Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Lima puluh kekuatan prajurit dari Pasukan Kaki Gunung sudah mendapat izin masuk dari Senopati Gunduk Turu, Panglima Pasukan Wilayah Utara dari Kerajaan Teluk Busung.


Pasukan Kaki Gunung tersebut dipimpin oleh Komandan Awir Lutung, seorang perwira berkulit sawo setengah matang. Uniknya, lelaki berusia kepala empat ini memiliki pertumbuhan rambut yang lebat. Bukan hanya rambut kepala yang lebat, rambut di wajah, dada, perut, tangan, kaki, dan lainnya juga lebat. Karena itulah ada nama “Lutung” di nama belakangnya. Dia memiliki senjata jenis toya warna merah terang.


Komandan Awir Lutung menunggangi kuda bersama dua puluh lima prajuritnya, sementara dua puluh lima prajurit lain harus berlari. Namun, formasi itu tidak berlaku baku. Setelah pasukan pelari mulai kelelahan, maka akan dirotasi. Prajurit pelari akan naik kuda dan prajurit berkuda ganti berlari.


Jangan ditanya bagaimana rasanya ketika prajurit Pasukan Kaki Gunung berlari jauh dengan pakaian super tertutup dan berat, karena mereka juga membawa tameng besar. Namun, itulah Pasukan Kaki Gunung yang ternama dari Kerajaan Pasir Langit. Fisik mereka sudah teruji dengan kemampuan tempur yang tinggi.


Bersama Pasukan Kaki Gunung ada satu wanita berkuda yang ikut serta. Usianya kepala tiga minus dua tahun. Dia cantik, meski tidak keterlaluan cantiknya. Rambutnya yang panjang dikepang tunggal dan diposisikan di dada kiri. Pakaian ala pendekarnya berwarna ungu lengan pendek. Kulitnya tidak putih-putih amat, kentara sekali bahwa dia sering berada di luar ruangan atau main panas-panasan. Di kedua pergelangan tangannya ada lilitan rantai kecil dan halus warna perak. Wanita pendekar itu bernama Pipi Nira, berjuluk Pendekar Rantai Cantik.


Atas perintah Prabu Galang Digdaya, Pipi Nira memimpin pasukan itu, meski ada Komandan Awir Lutung. Artinya, sang komandan harus patuh pada perintah sang pendekar.


Selain mereka, ada sekitar sepuluh prajurit berkuda berseragam hitam-biru-hitam yang dipimpin oleh seorang komandan yang bernama Rorotang. Pasukan dari kerajaan lain tidak boleh dibiarkan berkeliaran di dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Teluk Busung tanpa pengawalan.


Mereka akhirnya tiba di pinggiran sebuah sungai yang cukup lebar. Mereka semua memandang ke seberang. Di sana ada sebuah permukiman kecil di antara pepohonan hutan.


Uniknya, di tengah-tengah permukiman ada sebuah tugu kayu besar yang menjulang tinggi melebihi semua ketinggian pohon di daerah tersebut. Pucuk tugu itu memiliki bentuk mahkota nanas.


Pada bagian pinggir sungai, ada beberapa perahu yang tertambat dan ada beberapa orang yang sedang bekerja di perahu.


Para pemimpin pasukan itu sama-sama tahu bahwa permukiman di seberang sungai itu adalah Perguruan Tunas Mahkota, di mana Pangeran Tirta Gambang berguru.


Perguruan Tunas Mahkota di wilayah utara Kerajaan Teluk Busung adalah perguruan ternama. Sejumlah putra dan putri raja dari beberapa kerajaan menuntut ilmu kesaktian di perguruan tersebut.


Kehadiran pasukan yang cukup besar itu membuat seseorang memunculkan kepalanya di bantaran sungai di sisi bawah. Ternyata seorang pemuda yang sedang duduk berleha-leha di sebuah perahu tunggal. Perawakannya berisi dengan otot-otot yang terlihat keras.

__ADS_1


“Aku di sini, Gusti Senopati!” teriak pemuda berkemeja hitam tanpa kancing dan lengan itu, sehingga rambut ketiaknya terlihat ketika mengangkat tangan kanan menyapa rombongan di atas.


“Lancang sekali kau, tidak memiliki sopan santun sedikit pun kepada pasukan kerajaan!” hardi Komandan Awir Lutung mendelik galak.


“Mohon maaf, Gusti Senopati!” sahut pemuda itu sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi kuningnya. Sepertinya dia rajin gosok gigi sehingga giginya berkilau kuning. Dia lalu menjura hormat sembari membungkuk takzim.


“Siapa kau, Kisanak?” tanya Pipi Nira kepada pemuda di perahu.


“Namaku Kuturapal, penghubung dua daratan. Apakah Gusti Senopati ingin menjemput seseorang di Perguruan atau mengantar orang ke Perguruan?” jawab pemuda itu lalu balik bertanya.


Dari keluwesannya berbicara menunjukkan dia sedikit pun tidak memiliki kegentaran kepada pasukan militer itu.


“Di sini tidak ada senopati, hanya ada aku Komandan Rorotang dan Komandan Awir Lutung,” ralat Komandan Rorotang.


“Gusti Komandan Rorotang sudah aku kenal sejak bertahun-tahun yang lalu. Setiap ada pasukan pengiring, Gusti Senopati Gunduk Turu selalu mengutus Gusti Komandan,” kata Kuturapal. “Ayo, siapa yang ingin aku seberangkan.”


“Apakah sebagian pasukanku tidak bisa diseberangkan?” tanya Pipi Nira.


“Namaku Pipi Nira. Jangan menyebutku Senopati,” kata Pipi Nira yang heran terhadap pemuda itu karena selalu menyebut “Gusti Senopati”, padahal sudah diberi tahu “tidak ada senopati”.


“Baik, Gusti Pipi Nira. Sebelum naik ke perahu, tolong sampaikan dulu niatan, Gusti. Agar aku bisa memastikan membawa orang-orang yang aman.”


“Kami datang ingin menjemput Gusti Pangeran Tirta Gambang,” tandas Pipi Nira.


“Silakan, silakan, Gusti Pipi. Jika yang mendampingi Gusti Komandan Rorotang, aku percaya. Silakan naik, Gusti,” kata Kuturapal.


“Aku naik empat orang,” kata Pipi Nira.


“Aku sendiri,” kata Komandan Rorotang.

__ADS_1


“Silakan,” kata Kuturapal.


Maka, Pipi Nira, Komandan Awir Lutung, Komandan Rorotang, dan dua prajurit Pasukan Kaki Gunung, turun ke perahu.


Kuturapal tidak bermodal dayung atau mesin tenaga solar, tetapi sebatang galah yang bisa dibilang sangat panjang. Dengan galah yang bukan dari bambu itu, Kuturapal mendorong dasar sungai sehingga perahu berjalan memotong arus yang tidak begitu deras.


Di saat perahu meluncur, Pipi Nira melihat ada dua ekor buaya yang tersebar di pinggiran sungai.


Ketika perahu sudah berada di tengah, Kuturapal mendorong galahnya sampai menyisakan dua jengkal yang tidak masuk ke dalam air. Itu bisa menunjukkan sedalam mana dasar sungai.


Perahu itu akhirnya merapat ke sebuah dermaga bambu sederhana.


“Jantung Kitik! Tamu dari Kerajaan Pasir Langit!” teriak Kuturapal kepada seorang rekannya yang sedang membacoki batangan kayu. Padahal tadi Kuturapal tidak diberi tahu bahwa tamunya dari Kerajaan Pasir Langit.


Ini bukan pertama kali Pasukan Kaki Gunung datang, jadi Kuturapal sudah hafal, apalagi Pipi Nira ingin menjemput Pangeran Tirta Gambang yang merupakan pangeran Kerajaan Pasir Langit.


“Antar saja mereka menemui Ketua Tujuh!” sahut Kuturapal.


“Baik!” sahut sesama pemuda yang bernama Jantung Kitik.


Pemuda berambut keriting pendek itu segera meninggalkan pekerjaannya begitu saja, lalu berlari menyambut kelima tamunya.


“Namaku Jantung Kitik, Gusti. Mari ikut hamba,” ucap Jantung Kitik lebih ramah dan santun dibandingkan Kuturapal.


Pipi Nira hanya mengangguk. Jantung Kitik berjalan sejajar, tanpa mau mendahului langkah para tamunya.


Pipi Nira dan orang-orangnya dibawa memasuki sebuah permukiman kayu. Bangunan-bangunannya terbuat dari kayu-kayu tebal. Dinding-dinding rumahnya saja dari papan-papan yang tebal dan kuat. Pasti membutuhkan ilmu tekhnik yang tinggi untuk bisa merangkai kayu-kayu besar dan berat menjadi sebuah bangunan kokoh.


Singkat cerita.

__ADS_1


Jantung Kitik membawa para tamu ke salah satu bangunan kayu dan mempertemukan mereka dengan seorang wanita separuh baya, yang berstatus sebagai Ketua Tujuh Perguruan Tunas Mahkota. Ketua itu namanya Eba Kemayi. (RH)


__ADS_2