
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Ketika Rincing Kila memasuki benteng Istana, dia dibuat heran dengan pemandangan yang agak berbeda karena jumlah prajurit jaga lebih banyak dan lebih berlapis dari sebelumnya.
“Dudakae, kenapa penjagaan di lingkungan Istana begitu ketat?” tanya Rincing Kila kepada Kepala Penjaga Gerbang Istana yang bernama Dudakae.
“Ada pembunuh masuk ke Istana dan membunuh Gusti Menteri Balelewa,” jawab Dudakae.
“Apa? Gusti Balelewa dibunuh di dalam Istana?” kejut Rincing Kila.
Pengawal Putri Ani Saraswani itu lalu buru-buru menggebah kudanya. Ada hal yang membuatnya tegang. Namun, dari arah lain muncul Ronda Galo yang juga berkuda. Dia juga baru datang untuk menyusul majikannya, yaitu Menteri Badaragi.
Melihat kemunculan Ronda Galo, Rincing Kila memilih berhenti dan memanggil pemuda adik dari Rinda itu.
“Ronda Galo!” panggil Rincing Kila.
Ronda Galo segera menghampiri kuda si gadis.
“Ada apa, Rincing?” tanya Ronda Galo.
“Kau tidak bersama Gusti Badaragi?” tanya Rincing Kila dengan tatapan serius.
“Aku tidak tahu jika Gusti Menteri sudah ke Istana lebih pagi,” jawab Ronda Galo.
“Kau sudah mendengar kematian Gusti Aduh Mantang dan Gusti Balelewa?” tanya RIncing Kila.
“Sudah,” jawab Ronda Galo.
“Kau harus tetap berada di sisi Gusti Menteri. Aku menduga Gusti Menteri juga menjadi target pembunuhan,” kata Rincing Kila.
“Apa?” kejut Ronda Galo. Lalu tanyanya masih ragu, “Bagaimana kau bisa tahu, Rincing?”
“Aku hanya menduga bahwa orang yang menjadi target pembunuhan adalah pejabat yang dekat dengan Gusti Putri,” jawab Rincing Kila.
Kian terkejut Ronda Galo. Dia terdiam sejenak berpikir. Sepertinya perkataan Rincing Kila masuk di akalnya.
“Karena Gusti Putri juga mendapat serangan tadi pagi,” tambah Rincing Kila untuk memperkuat dugaannya.
Lebih terbeliak lagi Ronda Galo mendengar itu.
__ADS_1
“Tapi penyerangan terhadap Gusti Putri jangan kau beri tahu siapa pun,” pesan Rincing Kila.
“Baik,” ucap Ronda Galo.
Rincing Kila lalu menggebah kudanya meninggalkan Ronda Galo yang kemudian juga segera pergi menuju ke wisma kerja Menteri Keuangan.
Setibanya di Wisma Keputrian yang dijaga ketat oleh tiga puluh prajurit selevel Komandan Talang Karat, Rincing Kila pergi menemui Komandan Ati Urat, Komandan Pasukan Pengaman Putri. Fungsi pasukan itu sebenarnya untuk mengawal Putri Ani Saraswani ke mana-mana, tapi oleh sang putri hanya ditugaskan mengamankan kediamannya.
“Komandan Ati, tadi pagi para pembunuh menyerang Gusti Putri, tingkatkan kewaspasdaan kalian di sini!” bisik Rincing Kila, tapi tidak perlu mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki gagah itu, khawatir justru akan membuatnya tertawa geli.
“Apa?!” kejut Komandan Ati Urat. “Lalu bagaimana keadaan Gusti Putri?”
“Gusti Putri baik-baik saja,” jawab Rincing Kila yang membuat kecemasan komandan itu lenyap.
“Apakah tidak sebaiknya aku dan pasukanku pergi mengawal Gusti Putri?” usul Komandan Ati Urat.
“Ada orang sakti yang bersama Gusti Putri. Kau tahu sendiri, Gusti Putri tidak suka dikawal oleh pasukan,” jawab Rincing Kila.
“Baik,” ucap Komandan Ati Urat.
Gadis itu lalu melanjutkan kudanya menuju depan wisma untuk pergi mengambil pakaian ganti untuk sang putri.
Singkat cerita.
Rincing Kila juga membawa sebuntal bungkusan kain, yang ketika hendak keluar dari benteng Istana harus diperiksa sendiri oleh Kepala Penjaga Gerbang Istana. Ternyata isi buntalan kain itu hanya satu setel pakaian perempuan.
“Ini pakaian ganti untuk Gusti Putri,” jawab Rincing Kila saat ditanya.
Rincing Kila bisa memaklumi pemeriksaan yang ketat karena memang baru saja terjadi pembunuhan di dalam Istana.
Rincing Kila meninggalkan gerbang benteng dengan berlari kencang. Maksudnya kudanya yang berlari kencang, sedangkan Rincing Kila berlari di atas kuda.
Gadis itu langsung menuju ke Muara Jerit, sebab belum ada yang memberi kabar, baik burung atau angin, bahwa sang putri dan Joko Tenang sudah pergi meninggalkannya.
Namun, di tengah jalan dia bertemu dengan Komandan Rambut Awut yang bertanggung jawab atas keamanan Ibu Kota. Lelaki gagah berotot dan berambut lebat sehingga mirip kribo itu, datang dari arah Muara Jerit.
Keduanya menghentikan kuda dan saling berhadapan di tengah jalan.
“Kau sudah bertemu dengan Gusti Putri, Komandan?” tanya Rincing Kila.
“Kata Pantri Ewa, Gusti Putri menyuruhku menyusul ke kediaman Gusti Menteri Keuangan. Gusti sedang pergi ke sana,” jawab Rambut Awut.
__ADS_1
Sebelum masuk ke Istana, Rincing Kila lebih dulu pergi menemui Rambut Awut yang sedang sibuk mengatur pasukannya untuk meningkatkan keamanan Ibu Kota, memberitahukan bahwa komandan itu dipanggil oleh Putri Ani Saraswani di Muara Jerit.
Ketika Rambut Awut pergi ke Rumah Makan Muara Jerit, ternyata sang putri sudah tidak ada di sana.
“Kenapa tidak memberi tahu aku?” gerutu Rincing Kila lalu memutar balik arah kudanya.
Kedua orang itu lalu berkuda menuju ke kediaman Menteri Keuangan yang letaknya tidak begitu jauh dari gerbang Istana. Jadi, Rincing Kila harus kembali ke jalan yang menuju ke gerbang Istana.
Dalam waktu yang tidak selama perjalanan pulang kampung, keduanya tiba di kediaman Menteri Badaragi. Ketika mereka tiba, Badira sudah duduk di atas kuda, entah mau ke mana dia? Jangan dijawab!
Sementara Putri Ani Saraswani dan Joko Tenang berdiri bersama, berdampingan, meski berdekatan tapi tidak bergandeng tangan.
Ikhlas tidak ikhlas, Rincing Kila harus ikhlas melihat kemesraan junjungannya dengan Joko Tenang. Apalagi sang putri mengenakan rompi milik pemuda berbibir merah itu.
Melihat kedatangan Rincing Kila, Badira kembali turun dari kudanya.
Rincing Kila dan Komandan Rambut Awut turun pula dari kuda. Mereka menghormat kepada Putri Ani Saraswani. Pembawaan Rincing Kila tampak lebih tegang dari Rambut Awut.
“Gusti Putri, Menteri Balelewa dibunuh di dalam Istana!” lapor Rincing Kila setelah menghormat.
“Apa?!” pekik Putri Ani Saraswani, Badira dan Rambut Awut mendengar kabar mngejutkan itu.
“Dugaan kita benar, Joko,” kata Putri Ani kepada Joko Tenang.
“Bagaimana dengan ayahku, Rincing?” tanya Badira cepat.
“Tidak ada kabar bahwa Gusti Menteri Keuangan diserang, tapi aku sudah mengingatkan Ronda Galo untuk waspada,” jawab Rincing Kila.
“Komandan, bisakah kau merahasiakan apa yang akan aku sampaikan?” tanya Putri Ani Saraswani beralih kepada sang komandan.
“Hamba bisa jaga rahasia, Gusti,” jawab Rambut Awut mantap.
“Semua prajurit Rumah Makan Muara Jerit mati dibunuh oleh orang yang menyerang aku tadi pagi,” kata sang putri.
Komandan Rambut Awut terbeliak terkejut. Dia langsung menyimpulkan bahwa keamanan Ibu Kota sangat rawan disusupi oleh pembunuh. Namun, dia segera membandingkan dengan keamanan Istana yang seharusnya lebih tidak boleh diterobos oleh penyusup atau pembunuh.
“Aku minta kau mengirim pranjuritmu untuk menggantikan posisi prajurit yang mati. Jangan sampai Istana tahu. Jika sampai ketahuan, aku yang bertanggung jawab,” ujar Putri Ani.
“Baik, Gusti Putri,” ucap Rambut Awut. Pikirnya, dia memiliki ratusan prajurit keamanan Ibu Kota, tentu tidak akan ketahuan jika jumlahnya berkurang hanya beberapa puluh saja untuk dialihkan ke Rumah Makan Muara Jerit.
“Urusan pembayaran aku yang tanggung,” kata Putri Ani lagi.
__ADS_1
“Baik, Gusti Putri,” ucap Rambut Awut patuh, karena memang itu yang dia harapkan. (RH)