
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Swara Sesat dan Legam Pora benar-benar menikmati suasana liburan di Pantai Segadis. Lihat saja, mereka terlena berbaring berjemur diri di atas sehelai papan lebar yang dipermainkan oleh ombak lautan. Jika Swara Sesat sudah seperti lelaki menunggu waktu melahirkan dengan perut yang membulat sempurna, maka Legam Pora sudah seperti lintah raksasa yang sedang dijemur di atas papan karena warna kulitnya yang hitam.
Bukan sekedar berbaring di papan di atas air dan menikmati panas matahari yang diademkan oleh angin laut, di sisi mereka juga ada dua butir kelapa muda dan sejumlah tusuk sate kerang. Mereka benar-benar seperti turis mancanegara.
Uniknya, hanya mereka berdua yang bertingkah seperti itu di tengah-tengah ramainya aktivitas di Pantai Segadis. Mereka menciptakan gaya liburan mereka sendiri.
Kedua abdi Prabu Dira itu berposisi sekitar belasan tombak dari bibir pantai yang tidak bergincu.
Memang, Garis Merak dan kelompoknya dalam masa menunggu. Sebelumnya Reksa Dipa sudah pergi ke ibu kota Digdaya untuk menemui Joko Tenang, tetapi gagal dan pulang kembali ke Pantai Segadis. Akhirnya mereka memutuskan menunggu datangnya perintah. Pada masa menunggu itulah mereka menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan.
Tugas mereka sudah dilaksanakan semua, terutama menemukan tukang pembuat kapal perang.
Namun, hari itu ternyata penantian mereka berakhir karena ada utusan yang datang dari Sanggana Kecil.
Meski utusannya seorang saja, tetapi utusan yang dikirim tidak tanggung-tanggung. Dia adalah pemimpin Pengawal Dewi Bunga untuk Permaisuri Ginari, yaitu Murai Manikam yang berjuluk Anak Halus.
Wania cantik itu mengenakan pakaian serba hitam dengan gaya rambut panjang dikepang tunggal.
“Hormatku, Ketua,” ucap Murai Manikam kepada Reksa Dipa yang merupakan Ketua Pendekar Pengawal Dewi Bunga. Murai adalah wakilnya.
“Pesan apa yang kau bawa, Murai?” tanya Reksa Dipa.
“Kayu-kayu sudah sampai di luar Kadipaten Ombak Lelap, tinggal membuat adipati kadipaten ini memberikan izin pengiriman. Itu tugas kalian karena aku hanya membawakan kepeng pemulus untuk adipati itu,” jawab Murai Manikam. “Kalian tenang saja bertugas di sini. Gusti Prabu sudah mengirimkan Pasukan Gajah Besi lewat timur dan Pasukan Ular Gunung lewat sungai.”
“Apa? Secepat itu pergerakan kita?” kejut Garis Merak.
“Gusti Prabu dan Gusti Permaisuri Negeri Jang sudah berada di sekitar Istana Pasir Langit untuk menaklukkan kerajaan ini,” tandas Murai Manikam.
“Kurna, ambil uangnya!” perintah Reksas Dipa.
Kurna Sagepa segera mengambil beberapa kantung kain berisi uang yang terdapat di pelana kuda milik Murai Manikam. Kantung-kantung uang itu digendongnya.
Swara Sesat mendayung papannya mendekati papan milik Legam Pora.
__ADS_1
“Legam Pora!” panggil Swara Sesat.
Legam Pora yang berbadan hitam kekar segera menengok ke samping, memandang Swara Sesat.
“Apa?” tanyanya.
“Lihat di pantai, ada Anak Halus!” Swara Sesat yang sudah bangun duduk menunjuk ke arah pantai.
“Ah, mana mungkin,” kata Legam Pora tidak percaya, lalu mengangkat kepalanya dan menengok ke arah pantai.
Karena nama Anak Halus sudah disebutkan, meski jaraknya jauh, tetapi sosok Murai Manikam jadi lebih mudah dicirikan.
“Eh iya, itu Anak Halus!” pekik Legam Pora jadi sumringah.
“Ah, kau tidak percaya. Itu jelas-jelas Anak Halus, bukan Gemara. Jelas-jelas dia tidak berpakaian terbuka. Jika Gemara ke sini, bisa kedinginan lembahnya ditiup angin laut terus. Hahaha...!” kata Swara Sesat lalu tertawa terpingkal-pingkal.
Selagi Swara Sesat tertawa terpingkal-pingkal di papannya, Legam Pora memilih mendayung di air, membuat papannya meluncur menuju ke arah pantai.
“Jiahahaha! Dasar hitam, sudah melaju duluan!” tawa Swara Sesat lalu menggerutu. Ujung-ujungnya dia juga mendayung untuk menuju pantai.
Namun, keduanya tidak beruntung. Ketika mereka mendarat di pasir pantai, sosok Murai Manikam dan kudanya sudah tidak terlihat. Yang ada tinggal Reksa Dipa, Garis Merak dan Kurna Sagepa.
“Sudah pergi. Dia tidak berharap bertemu denganmu,” jawab Kurna Sagepa yang membuat Garis Merak tertawa.
Swara Sesat pun datang berlari dengan dada dower dan perut gendut yang menari samba.
“Mana? Mana Anak Halus?” tanya Swara Sesat.
“Sudah pergi,” jawab Kurna Sagepa. “Giliran yang datang orang cantik, gila kalian mulai kambuh.”
“Oh, pergi kencing. Tapi, kudanya tidak ada. Pergi kencing ke mana?” kata Swara Sesat seperti orang paham.
“Hahaha...!” Meledaklah tawa mereka.
“Hei, lihat!” tunjuk Kurna Sagepa ke ujung pantai.
Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah laut di ujung pantai yang jauh. Mereka melihat ada sekitar sepuluh kapal perang yang merapat ke pinggiran. Ada perahu-perahu kecil yang mengangkut banyak prajurit dari kapal untuk mendarat di pasir pantai. Namun, posisi kapal perang Kerajaan Pasir Langit itu terlalu jauh dari posisi Garis Merak dan kawan-kawan.
__ADS_1
“Mungkin terkait situasi di timur wilayah Kerajaan Pasir Langit,” kata Garis Merak.
“Memang ada apa di timur?” tanya Legam Pora.
“Pasukan Gajah Besi sudah menyerang di timur,” jawab Garis Merak. Lalu serunya, “Bersiap-siaplah. Kita akan pergi!”
Kurna Sagepa menepuk bahu Swara Sesat dua kali dan memberi kode agar ikut dengannya. Sahabat tulinya itupun menurut.
Kurna Sagepa dan Garis Merak sudah sangat hafal cara menangani Swara Sesat yang tuli. Meski tuli dan sering menjengkelkan orang lain, Swara Sesat tetap sahabat semati.
Singkat cerita tidak pakai lama. Kelima pendekar itu sudah berpakaian setelah sebelumnya dua di antaranya tidak berbaju. Mereka sudah duduk di punggung kuda masing-masing.
Drap drap drap...!
Mereka pergi meninggalkan Pantai Segadis.
Mereka bertiga pergi ke sebuah kota tapi berbau desa, karena masih banyak lahan persawahan dan ada sebuah danau kecil yang dijadikan oleh warga sebagai lahan budidaya berbagai ikan tawar.
Meski berbau pedesaan, sesekali terlihat ada prajurit kadipaten yang berpatroli berdua-duaan di jalanan ibu kota kadipaten. Berdua itu membuat lebih berani menghadapi ular sawah yang melintas dan lebih asik untuk bertukar canda, apalagi berbagi cerita mantan.
Melihat ada lima orang berpakaian pendekar berkuda lewat, para prajurit kadipaten membiarkan saja. Mereka tidak mau cari penyakit yang mahal obatnya.
Garis Merak dan kelompoknya mendatangi rumah terbesar dan tertinggi di kota itu, yang memiliki beberapa penjaga prajurit kadipaten.
Ternyata Garis Merak dan rekan-rekan sudah mempelajari siapa penguasa daerah itu dan di mana kediamannya. Rumah yang mereka datangi adalah rumah Adipati Kubis Ganda, penguasa Kadipaten Ombak Lelap.
Suara lari kuda yang berhenti di halaman rumah bertingkat dua itu memancing sejumlah wajah muncul dari pintu dan jendela rumah, termasuk wajah-wajah cantik wanita muda yang muncul di lubang jendela kamar. Adipati memang memiliki enam anak gadis dari tiga istri.
Singkat cerita.
Kelima pendekar itu sudah berhadapan dengan sang adipati. Adipati Kubis Ganda duduk berseberangan meja dengan Reksa Dipa dan Garis Merak. Sementara Kurna Sagepa, Swara Sesat dan Legam Pora berdiri di belakang kedua pemimpinnya.
Adipati Kubis Ganda adalah seorang sipil yang berkuasa. Dia bukan seorang berkesaktian, apalagi berlatar belakang militer. Namun, dia memiliki kekuatan besar di belakangnya. Meski seorang sipil, tidak terlihat ada kegentaran di mimik wajahnya saat berhadapan dengan para pendekar tersebut.
Namun, ketika Garis Merak memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan, ditambah sodoran uang yang besar, sang adipati seketika menjadi murah senyum. Ternyata uang bisa menciptakan senyum di wajah seseorang.
Akhirnya beberapa kesepakatan pun disetujui di atas selembar lontar. Kayu-kayu gelondongan Kerajaan Sanggana Kecil boleh melewati wilayah Kadipaten Ombak Lelap dengan bebas. Pajak berlaku setiap satu purnama. Garis Merak dan timnya juga mendapat izin untuk membuat kapal di Pantai Pendek yang juga masuk dalam wilayah Kadipaten Ombak Lelap.
__ADS_1
Namun, Adipati tidak bertanggung jawab jika Angkatan Laut Kerajaan Pasir Langit mengetahui aktivitas kelompok Garis Merak. Itupun disepakati oleh Garis Merak.
Dengan demikian, urusan pembuatan kapal perang untuk Kerajaan Sanggana Kecil bisa dimulai. (RH)