
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Wanita berparas cantik jelita dan bermata bening itu terbang seperti seekor burung raksasa di atas pasukan Kerajaan Pasir Langit. Dia adalah Permaisuri Ginari yang bergelar Permaisuri Tangan Peri. Dulu, dia bergelar Pendekar Tikus Langit.
Ctar ctar ctar…!
“Akh! Akh! Akk…!”
Dari kedua tangan Permaisuri Ginari tertabur sinar-sinar kuning kecil yang menghujani pasukan Kerajaan Pasir Langit. Taburan sinar yang terus dijatuhkan oleh kedua tangan Permaisuri Ginari berledakan cukup keras ketika mengenai para prajurit yang sulit menghindar, karena mereka berada di dalam formasi pasukan yang rapat.
Para prajurit berjeritan susul-menyusul, kian meramaikan jeritan di kubu pasukan tuan rumah. Serangan dan cara serang yang ditunjukkan oleh Permaisuri Ginari mengejutkan semua pasukan.
Permaisuri Ginari seperti pesawat terbang yang menyiramkan cairan pestisida pembasmi serangga di lahan perkebunan.
Kemunculan satu lagi Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil yang cantik jelita sontak membakar semangat tempur Pasukan Hantu Sanggana.
Setelah membantai ratusan prajurit musuh selama perjalanan terbangnya, akhirnya Permaisuri Ginari mendarat di tengah pertempuran. Meski sang permaisuri datang terlambat, tetapi dia tetap mendapat jatah lawan. Orang yang segera mengambil Permaisuri Ginari sebagai lawan, bukan sebagai istri, adalah Panglima Istana Banta Ufuk.
Namun, mari melihat keseruan pertarungan antara Riskaya dan Bo Fei yang dikeroyok oleh Empat Jangkar Maut.
Adila memimpin Empat Jangkar Maut. Ketiga rekan sekaligus sahabatnya bernama Adinda, Adina dan Adika. Entah, apakah mereka kakak adik atau orangtuanya yang yang janjian memberi nama seperti itu.
Adila dan Adinda mengeroyok Riskaya. Sementara Adina dan Adika mengeroyok Bo Fei.
Adila dan Adinda dibuat terkejut oleh Riskaya pada bentrokan pertama.
Sreeet!
Set! Trass!
Ketika Adila dan Adinda melesatkan jangkarnya yang berat dan berantai panjang kepada Riskaya, calon selir itu cukup meloloskan pedangnya sekali tarik dari sarungnya. Maksudnya sarung pedang, bukan sarung Riskaya karena gadis itu tidak bersarung. Jangan salah paham.
Sabetan pedang Riskaya langsung melesatkan lukisan garis melengkung sinar merah yang menebas kedua rantai jangkar. Putusnya rantai membuat kedua jangkar berubah arah menjadi tidak terkendali.
Brakr!
Satu jangkar justru menghantam sejumlah prajurit yang sedang mengeroyok seorang pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana. Jangan dibayangkan seperti apa jadinya kalau dihantam jangkar besi yang berat dengan kecepatan sekencang lesatan anak panah.
Insiden itu justru menguntungkan bagi pendekar yang dikeroyok, sehingga dia bisa membunuh beberapa prajurit sekaligus dalam satu gebrakan.
Sementara itu, satu jangkar lagi hanya melesat jatuh di tanah tanpa pemijak.
Adila dan Adinda yang jatuh terjengkang akibat putusnya rantai, bersegera bangkit kembali. Pada saat itu, Riskaya telah melesat maju kepada Adinda saja.
Mengetahui bahwa pedang di tangan Riskaya adalah pedang pusaka, Adinda tidak mau pakai acara pemanasan lagi. Dia langsung menyalurkan tenaga saktinya ke rantai yang masih dalam genggaman.
Sess!
Rantai itu mendadak membara biru.
Serangan pedang Riskaya datang menebas dari atas mengarah ke kepala Adinda. Adinda membentangkan rantainya dengan kedua tangan di atas kepala. Dia berkeyakinan tinggi bahwa itu bisa menahan pedang.
Tas! Set!
__ADS_1
“Aaakk!” jerit tinggi Adinda karena keyakinannya ternyata salah.
Meski rantainya sudah mengandung tenaga sakti tinggi, tetap saja rantai sebesar tiga jari itu putus oleh tebasan tersebut, membuat ujung pedang juga mengenai wajah depan Adinda.
Jerit tinggi Adinda tidak hanya mengejutkan Adila, tapi juga mengejutkan Adina dan Adika yang sedang mengeroyok Bo Fei.
“Adindaaa!” jerit Adila terkejut.
“Adindaaa!” pekik Adina dan Adika pula bersamaan yang justru membuat mereka lupa bahwa sedang bertarung dengan pendekar sakti.
Seps!
“Aaakk!” jerit Adika tiba-tiba ketika tubuhnya di tembusi oleh sebilah pedang terbang bersinar biru dari arah belakang.
“Adikaaa!” jerit Adila dan Adina lagi saat melihat Adika berdiri mengejang dengan tubuh jebol dan mengucurkan darah dengan deras.
Adika pun tumbang bersamaan pedang terbang bersinar biru kembali kepada genggaman Bo Fei. Meski sudah menjebol tubuh lawan, tetapi pedang itu bersih dari noda darah.
Riskaya tidak peduli dengan siapa yang gugur. Dia melanjutkan pertarungannya dengan kembali menebaskan pedangnya secara horisontal.
Set!
Adila yang diserang mampu menghindar dengan lompatan tinggi ke udara. Akibatnya, garis sinar merah yang dilesatkan oleh pedang Riskaya lewat di bawah lentingan tubuh Adila, lalu justru mengenai prajurit-prajurit yang sedang bertempur.
Adila tidak mau terpaku meratapi kematian dua sahabatnya dalam waktu singkat. Meski jangkarnya sudah tidak di tangan, tapi rantainya masih ada di genggaman. Saat melompat menghindar itu, rantai jadi membara biru dan dilesatkan ujungnya kepada Riskaya.
Tang ting teng…!
Ujung rantai Adila meliuk-liuk dengan cepat seperti belalai gurita. Dengan gerakan yang gesit, Riskaya menangkis setiap serangan ujung rantai dengan pedangnya.
Tingting tingting!
Serangan rantai yang mencoba menahan laju tubuh Riskaya yang berputar cepat, rontok terburai karena terkena putaran pedang yang berputar mengikuti putaran tubuh.
Melihat senjatanya hancur terburai seperti tasbih putus, Adila cepat melompat mundur menjauhi Riskaya.
Set!
“Aakk!”
Namun, tiba-tiba dari putaran tubuh Riskaya melesat lingkungan sinar merah yang mengejar tubuh Adila. Lesatan sinar merah dari pedang Riskaya jauh lebih cepat dari lesatan mundur tubuh Adila.
Adila yang tidak memiliki perisai apa pun, tidak bisa mengelak ketika tubuhnya terpotong dua di udara. Sampai-sampai jeritannya masih terdengar di saat tubuhnya sudah bercerai antara atas dengan bawah.
Nasib nahas pun sama didapat oleh Adina yang melawan Bo Fei.
Tang ting tang ting…!
Adina melindungi tubuhnya dengan liukan-liukan rantai yang membara biru dari serangan pedang Bo Fei yang bersinar kuning keemasan. Itu adalah ilmu Desakan Pedang Emas.
Set! Tsek!
“Akkhr!”
__ADS_1
Sungguh Adina tidak menyangka, ketika Bo Fei sedang memainkan pedangnya yang terus beradu dengan rantai yang membara biru, tiba-tiba pedang kurus Bo Fei melesat terbang lepas dari genggaman tuannya.
Pedang itu melesat lurus di antara liukan rantai yang menjadi perisai tangguh bagi Adina. Pedang yang melesat tanpa tersenggol sedikit pun oleh liukan rantai membuatnya sukses menusuk perut Adina hingga jebol.
Adina menjerit tertahan dengan perut dalam kondisi berlubang besar dari depan ke belakang.
Dengan gugurnya Adina, maka tamatlah karir Empat Jangkar Maut.
Di sisi lain, Panglima Istana Banta Ufuk tidak cukup tangguh menghadapi lawan kelas berat.
Set set!
Banta Ufuk melesatkan dua piringan sinar biru kepada Permaisuri Ginari. Dengan satu gerak lompat yang indah, wanita cantik jelita berpakaian serba hitam itu menghindar sambil balas melesatkan ilmu Jari Pengendali Kunang-Kunang.
Sepuluh sinar merah kecil melesat menyerbu Banta Ufuk. Untuk mengantisipasi serangan tersebut, Banta Ufuk menciptakan dinding perisai sinar kuning di depan tubuhnya.
“Apa!” kejut Banta Ufuk terkejut saat melihat kesepuluh sinar merah kecil itu bercerai arah.
Sepuluh sinar merah memecah membelok ke dua arah, menghindari menghantam dinding perisai Banta Ufuk. Lima-lima sinar merah itu berbelok melewati sisi kanan dan kiri Banta Ufuk.
Ketika posisi kesepuluh sinar kecil itu di belakang calon target, mereka tiba-tiba berbalik seperti dikendalikan oleh pemiliknya dari jauh.
“Hiaaat!” teriak Banta Ufuk sambil berputar arah dengan kedua tangan melepaskan dua piringan sinar biru. Dia bermaksud mengadu ilmunya dengan kesepuluh sinar merah kecil itu.
Namun, Banta Ufuk harus terkejut.
Kesepuluh sinar merah itu seperti sekumpulan serangga yang dilempar batu. Mereka langsung melesat menyebar ke segala arah menghindari benturan.
Sementara kedua piringan sinar biru melesat jauh lalu lenyap dengan sendirinya, kesepuluh sinar merah langsung berbelok lagi menyerang Banta Ufuk dari segala arah, seolah-olah panglima itu menjadi magnet bagi kesepuluh sinar kecil tersebut.
Tes tes tes…!
“Aak! Akkk…!”
Kesepuluh sinar dari ilmu Jari Pengendali Kunang-Kunang itu melesat menembus tubuh Banta Ufuk di sepuluh titik. Setelah membolongi sepuluh titik, kesepuluh sinar itu kembali berbalik arah.
Tes tes tes…!
“Aak! Akkk…!”
Banta Ufuk yang masih berdiri kejang dengan sepuluh luka bocor, kembali menjerit saat sepuluh sinar itu kembali melubangi dirinya di sepuluh titik yang berbeda.
Setelah itu, barulah Panglima Istana Banta Ufuk tumbang tanpa nyawa dengan raga bersimbah darah.
Tinggallah pertarungan antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana melawan Prabu Galang Digdaya dan pertarungan antara Permaisuri Yuo Kai dengan dua pengawal pribadi Prabu Galang, yaitu Kucari dan Kutuwan.
Namun, pertarungan mereka tidak akan terkisah di sini, tetapi akan menjadi cerita pembuka di novel “Sanggana7: Ratu Muda” di KERAJAAN BARU Author.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Silakan cari Author Rudi Hendrik sekarang ada di mana.
__ADS_1
Jika Sanggana7 sudah rilis, akan Author umumkan.