
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Di dalam sebuah kamar yang ada di rumah makan besar dan elit itu, Joko Tenang sedang melakukan pengobatan ajaibnya yang bernama Serap Luka.
Bukan hanya Joko Tenang dan Rincing Kila yang bersama Putri Ani Saraswani, tetapi dia ditemani oleh Pantri Ewa dan dua orang pelayan wanitanya.
Tidak seperti sepuluh tahun yang lalu, kali ini menyentuh wanita tidak membuat Joko Tenang lemah raga, lemah batin, apalagi sampai lemah syahwat. Joko Tenang sudah tidak memiliki Sifat Luluh Jantan yang menjadi ciri sebagai ahli waris ilmu Delapan Dewi Bunga.
Jadi, dalam mengobatannya, kini Joko Tenang tidak masalah saat menyentuh luka hangus di punggung Putri Ani Saraswani. Pengobatan Joko Tenang harus menyentuh titik luka jika luka itu merusak kulit dan daging. Demi sembuh, Putri Ani mengizinkan Joko Tenang menyentuhnya. Maksudnya menyentuh punggungnya, bukan yang lain. Jangan salah paham.
Malu? Putri Ani Saraswani memang malu. Namun, sudah kepalang basah, jadi berenang sekalian. Joko Tenang sudah memeluknya dengan kuat di pertarungan. Joko Tenang sudah menggendongnya dari luar masuk ke kamar seperti membopong istari baru. Jadi buat apa lagi harus malu jika hanya berakibat tidak sembuh.
Singkat cerita.
Putri Ani Saraswani benar-benar dibuat takjub oleh ilmu pengobatan Joko Tenang yang memang benar-benar ajaib. Sampai-sampai dia memantaskan Joko untuk menjadi tabib Istana.
Putri Ani Saraswani kini benar-benar sehat wal afiat. Tidak ada bekas luka di punggungnya. Kulit punggungnya telah mulus dan bersih kembali. Juga sudah bersih dari racun.
Joko Tenang sudah tidak takjub lagi melihat kulit mulus seperti punggung sang putri. Joko sudah terbiasa melihat yang lebih mulus dan bening sebening air keringat.
Putri Ani Saraswani hanya bisa tersipu malu karena kini kulit punggungnya sudah mulus lagi. Dia perlu baju ganti agar kulitnya bisa tertutupi.
Bukan hanya sang putri yang digarap Joko Tenang, tetapi juga Rincing Kila, si pengawal. Namun Rincing Kila tidak perlu robek baju, Joko Tenang cukup menarik racun lewat kedua telapak tangan gadis itu. Dalam posisi pengobatan itu, Rincing Kila dapat bonus dengan bisa menikmati ketampatan Joko Tenang karena mereka memang duduk berhadapan, berbeda ketika Joko mengobati Putri Ani.
“Edan! Kulit wajahnya saja mulus seperti kulit wajah bayi!”
Perkataan Rincing Kila di dalam hati itu, entah makian atau pujian.
“Jika Gusti Putri tidak mau kepada Joko, biar buat aku saja. Aku juga rela menjadi istri simpanan jika Joko mau,” batin Rincing Kila.
Singkat cerita.
Setelah mengobati putri dan pengawalnya, maka usailah acara sentuh, serap dan buang racun itu. Bukan sekedar menyembuhkan, pengobatan Serap Luka juga membuat tubuh menjadi prima kembali, dari segi fisik hingga semangat.
“Paman, jangan laporkan kejadian ini ke Istana. Kalian akan dipenjara jika Istana tahu dan Joko juga bisa ditangkap!” perintah Putri Ani kepada Pantri Ewa.
“Tapi bagaimana dengan mayat-mayat para prajurit kita, Gusti?” tanya Pantri Ewa. “Kerajaan lambat laun akan tahu tentang ini.”
__ADS_1
“Kumpulkan semua mayat mereka. Lucuti pakaiannya, lalu buang satu per satu mayatnya ke sungai dengan rentang waktu, agar mayatnya tidak bergerombol. Aku akan mengambil prajurit dari Pasukan Keamanan Ibu Kota untuk menggantikan mereka,” atur Putri Ani Saraswani menunjukkan tingkat kecerdasannya. Memang, di sela-sela pergolakan batinnya yang menaruh rasa kepada Joko Tenang, dia juga memikirkan cara bagaimana menyembunyikan kejadian besar tadi dari sepengetahuan Istana, terutama dari ayahnya, Prabu Galang Digdaya.
“Baik, Gusti Putri,” ucap Pantri Ewa patuh.
“Rincing, kau kembalilah ke Istana, ambilkan aku pakaian baru!” perintah Putri Ani Saraswani kepada pengawalnya.
“Lalu, bagaimana dengan Gusti Putri?” tanya Rincing Kila dengan mata mendelik.
“Aku menunggu di sini,” jawab sang putri.
“Tapi bagaimana jika ada penyerang lagi?” tanya Rincing Kila bernada berat. Sebenarnya perasaannya tidak nyaman jika harus meninggalkan junjungannya berdua dengan Joko Tenang. Bukan karena khawatir, tapi lebih kepada semicemburu.
“Aku bersama dengan Joko,” tandas Putri Ani yang hatinya begitu cepat percaya kepada pemuda berbibir merah itu. “Tidak mungkin aku pergi dengan punggung terbuka seperti ini. Cepat pergi!”
“Baik, Gusti,” ucap Rincing Kila, lalu melirik kepada Joko Tenang yang hanya tersenyum kepada pengawal itu.
“Jangan coba-coba kau jatuh hati kepada Joko!” ancam Putri Ani yang kalimatnya bias seperti sinar matahari yang terpantul.
Terkesiap Rincing Kila mendapat peringatan seperti itu. Meski kalimat itu memiliki multi maksud dan tujuan, tetapi tafsir terkuatnya “Joko adalah milikku!”
“Ba-baik, Gusti Putri,” ucap Rincing Kila jadi agak tergagap.
“Baik, Gusti Putri,” ucap Rincing Kila lagi.
“Hahaha!” tawa rendah Joko Tenang yang enak didengar. Sepertinya tawa Joko mengandung kecap dan lada sehingga enak diterima oleh pendengaran.
Rincing Kila dan Pantri Ewa lalu keluar lebih dulu dari ruangan itu.
“Silakan, Putri,” ucap Joko Tenang mempersilakan sang putri keluar lebih dulu sebelum dirinya.
“Iya,” ucap Putri Ani Saraswani sembari tersenyum tersipu malu. Karena sekarang dia sudah sehat, jadi kini dia punya rasa malu.
Mereka berdua pun keluar dan pergi untuk melihat kondisi tempat pertarungan tadi.
Mereka melihat para pelayan sedang bekerja membersihkan lantai dari kotoran darah dan serpihan daging. Adapun mayat-mayat sudah dievakuasi ke satu tempat.
Pantri Ewa tampak mngarahkan para pelayannya. Sementara Rincing Kila pergi menemui kudanya, bukan untuk berbincang, tetapi untuk ditunggangi.
“Kenapa Gusti Putri melarang penyerangan ini dilaporkan?” tanya Joko Tenang.
__ADS_1
“Di Pasir Langit ini ada istilah hukum tersangka sementara. Semua orang yang berada di lokasi pembunuhan, apakah itu saksi atau korban yang masih hidup, dianggap sebagai tersangka sementara, yang akan ditangkap dan dipenjara semua. Selama masa dipenjara itu, semuanya akan ditanyai dan pasti akan mendapat siksaan karena dianggap berbohong. Jika petugas meyakini si tersangka sementara benar-benar tidak tahu dan tidak terkait dengan perkara, barulah mereka tidak ditanyai lagi dan tidak disiksa lagi. Jika sampai Tim Penyelidik Istana datang ke sini, kau, Paman Pantri dan para pelayan akan ditangkap karena menjadi tersangka sementara,” jelas Putri Ani Saraswani agak panjang.
“Menurutku itu sangat tidak adil,” komentar Joko Tenang dengan tatapan serius kepada sang putri, membuat gadis jelita itu agak salah sikap.
“Ayahku sangat berkuasa untuk urusan nyawa rakyatnya,” kata Putri Ani. “Karena hukum itu juga warga Kerajaan Pasir Langit sangat tidak mau membunuh karena bisa mencelakai keluarga mereka juga.”
“Jika aku yang ditangkap, mungkin aku akan melawan,” kata Joko Tenang sembari tersenyum, membuat sang putri tersenyum pula dan memendam rasa bahagia, karena pada dasarnya sang putri memang sedang jatuh cinta.
“Kita bicara di sana saja, Joko,” kata Putri Ani segera alihkan suasana.
Putri Ani Saraswani yang jantungnya berdebar-debar dan darahnya berdesir-desir, berjalan lebih dulu menuju ke sebuah meja yang posisinya agak jauh dari lokasi pertarungan.
Mereka berdua lalu duduk berseberangan meja sehingga saling berhadapan, membuat keduanya bisa puas-puasan saling memandang dan mengagumi.
“Joko,” panggil Putri Ani Saraswani pelan dan lembut.
Joko Tenang tidak menyahut, tetapi bertanya dengan menaikkan sepasang alisnya.
“Terima kasih,” ucap Putri Ani lembut sembari tersenyum tulus, membuat kecantikannya begitu sejuk dipandang mata, meski tidak akan bisa mengungguli kesejukan senyum Ratu Tirana.
“Sudah menjadi panggilan kependekaranku untuk menolong, Gusti,” kata Joko Tenang merendah. “Sepertinya Gusti Putri dalam bahaya karena menjadi target pembunuhan.”
“Tapi siapa yang ingin membunuhku? Apakah ada kaitannya dengan pembunuhan terhadap Paman Aduh Mantang?” pikir Putri Ani.
“Maksud Gusti, Menteri Ketahanan Pangan yang dibunuh tadi malam?” terka Joko Tenang.
“Benar. Pantas saja kematian Paman Aduh mengganggu pikiranku,” kata Putri Ani.
“Pembunuh itu meninggalkan pedang yang mungkin bisa ditelusuri jejaknya,” kata Joko Tenang.
“Badur!” panggil Putri Ani kencang kepada pelayan rumah makan yang sedang mengepel.
“Hamba, Gusti Putri!” sahut Badur sembari segera bangkit dan berlari mendatangi junjungannya.
“Di mana pedang pembunuh tadi?” tanya Putri Ani.
“Ada, Gusti. Segera hamba ambilkan,” jawab Badur.
Dia segera berbalik dan berlari untuk mengambil pedang yang tadi para pelayan kumpulkan. (RH)
__ADS_1