Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 37: Amarah Prabu


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Suara ledakan pertama yang terdengar keras di kejauhan, tetapi diyakini masih di dalam lingkungan Istana, mengejutkan Prabu Galang Digdaya dan Permaisuri Titir Priya. Pikiran Prabu Galang seketika teringat pada serangan pagi yang berhasil masuk ke lingkungan Istana yang berpenjagaan ketat, yang berujung dibunuhnya Menteri Balelewa.


Jika para penyerang bisa masuk ke lingkungan Istana, tentunya hal itu bisa diulang kedua kali. Itulah yang Prabu Galang simpulkan.


“Hati-hati, Kakang Prabu.” Hanya itu kalimat yang diucapkan oleh Permaisuri Titir Priya, ketika melihat suaminya bergerak cepat untuk pergi melihat apa yang terjadi.


Clap!


Tahu-tahu sang prabu telah lenyap dari kamar mewah dan luasnya itu.


Ketika tiba, Prabu Galang Digdaya memilih memantau dari kejauhan tanpa diketahui oleh siapa pun. Dia sejenak memerhatikan kondisi di Wisma Keputrian.


Ternyata situasinya telah hampir berakhir. Komandan Ati Urat telah berhasil menjatuhkan seorang manusia kalong. Pada saat yang sama, seorang prajurit dari Pasukan Pengaman Putri harus tewas setelah membentengi rekan-rekannya dari serangan udara.


Pasukan Keamanan Istana telah berkumpul di luar pagar Wisma Keputrian. Pasukan panah telah melepaskan hujan panahnya yang tidak bisa menjangkau kelima manusia kalong yang terbang menjauh meninggalkan tempat itu.


Di teras Wisma Keputrian tampak berdiri Putri Ani Saraswani yang didampingi oleh Rincing Kila. Di depan wisma berbaris Pasukan Pengaman Putri membentuk pagar hidup.


Mendapati kediaman putrinya diserang, menggelora kemarahan Prabu Galang.


Clap


Prabu Galang lenyap dari tempatnya berdiri di atas sebuah atap bangunan.


Slasss!


“Aak! Ak! Akh...!”


Tiba-tiba sosok Prabu Galang muncul di udara tinggi yang gelap, tepat di atas posisi terbang kelima manusia kalong yang hendak pergi.


Prabu Galang mengibaskan kedua tangan kekarnya memunculkan sinar kuning menyilaukan, yang lidah-lidah sinarnya menyengat kelima lelaki terbang di bawahnya.


Kelima musuh tidak dikenal itu hanya bisa terkejut karena tahu-tahu muncul sinar menyilaukan di atas mereka. Mereka berjeritan karena merasakan sengatan yang luar biasa menyakitkan, membuat mereka meluncur jatuh seperti burung kena tembak pemburu.


“Ayahanda!” sebut Putri Ani yang segera mengenali kesaktian ayahnya yang bernama Murka Langit.


Selanjutnya, Prabu Galang Digdaya turun dari angkasa malam tanpa cahaya lagi. Dia turun seperti dewa dengan tubuh yang sangat ringan, seperti kapas jatuh tanpa gangguan angin. Dia turun di tengah-tengah halaman.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” ucap para pasukan itu sembari turun berlutut dan bersujud di tanah.


Sementara Putri Ani menjura hormat secukupnya.


Dengan wajah yang terlihat menyeramkan karena pengaruh amarah, Prabu Galang mendatangi lelaki terbang yang menderita luka parah pada kakinya dan beberapa tulang yang patah.


“Mencari mati kalian berani menyerang masuk ke Istana Pasir Langit!” teriak Prabu Galang gusar lalu melesat terbang rendah dengan posisi tubuh tetap berdiri.

__ADS_1


Dia berhenti di sisi tubuh lelaki berkumis berpakaian hitam. Prabu Galang membungkuk dan mencengkik leher penyerang itu dengan tangan besarnya.


“Akk!” erang lelaki itu tanpa bisa meronta atau melawan saat tubuhnya diangkat.


Begitu perkasanya Prabu Galang sehingga lelaki bersayap itu tergantung dengan kaki tidak menyentuh tanah.


“Katakan, siapa yang memerintahmu!” bentak Prabu Galang keras.


“Pa ... pa ... panger ... raaan. Ekkrr!” jawab lelaki itu terputus-putus karena lehernya dicekik.


“Maksudmu Pangeran Tirta Gambang?!” bentak Prabu Galang lagi.


“Iyaaakkrr!” jawab lelaki itu sambil menahan sakit.


Sret!


“Aaak...!” jerit lelaki itu kencang dan panjang membahana, saat dadanya dicakar oleh lima jari Prabu Galang. Pakaian, kulit dan daging dadanya robek berdarah.


“Kau jangan menfitnah putraku!” teriak Prabu Galang benar-benar marah sambil kian memperkuat cekikannya pada leher korbannya.


“Aakrr!” erang kesakitan lelaki itu dengan mata yang mendelik. Dia diuntungkan oleh temaramnya pencahayaan, sehingga kondisi wajahnya yang mengenaskan tidak begitu kentara, meski nyawanya tinggal dipetik.


“Siapa yang memerintahkanmu?!” tanya Prabu Galang tanpa menguah intonasi pertanyaannya.


“Pakr ... pakr ... pangerrr!” jawab si lelaki bersayap kain lagi.


Kata-kata tawanan itu terputus saat tubuhnya dilempar menghantam ke tanah.


“Siapa kalian dan dari mana?” tanya Prabu Galang bernada lebih pelan.


“Akkrr!” erang lelaki yang sudah tidak bisa terbang lagi itu. Lalu jawabnya, “Kami dari ... Kelompok ... Manusia Atas.”


“Ati Urat!” sebut Prabu Galang.


“Hamba, Gusti,” jawab Komandan Ati Urat yang berlutut tidak jauh dari korbannya.


“Siksa dia sampai mengaku!” perintah Prabu Galang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Komandan Ati Urat.


“Ja-jangan! Aku su-su-sudah mengaku!” teriak lelaki itu ketakutan.


“Bangunlah kalian semua!” perintah Prabu Galang.


Panglima Banta Ufuk dan pasukannya kembali bangkit, demikian pula Pasukan Pengaman Putri. Beberapa prajurit segera menyeret tawanan yang mengaku dari Kelompok Manusia Atas.


Panglima Banta Ufuk segera datang menghadap kepada junjungannya.

__ADS_1


“Mohon ampun, Gusti. Kelompok Manusia Atas adalah kelompok pendekar ternama di wilayah Kerajaan Teluk Busung,” ujar Panglima Banta Ufuk.


“Semua pendekar bayaran yang menyerang berasal dari Teluk Busung. Apakah serangan ini melibatkan pihak Kerajaan Teluk Busung?”


“Sepertinya mereka menargetkan Gusti Putri, Gusti,” kata Panglima Banta Ufuk.


Prabu Galang Digdaya beralih memandang ke teras Wisma Keputrian, tetapi Putri Ani Saraswani sudah tidak ada di tempatnya. Sepertinya sang putri sudah masuk ke dalam wismanya.


“Panglima, sampaikan perintahku kepada keamanan Ibu Kota. Besok bersihkan Ibu Kota dari semua pendekar dan warga asing. Bunuh saja yang menentang!” perintah Prabu Galang tegas.


Baginya, jebolnya keamanan Istana dalam dua waktu yang berdekatan sungguh hal yang memalukan.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap patuh sang panglima.


“Jika ada penyerang lagi yang berhasil menyusup ke lingkungan Istana, tamat hidupmu, Banta Ufuk!”


“I-i-iya, Gusti Prabu,” ucap Panglima Banta Ufuk.


“Pergilah dan pungut kelima mayat penjahat itu!” perintah Prabu Galang Digdaya.


“Baik, Gusti,” ucap Panglima Banta Ufuk.


Prabu Galang lalu berjalan pergi menuju ke Wisma Keputrian yang memiliki besar sederhana. Kedatangan sang prabu membuat para prajurit Pasukan Pengaman Putri kembali menjura hormat.


Setibanya di depan teras yang bisa memandang langsung ke sebagian dalam kamar tidur, Prabu Galang tidak melihat keberadaan putrinya. Dia hanya melihat keberadaan Rincing Kila.


“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu,” ucap Rincing Kila sembari turun berlutut.


“Di mana Putri Ani?” tanya Prabu Galang sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


“Ampuni hamba, Gusti,” ucap Rincing Kila sambil turun ganti bersujud. Lalu katanya, “Gusti Putri pergi.”


“Kenapa kau membiarkannya pergi?!” bentak Prabu Galang sambil mendorongkan kakinya kepada badan Rincing Kila, membuat gadis itu jatuh terpuruk ke samping.


“Ampuni hamba, Gusti! Ampuni hamba!” pekik Rincing Kila ketakutan sambil buru-buru memperbaiki sujudnya. Dia takut karena tahu karakter keras rajanya.


“Kalau sampai terjadi celaka kepada putriku, jangan harap kau akan lolos dari hukuman, Rincing!” ancam Prabu Galang.


“Baik, Gusti,” ucap Rincing Kila agak lega, karena yang didapatinya hanya sekedar ancaman.


Prabu Galang Digdaya lalu berbalik hendak keluar. Namun, langkahnya terhenti dengan wajah yang memandang ke dalam kolam di dalam kamar.


“Ke mana ikan peri birunya?” tanya Prabu Galang yang tahu tentang cerita sepasang dua ikan peri di dalam kolam.


“Ah? Hamba ... hamba tidak tahu, Gusti. Tadi sore ikannya masih sepasang,” jawab Rincing Kila.


“Huh!” dengus Prabu Galang lalu melangkah keluar. (RH)

__ADS_1


__ADS_2