Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Setelah yakin dengan kabar dari Rincing Kila, Putri Ani Saraswani kembali memandang Joko Tenang yang duduk dengan tenang.


Putri Ani melihat, entah apakah Joko Tenang yang berubah lebih kharismatik atau perasaannya yang memengaruhi penglihatannya. Dia melihat Joko Tenang bukan lagi sebagai seorang pengusaha kayu, atau seorang pendekar sakti, tetapi seorang raja yang berkharisma dan berwibawa tinggi, yang di balik penampilan kependekarannya yang sederhana tanpa hiasan, sebenarnya adalah seorang raja besar nan agung.


Putri Ani sering mendengar cerita tentang Prabu Dira yang memiliki istri-istri yang sakti mandraguna. Namun, dia sedikit pun tidak pernah memimpikan, bahkan membayangkan saja tidak, akan berurusan cinta dengan raja mahsyur itu.


Namun, Putri Ani bahkan sudah berbagi keakraban, berbagi tawa, berbagi sentuhan, dan yang lebih jauh adalah berbagi bibir. Dia merasa sangat lancang telah jatuh cintah kepada seorang raja yang di belakangnya banyak berdiri wanita sakti mandraguna.


Seketika itu juga, luluhlah keputrian Putri Ani. Dia merasa menjadi sangat rendah derajat dan kedudukannya jika dibandingkan dengan Joko Tenang yang adalah seorang raja sakti mandraguna.


Yang jelas, saat itu sang putri bingung harus bersikap seperti apa. Sebab, tidak mungkin dia merasa Joko Tenang adalah kekasihnya atau relasi dagangnya, setelah mengetahui jati diri lelaki itu sebenarnya.


Melihat Putri Ani dan Rincing Kila agak lama di sana, yang bahkan hanya memandangi dengan ekspresi ragu, Joko Tenang pun memanggil mereka.


“Kemarilah! Kita selesaikan dulu urusan kita, agar aku bisa pergi tanpa meninggalkan beban!” panggil Joko Tenang.


Putri Ani tidak langsung merespon, membuat Joko Tenang heran.


“Ayo, Gusti Putri. Hamba sudah berbicara langsung dengan Gusti Ratu Tirana. Gusti Ratu mengatakan bahwa Gusti Prabu Dira adalah lelaki yang sangat baik dan bijaksana,” kata Rincing Kila setengah berbisik.


Dengan langkah yang ragu, Putri Ani Saraswani lalu berjalan ke arah meja tempat Joko Tenang masih duduk dengan tenang. Joko Tenang memandangi dengan memberi senyum yang lembut.


“Kenapa kau terlihat berubah sikap, Gusti Putri?” tanya Joko Tenang.


Duk!


Tiba-tiba Putri Ani turun berlutut di seberang meja dan menjura hormat penuh takzim kepada Joko Tenang. Demikian halnya dengan Rincing Kila, dia pun turun berlurut.


Terkejut Joko Tenang melihat sikap itu.


“Sembah hormatku, Gusti Prabu Dira. Maafkan hamba karena tidak mengenali Gusti Prabu dengan baik,” ucap Putri Ani.


“Oooh! Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar ucapan Putri Ani. “Jadi Rincing Kila telah tahu bahwa aku adalah Prabu Dira. Bangkitlah kalian berdua, saat ini aku bukan sebagai raja, tapi sebagai pendekar biasa.”


“Lalu, apa perbedaannya jika Gusti Prabu sebagai pendekar biasa?” Justru Rincing Kila yang berani bertanya.

__ADS_1


“Jika aku pendekar biasa, kalian boleh menuduhku, memukulku, bahkan bergurau bersamaku,” jawab Joko Tenang sembari tersenyum.


Semakin merasa terpojok perasaan Putri Ani mendapat sindiran seperti itu. Mereka berdua lalu bangun dan kembali duduk bersila biasa berseberangan meja dengan Joko Tenang. Namun, terlihat mereka tegang dan kaku. Sang putri pun terlihat lebih pendiam dan lebih banyak menunduk, tidak berani lama-lama memandang Joko Tenang yang kini dianggapnya adalah seorang raja.


“Minumlah, Gusti Putri,” kata Joko Tenang sambil mendorong gelas minuman hangat lebih dekat kepada Putri Ani.


“Mohon jangan sebut aku demikian, Gusti Prabu. Hamba akan terlihat lancang,” protes Putri Ani, sangat berbeda sikapnya dengan sebelumnya.


“Hahaha! Tidak usah seperti itu, Putri,” tawa Joko Tenang sambil memajukan tubuh atasnya dan menepak lengan kiri Putri Ani. Tepakan yang pelan sehingga terasa lembut.


Gadis cantik itu terkejut ditepak seperti itu.


“Kita adalah sahabat. Dan tidak ada aturan Kerajaan Sanggana Kecil di sini,” kata Joko Tenang lagi.


Penyebutan kata “sahabat” memberi rasa sakit di hati sang putri. Dia hanya dianggap sahabat oleh Joko Tenang, padahal dia ingin lebih dari itu meskipun sangat tidak mau menjadi madu.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Rincing Kila.


“Hilangkan penghormatan kalian karena akan menarik perhatian orang sekitar. Sebut saja aku Joko Tenang. Itupun adalah nama asliku,” kata Joko Tenang.


“Kenapa seorang raja melakukan penyamaran seperti ini?” tanya Putri Ani dengan nada yang sangat berbeda, yaitu lebih kalem dan memendam rasa tidak nyaman. Ia bahkan tidak mau menatap mata Joko Tenang lama-lama.


“Apakah Putri tahu tentang kedatangan istriku Ratu Kerajaan Balilitan dan mahapatihku ke Istana untuk menawarkan kerja sama?” tanya Joko Tenang.


Namun, Putri Ani mencubit paha Rincing Kila di bawah meja, membuat Rincing Kila terkejut kecil dan melirik junjungannya. Cubitan itu berkata, “Jatahku yang menjawab, kenapa kau ambil?”


Joko Tenang hanya tersenyum karena tahu apa yang terjadi di bawah meja, meski tidak melihat.


“Penyamaranku untuk melakukan tindak lanjutan jika tawaran kerja samaku kepada Prabu Galang ditolak. Ternyata, semua tawaran kerja samaku ditolak. Jadi aku harus bekerja sendiri karena tujuanku harus bisa terwujud. Aku ingin membangun angkatan laut kerajaanku di wilayah perairan Kerajaan Pasir Langit. Jika memang harus membunuh ayahmu, akan aku lakukan....”


Terkejut Rincing Kila dan Putri Ani mendengar niatan itu.


“Jangan!” seru Putri Ani tiba-tiba. “Meski aku mendendam kepada Ayahanda, aku tidak mau ayahandaku mati, Gusti.”


“Membunuh ayahandamu adalah pilihan terakhir jika semua jalan buntu,” kata Joko Tenang.


“Jika Gusti Prabu bisa memberikan tahta Kerajaan Pasir Langit kepadaku tanpa membunuh ayahku, aku akan membiarkan Gusti Prabu membangun kekuatan angkatan laut di perairan kerajaan ini,” ujar Putri Ani dengan tatapan serius kepada Joko Tenang. Kali ini dia harus serius menatap wajah tampan di depannya itu.


Terbeliak Rincing Kila mendengar kata-kata Putri Ani. Jelas proposal itu adalah kejahatan terhadap penguasa yang sah.

__ADS_1


“Apakah Putri yakin? Prabu Galang adalah raja sakti. Jika upayaku gagal mewujudkan itu, Putri pasti akan dipancung,” tanya Joko Tenang serius.


“Aku siap mati. Jika aku bisa meraih cintaku, aku tidak ingin sebagai seorang putri, tapi aku ingin sebagai seorang ratu,” tandas Putri Ani dengan tatapan yang serius dan meyakinkan bagi Joko Tenang.


“Baik. Aku akan memberikan tahta kepadamu, Putri. Namun, dengan beberapa syarat....”


“Aku ingin Gusti Prabu menuliskan syarat-syarat itu. Aku pun akan menulis tuntutanku,” kata Putri Ani berani memotong perkataan Joko Tenang. Tiba-tiba suasana cinta telah hilang di antara mereka, berganti dengan ketegangan.


Suasana tegang bisa dirasakan oleh Rincing Kila karena apa yang mereka bahas adalah rencana pemberontakan.


“Baik, besok pagi datanglah ke hutan di seberang sana membawa syarat-syarat. Kita lakukan perjanjian,” kata Joko Tenang memutuskan.


“Baik,” ucap Putri Ani sepakat.


Putri Ani lalu menarik lepas rompi merah dipunggungnya dan menyodorkannya kepada Joko Tenang.


“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Putri Ani dingin.


Joko Tenang menerima Rompi Api Emasnya sembari tersenyum.


“Kami mohon undur diri, Gusti,” ucap Putri Ani lagi sembari menjura hormat.


Rincing Kila tidak berkata-kata. Dia pun mengikuti junjungannya menghormat. Padahal, dia sangat ingin berbincang dengan Joko Tenang, seperti halnya dua orang sahabat.


“Baiklah,” ucap Joko Tenang.


Maka bangkitlah Putri Ani dan Rincing Kila lalu berbalik pergi. Keduanya meninggalkan Joko Tenang yang menyimpan sejumlah dugaan karena sikap sang putri yang drastis berubah.


Putri Ani Saraswani berjalan menuju ke halaman dengan satu mata menitikkan air mata kesedihan. Air mata yang ditahan saat di hadapan Joko Tenang.


Sambil berjalan, Rincing Kila menyelimuti bahu putrinya dengan kain pakaiannya yang bisa dia copot tanpa membuatnya telanjang.


“Hiks!”


Setelah itu, tangis Putri Ani meledak, tapi masih dia tahan, sehingga bahunya terguncang tanpa suara isak.


Joko Tenang bisa melihat dari belakang apa yang dialami oleh Putri Ani.


Joko Tenang tetap duduk di tempatnya. Hingga kemudian, setelah Putri Ani dan Rincing Kila pergi meninggalkan halaman rumah makan dengan berkuda, barulah Joko Tenang bangkit dan pergi ke arah dapur.

__ADS_1


“Mari, Kakang Prabu!” ucap Permaisuri Tutsi Yuo Kai saat melihat kemunculan suaminya di pintu dapur. Ternyata sang permaisuri cantik jelita itu ada di dalam dapur sedang sibuk mempersiapkan sajian panas berkuah, yaitu mie rebus.


Jangan tanya kenapa Joko Tenang sarapan pagi sendirian di pinggir sungai sedangkan di dapur Permaisuri Yuo Kai sedang memasak! (RH)


__ADS_2