri Ani Saraswani.
__ADS_1
Pemuda itu berusia dua dasawarsa plus setahun. Perawakannya gagah dengan tubuh yang sedang. Jika Putri Ani memiliki cantik yang keterlaluan, maka, karena dia adalah adik kandung satu ayah satu ibu, ketampanannya tidak sampai keterlaluan.
Pemuda itu memang Pangeran Tirta Gambang. Namun, raut wajahnya menunjukkan kemarahan dengan sorot mata yang tajam. Kemarahan itu mengurangi aura ketampanannya yang berkumis halus.
Melihat kedatangan Eba Kemayi bersama Pangeran Tirta Gambang, Pipi Nira dan Komandan Awir Lutung segera bangkit dan pergi menyongsong.
“Sembah hormat kami, Gusti Pangeran!” ucap Pipi Nira dan Komandan Awir Lutung sambil turun berlutut menjura hormat.
“Keparat, kalian!” teriak Pangeran Tirta begitu marah sambil menunjuk Pipi Nira.
“Mohon ampun, Gusti. Kami hanya pelaksana perintah Gusti Prabu,” ucap Pipi Nira tenang. Dia dan Komandan Awir Lutung sudah menduga akan disemprot oleh Pangeran Tirta.
“Kondisi genting apa di Kerajaan yang berhubungan dengan aku? Apakah Ayahanda Prabu mati? Ibunda mati? Atau Kakak Putri Ani mati?” bentak Pangeran Tirta.
Belum lagi Pipi Nira menjawab, sang pangeran sudah berteriak lagi.
“Kalian tahu, aku harus mengulang selama satu purnama lagi jika ingin melanjutkan mempelajari ilmu Panah Dewanya Dewa. Ini semua gara-gara kalian! Kenapa Ayahanda Prabu memanggilku pulang dengan mendesak, hah?!”
“Mohon ampun, Gusti Pangeran. Hamba tidak tahu tentang hal itu dan tidak diberi tahu,” jawab Pipi Nira, masih dalam posisi berlutut. “Kami harap, Gusti Pangeran ikut kami kembali pulang ke Istana. Gusti Prabu memanggil Gusti Pangeran pulang secepatnya.”
“Kalian telah membuat aku sangat marah. Kalian pikir aku akan pulang bersama kalian. Aku akan pulang sendiri tanpa kalian,” kata Pangeran Tirta Gambang dengan nada yang lebih rendah.
Sementara Ketua Tujuh hanya mendengar drama perseteruan itu.
“Jika begitu, lakukanlah!” tantang Pangeran Tirta, lalu tiba-tiba dia berkelebat ke samping hendak kabur.
Sreeetr! Sleet!
Gerakan Pangeran Tirta ternyata sudah diantisipasi oleh Pipi Nira. Pendekar wanita itu cepat pula menghentakkan tangan kanannya. Rantai halus yang melingkar tebal di pergelangan tangan kanannya melesat secepat anak panah dilepas.
Ujung rantai kecil itu berhasil menyusul Pangeran Tirta dan membelit kaki kirinya. Hal itu membuat gerakan sang pangeran tertahan dan jatuh ke tanah.
Pipi Nira cepat bangkit dan melakukan gerakan menarik rantai dengan cepat, membuat kaki Pangaeran Tirta tertarik paksa ke arah pendekar wanita itu.
Tiba-tiba Pangeran Tirta menyalakan jari-jari tangan kanannya dengan sinar hijau. Dia bermaksud memotong rantai kecil yang melilit kuat kakinya.
Zerzz!
“Aaak!” jerit Pangeran Tirta ketika tiba-tiba tubunya tersengat setruman yang bersumber dari rantai tersebut. Sebelum dia menebas tali rantai, Pipi Nira lebih dulu menyalurkan energi setrumnya.
Namun, karena yang disetrum adalah pangerannya sendiri, Pipi Nira menghentikan aliran energi saktinya. Sepertinya Pangeran Tirta sudah menderita kelemasan.
Crak!
__ADS_1
Tiba-tiba Pangeran Tirta bergerak cepat menebas rantai di kakinya dengan jari-jari tangan yang bersinar hijau. Rantai itu putus.
Pipi Nira terkejut, karena ternyata Pangeran Tirta tidak begitu terpengaruh oleh sengatan yang bisa membunuh seekor lalat itu.
“Kau memang harus aku beri pelajaran, Pipi Nira!” teriak Pangeran Tirta setelah melompat bangkit dengan gaya pendekar. “Hiaaat!”
Pangeran Tirta Gambang berkelebat cepat menyerang dengan sepuluh jari yang semuanya sudah bersinar hijau. Sepertinya dia serius ingin mencabik-cabik tubuh Pipi Nira yang tanpa sungkan meladeni perlawanan sang pangeran.
Sementara itu, Eba Kemayi berpindah tempat. Dia dan orang-orang Perguruan Tunas Mahkota dalam status lepas tangan. Jika ada perintah dari seorang raja untuk anaknya yang berguru di perguruan itu, maka Guru Panji Kubilang dan pihak perguruan tidak akan ikut campur. Karena itulah, Pangeran Tirta dibiarkan berjuang sendiri.
Namun, Prabu Galang Digdaya tidak akan mengirim Pipi Nira jika tidak mampu mengatasi Pangeran Tirta Gambang apabila memberontak.
Sreeetr! Sreeetr!
Sambil bertarung meladeni serangan-serangan ganas Pangeran Tirta, Pipi Nira mengulur panjang dua untai rantai halus di pergelangan tangannya, sehingga bisa meliuk-liuk mengurung posisi sang pangeran.
Berulang kali Pangeran Tirta menangkis upaya dua rantai itu saat menyerang dirinya, bahkan ada yang berhasil dia potong dengan tebasan jari.
Trak trak trak!
Pada satu kesempatan, satu ujung rantai bergerak gesit seperti ujung pedang menyerang berulang kepada Pangeran Tirta. Sang pangeran menangkis gesit pula dengan jari-jarinya.
Sleetr!
“Aaakr!” jerit Pangeran Tirta keras saat lengan kanannya tahu-tahu sudah terlilit oleh rantai kedua yang juga langsung menyetrumnya, membuatnya kejang tinggi.
Set set set...!
Slet slet slet...!
“Aaakk...!”
Pada saat Pangeran Tirta disetrum, dari punggung tangan Pipi Nira keluar enam tali sinar warna-warni tanpa putus yang langsung melilit kedua tangan dan kaki Pangeran, ditambah lilitan pada leher dan pinggang. Itulah ilmu Pasungan Rantai Cantik milik Pipi Nira yang terkenal.
Jika sudah dipasung oleh ilmu itu, dijamin tidak akan bisa berkutik.
Pipi Nira kemudian memutus keenam tali sinar, sehingga keenam tali sinar itu melilit penuh di keenam anggota tubuh Pangeran Tirta yang terus menjerit.
Pipi Nira sudah menarik pulang semua rantai peraknya yang bisa tertarik menggulung sendiri di pergelangan tangan.
Tiba-tiba Pangeran Tirta tidak menjerit lagi. Itu karena dia sudah jatuh pingsan tidak sadarkan diri dengan tali sinar awet memasung.
“Bawa Gusti Pangeran!” perintah Pipi Nira kepada dua prajurit yang sejak tadi tidak punya pekerjaan.
__ADS_1
Ketua Tujuh dan orang-orang perguruan tidak melakukan intervensi sedikit pun melihat pelumpuhan terhadap Pangeran Tirta. (RH)