
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Ada yang mencurigakan. Sejak kepulangan Pangeran Tirta Gambang, aku tidak pernah dipanggil oleh Gusti Prabu. Kemarin ketika aku mencoba menghadap sendiri, Gusti Prabu tidak bisa diganggu. Apakah aku terendus oleh Gusti Prabu?” kata Mahapatih Olo Kadita kepada istri dan putrinya.
“Aku rasa tidak, Kakang. Kita tahu bahwa Gusti Prabu orangnya tidak sabaran. Jika dia sudah mencurigai Kakang, pasti Kakang akan langsung ditangkap,” kata Ramu Kalila.
“Benar juga. Tapi kenapa Gusti Prabu memberikan perintah militer tanpa aku ketahui. Peperangan sudah terjadi di perbatasan timur. Aku harus bertindak cepat,” kata Mahapatih. “Tapi, pemeriksaan sangat ketat.”
Mahapatih terdiam sejenak, demikian pula dengan istri dan putrinya.
“Tambak Sego!” panggil Mahapatih Olo Kadita.
“Hamba, Gusti!” jawab seorang lelaki berpakaian pendekar sambil datang mendekat menghadap. Dia sejak tadi berdiri agak jauh dari para junjungannya.
“Apakah kau bisa membawa pesan kepada Penombak Jubah Merah di luar Ibu Kota?” tanya Mahapatih.
“Hamba tidak yakin, Gusti. Penjagaan begitu ketat di Ibu Kota. Orang yang boleh keluar dari Ibu Kota hanyalah yang bersifat penting dan harus diperiksa ketat,” jawab Tambak Sego.
“Jangan, terlalu berisiko,” kata Mahapatih.
“Ayah, biar aku saja,” kata Rayu Pelangi mengajukan diri.
“Apa? Kau?” tanya Mahapati terkejut mendengar pengajuan putrinya.
“Prajurit itu tidak akan begitu memeriksaku, apalagi aku putri Ayah,” kata Rayu Pelangi. “Jika hanya di luar Ibu Kota, Ayah tinggal menunjukkan tempatnya di mana.”
“Tidak. Jangan Rayu!” cegah Ramu Kalila kepada suaminya.
“Tidak apa-apa, Ramu. Ini demi keberhasilan kita. Jika kita gagal, kita semua juga akan mati,” desis Mahapatih Olo Kadita meyakinkan istrinya.
Ramu Kalila akhirnya tidak membantah lagi.
“Rayu, kau tahu sumur keong yang ada di dekat hutan bakau di luar Ibu Kota?” tanya Mahapatih.
“Tahu, Ayah,” jawab Rayu Pelangi.
“Kau pergilah ke sana, nanti akan ada orang berpakaian serba merah yang membawa tombak menemuimu. Katakan bahwa kau diutus oleh Gusti Raja. Ingat, Gusti Raja, bukan Gusti Prabu,” kata Mahapatih Olo Kadita. “Tunggu, aku tulis dulu pesannya.”
Singkat cerita. Mahapatih lalu menulis pesan perintah di selembar kain putih yang kemudian digulung menjadi kecil. Ternyata, tanpa sungkan, Rayu Pelangi memasukkan gulungan kain kecil itu di sela-sela dadanya sampai gulungan itu tenggelam dengan sempurna.
Joko Tenang tersenyum melihat tindakan gadis cantik berdada menantang itu.
__ADS_1
Jangan terkejut. Joko Tenang sejak tadi memang berada di ruangan itu, di dalam rumah Mahapatih Olo Kadita. Namun, keberadaannya tidak dirasakan dan tidak dilihat oleh siapa pun. Mungkinkah Joko Tenang telah berubah menjadi arwah saja? Jangan dijawab.
“Bawalah obat sebagai alasan,” kata Ramu Kalila yang sudah menyiapkan sebuah peti kayu kecil yang dibungkus dengan kain.
Rayu Pelangi lalu pergi meninggalkan kediamannya yang ada di dalam lingkungan Istana. Joko Tenang pergi mengikuti.
Saat meninggalkan kediaman Mahapatih, Joko Tenang menangkap keberadaan seorang pendekar yang dia kenal wajah tapi tidak kenal nama. Pendekar itu adalah Kalawit, juru mata-mata Putri Ani Saraswani. Kalawit pernah ditugaskan mengawasi Joko Tenang saat masih berada di rumah sewa.
Kalawit bersemunyi dengan baik di balik kerimbunan tanaman hias yang tidak jauh dari depan rumah Mahapatih Olo Kadita.
Namun, Joko Tenang membiarkannya. Kalawit hanya memandangi kepergian Rayu Pelangi yang berkuda. Sepertinya dia tidak mencurigai Rayu Pelangi.
Setibanya di gerbang benteng Istana untuk keluar, Rayu Pelangi diberhentikan, di tanya dan diperiksa oleh prajurit jaga.
Benar saja, Rayu Pelangi hanya diperiksa kudanya tanpa ada prajurit yang berani memeriksa tubuhnya. Dia pun bisa berkuda di Ibu Kota.
Suasana Ibu Kota sangat berbeda dari situasi normal. Tidak banyak aktivitas warga. Warung-warung makan tutup semua, termasuk rumah maka besar yang ada di kota itu. Aktivitas pasar Ibu Kota yang dilaluinya juga mati. Itu karena Ibu Kota sedang dalam status ancaman perang.
Yang banyak terlihat adalah para prajurit Ibu Kota dan prajurit Pasukan Kaki Gunung.
Beberapa kali kuda Rayu Pelangi diberhentikan di sejumlah pos penjagaan yang ada dalam Ibu Kota. Alasan “ingin membawa obat untuk paman di Kadipaten Ombak Lelap” membuat gadis itu diizinkan pergi. Bekal obat yang dibawa tidak luput dari pemeriksaan.
Puncaknya adalah di pos penjagaan pinggir Ibu Kota. Di pos itu, pertanyaan terhadap Rayu Pelangi cukup banyak. Bahkan ada perempuan khusus yang ditugaskan untuk memeriksa tubuhnya. Namun, yang diperiksa tentu pada bagian tubuh yang biasa saja, seperti area pinggang.
Selain melihat para manusia itu, Joko Tenang juga melihat banyak keberadaan makhluk lain yang tergolong makhluk halus yang sibuk dengan beban kehidupannya masing-masing.
Saat Rayu Pelangi bisa lolos dari pemeriksaan dan melanjutkan perjalanan berkudanya, Joko Tenang segera melesat mengikuti.
Singkat cerita.
Ketika cukup jauh meninggalkan pinggiran Ibu Kota, Rayu Pelangi terkejut ketika melihat sesosok pemuda tampan, sangat tampan, menghadangnya di tengah jalan yang sepi. Pemuda berambut panjang, berompi dan berbibir merah itu tidak lain adalah Joko Tenang.
“Dia pakaiannya tidak serba merah dan tidak bertombak,” pikir Rayu Pelangi.
Jantung Rayu berdebar merayu. Namun entah, si jantung berdebar karena bertemu pemuda tampan atau karena dicegat oleh seorang lelaki di tengah jalan yang sepi.
“Siapa kau, Kisanak? Kenapa menghadangku?” tanya Rayu Pelangi, tanpa senyum, meski ia ingin tersenyum melihat ketampanan lelaki yang jauh lebih dewasa darinya itu. Otaknya langsung membandingkan ketampanan Joko Tenang dengan Pangeran Tirta Gambang.
“Mungkin kau tahu, apa yang akan dilakukan oleh seorang lelaki terhadap wanita cantik di tempat yang sepi,” kata Joko Tenang sembari mengirimkan senyuman mautnya.
Pikiran Rayu Pelangi langsung tertuju kepada sesuatu yang mesra, bukan sesuatu yang buruk.
“Kau tidak akan aku biarkan melecehkanku. Ketampananmu tidak akan bisa menjeratku!” tandas Rayu Pelangi.
__ADS_1
“Aku juga tidak akan membiarkanmu lewat sebelum kau serahkan pesan yang kau bawa!” tandas Joko Tenang pula.
Terbeliak Rayu Pelangi mendengar itu.
“Apa maksudmu, Kisanak?” tanya Rayu pura-pura jadi kura-kura.
“Aku tahu kau membawa pesan, Rayu,” kata Joko Tenang.
Lebih terkejut lagi Rayu Pelangi karena pemuda berbibir merah itu tahu namanya. Ada rasa senang karena ternyata kecantikannya terkenal ke mana-mana. Namun, rasa senang itu tidak boleh membuatnya jadi perempuan bodoh.
“Heah heah!” gebah Rayu Pelangi tiba-tiba kepada kudanya.
Kuda itupun kembali berlari dan diarahkan untuk menambrak Joko Tenang. Namun, dengan tenangnya Joko bergeser selangkah menghindari kuda. Seiring itu, tangan kanan Joko Tenang menyambar tali pada wajah kuda dan menahannya dengan kekuatan yang besar.
Kepala kuda jadi tertahan di saat kakinya berlari. Sang kuda jadi terpelanting sendiri dan tubuh indah Rayu Pelangi terlempar mengudara.
“Aaak!” jerit Rayu Pelangi.
Namun, sebelum tubuh Rayu Pelangi menghantan tanah jalanan, Joko Tenang telah menyambar tubuh ramping itu, mirip sang jagoan menyelamatkan nyawa sang gadis cantik.
Bukan hanya terkejut karena diselamatkan dari kerasnya jalanan, tetapi Rayu Pelangi juga terkejut karena merasakan dadanya ada yang menyusupi hingga masuk ke balik kain pakaiannya.
Benar saja dugaan Rayu Pelangi. Ketika dia diturunkan dan dilepas dari gendongan Joko Tenang, dia melihat pemuda gagah itu sedang memegang segulung kain yang dia sembunyikan di dalam belahan dadanya. Itu berarti Joko Tenang telah menyentuh dua bukit yang indah, yang untuk menyusupkan tangan ke dalamnya perlu tekanan yang cukup kuat.
“Hei! Kembalikan pesan itu!” teriak Rayu Pelangi sambil berlari kepada Joko Tenang, hendak merebut gulungan kain tersebut.
Joko Tenang cukup memindahkan tangannya, membuat tangan Rayu Pelangi mencomot angin. Namun, gadis itu tidak mau berhenti.
Joko Tenang mengangkat tinggi tangannya yang memegang pesan. Rayu Pelangi cepat melompat seperti hendak menggapai buah jambu yang menggantung. Namun, Joko Tenang menjauhkan tangannya, membuat gadis itu justru jatuh memeluk tubuh Joko Tenang yang berdiri kokoh seperti patung pancoran.
Setelah itu, Rayu Pelangi terdiam mematung. Dia terdiam karena sadar bahwa dia saat itu sedang memeluk seorang pemuda tampan yang gagah dan harum tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan, Rayu?” tanya Joko Tenang lirih, seolah berbisik di telinga sang gadis.
Putri Mahapatih itu jadi merinding berdesir mendengar pertanyaan Joko Tenang di dekat telinganya.
Buru-buru Rayu Pelangi melepaskan pelukannya kepada tubuh kokoh Joko Tenang. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author:
Mohon maaf, up sangat lambat. Kondisi Author belum sehat.
__ADS_1