Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Ternyata, Trio Istri Pelaut merasa kehilangan orang ganteng setelah mereka tidak menemukan Joko Tenang di rumah sewanya. Sebelumnya mereka tidak mendapat informasi tentang agenda pagi Joko Tenang.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu Joko Tenang di rumah Nangita. Itu karena kondisi Ibu Kota sedang ramai oleh prajurit yang berjaga dan berpatroli. Suara obrasan mereka terdengar ramai, terlebih jika mereka tertawa-tawa yang tidak memiliki garis batas, seolah-olah memang sedang musim tawa.


Dan ketika Joko Tenang pulang ke rumah sewanya, Subini, Rinda dan Nangita segera berhamburan seperti anak ayam yang minta menyusu ke induknya.


Kelakuan ketiga istri orang itu, mau tidak mau membuat Joko Tenang tidak bisa langsung beristirahat. Dengan sabar hati Joko Tenang meladeni ketiganya dengan obrolan dan candaan.


“Kau dari mana, Joko?” Itu pertanyaan mendasar dan yang pertama diajukan oleh mereka kepada lelaki berbibir merah tersebut.


“Mencicipi Putri Ani.... Aiiih, salah, mencicipi makanan telur ikan perut emas di Rumah Makan Muara Jerit,” jawab Joko Tenang iseng berseloroh yang membuat ketiga emak-emak itu spot jantung.


“Joko!” pekik Rinda syok sambil menepak keras lengan Joko Tenang, saking gemasnya karena digoda dengan menyebut nama Putri Ani Saraswani. Namun entah, apakah itu masuk kategori godaan atau bukan.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang melihat reaksi para emak-emak itu.


Ya, seperti itulah tingkat perkembangan keakraban Joko Tenang dengan ketiga emak-emak yang selalu tidak membawa anak-anaknya ketika sedang berkumpul. Ketiga emak-emak itu sudah berani main pukul-pukul. Untung yang dipukul masih sebatas lengan, bukan yang lain.


Ujung-ujungnya, Joko Tenang berpamit diri. Bukan untuk pergi jauh, tetapi hanya untuk pejamkan mata sejenak di kamar, tentunya tidak bersama ketiga emak-emak itu.


Karena sudah bertemu Joko Tenang dan bercengkrama, Trio Istri Pelaut itupun tidak masalah, terlebih Joko Tenang mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke kediaman Menteri Badaragi sore nanti.


Singkat cerita.


Sore itu, Joko Tenang pergi ke selatan Ibu Kota mengikuti petunjuk prajurit Pasukan Kaki Gunung yang bernama Ajianji. Di tengah cepatnya perkembangan situasi Istana dan Ibu Kota, Joko Tenang perlu mobile dengan cepat pula. Maka dia pun memilih berkuda. Walaupun Joko Tenang memiliki perpindahan gerak yang sangat cepat hingga tidak terlihat mata biasa, tetapi Joko Tenang tidak mau umbar kesaktian, cukup umbar pesona.


Benar kata Ajianji, setelah bertanya satu kali kepada seorang warga, Joko Tenang sudah bisa menemukan yang namanya Pengirim Lintas Dunia. Ada plang papan besar yang terpasang di salah satu bangunan kayu panggung pendek.

__ADS_1


Pengirim Lintas Dunia berwujud tiga bangunan kayu panggung pendek yang berposisi pola letter L. Di halaman ada banyak pedati dan gerobak dengan berbagai ukuran. Ada yang sedang dipakai, ada pula yang sedang mengganggur karena lapangan pekerjaan sulit didapat, bahkan ada kereta berbilik tanpa kuda. Ada pula banyak orang yang bekerja, baik di halaman ataupun di beranda.


Melihat kedatangan seorang asing berkuda, seorang lelaki yang awalnya sedang bekerja mengikat tumpukan barang di atas pedati berkuda dua, segera menyambut wajah kuda Joko Tenang, padahal wajah Joko lebih tampan dari sang kuda.


“Selamat datang di Pengirim Lintas Dunia, Aden Pendekar,” ucap lelaki berperawakan keras itu sambil tersenyum ramah dan mengangguk sekali.


Memang sudah seperti itu SOP biro jasa pengiriman tersebut. Semua tamu yang datang dianggap sebagai calon pengguna jasa, jadi harus dilayani dengan sebaik dan seramah mungkin.


Joko Tenang turun bukan hanya dengan kakinya, tapi juga dengan tersenyum.


“Aku ingin menggunakan jasa pengirim untuk mengantar kopi ke kerajaan lain. Apakah bisa?” tanya Joko Tenang.


“Sangat bisa, Pendekar,” jawab lelaki itu sembari tersenyum lebar.


Dia segera menambatkan kuda calon pelanggan.


“Mari ikut aku, Pendekar,” kata si lelaki.


Untuk sebentar, para pekerja itu memandang kepada Joko Tenang yang memang perawakannya begitu memiliki daya tarik.


Lelaki penyambut Joko Tenang mengantar ke bangunan kayu yang ada di tengah. Baru saja sampai di tangga yang hanya terdiri dari tiga undakan kayu, pekerja itu sudah berteriak.


“Abang Kintir!” teriaknya, lalu masuk ke pintu yang terbuka lebar selebar kelebarannya.


Joko Tenang mengikuti. Mereka masuk ke sebuah ruangan lapang yang mirip kamar tidur, hanya gegara satu benda, yaitu adanya ranjang kayu bertilam merah dan berbantal kuning, juga berguling kuning.


Di atas ranjang kayu itu duduk seorang perempuan cantik yang cantiknya dewasa, karena usianya memang setengah abad minus sebelas tahun. Sebagian rambut panjangnya disanggul dan ditusuk dengan anak panah mini, ujungnya dibiarkan terurai bebas sebebas paha kanannya yang tersingkap lebar pamer kemulusan dan keputihan. Wanita itu bersarung, tapi dia duduk seperti di warung kopi dengan lutut kanan di tekuk berdiri ke atas.


Wanita berbibir merah terang seterang keterangan itu sedang menghadapi sebuah meja kecil di depannya. Di atas mejanya ada rangkaian lontar, lengkap dengan tinta dan kuas mini.

__ADS_1


Pekerjaan wanita berbaju biru terang itu jadi berhenti dengan tangan kanan memegang kuas dan matanya tajam menatap ke ambang pintu. Matanya yang bermaskara hitam tebal fokus memandangi Joko Tenang yang sungguh memesona. Namun, wanita yang dipanggil dengan nama Abang Kintir tidak terpesona oleh ketampanan Joko, tetapi dia mencoba menerima apa yang dilihatnya, yaitu lelaki bergincu.


“Siapa namamu, Kisanak?” tanya Abang Kintir tanpa senyum, sangat kontras dengan sikap para pekerjanya.


“Namaku Joko Tenang,” jawab Joko Tenang.


“Pergilah kau, Geldik!” perintah Abang Kintir sambil merapikan duduknya dan menutup pahanya dengan rapi. Sepertinya dia memiliki rasa malu pula kepada Joko Tenang.


Tanpa berkata lagi, lelaki yang ternyata bernama Geldik itu segera berbalik dan pergi. Dia kembali kepada tugasnya.


“Mendekatlah ke mari, Joko Tenang!” panggil wanita yang terkesan galak dan tanpa senyum itu.


“Dia pasti perawan tua.” Itulah dugaan Joko Tenang di dalam hati.


Joko Tenang berjalan maju ke depan Abang Kintir.


“Orang sakti tidak bisa memindahkan banyak barang ke suatu tempat dengan kesaktiannya,” kata Abang Kintir. “Oh ya, namaku Abang Kintir. Aku pemilik Pengirim Lintas Dunia. Kau mau mengirim apa dan ke mana, Joko?”


“Aku membeli kopi di Gusti Menteri Badaragi. Aku minta dikirim ke Istana Kerajaan Sanggana Kecil. Serahkan kepada Gusti Ratu Tirana,” jawa Joko Tenang.


“Baik. Aku catat lebih dulu,” kata Abang Kintir.


Wanita bernama lelaki itu lalu menulis di lontarnya dengan kuas mininya.


“Berapa banyak?” tanya Abang Kintir sambil menatap tajam kepada Joko Tenang.


“Sepuluh peti.”


“Hanya sepuluh peti?”

__ADS_1


“Ya. Namun, bukan itu saja. Aku ingin bertanya, apakah kalian bisa mengangkut kayu-kayu pohon besar dari Hutan Malam Abadi ke Sungai Dangkalan di Alas Kerbo?” tanya Joko Tenang.


“Jangan ragukan kami!” kata Abang Kintir mantap. (RH)


__ADS_2