
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Kesepakatan telah dilakukan oleh Joko Tenang dan Abang Kintir, owner biro jasa Pengirin Lintas Dunia. Perkara yang sifatnya umum hingga perkara yang sifatnya rahasia telah disepakati, mungkin ditandatangani di atas materai.
Joko Tenang berkuda yang diikuti oleh satu pedati dua kuda dan dikawal oleh empat penunggang kuda. Untuk sepuluh peti Badarkopi, cukup dengan satu pedati dan dikawal oleh empat pengawal, yang tentunya bukan pengawal biasa.
Pada bagian bak pedati ada tiang kecil yang di pucuknya ada bendera putih kecil bergambar siluet hitam sederhana sebuah pedati.
Meski Pasukan Keamanan Ibu Kota dan Pasukan Kaki Gunung mengenal baik siapa itu Pengirim Lintas Dunia, tetap saja mereka mendapat pemeriksaan dari para prajurit. Namun, semua lancar, terlebih Joko Tenang membawa embel-embel konsumen kopi Menteri Keuangan dan kenalan Putri Ani Saraswani.
Akhirnya rombongan Joko Tenang tiba di halaman rumah Menteri Keuangan Badaragi. Ada yang berbeda di kediaman sang menteri, yaitu keberadaan empat orang perempuan yang memikul jangkar. Mereka adalah Empat Jangkar Maut.
Keberadaan pengawal khusus itu menunjukkan bahwa Menteri Keuangan sudah pulang dari Istana. Namun, Joko Tenang tidak tahu bahwa itu adalah pengawal khusus bagi sang menteri.
Melihat ketampanan Joko Tenang dengan wibawa keprabuannya, bergetar hati keempat wanita dewasa itu. Namun, mereka adalah empat pendekar profesional yang harus teguh kepada tugas, bahkan demi karir mereka rela menjomblo hingga usia sematang itu.
Jika para prajurit jaga sudah mengenal Joko Tenang, berbeda dengan keempat wanita pemikul jangkar itu. Para wanita itu sudah mengenal bendera milik Pengirim Lintas Dunia, tetapi tetap tidak dengan Joko Tenang, yang jelas-jelas bukan bagian dari biro jasa tersebut.
“Siapa kau, Kisanak?” tanya wanita yang posisinya paling dekat dengan kedatangan Joko Tenang.
Joko Tenang turun lebih dulu dari kudanya.
“Aku Joko Tenang, tukang kayu dan juga pelanggan kopi Gusti Menteri,” jawab Joko Tenang sembari tersenyum semanis madu Gunung Dewi Runa, membuat wanita itu berdesir darahnya yang lewat di hati. Joko Tenang pun iseng bertanya, “Namamu siapa, Nisanak? Sudah beberapa kali aku ke sini, tetapi aku baru kali ini melihat kalian.”
Tersentak jantung si gadis tua karena namanya ditanyakan oleh si orang ganteng.
“Namaku Adila,” jawa si wanita. “Kami adalah Empat Jangkar Maut, pengawal Gusti Menteri.”
“Oh, beruntung kedatanganku. Berarti Gusti Menteri sudah pulang, jadi aku tidak perlu menunggu,” kata Joko Tenang.
Dari dalam rumah muncul Menteri Keuangan yang sudah tidak berseragam. Dia keluar bersama anak semata wayangnya. Maklum, duda kepagian, selagi masih muda sudah menduda. Jangan ditanya kenapa sampai menjelang tua masih memilih menduda, seolah-olah menduda adalah gaya hidup sehat.
__ADS_1
“Joko Tenaaang!” seru Badaragi sumringah penuh ceria, terlihat dia begitu gembira melihat kedatangan lelaki berbibir merah itu.
“Hormatku, Gusti Menteri!” ucap Joko Tenang sembari menjura hormat.
Keenam lelaki dari Pengirim Lintas Dunia pun segera turun dari kendaraannya dan menjura hormat kepada Badaragi.
“Bangunlah!” seru Badira yang tersenyum lebar.
Benar-benar seperti menyambut sahabat jauh. Namun, tentunya tanpa acara peluk dan salam tempel pipi, apalagi sampai tempel bibir.
Kemunculan Menteri Keuangan yang begitu gembira menyambut Joko Tenang, membuat Adila segera bergesesr posisi. Sikap yang ditunjukkan oleh Badaragi, membuat Joko Tenang bisa menerka-nerka apa sebabnya.
“Syukurlah Gusti Menteri baik-baik saja. Aku sudah khawatir pembelian kopiku akan batal,” kata Joko Tenang.
“Aku sangat berterima kasih kau telah menyelamatkan nyawa putriku, Joko,” ucap Badaragi sambil meraih tangan Joko dan menepuk-nepuknya pelan.
Joko Tenang langsung memandang kepada Badira yang tersenyum lebar. Joko Tenang merasa tidak pernah menyelamatkan nyawa Badira, tetapi yang dia selamatkan adalah nyawa Putri Ani. Joko Tenang menduga ada cerita salah yang diterima oleh Badaragi.
“Tidak ada yang begitu istimewa, Gusti. Sudah kewajiban seorang pendekar untuk mencegah terjadinya bencana,” kata Joko Tenang merendah, membuat keempat wanita pemikul jangkar memberi like tanpa komentar. “Sesuai janji, aku datang untuk membayar dan aku pun sudah menyewa jasa pengiriman.”
“Oh jangan, Gusti. Urusan menolong sudah menjadi kewajiban. Urusan dagang jangan dicampuradukkan dengan perasaan, khawatir usaha mengalami kebimbangan,” tolak Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa Badaragi mendengar perumpamaan Joko Tenang yang menurutnya bijak. “Kau benar-benar pengusaha sejati, Joko. Baiklah jika kau memang tidak mau menerima kemurahan hatiku.”
Joko Tenang lalu mengambil kantong uang yang sudah dia siapkan di pelana kudanya.
“Transaksi perdagangan tetap transaksi, urusan kemanusiaan biarkan ada di sisi lain agar kita sama-sama mendapat untung,” kata Joko Tenang sambil menyerahkan kantung uangnya ke tangan sang menteri.
“Hahaha! Iya iya iya,” tawa Badaragi tanpa enak untuk menolaknya. Lalu perintahnya kepada putrinya, “Badira, suruh Kolangling mengangkut kopi untuk Joko ke pedati!”
“Baik, Ayah,” ucap Badira sembari tersenyum. Ia pun segera pergi dengan menyempatkan diri memandang kepada Joko, padahal sejak awal dia sudah memandang lelaki berompi merah itu.
Joko Tenang hanya memberi senyuman manis. Itu bukan karena Joko Tenang hendak memberi harapan cinta kepada semua wanita, termasuk Trio Istri Pelaut, tetapi dia menunjukkan keramahan dan keterbukaannya kepada semua orang.
__ADS_1
“Silakan, Joko,” kata Badaragi mempersilakan Joko Tenang untuk masuk ke teras. Kudanya pun diurus oleh prajurit jaga.
Badaragi mengajak Joko Tenang duduk di teras karena memang ada hal penting yang perlu dibicarakan.
Sementara itu, Adila dan seorang rekannya ikut ke teras dan berdiri di posisi tidak terlalu jauh dari sang menteri. Saat itu tidak terlihat keberadaan pengawal pribadi Menteri Keuangan, yaitu Ronda Galo.
“Aku sudah menyampaikan tawaranmu dan menunjukkan kayumu kepada Gusti Prabu. Kemudian tawaran itu Gusti Prabu alihkan kepada Mahapatih Olo Kadita untuk memutuskan. Jenis kayu yang kau tawarkan kepada Istana diminati, Joko. Namun, karena kau berasal dari Hutan Malam Abadi, tawaranmu ditolak,” tutur Badira.
“Apa alasannya sehingga tawaranku ditolak, padahal kayuku diminati?” tanya Joko Tenang.
“Gusti Prabu mencurigaimu sebagai orang suruhan Kerajaan Sanggana Kecil. Sehari yang lalu, Ratu Kerajaan Balilitan datang bersama Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil. Mereka menawarkan kerja sama yang kemudian ditolak oleh Gusti Prabu. Penawaranmu datang sehari setelah kedatangan mereka. Hutan Malam Abadi adalah wilayah Sanggana Kecil. Sangat kuat dugaan bahwa kau adalah orang suruhan Prabu Dira,” jelas Badaragi.
Joko Tenang tersenyum lebar mendengar hal tersebut.
“Aku bukan orang suruhan Kerajaan Sanggana Kecil. Aku mendengar bahwa Kerajaan Sanggana Kecil akan melakukan kerja sama dengan Kerajaan Pasir Langit. Aku dengar-dengar dari salah satu pejabat bahwa salah satu yang akan dilakukan kerja sama adalah membangun angkatan laut. Jadi aku berpikir bahwa Kerajaan Pasir Langit akan membutuhkan banyak kayu untuk membuat banyak kapal. Karena itulah, aku bergerak cepat datang ke sini, Gusti,” kata Joko Tenang.
“Apa boleh buat, Joko. Apa pun alasanmu, tawaranmu sudah ditolak,” kata Badaragi, seolah ikut kecewa.
“Tidak apa-apa, Gusti. Sepertinya aku perlu jalur lain untuk bisa menundukkan Gusti Prabu agar Istana mau membeli kayuku. Sepertinya untuk sementara aku perlu berdagang kopi dengan Gusti, atau telur ikan perut emas dengan Gusti Putri,” kata Joko Tenang.
“Satu hal lagi, Joko. Dengan berat hati aku menyampaikan peringatan dari Gusti Mahapatih. Jika kau besok masih ada di Ibu Kota ini, Pasukan Kaki Gunung akan menangkapmu,” ujar Badaragi.
“Apa salahku, Gusti? Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apa-apa?” tanya Joko Tenang dengan nada datar.
“Kau tidak bersalah. Sebagai pedagang kayu, wajar jika kau menawarkan ke Istana. Dan kau tidak bersalah karena membeli kopiku. Kesalahanmu hanya karena kau orang Sanggana Kecil,” tandas Badaragi.
“Baiklah, Gusti. Gusti Menteri sudah memperingatkan aku. Setelahnya adalah tanggung jawabku. Apa yang aku lakukan di kota ini akan menjadi risiko yang akan aku tanggung sendiri. Mungkin aku belum bisa pergi karena aku masih memiliki urusan perdagangan baru dengan Gusti Putri,” kata Joko Tenang.
“Sebenarnya aku pun berharap kau sering-sering berkunjung ke sini dan lebih akrab dengan putriku,” kata Badaragi.
Baru saja disebut oleh sang ayah, tahu-tahu Badira sudah muncul membawa aroma kopi beserta kopinya, yaitu Badarkopi panas.
“Bukankah kau aku suruh memberi tahu Kolangling?” tanya Badaragi agak terkejut melihat kedatangan putrinya membawa suguhan.
__ADS_1
“Sudah, Ayah. Kolangling sedang merapikan barang-barangnya,” jawab Badira. Lalu dia berkata kepada Joko Tenang sembari tersenyum lebar dengan tatapan yang penuh arti, “Silakan, Kakang Joko.”
“Terima kasih, Badira,” ucap Joko seraya tersenyum pula. (RH)