
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Aku diserang lagi di Wisma Keputrian,” kata Putri Ani Saraswani kepada Joko Tenang.
Cukup terkejut Joko Tenang di dalam ketenangannya. Namun di dalam hati, Joko Tenang tidak setuju jika Putri Ani Saraswani datang ke rumah sewa dan menemuinya. Meski ada serangan, seharusnya Putri Ani berada di dalam perlindungan ketat pasukan Istana.
Akan tetapi, Joko Tenang menahan diri dari bertanya lagi, ia khawatir justru akan membuat sang putri merasa ditolak.
“Tidak apa-apa, Gusti Putri. Aku akan jamin keselamatanmu selagi kau bersamaku,” kata Joko Tenang yang membuat Putri Ani Saraswani merasa nyaman dan bahagia. “Namun, sepertinya tempat ini sudah tidak nyaman. Mungkin aku ada tempat yang nyaman.”
“Baiklah, kita ke sana,” ajak Putri Ani.
Clap!
Kalawit yang masih bersembunyi di dalam kegelapan di antara pepohonan, jadi terkejut karena sosok Joko Tenang dan Putri Ani Saraswani mendadak hilang begitu saja. Ia pun mengedarkan pandangan ke sekitar, tetapi sosok kedua insan manusia itu tidak terlihat.
Kalawit pun jadi bingung harus bertanya kepada siapa dan mengadu kepada siapa. Tidak mungkin dia bertanya kepada angin malam atau jangkrik yang bernyanyi.
Kemanakah Joko Tenang membawa Putri Ani? Jangan dijawab! Yang jelas bukan ke pelaminan.
Putri Ani terkejut dengan mata melebar dan bibir agak ternganga ketika dalam sekejap dirinya telah berpindah tempat.
Tempat itu gelap, tetapi ada suara aliran air yang cukup deras terdengar jelas. Demikian pula suara dedaunan pohon yang saling bergesek karena tertiup angin malam dari lautan yang tidak terlihat dari situ. Jika mereka melihat ke atas, maka terlihat jelas langit cerah dengan ribuan bintang-gemintangnya.
Meski terkejut, tapi ada yang menggelitik hati Putri Ani, yaitu rangkulan tangan kekar Joko Tenang pada pinggangnya. Meski itu perkara yang wajar karena Joko Tenang memang harus membawa tubuh Putri Ani, tetapi itu memberi kebahagiaan bagi sang putri.
Ada secerca kecewa ketika Joko Tenang melepas tangannya dari pinggang sang putri. Namun, tentunya kecewa itu tidak diwujudkan dalam ekspresi.
“Kau tahu ini di mana, Gusti Putri?” tanya Joko Tenang pelan, tapi terdengar jelas di dalam keheningan berirama alam itu.
“Ya. Ini di sungai yang menuju ke Muara Jerit,” jawab Putri Ani.
“Apakah Gusti Putri perlu aku kawal pulang?” tawar Joko Tenang.
__ADS_1
“Tidak. Justru aku pergi meninggalkan Istana karena aku tidak nyaman,” jawab Putri Ani.
“Lalu, apakah dengan datang ke tempatku, Gusti Putri merasa nyaman?” tanya Joko Tenang lagi.
Pertanyaan itu membuat Putri Ani tidak langsung menjawab. Dia melirik wajah gelap Joko Tenang yang juga melirik dengan senyumnya. Meski kondisi galap gulita, tetapi Putri Ani sangat tahu bahwa Joko Tenang juga meliriknya.
Putri Ani tahu maksud dari pertanyaan Joko Tenang. Itu pertanyaan menggoda, terbukti dari senyumnya bibir merah itu. Namun, Putri Ani justru suka mendapat pertanyaan seperti, karena terkaan itu memang benar adanya, terlebih memang pepatah mengatakan, “hanya perawan tua yang antigoda”.
“Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya,” jawab Putri Ani berlagak dingin, tapi tidak minta peluk untuk kehangatan.
Wuss! Blep!
Joko Tenang melepaskan satu angin panas yang menerpa seonggok kayu yang posisinya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kayu langsung menyala dilalap api. Tempat itu berangsur tampak oleh nyala api yang cukup besar, tapi tetap dalam skala terbatas.
Terlihat pula Putri Ani Saraswani tersenyum melihat inisiatif Joko Tenang. Seolah-olah Joko Tenang tahu apa yang diinginkannya. Biarlah gelap, asalkan masih bisa melihat keberadaan Joko Tenang ada di sisinya.
Joko Tenang lalu duduk di rumput kering pinggir sungai. Putri Ani lebih dulu menyentuh rumput yang ingin didudukinya, memastikan rumput itu kering dan aman. Putri Ani pun duduk di sisi kiri Joko Tenang, tapi berjarak. Dia sadar diri bahwa dirinya adalah seorang putri dan dia tidak memiliki hubungan kebatinan dengan Joko.
“Kenapa dua pasukan itu ingin menangkapmu, Joko?” tanya Putri Ani Saraswani.
“Kurang ajar. Besok akan aku buat dia menyesal!” desis Putri Ani jadi gusar. Pikirnya, “Berani-beraninya Brabean mengganggu lelaki pujaanku.”
“Sudahlah, mereka sudah aku beri pelajaran. Apalagi mereka sudah melihat bahwa aku adalah teman Gusti Putri,” kata Joko Tenang. “Terus terang aku terkejut kau muncul di tempatku.”
“Para penyerang itu menyerang wismaku. Cara mereka lebih hebat. Mereka menyerang dengan cara terbang dari udara. Mereka tidak sampai menyerangku langsung. Akhirnya mereka semua mati oleh ayahandaku,” cerita Putri Ani.
“Setahuku, Gusti Prabu sangat sakti,” kata Joko Tenang.
“Kau juga sangat sakti, Joko,” kata Putri.
“Aku sedang membahas Gusti Prabu, kenapa kau justru menyebutku?” kata Joko Tenang setengah menggerutu.
“Mungkin kau perlu tahu, aku sangat benci membahas tentang ayahandaku,” kata Putri Ani bernada lesu.
“Apakah karena Gusti Prabu telah memancung calon suamimu, Gusti?” terka Joko Tenang.
__ADS_1
“Kau tahu?” tanya Putri Ani.
“Sepertinya semua warga tahu tentang cerita itu. Itu yang mereka ceritakan ketika aku pertama kali bertanya tentang putri yang sangat cantik,” kata Joko Tenang.
Dua kata terakhir seketika membuat kedua telinga sang putri mengipas-ngipas. Karena telinganya tidak selebar telinga gajah, jadi mengipas-ngipasnya tidak kentara. Hatinya pun seketika panen bahagia. Jelas-jelas Joko Tenang mengakui kecantikannya. Kecantikan Putri Ani maksudnya, bukan kecantikan Joko Tenang.
“Aku sangat mencintai kekasihku. Hingga tujuh tahun setelah kematiannya, aku masih mencintainya. Aku masih teguh menunjukkan kesetiaanku kepada kekasihku. Aku tidak akan pernah melupakan siapa yang membunuhnya,” cerita Putri Ani.
“Bertahan mencintai orang yang sudah lama mati. Lalu apa yang Gusti Putri dapatkan?” tanya Joko Tenang.
“Kenangan, kesyahduan dan kesedihan,” jawab Putri Ani.
“Jika kesyahduan dan kesedihan itu bisa membuat Gusti Putri bahagia, mungkin harus dipertahankan,” kata Joko Tenang.
“Kau menyindirku, Joko?” tanya Putri Ani.
“Tidak, aku hanya berusaha mendukung Gusti Putri,” sangkal Joko Tenang.
“Jika aku terus larut dan mempertahankan kondisi cintaku seperti itu, mungkin aku tidak akan pernah mendapat bahagia dari orang yang aku cintai. Hanya hasil budidaya ikan perut emas yang bisa membuatku sesekali bahagia,” curhat Putri Ani.
“Aku hanya menyarankan agar Gusti Putri mencari pasangan baru, agar kebahagiaan yang pernah Gusti Putri rasakan bersama kekasih Gusti yang dulu bisa dirasakan kembali,” saran Joko Tenang.
“Aku sudah memutuskan untuk mengubah arah cintaku, tidak lagi bertahan kepada kenangan,” kata Putri Ani sembari tersenyum kecil, seolah-olah keputusannya adalah hal yang benar.
“Syukurlah. Tentunya sangat beruntung pemuda yang Gusti Putri pilih. Dipilih oleh seorang wanita yang sangat cantik,” kata Joko Tenang yang lagi-lagi dua kata terakhirnya seolah-olah ingin menerbangkan sukma asmara Putri Ani karena begitu bahagianya. “Jika Gusti Putri sudah memutuskan, berarti Gusti Putri sudah menemukan pilihan baru itu?”
“Ya,” jawab Putri Ani singkat, sembari tersenyum malu, karena saat itu dia sedang duduk di sisi pilihan barunya.
“Aku berharap lelaki itu bisa menjadi pelindung yang baik bagimu, Gusti Putri,” ucap Joko Tenang. “Oh ya. Jika malam ini kita justru bisa berbincang, lebih baik hal yang ingin kita bicarakan besok pagi di Rumah Makan Muara Jerit, kita bicarakan sekarang saja.”
“Apakah kau tidak ingin tahu siapa lelaki yang aku pilih sebagai pengganti Agi Lodya?” tanya Putri Ani, mengabaikan usulan Joko.
“Oh, Gusti Putri tidak keberatan berbagi cerita?” tanya balik Joko Tenang.
Putri Ani Saraswani menengok kepada Joko Tenang dan tersenyum lebar, sukses membuat Joko Tenang penasaran. (RH)
__ADS_1