
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Hihihi...!”
Putri Ani Saraswani terdengar tertawa begitu mesra bersama Joko Tenang, ketika Riskaya tiba.
Melihat kemunculan Riskaya, seketika tawa sang putri berhenti. Joko Tenang terus tertawa, tetapi lebih rendah. Entah apa yang telah membuat sepasang insan itu tertawa begitu cair.
Namun, kedatangan Riskaya membuat Putri Ani jadi diam dan terlihat canggung.
“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap Riskaya sambil turun berlutut menghormat.
“Bangkitlah, Riskaya!” perintah Joko Tenang.
Riskaya pun bangkit berdiri tegak. Dia melirik sebentar kepada Putri Ani. Sementara Rincing Kila menjadi patung penjaga agak jauh dari posisi Joko Tenang dan Putri Ani. Sepertinya dia memilih menyingkir daripada menjadi obat nyamuk di antara pasangan serasi itu.
“Laporan apa yang kau bawa, Riskaya?” tanya Joko Tenang sebelum gadis cantik itu menyampaikan laporannya.
“Gusti Permaisuri Negeri Jang akan memasuki Ibu Kota tepat tengah hari. Bo Fei berhasil membawa kereta Gusti Permaisuri dengan selamat. Namun, Gusti Permaisuri akan dikawal oleh lima puluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana yang dipimpin Anak Halus, karena Pasukan Gajah Besi dihadang Pasukan Kaki Gunung di perbatasan Kadipaten Senengek, Gusti,” ujar Riskaya.
“Oh, itu lebih bagus,” ucap Joko Tenang.
“Ada juga pesan dari Pengirim Lintas Dunia yang ada di dalam Ibu Kota, Gusti. Dua wanita warga Ibu Kota yang bernama Subini dan Nangita disandera oleh Pasukan Ibu Kota. Mereka menuntut Gusti untuk menyerahkan diri,” lapor Riskaya lagi.
Laporan itu membuat sepasang mata Joko Tenang melebar.
“Kenapa mereka yang ditangkap? Siapa yang punya ide untuk menjadikan mereka sandera?” tanya Joko Tenang kepada dirinya sendiri. Riskaya dan Putri Ani pun tidak bisa bantu jawab.
Joko Tenang lalu berdiri dari duduknya.
“Ayo, Sayang. Kita ke Ibu Kota. Sepertinya ada orang yang perlu aku bunuh!” kata Joko Tenang kepada Riskaya.
“Baik, Gusti,” ucap Riskaya sembari mengangguk. Bahagia hatinya saat mendengar dirinya disebut “Sayang” oleh Joko Tenang.
Sementara Putri Ani jadi memandangi Joko Tenang dan Riskaya bergantian karena mendengar panggilan “Sayang” kepada pengawal perempuan itu.
“Riskaya adalah calon selirku,” kata Joko Tenang kepada Putri Ani sembari tersenyum. Sepertinya dia bisa menerka isi pikiran gadis cantik itu.
“Jika demikian, hamba izin kembali ke Istana, Gusti Prabu,” ucap Putri Ani yang seketika pikirannya agak terganggu karena mendengar pengungkapan Joko Tenang.
“Baiklah. Tunggu aku di dalam Istana. Aku akan mendampingi permaisuriku masuk Istana dengan lapang atau dengan paksa,” kata Joko Tenang.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Putri Ani penuh hormat, tidak seperti sebelumnya selagi Riskaya tidak ada di antara mereka.
Putri Ani lalu menjura hormat kepada Joko Tenang. Setelah itu, dia berbalik pergi kepada Rincing Kila.
Seperginya Putri Ani, Joko Tenang melirik sambil tersenyum manis kepada Riskaya. Gadis yang setia menunggu kesempatan untuk menjadi istri Joko Tenang itu, jadi tersenyum tersipu malu.
“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang sambil mencolek hidung bangir Riskaya.
Semakin lebar senyuman Riskaya.
Sementara itu di pusat ibu kota Digdaya.
Subini dan Nangita dalam kondisi payah dan lemas. Mereka diikat sejak kemarin sore hingga siang itu di tiang kayu, tanpa diberi makan dan minum. Kepala kedua wanita itu sudah terkulai lemah.
Posisi mereka tetap dalam kepungan pagar prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota.
“Brabean!” teriak Komandan Rambut Awut bernada marah.
__ADS_1
“Hamba, Komandan!” teriak Brabean terkejut, lalu dia cepat datang berlari dari belakang barisan prajurit.
Tidak berapa lama, Brabean sampai menghadap Komandan Rambut Awut.
“Mana? Mana Joko Tenang? Dia tidak muncul juga,” kata Komandan Rambut Awut.
“Kita tunggu sampai sore hari, Komandan. Jika sampai sore tidak muncul juga, berarti cara ini memang tidak berhasil,” kata Brabean.
“Subini dan Nangita bisa mati duluan sebelum sore,” kata Komandan Rambut Awut.
“Jika begitu, kita tunggu sampai matahari lewat sedikit,” tawar Brabean.
“Baik, jika sampai waktu itu si Joko Tenang tidak juga muncul, lepaskan mereka berdua!”
“Baik, Komandan,” ucap Brabean patuh.
“Tapi aku ingin tahu, Komandan. Siapa yang punya usulan ini?” tanya Joko Tenang yang tiba-tiba muncul berdiri merangkul bahu Komandan Rambut Awut.
“Uwwak!” pekik Brabean terkejut bukan main sambil refleks melompat mundur dan cabut pedang.
Wajah Brabean seketika pucat berkeringat dingin. Tangannya yang mengacungkan pedang terlihat jelas gemetar, otomatis pedangnya pun tidak tenang.
Sementara itu, Komandan Rambut Awut diam tidak bergerak dirangkul bahunya oleh pemuda berompi merah dan berbibir merah. Dia bisa merasakan bahunya yang dipegang oleh tangan Joko Tenang menanggung beban seberat gajah, meski dia belum pernah menggendong seekor pun gajah. Beban itu bahkan membuat kedua dengkulnya gemetar.
“Joko!” sebut Subini dan Nangita bersamaan, seperti terbangun dari kematiannya saat mendengar suara pria yang mereka sangat kenal, yaitu suara Joko Tenang.
Keduanya cepat angkat wajah dan mencari keberadaan Joko Tenang.
“Siapa, Komandan?” tanya Joko Tenang lagi sambil cengkeramannya di bahu Komandan menguat.
“U-u-usulan Brabean!” jawab Komandan Rambut Awut tergagap sambil menunjuk wakilnya.
Semakin mendelik Brabean ditunjuk. Saat itu juga, di dalam kepalanya langsung terlintas tamasya ke alam kubur. Belum lagi slide alam pikiran Brabean berganti, hukuman untuknya telah tiba mendera.
Baks!
Bukk!
Hantaman dari ilmu Tapak Kucing itu membuat tubuh Brabean terbanting keras ke tanah.
“Aaakk...!” jerit Brabean kencang dan panjang karena merasakan sakit yang luar biasa.
Sambil menjerit tidak putus-putus, Brabean memeriksa bahu kanannya dengan tangan kirinya.
“Huaaak...!” jerit Brabean semakin melolong histeris saat mengetahui bahunya hancur dan berlubang.
“Dia terlalu berisik,” kata Joko Tenang kepada Komandan Rambut Awut.
Joko Tenang lalu kembali menghentakkan tangan kirinya.
Baks!
Tanpa jeritan lagi, Brabean langsung terdiam setelah terhentak di tempat dengan dada yang tahu-tahu jebol hangus.
Apa yang terjadi itu membuat pasukan yang berjaga segera bergerak ke dua arah. Arah pertama yaitu mengepung posisi Joko Tenang dan komandannya sendiri. Arah yang kedua mengepung tiang kayu tempat Subini dan Nangita diikat.
Pasukan mengepung tiang karena di dekat tiang itu tahu-tahu sudah berdiri seorang wanita cantik jelita dengan bodi aduhai menggoda. Meski demikian, bukan waktunya untuk menggoda apalagi tergoda, terlebih wanita cantik itu memegang sebuah pedang bagus yang siap diloloskan dari sarungnya.
Subini dan Nangita sendiri dibuat terkejut dengan kemunculan “bidadari” yang tiba-tiba di dekat mereka.
Sing! Sesst!
__ADS_1
“Akk! Akk! Akh...!”
Wanita yang adalah Riskaya tersebut mencabut pedangnya dan langsung mengibaskannya. Terciptalah lukisan sinar merah yang melengkung panjang, menebas belasan prajurit yang maju sekaligus.
Ganasnya serangan jarak jauh pedang sakti itu, membuat tombak, tameng hingga badan prajurit, terpotong. Jeritan bersusulan terdengar memenuhi ruang udara di area tersebut.
“Aaak!” jerit Subini dan Nangita karena ngeri.
Sing! Sesst!
“Akk! Akk! Akh...!”
Setelah serangan pertama, Riskaya langsung melakukan tebasan pedang kedua ke arah yang lain. Belasan prajurit yang datang mendekat pun seketika tertebas dan jatuh tersungkur diiringi jeritannya, bahkan ada prajurit yang tubuhnya terpotong putus.
Subini dan Nangita tidak menjerit lagi. Mereka memilih memejamkan mata dengan wajah yang mengerenyit karena merasa ngilu mendengar jaritan prajurit yang meregang nyawa.
Di kelompok prajurit yang lain.
Wusss!
“Aaa...!” jerit puluhan prajurit berjemaah saat mereka semua diterbangkan oleh angin seperti badai dahsyat.
Kedatangan mereka yang ingin menyerang Joko Tenang disambut segulung angin dahsyat yang merupakan seperempat kekuatan ilmu Badai Malam Dari Selatan.
Bukan hanya sebagian dari pasukan yang terbang mengudara, beberapa pohon sekitar ikut tumbang dengan dedaunan yang terbang menggila. Ada pula satu dua rumah warga yang rusak parah tertiup angin.
Setelah angin reda, sebagian tempat itu jadi terlihat lapang karena bersih dari prajurit. Namun, menimbulkan kerusakan besar. Puluhan prajurit yang tadi sempat terbang, jadi terkapar tidak bisa bangun. Sebagian hanya menggeliat kesakitan tanpa bisa bangun karena menderita patah tulang.
Sementara itu, sebagian pasukan yang tersisa jadi runtuh mentalnya melihat keganasan kesaktian Joko Tenang dan Riskaya.
“Jika kau ingin melihat semua prajurit pasukanmu mati, jangan hentikan mereka,” kata Joko Tenang yang masih menyandera Komandan Rambut Awut.
“Be-be-berhentiiii!” teriak Komandan Rambut Awut tergagap, tapi nada akhirnya semakin panjang semakin kencang.
Teriakan sang komandan itu langsung membuat pergerakan pasukannya yang berjumlah ratusan orang jadi berhenti.
“Sepertinya kau perlu diberi sedikit kebahagiaan, Komandan,” kata Joko Tenang, lalu mencubit beberap titik di tubuh Komandan Rambut Awut.
“Aww! Aww!” pekik kecil Komandan Rambut Awut seperti anak kucing saat dicubit beberapa kali.
Joko Tenang lalu melepaskan rangkulan bahunya dari Komandan Rambut Awut. Dia melangkah pergi menuju ke tiang tempat Subini dan Nangita diikat.
“Hahahak...!” tawa terbahak Komandan Rambut Awut.
Wuss!
Sambil berjalan, Joko Tenang mengibaskan tangan kanannya ke arah kumpulan prajurit yang masih siap dengan tombak dan tamengnya.
“Aaak! Panaaas! Panaaas!” teriak sejumlah prajurit yang terkena angin panas dari ilmu Langit Membakar Bumi. Tahu-tahu ada api yang muncul membakar pakaian hingga semua jenis rambut mereka. Prajurit yang terbakar tubuhnya jadi panik berlari ke sana ke mari berusaha memadamkan api.
“Hahahak...!” tawa terbahak Komandan Rambut Awut sambil memegangi perutnya. Entah apa yang dia tertawakan.
“Joko Tenaaang!” pekik Subini dan Nangita begitu girang melihat kedatangan Joko Tenang ke arah mereka.
Keduanya sudah bebas dari ikatan tali.
“Jokooo!” jerit kedua emak-emak itu girang lalu berlari bersama dan memeluk Joko Tenang juga bersama-sama. Mereka bahkan sampai menangis sambil memeluk Joko Tenang.
“Hahaha! Lepaskan, Nyai. Dilihat banyak orang,” kata Joko Tenang sambil tertawa.
Joko Tenang tertawa bukan karena ditabrak oleh berbagai macam tonjolan dan lemak perempuan, tetapi senang melihat kebebasan keduanya yang tampak kondisinya memprihatinkan.
__ADS_1
“Hahahak...!” tawa Komandan Rambut Awut yang sudah terduduk di tanah. Dia tidak henti-hentinya tertawa kencang, membuat para prajurit pasukannya heran. (RH)