
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Apakah kau tidak ingin tahu siapa lelaki yang aku pilih sebagai pengganti Kakang Agi Lodya?” tanya Putri Ani sambil tersenyum dan melirik serius kepada Joko Tenang. Menurutnya, Joko Tenang pasti akan sangat gembira jika tahu siapa lelaki pilihannya, karena tadi Joko mengatakan sendiri bahwa lelaki yang terpilih pasti akan beruntung.
“Oh, Gusti Putri tidak keberatan berbagi cerita?” tanya balik Joko Tenang.
Putri Ani Saraswani menengok kepada Joko Tenang dan tersenyum lebar, sukses membuat Joko Tenang penasaran.
“Sebelum kediamanku diserang, aku memimpikan orang yang telah kupilih sebagai pengganti mendiang kekasihku,” kata Putri Ani kembali. “Mimpi itu sangat membahagiakanku, sampai akhirnya dirusak oleh suara pertarungan di luar wismaku.”
“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang, membuat Putri Ani terbawa untuk tertawa kecil pula.
Tawa Putri Ani terdengar ringan dan nadanya mewakili perasaan bahagianya.
“Kau tahu, Joko. Sebelum tidur dan memimpikan pemuda itu, aku sangat sulit tidur dan selalu memikirkannya. Bayangan wajahnya seolah-olah terlukis di setiap benda....”
“Berarti, jika Gusti Putri melihat wajah kuda, yang dilihat adalah wajah lelaki itu? Hahaha!” potong Joko Tenang lalu tertawa agak keras, meski dia menduga itu adalah wajahnya.
“Hihihi!” Pertanyaan itu memancing Putri Ani jadi tertawa kencang pula. Sambil tertawa dia segera meralat, “Tapi waktu itu aku ada di dalam kamar, bukan di kandang kuda.”
“Hahaha!” Mereka pun tertawa bersama lebih akrab dan lebih lama.
“Apakah kau tahu, Joko?” tanya Putri Ani.
“Tidak tahu,” jawab Joko Tenang cepat.
“Hihihi!” tawa Putri Ani mendengar cepatnya jawaban Joko.
Masuk di pikiran Putri Ani bahwa bagaimana Joko bisa tahu jika belum diberi tahu. Suasana hati yang bahagia dan selalu bahagia membuatnya mudah tertawa, apalagi bersama orang yang ditaksirnya.
“Setelah kekasihku mati dipancung, aku mengabadikan cinta kami dengan memelihara dua ekor ikan peri. Satu warna biru lambang dari Kakang Agi Lodya dan yang warna jingga lambang diriku. Sebelum tidur, aku memutuskan untuk memindahkan ikan peri yang biru ke kolam lain. Itu artinya aku siap melupakan Kakang Agi Lodya,” lanjut Putri Ani Saraswani.
“Apakah lelaki pengganti yang Putri Ani maksud adalah aku?” tanya Joko Tenang, tetapi itu pertanyaan Joko kepada dirinya sendiri di dalam hati.
“Joko, orang yang aku pilih untuk menggantikan Kakang Agi Lodya adalah dirimu,” ungkap Putri Ani Saraswani akhirnya, seraya tersenyum malu-malu sambil memandang lurus ke seberang sungai yang gelap. Saat itu dia tidak berani memandang wajah Joko Tenang.
Saat itu, jantung Putri Ani berdebar kencang. Getarannya seolah-olah menjalar sampai ke ujung dua puluh jari. Namun, dia bahagia telah memberi tahu perasaannya. Kini dia tinggal menunggu jawaban atau reaksi dari Joko Tenang.
Reaksi Joko Tenang adalah diam. Dia tidak terkejut jika Putri Ani jatuh hati kepadanya. Dia juga tidak mau bersandiwara dengan pura-pura terkejut atau mengekspresikan kegembiraannya sampai guling-guling menceburkan diri ke sungai.
__ADS_1
Yang jelas, saat itu Joko terdiam karena sedang berpikir dan menimbang. Sebagai seorang raja sakti yang selalu didampingi oleh para permaisuri yang masing-masing memiliki karakter yang khas, Joko Tenang dengan cepat bisa menilai karakter kewanitaan Putri Ani. Dari cerita ringkas tentang cinta Putri Ani kepada Agi Logya, Joko Tenang sudah bisa membaca karakter cinta sang putri.
Joko Tenang tidak merasa heran jika Putri Ani jatuh hati kepadanya dalam kurun waktu hanya dua hari dua malam. Dia sendiri sadar bahwa dirinya memiliki pesona yang tinggi, terlebih dia sudah dua kali menjadi pahlawan bagi sang putri. Ditolong oleh seorang lelaki tampan jelas idaman setiap wanita.
Namun, seolah-olah baru sekarang ini Joko Tenang tersadar akan bahaya dari pesonanya. Pesan Permaisuri Guru alias Permaisuri Nara jelas kembali teringat saat itu, yang pastinya akan sangat mempengaruhi jawaban apa yang akan diberikan Joko Tenang kepada gadis cantik jelita itu.
Karena suasana hening setelah pengungkapan isi hatinya, Putri Ani jadi heran dan menengok kepada Joko Tenang. Lelaki berompi merah itu terdiam memandang ke arah air sungai yang mengalir.
“Joko!” panggil Putri Ani pelan.
Joko Tenang menoleh memandang Putri Ani sampai mereka beradu pandang. Joko Tenang lalu memberi senyuman.
“Kau tidak senang kalau aku jatuh cinta kepadamu?” tanya Putri Ani dengan kening mengerut. Di dalam hatinya mulai timbul rasa kekhawatiran.
“Aku sudah mengatakan bahwa lelaki yang Gusti Putri pilih pasti sangat beruntung. Demikian pula diriku, Gusti. Aku merasa sangat beruntung karena dicintai oleh seorang putri raja, seorang gadis yang sangat cantik, seorang gadis yang sangat setia kepada cintanya. Namun, aku berkeyakinan kuat, justru Gusti Putri yang tidak beruntung jika mencintaiku,” jawab Joko Tenang dengan tetap menyanjung sang putri dan menempatkan dirinya pada posisi yang rendah.
Deg!
Jantung Putri Ani seperti tersentil mendengar perkataan Joko Tenang. Dia yakin bahwa Joko Tenang hanya merendah. Namun, dia juga khawatir kalau perkataan Joko Tenang benar bahwa dirinya tidak beruntung jika mencintai pemuda itu.
“Apakah kau sebenarnya orang jahat? Atau kau sebenarnya sudah beristri? Rincing Kila mengatakan bahwa kau belum memiliki istri. Atau kau sudah punya kekasih? Aku siap bersaing selagi pernikahan itu belum terjadi,” terka Putri Ani dengan pertanyaan yang beruntun.
Terdiamlah Putri Ani Saraswani. Begitu cepat suasana hatinya berubah. Pikirannya jadi berkecamuk tidak tenang.
“Aku ingin kau jujur kepadaku, Joko. Aku lebih baik mati dalam kondisi tidak dibohongi daripada bahagia, tetapi sebenarnya aku didustai. Itu akan membuatku menjadi wanita paling bodoh di dunia,” ujar Putri Ani dengan tatapan dan ekspresi serius.
“Gusti Putri yakin?” tanya Joko Tenang pelan. Di dalam hati dia berkata, “Kenapa kau tidak bertanya dulu kepadaku sebelum menaruh hati, Putri?”
“Aku yakin. Aku siap menerima kenyataan pahitnya, Joko,” tandas Putri Ani yang kini sulit tersenyum lagi karena perasaannya sedang tegang.
“Jika demikian, persiapkanlah hatimu untuk mendengar jawaban yang terburuk,” kata Joko Tenang.
Pertemuan pandang keduanya terasa hambar, tidak ada lagi percikan keindahan di hati Putri Ani. Joko Tenang hanya memberi senyum yang tidak bisa mengajak bibir sang putri ikut tersenyum, bahkan tidak terasa manisnya madu Gunung Dewi Runa dalam senyuman itu.
“Apa yang harus aku jawab, Gusti Putri?” tanya Joko Tenang memulai.
“Apakah kau sebenarnya orang jahat?” tanya Putri Ani dengan perasaan harap-harap cemas.
“Aku bukan orang jahat, Gusti. Aku hanya membunuh orang jahat. Gusti Putri bisa melihat tadi, tidak ada prajurit yang aku bunuh,” jawab Joko Tenang.
__ADS_1
Maka legalah sepertiga ruang hati Putri Ani, seolah-olah plak tebal yang mengotori perasaan itu terhapus.
“Apakah kau sudah punya kekasih, Joko?” tanya Putri Ani lagi. Entah kenapa, pertanyaan itu kian membuat jantungnya berdebar dan darahnya berdesir menyesakkan.
“Tidak ada, Gusti Putri. Aku tidak memiliki kekasih satu pun,” jawab Joko Tenang mantap.
Ada rasa lebih lega di hati Putri Ani. Dua per tiga ruang hatinya menjadi lega. Namun seiring itu, ada pula rasa takut yang kian kuat mendera perasaan sang putri. Sebelum dia menanyakan soal ketiga, seolah-olah dia sudah begitu yakin bahwa pertanyaannya adalah jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Dia menduga kuat, Joko Tenang telah membohongi Rincing Kila.
“Apakah kau sudah beristri, Joko?” tanya Putri Ani dengan tatapan nanar kepada Joko Tenang.
Joko Tenang tidak langsung menjawab, tapi dia mengambil jeda satu tarikan napas.
“Mohon maaf, Gusti Putri. Aku sudah memiliki istri,” jawab Joko Tenang lalu memberi senyum manis yang kecil. Senyuman itu bukan maksud untuk merayu hati, tetapi untuk meredakan kemarahan sang putri jika dia marah mendengar jawaban itu.
Jleger!
Tidak ada suara petir di malam itu. Yang ada justru hantaman godam ke jantung Putri Ani Saraswani yang seketika membuatnya terdiam seperti patung. Hatinya hancur. Aliran darahnya serasa berubah kacau yang seketika membuat pikirannya buntu, sulit untuk berpikir. Perasaannya pun tidak tenang.
Dia ingin menangis saat itu, tetapi dia tahan. Dia menggigit bibir bawahnya. Matanya telah berkaca-kaca. Dunianya serasa tenggelam ke dasar samudera saat itu.
Meski cahaya yang menerpa wajah Putri Ani Saraswani temaram, tetapi Joko Tenang bisa melihat dengan jelas raut ekspresi kecewa, sedih, dan sakit hati di wajah cantik itu.
“Gusti Putri, apakah kau baik-baik saja?” tanya Joko Tenang.
“Tidak, aku tidak baik-baik saja,” jawab Putri Ani lirih dengan suara bergetar.
Jbur!
“Gusti Putri!” pekik Joko Tenang terkejut dengan tangan kanannya terulur menangkap angin, saat tiba-tiba Putri Ani sangat cepat melesat terjun ke tengah air sungai.
Jbur!
Tanpa memikirkan anak istri lagi, Joko Tenang cepat melompat pula ke dalam sungai menyusul Putri Ani yang sudah hilang di dalam kegelapan air yang mengalir. (RH)
\= \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan:
Mohon maaf bagi para Readers. Author sedang bermasalah di internet, jadi komentar mungkin akan tidak dibalas untuk sementara waktu. Semoga itu tidak terjadi. Harap maklum.
__ADS_1