Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Menjelang siang itu, Prabu Galang Digdaya sedang melakukan pertemuan dengan para menterinya dan beberapa pejabat keamanan Istana.


Di tengah-tengah pertemuan berlangsung, seorang prajurit pembawa pesan datang menghadap.


“Prajurit membawa laporan penting ingin menghadap, Gusti Prabu!” lapor Komandan Talang Karat yang memimpin keamanan di aula pertemuan tersebut. Dia terpaksa memotong di tengah diskusi raja dengan para pembantunya.


“Jika laporannya bersifat sangat penting, perintahkan saja langsung masuk!” perintah Prabu Galang Digdaya.


“Baik, Gusti!” ucap Komandan Talang Karat patuh.


Dia lalu menjura hormat, kemudian mundur teratur lalu berbalik badan pada jarak jauh tertentu.


Untuk sementara, diskusi jeda. Mereka menunggu utusan masuk menghadap.


Seorang prajurit muncul di pintu aula yang besar. Prajurit itu berjalan dengan cepat, terkesan tergesa-gesa seolah-olah membawa air panas mendidih.


“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap prajurit pembawa pesan lantang sambil turun bersujud. Maklum, saat itu dia berada di dalam acara yang sangat formal dan penting.


“Bangunlah. Katakan beritamu!” perintah Prabu Galang dari tahtanya.


Prajurit itu lalu bangun berlutut dan berkata, “Lapor, Gusti! Permaisuri Negeri Jang dari Kerajaan Sanggana Kecil meminta izin masuk ke Ibu Kota dan ke Istana untuk bertemu dengan Gusti Prabu. Tepat tengah hari ini!”


“Apa? Permaisuri Negeri Jang?” sebut ulang Prabu Galang terkejut dengan kening berkerut.


Mendengar laporan itu, para pejabat juga terdengar terkejut, sehingga suasana agak riuh oleh kasak-kusuk halus di antara sesama mereka.


“Maksudmu, permaisuri dari Negeri Jang atau permaisuri dari Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Prabu Galang kepada prajurit itu. Dia asing dengan nama Permaisuri Negeri Jang.


Si prajurit tampah bingung. Dia tidak langsung menjawab. Otaknya loading lebih dulu karena internetnya lelet.


“Mohon maaf, Gusti,” ucap Rempak Tujuh, Kepala Penyelidik Istana. Dia menyelamatkan jawaban si prajurit.


Prabu Galang beralih memandang kepada Rempak Tujuh. Tatapannya sebagai tanda izin untuk memberi Rempak Tujuh untuk bicara.


“Raja Kerajaan Sanggana Kecil memiliki sebelas istri. Dua ratu dan sembilan permaisuri. Selain Ratu Lembayung Mekar, ratu di Kerajaan Sanggana Kecil setiap tahun digilir di antara para permaisuri. Salah satu permaisuri Prabu Dira Pratakarsa Diwana berasal dari Negeri Jang, sebuah negeri jauh di seberang samudera,” kata Tujuh Rempak menjelaskan cukup lengkap. Rupanya dia memiliki wawasan lebih luas daripada rajanya.

__ADS_1


“Di mana rombongan itu sekarang?” tanya Prabu Galang kembali beralih kepada prajurit pembawa pesan.


“Saat utusan Permaisuri Negeri Jang tiba di perbatasan Ibu Kota, rombongan Permaisuri Negeri Jang sudah dekat dengan Ibu Kota,” jawab si prajurit.


“Pasukan Sanggana Kecil saat ini sedang berperang di perbatasan Kadipaten Senengek. Kenapa bisa raja dan permaisurinya dengan bebas sudah berkeliaran di sekitar Ibu Kota?”


“Mohon maaf, Gusti,” ucap Menteri Badaragi. Sekedar info, Menteri Keuangan ini sekarang rangkap jabatan sebagai Mahapatih Sementara. “Hamba rasa Prabu Dira dan permaisurinya tidak datang bersama pasukannya. Hamba rasa Prabu Dira dan permaisurinya sudah datang lebih dulu sebelum mengirim pasukannya.”


“Yayaya, karena dia lebih dulu mengerjai putriku. Tapi tidak mungkin kedatangan resmi seorang pemimpin tanpa dikawal pasukan. Telik sandi kita sangat lemah,” gerutu Prabu Galang lalu melirik kepada salah satu pejabatnya yang membawahi badan telik sandi kerajaan. Pejabat tersebut hanya menunduk mendengar disindir oleh rajanya.


Dak dak dak!


Tiba-tiba seorang prajurit masuk dari luar aula dan berjalan tergesa-gesa pula, seperti sedang membawa air panas mendidih.


“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap prajurit terbaru setelah tiba di sisi rekannya. Dia bersujud.


“Bangunlah. Katakan beritamu!” perintah Prabu Galang lagi kepada prajurit yang baru datang.


“Orang yang bernama Joko Tenang muncul di Ibu Kota dan menghancurkan Pasukan Keamanan Ibu Kota. Saat hamba pergi melapor, Joko Tenang sedang dikepung oleh Pasukan Kaki Gunung!” lapor prajurit tersebut.


“Prabu Dira benar-benar ingin memancing aku turun bertarung,” ucap Prabu Galang Digdaya kepada dirinya sendiri, tetapi didengar oleh semua pejabat. Lalu tanyanya kepada para pejabatnya, “Bagaimana menurut kalian?”


“Tidak, tidak,” tolak Prabu Galang Digdaya. “Sejak kemarin aku sudah gatal ingin menghajar raja Sanggana Kecil itu. Aku juga ada hal penting yang ingin disampaikan kepadanya. Prajurit!”


“Hamba, Gusti!” sahut kedua prajurit pembawa pesan.


“Sampaikan perintahku, biarkan Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil masuk sampai ke Istana. Sampaikan perintahku, hentikan serangan kepada Joko Tenang dan katakan aku ingin melakukan pembicaraan penting dengannya!” perintah Prabu Galang Digdaya.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap kedua prajurit tersebut.


“Pergilah!”


Maka kedua prajurit itu menjura hormat dan beringsut mundur. Pada jarak tertentu, mereka bangkit dan berbalik pergi.


“Badaragi, siapkan medan pertemuan di depan benteng. Aku akan menerima raja kurang ajar itu di sana!” perintah Prabu Galang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Badaragi patuh.


Kedua prajurit pembawa pesan meninggalkan gerbang Istana dengan memacu kudanya kencang.

__ADS_1


Singkat waktu.


Ketika kedua prajurit itu tiba di pusat Ibu Kota, mereka berdua terkejut melihat sudah ada lebih seribu prajurit yang tergeletak, baik itu yang mati ataupun yang terluka parah, baik itu Pasukan Keamanan Ibu Kota atau Pasukan Kaki Gunung yang lebih kuat.


Terlihat dari kejauhan, Joko Tenang berdiri tenang beradu punggung dengan Riskaya. Tidak lagi terlihat keberadaan Subini dan Nangita di tengah-tengah pertempuran di pusat Ibu Kota itu.


Selain militer, tidak ada warga biasa yang berani dekat-dekat. Warga yang kediamannya dekat dengan pusat pertempuran, telah meninggalkan rumahnya demi keselamatan.


Pasukan kerajaan tinggal dipimpin oleh Komandan Anting Kulit, pemimpin Pasukan Kaki Gunung yang membantu keamanan di Ibu Kota.


Dia terlihat panik dan bingung melihat kondisi pasukannya yang tidak kuasa hanya untuk menaklukkan dua orang saja. Padahal dia sudah memanggil pasukan yang berjaga di perbatasan Ibu Kota.


Namun, kebingungannya berakhir dengan datangnya prajurit utusan yang membawa perintah dari Prabu Galang Digdaya.


“Lapor, Komandan! Gusti Prabu memberi perintah, hentikan serangan terhadap Joko Tenang. Gusti Prabu ingin melakukan pembicaraan dengan Joko Tenang!” lapor prajurit pembawa pesan.


“Apa?!” kejut Komandan Anting Kulit, tapi pura-pura. “Kita sebentar lagi menang. Kenapa diperintahkan berhenti?”


“Tapi ini perintah Gusti Prabu, Komandan!” tandas prajurit pembawa pesan. Dalam hati dia heran dengan respons komandan yang satu ini.


“Iya, aku tahu. Pergi sana, beri tahu pendekar itu!” perintah Komandan Anting Kulit pura-pura kesal.


“Baik, Komandan!” ucap prajurit itu patuh.


Prajurit itu lalu pergi mendatangi Joko Tenang. Dia melewati mayat-mayat yang berserakan dan para prajurit yang menggeliat-geliat seperti ulat karena kesakitan oleh lukanya.


“Hentikan serangaaan!” teriak Komandan Anting Kulit mendadak gagah, setelah sebelumnya frustasi.


Pasukan yang tersisa pun merasa lega dan segera bergerak mundur, menunjukkan bahwa mereka sudahan, tidak mau lanjut.


“Hormatku, Pendekar,” ucap prajurit pembawa pesan setelah tiba di hadapan Joko Tenang yang tidak menunjukkan permusuhan kepadanya.


“Ada apa, Prajurit?” tanya Joko Tenang.


“Gusti Prabu Galang Digdaya ingin melakukan pembicaraan dengan Pendekar,” ujar prajurit itu.


“Baiklah. Aku akan datang ke Istana. Kau boleh pergi!” perintah Joko Tenang yang tidak berkeringat di dalam pertempuran tidak seimbang dalam hal jumlah itu.


“Hamba mohon izin, Pendekar,” izin si prajurit.

__ADS_1


“Ayo, Sayang. Kita pergi makan rujak sambil menunggu Permaisuri Negeri Jang masuk,” ajak Joko Tenang kepada Riskaya, seolah-olah pembantaian yang baru saja mereka lakukan adalah perkara enteng. (RH)


__ADS_2