Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Awalnya Putri Ani Saraswani gusar oleh dugaan kuat adiknya, Pangeran Tirta Gambang, sebagai dalang pembunuhan Menteri Aduh Mantang dan Menteri Balelewa, juga upaya pembunuhan terhadap dirinya.


Dua bukti yang ada, jika dihubungkan, mengarah jelas kepada sang pangeran yang setahu sang putri, sedang berguru kesaktian di Lembah Gelagah.


Kegusaran Putri Ani ditambah oleh ayahnya. Prabu Galang Digdaya datang ke wismanya dengan membawa sekalimat kepedulian, yang menurutnya hanya sandiwara belaka.


Malam itu, Putri Ani Saraswani merebahkan diri di atas tilamnya dalam kondisi bertelanjang bahu. Dia hanya berpinjung warna putih dan mengenakan bawahan kain carik warna putih dan hitam. Kedua betisnya hingga kesepuluh jari kakinya tanpa penutup.


Awalnya wanita cantik jelita itu kalut memikirkan adik lelakinya yang usianya hanya selisih tiga tahun darinya. Dia sangat sulit untuk percaya bahwa adiknya bisa sekejam itu terhadapnya. Namun, hati kecilnya tetap menyangkal keterlibatan Pangeran Tirta.


Jika mengingat penyerangan di Rumah Makan Muara Jerit, sungguh mengaduk-aduk perasaan di dalam hati sang putri.


Bayangkan, putri Ani Saraswani mengalami masa kritis seperti telur di atas cula badak, bahkan sudah mengetuk pintu kematian. Namun, pepatah mengatakan, “masih ada secerca bahagia di ambang kematian”.


Ternyata pepatah itu benar adanya. Di saat kematian datang menyapa say hello kepada Putri Ani Saraswani, tiba-tiba kebahagiaan itu datang dan menarik tangan sang putri untuk kembali hidup. Kebahagiaan itu berwujud pemuda tampan berbibir merah yang bernama Joko Tenang.


Jika mengingat penyerangan di Muara Jerit, pasti akan mengingat kepahlawanan Joko Tenang yang memberi rasa malu, tapi sangat membahagiakan. Pertolongan yang seketika mengeliminasi hantu sang mantan.


Kepahlawanan yang kembali dilakukan Joko Tenang di kamar Badira semakin memaksa Putri Ani untuk move on dari belenggu cinta mendiang Agi Lodya.


Joko Tenang sudah pernah memeluknya dengan erat, sudah pernah menggendongnya, sudah pernah menyentuhnya, bahkan sudah pernah meminjamkan barang pribadi untuknya. Dan yang tidak ternilai adalah penyelamatan nyawa.

__ADS_1


“Joko Tenang,” sebut lirih Putri Ani Saraswani sembari tersenyum, seolah-olah ada Joko Tenang di langit-langit kamar dan sedang tersenyum kepadanya. Lalu ucapnya lagi, “Apakah benar kau belum punya istri? Tapi lelaki setampan kau, sesakti kau, rasanya tidak mungkin jika belum memiliki wanita. Pasti kau sudah punya kekasih jika belum punya istri.”


Bosan memandang langit-langit, Putri Ani Saraswani mengubah posisi baringnya jadi ke kiri, menghadap ke lemari raknya. Rak itu berisi banyak hiasan porselin dan cangkang-cangkang hewan laut. Maklum, saat itu belum zamannya boneka panda atau babi merah muda.


Meski yang dipandangi adalah porselin berupa guci, cawan, cangkang kerang, hingga cangkang anak kura-kura, tetapi seolah-olah di sana ada wajah Joko Tenang yang sedang tersenyum pamer gigi, membuat sang putri turut tersenyum.


“Aku rasa kondisi kamar sudah aman, silakan berganti pakaian, Gusti Putri. Atau perlu aku temani?”


“Hihihi!” tawa Putri Ani tanpa lawan, saat terngiang perkataan Joko Tenang seusai menolongnya dari penyerang di kamar Badira.


Seharusnya pada siang tadi, ada masa kebersamaan yang indah bersama Joko Tenang, yaitu masa menjenguk ikan-ikan perut emas di kolam budidaya. Namun sayang, Pasukan Pengaman Putri menghancurkan kebahagiaan itu lantaran melaksanakan perintah Prabu Galang Digdaya.


 Namun, kebahagiaan yang batal itu akan tergantikan besok pagi. Ia dan Joko Tenang sudah sepakat bertemu di Rumah Makan Muara Jerit yang suka ada jeritan monyetnya.


“Bagaimana jika ternyata Joko sudah punya kekasih? Kau akan sakit hati, Ani. Tapi....”


Putri Ani Saraswani berbicara kepada dirinya sendiri, lalu diam seperti orang yang sedang memikirkan jawaban teka-teki silang.


“Hubungan kekasih masih bisa putus. Aku masih memiliki kesempatan,” ucap Putri Ani kembali. Dia berandai-andai.


Putri Ani kembali mengubah posisinya dengan terlentang menantang langit-langit. Namun, itu tidak lama. Dia bergerak lagi dan miring ke kanan. Dalam posisi itu dia pejamkan mata. Sepertinya gadis cantik jelita berkulit bersih mulus itu ingin cepat tidur agar bisa bermimpi bertemu dengan pemuda pujaan hatinya.


Cepat sekali Putri Ani bermimpi, sebab bibirnya sudah tersenyum, padahal baru berlalu tujuh tarikan napas.

__ADS_1


Tiba-tiba dia bergerak bangun kepada duduk. Ternyata dia belum tertidur. Kemudian dia turun dari ranjangnya yang steril dari bau lelaki, menandakan bahwa ranjang itupun masih perawan, terbukti ranjang itu belum bisa bergoyang.


Putri Ani Saraswani berjalan ke kolam, di mana ada dua ikan peri yang menjadi simbol cintanya dengan mendiang Agi Lodya.


Pencahayaan membuat kolam itu terlihat indah dan adanya dua ekor ikan hias jenis peri kian mempermanis visualnya. Satu ekor ikan berwarna biru perak dan satu lagi berwarna jingga perak. Ikan berwarna biru perak adalah ikan jantan yang menjadi simbol cinta mendiang Agi Lodya.


Setelah memandangi ikan warna biru perak yang mengingatkannya pada cinta masa lalunya, Putri Ani lalu pergi ke sudut kamar mengambil sebuah cidukan ikan berbahan anyaman bilah bambu.


Putri Ani lalu menciduk ikan peri berwarna biru perak. Mudah sekali ikan itu masuk cidukan, karena ikan peri adalah jenis ikan bertipikal bersahabat, sehingga dengan jaring pun mereka tidak takut. Meski bisa disebut kelebihan, tapi juga itu menjadi kelemahan mereka.


Setelah terciduk seperti seekor pebinor, ikan indah itupun menggelepar-gelepar karena telah berpindah alam, tetapi belum mengembuskan napas terakhir.


Ikan yang bernama samaran Agi Lodya tersebut lalu dibawa ke luar kamar.


Dengan keluarnya Putri Ani ke teras depan di bawah pencahayaan pelita minyak yang temaram, beberapa prajurit jaga dari Pasukan Pengaman Putri bisa dapat bonus, yaitu pemandangan indah dengan melihat sang putri bertelanjang bahu. Jarang-jarang mereka mendapat kesempatan seperti saat itu. Namun, itu hanya kebahagiaan yang terpendam di lubuk hati.


Di depan teras Wisma Keputrian, ada sebuah kolam ikan lain yang lebih besar dan diisi oleh banyak ikan hias lainnya. Ikan peri warna biru perak itu lalu diceburkan ke dalam kolam tersebut.


“Hiduplah dengan damai di alammu, Kakang Agi Lodya,” ucap Putri Ani dengan tatapan syahdu, sembari tersenyum kecil. “Kita memang tidak bisa bersatu lagi.”


Setelah berucap seperti itu, Putri Ani sejenak terpaku memandangi ikan peri yang segera berbaur dengan rekan-rekan sejenisnya, tanpa say good bye kepada sang putri.


Putri Ani lalu kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Meski pintu kamar ditutup, tetap saja kamar itu terbuka karena memang dinding depannya terbuka dan menyatu dengan alam luar wisma.

__ADS_1


Putri Ani kembali ke tempat tidurnya. Ia langsung merebahkan diri tanpa baca doa lagi, tetapi pikirannya berharap bisa bertemu dengan Joko Tenang lebih awal di dalam mimpinya. Dan ternyata itu terjadi. (RH)


__ADS_2