
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Putri Ani Saraswani benar-benar menangis, seperti ketika dia menyaksikan mayat calon suaminya telah dipancung. Dia hanya bisa menangis berkepanjangan.
Rasa kehilangan orang yang paling dicintai kini dirasakan oleh Putri Ani kembali. Saat ini, tidak ada orang yang paling dicintainya. Ayahnya? Dia benci. Ibunya? Lebih banyak membela suaminya. Adiknya? Justru menjadi dalang upaya pembunuhan terhadapnya.
Namun, beberapa waktu yang lalu, Joko Tenang telah mengkudeta hati dan cinta Putri Ani, menjadikan dirinya sebagai orang yang paling sang putri cintai. Maka, wajar jika kepergian Joko Tenang yang tiba-tiba itu membuat Putri Ani merasa ditinggal pergi oleh orang yang paling dicintainya. Karena Joko Tenang sudah beristri, mungkin Putri Ani akan ditinggal untuk selamanya.
“Joko, kenapa kau tidak mengerti aku? Kenapa kau meninggalkan aku di saat aku sangat bahagia dan mencintaimu?” ratap Putri Ani yang merundukkan wajahnya di atas meja sembari menangis.
Dia membantali wajahnya dengan tangannya di atas meja.
“Joko pasti tidak pergi, dia hanya pulang ke rumah sewanya. Dia pasti hanya mencandaiku saja. Mungkin seperti itu cara Joko untuk menguji cintaku. Aku tidak boleh langsung menyimpulkan,” ucap Putri Ani kepada dirinya sendiri.
Dia tegakkan kembali kepala. Ia usap air matanya yang bercampur dengan tetesan air dari rambutnya. Dia coba tegarkan kembali wajahnya dan menghentikan tangisnya. Keyakinan bahwa Joko Tenang hanya menguji cintanya, membuatnya mudah untuk berhenti menangis.
Pelayan yang bernama Badur datang dengan membawa sekendi minuman panas. Terlihat dari asap yang mengebul keluar dari mulut kendi yang monyong.
Putri Ani Saraswani tiba-tiba berdiri dan berjalan meninggalkan tempat yang lantainya basah. Itu bukan ompol sang putri, tetapi air yang menetes dari rambut dan pakaiannya yang kuyup.
“Siapkan kuda, Badur!” perintah Putri Ani.
“Tapi ini bagaimana, Gusti?” tanya Badur bingung.
“Laksanakan perintahku!” bentak Putri Ani jadi emosi.
“I-i-iya, Gusti!” ucap Badur terkejut dan jadi tergagap tanpa pakai Aziz.
Buru-buru Badur meletakkan kendi yang dibawanya ke lantai, lalu dia berlari menuju kandang kuda yang ada di bagian belakang rumah makan tersebut.
Tidak berapa lama, Badur datang berlari dari kandang kuda. Tangan kanan menarik tali kuda dan tangan kiri menenteng pelana yang belum dipasang.
Setibanya di depan Putri Ani, Badur segera meletakkan pelana di punggung kuda. Namun, sebelum dia memasang tali penguncinya, Putri Ani justru membuang pelana itu dari punggung kuda, membuat Badur terkejut plus bingung.
Putri Ani langsung naik ke punggung kuda tanpa beralas pelana lagi.
“Hiah hiah!” gebah Putri Ani keras.
Putri Ani dan kudanya pun melesat keluar dari lingkungan Rumah Makan Muara Jerit.
__ADS_1
Dalam perjalanannya, beberapa kali Putri Ani harus dihentikan oleh sejumlah prajurit yang berpatroli atau sekedar berjaga di beberapat titik wilayah Ibu Kota. Namun, setelah mereka mengenali bahwa orang yang berkuda malam itu adalah Putri Ani, mereka pun hanya bisa berlutut menghormat dan membiarkan sang putri melanjutkan perjalanannya.
Termasuk ketika Putri Ani dan kudanya lewat di pos penjaggan di pusat Ibu Kota yang di sana ada Komandan Rambut Awut.
Beberapa prajurit Keamanan Ibu Kota segera berbaris menutup jalan, memaksa Putri Ani kembali menghentikan kudanya.
“Oh, maafkan kami, Gusti Putri!” ucap Komandan Rambut Awut saat mengenali si penunggang kuda. Dia pun menjura hormat yang diikuti hormat para prajurit yang turun berlutut.
“Bangunlah!” perintah Putri Ani.
Semuanya pun bangkit berdiri tegak kembali, termasuk Brabean yang berdiri di sisi kiri Komandan Rambut Awut.
“Rambut Awut, jika kalian menemukan Joko Tenang, tangkap dia hidup-hidup atas perintahku!” perintah Putri Ani.
“Baik, Gusti Putri,” ucap Komandan Rambut Awut patuh.
“Tangkap Brabean!” perintah Putri Ani lagi.
Terkejut Komandan Rambut Awut dan Brabean sendiri mendengar perintah itu. Mereka dan para prajurit jadi bingung.
Sebelum Putri Ani pecah amarahnya, Komandan Rambut Awut cepat memberi perintah.
Sontak para prajurit bergerak mengepung Brabean dan menodongkan pedang-pedangnya. Wakil Kepala Pasukan Keamanan Ibu Kota itupun tidak berkutik dengan wajah pias dan mendadak berkeringat.
“A-a-apa salahku, Gusti?” tanya Brabean memberanikan diri, daripada dia mati tanpa tahu apa kesalahannya.
“Kau telah mengganggu Joko Tenang. Itu kesalahanmu! Cambuk dia lima puluh kali!” bentak Putri Ani marah.
“Bawa dia ke penjara dan lakukan penghukuman!” perintah Komandan Rambut Awut kepada anak buahnya.
“Ampuni aku, Gusti Putri! Ampuni aku!” teriak Brabean panik bukan main. Dia mau bersujud, tetapi kedua tangannya sudah dikunci oleh para prajurit anak buahnya.
“Heah heah!” gebah Putri Ani.
Putri Ani tidak peduli lagi, dia harus cepat sampai ke rumah sewa Joko Tenang.
Putri Ani terus melaju bersama kudanya.
Akhirnya Putri Ani tiba di rumah sewa Joko Tenang. Namun, kondisi tempat itu sepi, tidak terlihat ada satu orang pun.
__ADS_1
Mendengar ada suara kuda yang berlari kencang, istri pelaut Nangita seperti kucing tidur yang mendengar cicitan anak tikus yang menggemaskan untuk dimangsa. Dia segera keluar kamar dan kembali mengintip di lubang miliknya. Maksudnya lubang rumah miliknya alias lubang miliknya juga.
Nangita terkejut karena mengenali sosok Putri Ani.
Anak raja itu sudah turun lalu naik ke rumah sewa dan masuk.
“Jokooo!”
Tiba-tiba terdengar teriakan Putri Ani dari dalam rumah sewa tersebut. Nangita terkejut mendengar teriakan tersebut.
Tidak berapa lama, Putri Ani keluar dengan wajah yang kembali berair mata. Di depan pintu yang sudah rusak itu, Putri Ani berdiri terdiam dengan tubuh yang terguncang pelan karena menangis sesegukan.
Setelah tidak menemukan Joko Tenang di rumahnya, Putri Ani kembali merasa sangat kehilangan. Perasaan sedih itu kembali begitu menikam hatinya.
Pada akhirnya, Putri Ani memutuskan untuk pulang, tapi bukan pulang ke Istana, melainkan pulang ke Rumah Makan Muara Jerit. Mungkin, Joko Tenang ternyata masih ada di sana dan bersembunyi. Namun, dugaan Putri Ani tidak tepat. Tidak ada tanda-tanda bahwa Joko Tenang masih ada di tempat itu.
Akhirnya, Putri Ani melamun seorang diri di perahu yang merupakan bagian dari rumah makan tersebut. Sang putri berada di situ meratapi nasib cintanya sampai pagi.
“Gusti Putri!” panggil Rincing Kila yang pagi itu memutuskan mencari majikannya di Rumah Makan Muara Jerit.
Putri Ani menengok memandang kedatangan pengawalnya. Melihat Rincing Kila, raut wajah jelita itu tampak marah.
Tiba-tiba Putri Ani melompat naik dari perahu ke lantai rumah makan, ke depan Rincing Kila.
Plak!
Alangkah terkejutnya Rincing Kila saat wajah cantiknya tahu-tahu mendapat tamparan dari Puri Ani.
“Ampuni hamba, Gusti Putri!” ucap Rincing Kila sambil buru-buru turun bersujud di depan kaki junjungannya.
Rincing Kila menduga bahwa yang membuat Putri Ani sangat marah kepadanya karena dia telah berceloteh kepada Prabu Galang Digdaya tentang Joko Tenang.
“Kenapa kau berbohong dengan mengatakan bahwa Joko Tenang belum beristri?!” bentak Putri Ani.
“Ampuni hamba, Gusti Putri. Hamba hanya mengatakan apa yang hamba dengar dari Joko Tenang,” kilah Rincing Kila tanpa berani mengangkat wajah dan kepalanya.
“Kenapa Joko Tenang tidak membohongiku seperti dia membohongimu?” kata Putri Ani kesal sendiri.
“Ampuni hamba, Gusti!” ucap Rincing Kila merasa bersalah, meski dia belum tahu apa yang terjadi terhadap junjungannya.
__ADS_1
Pagi itu, dengan dikawal oleh Rincing Kila, Putri Ani kembali berusaha mencari Joko Tenang. Namun, Joko Tenang tetap tidak ada. Putri Ani bahkan bertanya kepada Nangita selaku pemilik rumah sewa. Dia pun mengorek cerita tentang Joko Tenang. (RH)