
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Sepuluh tahun yang lalu, Hutan Malam Abadi adalah alas rimba belantara yang selalu gelap, baik di siang hari, terlebih-lebih di kala malam. Banyaknya pohon-pohon besar dengan kerimbunan yang sangat lebat, sampai-sampai menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam. Kondisi itulah yang membuat hutan tersebut akrab dinamai Hutan Malam Abadi, seolah-olah tidak ada waktu siang di hutan tersebut.
Setelah pemimpin penyamun hutan itu takluk oleh dua permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, maka mulailah dibangun permukiman, sehingga terbangunlah sebuah kadipaten dengan hanya memiliki dua desa, yaitu Desa Malam dan Desa Abadi.
Sebagai wilayah hutan yang kaya dengan kayu, Kadipaten Hutan Malam Abadi terus membangun sehingga menjelma menjadi perkotaan kayu di tengah-tengah hutan setelah sepuluh tahun.
Semakin megahnya pembangunan di Desa Malam dan Desa Abadi, kini dua desa yang dimiliki telah disebut sebagai kota, yaitu Kota Malam dan Kota Abadi. Dengan demikian, Kadipaten Hutan Malam Abadi menjelma menjadi kota kayu di tengah hutan yang masih terjaga kelebatan dan keasliannya.
Kadipaten Hutan Malam Abadi berbatasan langsung dengan Kerajaan Walangan dan Telaga Fatara.
Akses jalan yang rata telah dibangun, menghubungkan wilayah Kerajaan Walangan dan Kerajaan Sanggana Kecil. Kereta kuda dan pedati bisa lewat dengan nyaman.
Hampir seratus persen bangunan di Kadipaten Hutan Malam Abadi terbuat dari kayu, kecuali yang memang harus berunsur batu, seperti tungku besar.
Bangunan-bangunan di kedua kota memiliki posisi yang tertata dengan rapi. Itu hasil dari cipta karya Permaisuri Yuo Kai yang merangkap sebagai Menteri Tata Negara. Permaisuri dari Negeri Jang itu banyak mengadopsi model kota di negerinya, seperti yang dia lakukan untuk menciptakan ibu kota Sanggara yang tertata rapi.
Jika ibu kota Sanggara banyak memakai bahan material batu berpadu dengan kayu, maka Kadipaten Hutan Malam Abadi nyaris kayu semua.
Kadipaten Hutan Malam Abadi kini dipimpin oleh pejabat yang bernama Babat Seta, seorang lelaki yang khas dengan mata sipitnya.
Adipati Babat Seta hari ini kedatangan enam orang tamu yang datang dengan satu pedati dan empat ekor kuda tunggangan. Para lelaki yang semua lengan kanannya diikat dengan pita putih itu, membawa bendera warna putih dan hanya memiliki titik hitam di tengah-tengah sebagai warna lain. Para tamu itu tidak lain adalah orang-orang Pengirim Lintas Dunia yang membawa kopi belian Joko Tenang, yang meminta kopi tersebut dikirim ke Hutan Malam Abadi.
“Namaku Kembar Kelingking. Kami dari biro Pengirim Lintas Dunia dari kota Digdaya Kerajaan Pasir Langit. Mengantarkan kopi yang dibeli oleh Pendekar Joko Tenang,” kata pemimpin rombongan itu memperkenalkan diri ketika bertemu dengan Adipati Babat Seta. Dia memang memiliki kelingking tangan yang kembar.
“Oh. Kedatangan kalian akan aku kabarkan kepada Pendekar Joko Tenang,” kata Adipati Babat Seta, yang sebelumnya telah mendapat pesan dari Prabu Dira tentang orang-orang Pengirim Lintas Dunia.
__ADS_1
Sang adipati lalu mengirim utusan ke Istana untuk mengabarkan kedatangan kiriman kopi yang punya merek badarkopi.
Belum adanya telepon kabel atau telepon seluler di masa itu, membuat pengiriman pesan berlangsung lama. Para personel Pengirim Lintas Dunia pun disediakan rumah istirahat yang nyaman sambil menunggu kedatangan Joko Tenang. Tidak hanya cukup untuk beristirahat, tetapi mereka juga masih memiliki waktu menikmati suasana lingkungan yang rapi dan melewati malam.
Ternyata, Joko Tenang baru datang di kala pagi. Dia datang menemui Adipati Babat Seta dengan penampilan sebagai seorang raja bersama Permaisuri Yuo Kai dan para pengawal secukupnya, seperti adanya Riskaya dan Pendekar Pengawal Bunga. Joko Tenang berpakaian dan beperhiasan lebih sederhana.
Kembar Kelingking dan kelima rekannya cukup terkejut ketika dipanggil menghadap. Ternyata mereka dipanggil menghadap kepada seorang raja yang tidak lain adalah Joko Tenang yang sebelumnya mereka kenal sebagai seorang pendekar. Mereka berenam benar-benar dibuat takjub oleh kebesaran dan kewibawaan Joko Tenang alias Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
“Apakah kau sudah mendapat pengarahan dari junjunganmu, Kembar Kelingking?” tanya Joko Tenang di pagi itu.
“Sudah, Gusti Prabu,” jawab Kembar Kelingking dengan gestur penuh kerendahan.
“Setelah ini urusan kalian dengan Adipati. Nanti kalian lihat dulu kayu-kayu yang akan kalian bawa ke wilayah Kadipaten Ombak Lelap, agar ketika waktunya tiba, kayu-kayu itu lebih dekat dikirim ke pantai. Setiap kali kalian berangkat ke sini, belikan aku kopi dari Menteri Keuangan Badaragi,” kata Prabu Dira.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Kembar Kelingking. “Mungkin kami harus membuat rute air agar bisa lebih dekat ke daerah tujuan. Juga harus membuat gerobak besar agar bisa dengan mudah mengangkut kayu-kayu itu di daratan.”
“Tidak masalah. Kalian atur rutenya dan kendaraan yang diperlukan. Jangan khawatirkan soal pembayaran,” kata Prabu Dira.
“Aku memiliki pasukan pendekar yang bernama Pasukan Hantu Sanggana. Pasukan itu awalnya aku panggil datang ke Kerajaan Pasir Langit, sehingga mereka sedang ada di tengah perjalanan. Namun, aku tarik menuju ke sini untuk bergabung dengan kalian dan membantu kalian selama pengangkutan kayu berlangsung,” kata Prabu Dira.
“Baik, Gusti. Namun, bagaimana jika pengiriman kayu ini diketahui oleh pasukan Kerajaan Pasir Langit?” tanya Kembar Kelingking.
“Setahuku itu sudah menjadi risiko dan tanggung jawab kalian. Seperti itu yang diberitahukan oleh ketua kalian. Tapi jangan khawatir, salah satu tujuan bergabungnya Pasukan Hantu Sanggana untuk mengamankan pengiriman agar tetap rahasia dan aman,” kata Prabu Dira.
“Baik, Gusti,” ucap Kembar Kelingking.
“Adipati Kadipaten Ombak Lelap akan segera memberi izin, kalian tidak akan menunggu lama,” kata Prabu Dira optimis. Sepertinya dia sudah menyusun rencana terhadap penguasa Kadipaten Ombak Lelap, yang merupakan tempat Pantai Segadis berada.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, Prabu Dira pergi masuk ke dalam hutan, di mana ada wilayah hutan yang mayoritas ditumbuhi oleh pohon kayu jenis sonokeling, yang menjadi salah satu aset utama Hutan Malam Abadi.
Bak seorang kepala negara, Prabu Dira melakukan sejumlah kunjungan. Mumpung sedang berada di kadipaten tersebut, Prabu Dira mengajak permaisurinya pergi mengunjungi rumah produksi ukiran dan patung kayu di Kota Abadi yang dikepalai oleh Loyak Bata, sahabat satu almamater dengan Adipati Babat Seta.
Kedua orang itu sama-sama mantan anak buah Ririn Salawi yang berjuluk Penagih Nyawa, yang kini naik pangkat menjadi Panglima Langit di Kerajaan Sanggana Kecil.
“Kami memiliki hasil seni baru dalam tiga purnama terakhir, Gusti Prabu,” kata Loyak Bata yang berjenggot lebat. Dia memberi kode kepada salah satu perajin.
Perajin yang mendapat kode segera mengambil sebuah hasil karya mereka yang ditempatkan pada selembar papan tebal.
“Ini adalah patung-patung ukir yang menyimbolkan Gusti Ratu dan Gusti Permaisuri,” kata Loyak Bata. “Kami saat ini mendapat banyak pesanan khusus patung jenis ini ke berbagai wilayah kerajaan tetangga.”
Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai cukup terkesiap melihat patung-patung kecil setebal genggaman, yang berdiri di atas tatakan papan yang dipegang salah satu perajin. Semua patung hanya memiliki satu warna, yaitu cat emas.
Patung-patung kayu kecil itu berwujud wanita-wanita cantik, meski cantiknya hanya anggapan karena itu patung.
“Hahaha! Ini seperti Permaisuri Serigala. Dia memegang tongkat kecil,” kata Prabu Dira sambil tertawa dan menunjuk salah satu patung perempuan yang bentuknya mirip perawakan Permaisuri Sandaria alias Permaisuri Serigala.
“Mohon maaf, Gusti Prabu. Itu memang patung yang melambangkan Gusti Permaisuri Serigala,” kata Loyak Bata.
“Aku yang mana?” tanya Permaisuri Yuo Kai.
“Mohon maaf, Gusti Permaisuri. Yang ini.” Loyak Bata menunjuk salah satu patung yang memiliki jenis pakaian yang berbeda.
“Ya, itu kau, Sayang. Lihat, matanya pun dibuat sipit,” kata Joko Tenang sambil manggut-manggut. “Yang rambutnya pendek ini pasti Permaisuri Mata Hati.”
“Benar, Gusti Prabu,” jawab Loyak Bata.
__ADS_1
“Lalu patungku mana?” tanya Prabu Dira.
“Mohon maaf, Gusti. Tidak ada,” jawab Loyak Bata sembari tersenyum. (RH)