Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 80: Menculik Mahapatih


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Rayu Pelangi akhirnya memilih membiarkan Joko Tenang membaca isi pesan yang tertera pada kain putih itu. Dia sadar bahwa dia tidak mungkin menang melawan pemuda berbibir merah tersebut. Dia tadi bisa melihat betapa kuatnya Joko Tenang ketika menahan lari kuda yang kencang.


Rayu Pelangi lebih memilih menikmati kegagahan dan ketampanan Joko Tenang yang sulit di cari tiganya, karena nomor dua juga milik Joko Tenang. Rayu Pelangi memilih berandai-andai.


Joko Tenang lalu menengok kepada Rayu Pelangi, membuat gadis itu cepat menggerakkan matanya ke sisi lain, agar tidak ketahuan bahwa dia sedang terpukau.


“Aku kira ini pesan untuk panglima Pasukan Kaki Gunung, ternyata tidak ada yang penting bagiku,” kata Joko Tenang kepada Rayu Pelangi. Dia menggulung kembali kain kecil itu dan mengikatnya dengan tali benangnya.


Terbeliak Rayu Pelangi mendengar perkataan Joko Tenang.


“Lalu sebenarnya kau siapa, Kisanak? Kau tahu namaku, tapi kau tidak mau aku ketahui,” kata Rayu Pelangi.


“Namaku Joko Tenang. Aku orang Sanggana Kecil. Isi pesan itu tidak berguna bagiku,” jawab Joko Tenang sambil melempar gulungan kain itu kepada Rayu Pelangi. “Hati-hatilah berkuda.”


Tiba-tiba Joko Tenang berjalan pergi meninggalkan Rayu Pelangi seorang diri.


“Hei, Joko!” panggil Rayu Pelangi terkejut karena Joko Tenang main pergi begitu saja, padahal dia belum minta pertanggungjawaban kepada pemuda itu.


Rayu Pelangi akhirnya hanya bisa berlaku kesal dengan menghentakkan kaki kanannya ke tanah.


“Pangeran Tirta saja belum pernah menjamahku, tetapi dia sudah memegang-megang susuku. Awas kalau bertemu suatu saat nanti,” ucap Rayu Pelangi sambil memandang ke arah kepergian Joko Tenang.


Setelah menyusupkan kembali gulungan kain putih itu di sela-sela dadanya, Rayu Pelangi lalu pergi ke kudanya yang tidak ke mana-mana.


“Heah heah!” gebah Rayu Pelangi melanjutkan perjalanan berkudanya.


Dalam perjalanan lanjutan itu, Rayu Pelangi selalu memikirkan Joko Tenang. Adegan-adegan tadi terbayang dengan rinci. Ujung-ujungnya, Rayu Pelangi tersenyum sendiri.


Setelah berkuda agak jauh, akhirnya Rayu Pelangi tiba di sebuah tempat yang tidak jauh dari area pesisir hutan bakau. Di tempat itu ada dua buah sumur tanah, tapi dikelilingi oleh pagar kayu yang mudah dilewati.


Tempat itulah yang disebut dengan nama sumur keong.


Rayu Pelangi menjalankan kudanya dengan pelan mendekati kedua sumur, tetapi dia tidak tertarik untuk memandang ke sumur, melainkan memandang ke area sekitar yang sepi dari manusia.


“Nisanak mencari siapa?” tanya seseorang dari sisi belakang posisi Rayu Pelangi tiba-tiba. Padahal tadi tidak ada sesiapa.


Rayu Pelangi cepat menengok dan memutar arah kepala kudanya. Dia melihat seorang lelaki berpakaian serba merah dan membawa sebatang tombak.


“Aku mencari Penombak Jubah Merah. Aku utusan Gusti Raja,” jawab Rayu Pelangi lengkap.


“Penombak Jubah Merah adalah nama kami. Apakah Nisanak membawa pesan dari Gusti Raja?” tanya lelaki itu.


“Aku membawanya,” jawab Rayu Pelangi. Dia lalu merogoh sela-sela dadanya untuk mengambil gulungan kain yang ia sembunyikan di tempat paling rahasia nomor dua di dunia.

__ADS_1


Lelaki bertombak bergeming melihat apa yang dilakukan oleh gadis cantik itu.


Tanpa turun dari kudanya, Rayu Pelangi menyodorkan gulungan kain putih yang sudah di tangannya. Lelaki tersebut menerimanya dengan dingin dan langsung membukanya.


“Pesan telah diterima, Nisanak boleh pergi,” kata lelaki tersebut.


Tanpa berkata sepatah kata lagi, Rayu Pelangi pun menggebah kudanya dan meninggalkan sumur keong.


Sementara itu, Joko Tenang sudah kembali ke Istana Pasir Langit, tepatnya ke kediaman Mahapatih Olo Kadita. Entah apa yang dia ingin lakukan.


Tanpa mengucapkan salam, Joko Tenang masuk ke dalam. Di dalam, sang mahapatih sedang memandangi selembar kulit yang padanya tergambar peta. Entah peta apa itu.


“Peta apa itu, Mahapatih?” tanya Joko Tenang yang tiba-tiba muncul berseberangan meja dengan Mahapatih Olo Kadita.


“Huak!” pekik Mahapatih Olo Kadita terkejut melihat sosok asing tiba-tiba muncul di depannya. Dia sampai terlompat dari kursinya dan nyaris jatuh.


Mahapatih Olo Kadita memandang tajam kepada Joko Tenang.


“Jangan-jangan kau adalah pedagang kayu yang bernama Joko Tenang?” kata Mahapatih Olo Kadita menerka. Pasalnya, dia dengar-dengar orang yang bernama Joko Tenang itu adalah pemuda berbibir merah.


“Hahaha! Gusti Mahapatih ternyata mengenal aku,” kata Joko Tenang sambil tertawa tenang.


“Apa yang ingin kau lakukan masuk ke dalam rumahku?” tanya Mahapatih setengah berteriak.


“Aku ingin menculikmu, Gusti,” jawab Joko Tenang jujur.


Drap drap drap!


Sejumlah prajurit jaga segera datang berlari dengan pedang dan tameng di tangan. Tambak Sego juga datang. Istri Mahapatih juga muncul di ambang pintu, melihat dari jauh.


Ada belasan prajurit yang langsung mengepung posisi Joko Tenang di ruangan yang besar itu. Sementara Joko Tenang masih duduk di kursi. Dia tetap tenang seperti jagoan yang tanpa dosa. Artinya tidak takut mati karena yakin akan masuk surga.


“Bunuh orang ini!” perintah Mahapatih Olo Kadita sambil mundur agar tidak menghalangi para prajuritnya bekerja.


Belasan prajurit itu segera menyerang serentak.


Brakr!


Belum lagi para prajurit itu sampai kepada Joko Tenang, tiba-tiba mereka berhenti mendadak karena terkejut oleh meja yang hancur berkeping-keping saat dipukul oleh Joko Tenang.


Wusss!


Joko Tenang lalu menghentakkan lengan kanannya ke arah lantai, melepas angin pukulan yang kemudian menyebar ke mana-mana. Angin berdaya badai itu menghenmpas semua prajurit yang mengepung Joko Tenang, termasuk mendorong Mahapatih Olo Kadita hingga terjengkang.


Masih untung Mahapati bersarung panjang, sehingga lubangnya yang menganga terlihat gelap.

__ADS_1


“Kakang!” pekik Ramu Kalila, lalu berlari untuk membantu suaminya berdiri.


“Biar aku yang mengurus!” seru Tambak Sego lalu berkelebat dengan pedang terhunus.


Joko Tenang bangkit berdiri sambil menangkap ujung pedang Tambak Sego dengan jepitan dua jari tangannya.


Ting!


Pedang itu dipatahkan. Sementara tangan kiri Joko Tenang dengan cepat mencomot wajah Tambak Sego dan mencengkeramnya seperti sedang memegang sebutir kelapa.


Bduakk!


“Aaak!”


Kepala Tambak Sego dengan cepat dan mudahnya dibanting ke lantai papan.


“Seraaang!” teriak satu prajurit berkomando.


Wuss wuss!


Joko Tenang cukup menghentakkan kedua lengannya ke dua arah. Lagi-lagi dua gelombang angin keras berembus ke dua arah menghempas para prajurit sehingga kembali jatuh bergelimpangan.


Drap drap drap!


Dari luar, bermunculan prajurit yang lebih banyak dan semakin memenuhi ruangan tersebut.


“Ramu, cepat ambil keris pusakaku!” perintah Mahapatih Olo Kadita.


“Tidak perlu, Gusti!” seru Joko Tenang.


Bakk!


“Hukhr!” keluh Mahapatih dengan tubuh terdorong rapat ke dinding dan mulutnya mengeluarkan darah. Itu terjadi saat Joko Tenang menghantamnya dengan pukulan jarak jauh tingkat rendah.


“Seraaang!” teriak Tambak Sego yang masih tergeletak di lantai.


Clap!


Belum lagi puluhan prajurit yang mengepung bergerak menyerang, Joko Tenang tiba-tiba menghilang dan muncul di dekat Mahapatih.


Joko Tenang lalu menotok sang mahapatih dan memegang tangannya. Setelah itu keduanya hilang dari pandangan, membuat bingung semua orang.


“Kakang Mahapatih! Kakang Mahapatih!” panggil Ramu Kalila cemas.


“Cepat periksa di luar!” perintah Tambak Sego.

__ADS_1


Setelah itu, gemparlah kediaman Mahapatih Olo Kadita dengan hilangnya sang mahapatih.


Mahapatih diculik. Itulah judulnya. Dengan cepat berita itupun sampai ke telinga Prabu Galang Digdaya dan Putri Ani Saraswani. (RH)


__ADS_2