Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Seperti merasakan suasana yang akrab, yaitu duduk menikmati jamuan dan minuman di pinggiran air dengan angin yang sejuk, meski siang hari. Jika di kota Digdaya rumah makannya di pinggir sungai dan muara, maka di sini rumah makannya di pinggir telaga nan luas.


Kota Malam membangun sebuah rumah makan ternama di pinggiran Telaga Fatara, tetapi posisinya di atas tebing batu. Nama rumah makan itu Kedai Angin Indah. Jangan tanya tafsir dari nama tersebut!


Dari tempat makan itu, pelanggan bisa menikmati pemandangan nan indah, luas, dan adem. Dari situ bisa memandang bagian belakang Istana Sanggana Kecil yang begitu indah dengan sejumlah istana-istana milik para permaisuri. Namun, jaraknya terlalu jauh untuk menikmati detail keindahan arsitekturnya yang sangat berbeda dengan model istana-istana kerajaan di Tanah Jawi.


Terlihat pula aktivitas para nelayan di tengah telaga yang jauh dari perairan sekitar Istana. Istana memang memiliki perairan terlarang, wilayah air yang terlarang bagi para nelayan untuk memasukinya.


Kembali ke Kedai Angin Indah.


Entah modus atau bukan, Joko Tingkir sengaja mengajak Putri Ani Saraswani makan daging sapi goreng di kedai pinggir telaga tersebut, agak menjauh dari pusat Kota Malam. Mereka harus berkuda untuk sampai ke kedai besar tersebut.


“Calon istri kedua, Tingkir?” tanya pelayan kedai sembari berbisik kepada Joko Tingkir, karena dia baru kali ini melihat gadis jelita yang bersama Jagoan Kadipaten itu.


“Jangan disebar beritanya kalau aku belum berhasil ke pelaminan!” bisik Joko Tingkir pula, yang lebih kepada menghardik.


“Hehehe!” kekeh si pelayan.


Joko Tingkir pun segera pergi ke meja yang sudah ditempati oleh Putri Ani, setelah dia menyampaikan pesanan makannya.


“Inilah tempat makan kesukaanku....”


“Di sini kau sering makan bersama wanita yang berbeda setiap waktu?” potong Putri Ani.


“Ya begitulah, risiko menjadi orang tampan, selalu diperebutkan,” jawab Joko Tingkir bangga. “Namun, lelaki berdaya guna tinggi sepertiku terlalu pemilih. Harus mendapat pasangan yang juga berdaya guna tinggi.”


“Seperti diriku?” terka Putri Ani yang mulai hafal siasat lidah Joko Tingkir.


“Gusti Putri memang cerdas,” puji Joko Tingkir. Lalu katanya lagi, “Itu salah satu sifat wanita yang sangat aku idam-idamkan, tapi sulit didapat. Sepertinya kali ini Dewa melihatku sangat bernilai.”


“Jadi, bagaimana dengan Joko Tenang?” tanya Putri Ani yang sebenarnya muak dengan gaya Joko Tingkir.


“Oh. Dia itu sahabat lekatku. Sahabat sehidup semati. Sahabat satu bantal, satu piring, satu baju dan satu celana,” jelas Joko Tingkir. “Jadi aku sangat tahu kelebihan dan semua kekurangannya. Bahkan aku tahu koreng yang ada di bokongnya. Hahaha!”


“Aku mau tahu, Joko Tenang ada di mana!” tandas Putri Ani yang menunjukkan wajah kurang nyaman dengan kata-kata Joko Tingkir.


“Eit, sabar dulu. Sebelum aku beri tahu, aku ingin tahu, di mana kau mengenal Joko Tenang?” kata Joko Tingkir.


“Di ibu kota Kerajaan Pasir Langit,” jawab Putri Ani.


“Untuk apa Joko Tenang pergi ke sana?” tanya Joko Tingkir serius karena dia heran.

__ADS_1


“Menawarkan kayunya. Dia ingin menjual kayu kepada ayahku. Apakah benar Hutan Malam Abadi ini adalah kekuasaannya?”


“Benar. Dia memang pedagang kayu. Hahaha! Tapi dia itu tidak pandai berdagang. Dia itu pandainya memikat wanita di mana-mana,” kata Joko Tingkir yang disertai tawanya.


“Maksudmu apa dari kalimat ‘memikat wanita di mana-mana’?” tanya Putri Ani dengan kening berkerut dan wajah tidak suka.


“Kau juga pasti sudah terpikat olehnya dan menjadi korbannya yang kesekian puluh? Sudah aku katakan, aku ini sahabat paling dekatnya. Aku tahu semua kelakuan Joko Tenang. Aku bahkan tahu kekasih pertamanya dan kekasih masa kecilnya,” kata Joko Tingkir.


Seperti tertusuk-tusuk paku hati Putri Ani Saraswani mendengar cerita Joko Tingkir tentang Joko Tenang yang dia cintai. Itu saja baru sedikit cerita tentang Joko Tenang. Namun, dia harus kuat menahan kepedihan hatinya yang terluka. Pantang baginya untuk mengeluarkan air mata saat itu, apalagi di depan lelaki seperti Joko Tingkir.


“Pantas saja, sahabatnya saja bersifat seperti ini,” batin Putri Ani. Lalu tanyanya kepada Joko Tingkir, “Benarkah Joko Tenang sudah memiliki istri?”


“Kau sendiri sudah tahu, Gusti Putri,” kata Joko Tingkir.


Semakin sakit perasaan Putri Ani mendengar pembenaran Joko Tingkir, meski sebelumnya Joko Tenang sudah memberitahunya.


Pelayan datang membawa berbagai pesanan Joko Tingkir. Ketika semua pesanan dihidangkan, maka terlihatlah bahwa Joko Tingkir mendominasi. Putri Ani hanya memesan satu gelas minuman, kontras dengan Joko Tingkir yang di depannya tergelar empat piring anyaman kulit bambu beralas daun pisang dengan empat jenis menu masakan.


“Silakan, Gusti Putri. Silakan,” kata Joko Tingkir tanpa malu diri sambil mulai memindahkan daging goreng ke atas nasinya yang hangat.


Putri Ani hanya diam memandangi Joko Tingkir sebentar, lalu menengok memandang Telaga Fatara yang berombak halus. Saat itu dia sedang berusaha menetralisir gejolak di hatinya.


“Istri Joko Tenang itu bukan hanya satu, tapi banyak tercecer di mana-mana. Sudah berulang kali aku nasihati dia, jadi lelaki itu jangan memberi harapan palsu kepada setiap wanita cantik yang dia sukai. Cukup satu saja. Salah satu korbannya adalah wanita yang kini menjadi istriku. Demi sahabat, aku merelakan diri menikahi wanita yang sudah dia hamili. Bayangkan, Joko Tenang tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau mengakui anaknya. Demi menyelamatkan kehormatan wanita yang dia campakkan, aku sebagai sahabatnya harus mengambil alih tanggung jawab itu. Mungkin karena istriku kasihan terhadapku, jadi istriku ikhlas jika aku memang ingin menikah lagi dengan wanita yang aku cintai,” kisah Joko Tingkir penuh dengan narasi novel.


Sebenarnya Putri Ani tidak percaya kepada Joko Tingkir sebanyak lima puluh persen. Namun, entah kenapa cerita Joko Tingkir begitu memengaruhi perasaannya.


“Ayaaah!” teriak seorang anak lelaki gemuk sambil datang berlari menuju ke meja makan Joko Tingkir dan Putri Ani.


“Tangkur Jago?” sebut Joko Tingkir terkejut bukan main. Seharusnya putranya yang berusia sembilan tahun tidak berada di tempat itu karena jauh dari rumah.


Joko Tingkir pun segera melempar pandangan ke arah pintu masuk. Benar saja dugaannya. Dia melihat sosok wanita cantik berpakaian hijau muda baru saja masuk dan sedang berjalan ke arah tempatnya.


Dandanan dan sanggulan rambut wanita cantik itu memperlihatkan bahwa dia seorang ibu muda. Dia menatap dingin tanpa senyum kepada Joko Tingkir dan Putri Ani yang juga memandang kepada kedatangannya. Wanita itu dikenal dengan nama Siluman Lidah Kelu, mantan Panglima Pasukan Siluman Generasi Pertama yang setia kepada Permaisuri Sri Rahayu alias Permaisuri Asap Racun.


Sementara itu, anak gemuk yang bernama Tangkur Jago sudah duduk di pangkuan Joko Tingkir dan menikmati makanan yang ada. Dia begitu senang.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir.


Merasa sudah tidak bisa berlakon drama telenovela lagi, Joko Tingkir memilih tertawa saja.


“Itu istriku, namanya Siluman Lidah Kelu,” kata Joko Tingkir lebih dulu memperkenalkan wanita yang belum tiba di dekat mereka.


“Aku sudah selesai!” kata Putri Ani bernada marah sambil bangkit berdiri.


“Eh, Gusti Putri!” panggil Joko Tingkir terkejut.

__ADS_1


Dia buru-buru mengangkat tubuh putranya dari pangkuannya, lalu segera berdiri dan menyusul Putri Ani. Sementara Tangkur Jago tetap lanjut makan, tanpa peduli dengan urusan orang dewasa.


Putri Ani berjalan cepat dengan wajah yang marah karena menahan sakit di hati. Sepasang matanya bahkan memerah, seperti ingin menangis. Dia hanya menatap Siluman Lidah Kelu yang tidak dikenalnya dan melewati tanpa senyum atau menyapanya.


“Gusti Putri!” panggil Joko Tingkir setengah berlari mengejar sang putri.


Namun, Siluman Lidah Kelu segera bergeser dan menghadang suaminya.


“Mau ke mana, Sayang?” tanya Siluman Lidah Kelu dengan tatapan mata menusuk mata suaminya.


Joko Tingkir terpaksa menghentikan langkahnya. Sementara Putri Ani terus menuju pintu keluar.


“Siapa pelempuan cantik jelita itu?” tanya Siluman Lidah Kelu dengan penyebutan yang cadel.


“Dia itu....”


“Temani Tangkul Jago makan!” perintah Siluman Lidah Kelu tanpa membiarkan suaminya menyelesaikan jawabannya.


Clap!


Tiba-tiba Siluman Lidah Kelu menghilang dari tempatnya berdiri. Padahal dulu kesaktiannya tidak sehebat itu.


Putri Ani Saraswani yang mendatangi kudanya yang ditambat, terkejut ketika tahu-tahu istri Joko Tingkir muncul menghadangnya. Putri Ani pun berhenti.


“Siapa kau, Nisanak?” tanya Siluman Lidah Kelu dengan nada agak tidak bersahabat.


“Aku Putri Ani Saraswani. Putri mahkota Kerajaan Pasir Langit,” jawab Putri Ani. Dia merasa perlu ungkap diri di saat situasi tertentu. Seperti saat itu.


Terbukti, Siluman Lidah Kelu terkejut mendengar jati diri sang putri.


“Maafkan kelancanganku, Gusti Putli,” ucap Siluman Lidah Kelu. Meski dia sakti, tetapi dia sangat menghormati status derajat tinggi seseorang.


Dalam hati, Putri Ani terkejut mendengar kecadelan wanita di depannya. Namun, bukan itu masalah yang dia hadapi.


“Aku hanya ingin tahu dua hal. Apakah Joko yang menghamilimu, Nisanak?” tanya Putri Ani. Meski Joko Tingkir sudah memberi tahu nama istrinya, tetapi Putri Ani sungkan menyebut “Siluman”.


“Benal,” jawab Siluman Lidah Kelu, meski di dalam hatinya ada hal yang ganjil karena Putri Ani menanyakan perkara yang tidak biasa sebagai orang asing.


“Apakah Tingkir sahabat Joko Tenang?” tanya Putri Ani lagi.


“Benar. Sahabat sejak kecil,” jawab Siluman Lidah Kelu.


Semakin hancur perasaan Putri Ani mendengar jawaban yang menyiratkan bahwa cerita Joko Tingkir benar adanya.


Dengan wajah yang memerah dan mata yang menahan air bening, Putri Ani segera melewati posisi Siluman Lidah Kelu dan langsung naik ke atas kudanya.

__ADS_1


Siluman Lidah Kelu hanya memandangi Putri Ani yang kemudian pergi begitu saja. Dia bisa membaca bahwa putri itu sedang menahan tangis. Dia lalu memandang jauh ke dalam Kedai Angin Indah.


“Lahasia apa yang sedang Tingkil sembunyikan daliku?” ucap Siluman Lidah Kelu lalu mendengus marah. (RH)


__ADS_2