Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 31: Pisah dan Janji


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


“Mohon maaf, Gusti Putri. Gusti Prabu memerintahkan kami untuk mengawal Gusti Putri pulang,” ujar Komandan Ati Urat.


“Kalian akan membawa aku pulang, tapi tunggu dulu di sini. Lagi pula Gusti Prabu tidak akan tahu kapan kalian menemukanku. Anggap saja kalian menemukanku di luar Ibu Kota,” kata Putri Ani Saraswani.


“Mohon maaf, Gusti Putri. Tapi kami tidak bisa membiarkan Gusti Putri bersama orang asing,” tandas Komandang Urat Ati.


“Orang asing siapa yang kau maksud, Komandan?” tanya Putri Ani, meski dia paham siapa orang asing yang dimaksud.


“Lelaki berbibir merah itu, Gusti,” jawab Komandan Ati Urat.


“Kau harus berkenalan dengannya, Komandan. Dia bernama Joko Tenang. Kekasihku!” kata Putri Ani bernada kesal.


Bukan hanya Rincing Kila, Badira dan Komandan Ati Urat yang terkejut karena mereka tahu bahwa Putri Ani memiliki mazhab cinta yang setia, tetapi kali ini juga Joko Tenang sukses dibuat terkejut.


“Tapi untuk hari ini, kami mohon kepada Gusti Putri untuk mau ikut pulang bersama kami. Situasi Istana dan Ibu Kota sedang kacau oleh para pembunuh. Setelah hari ini, aku berjanji akan mempermudah Gusti Putri,” tandas Komandan Ati Urat lalu turun berlutut sebagai tanda bahwa mereka sangat memohon.


Pasukan di belakang Komandan Ati Urat turut turun berlutut.


Putri Ani Saraswani diam dengan pandangan yang marah. Bagaimana tidak marah jika di saat hatinya sedang berbunga-bunga, justru ada tukang kebun yang memotongnya?


Putri Ani membiarkan Pasukan Pengaman Putri itu terus berlutut. Dia mendekati Joko Tenang dengan jarak yang lebih dekat dari jarak normal, apalagi dia berstatus seorang putri.


“Joko, kita harus berpisah. Bisakah kita bertemu besok pagi di Rumah Makan Muara Jerit?” tanya Putri Ani Saraswani.


“Baik. Aku akan datang tepat ketika matahari terbit,” kata Joko Tenang tanpa ragu.


Tersenyumlah Putri Ani Saraswani.


“Suatu saat kita harus melihat ikan perut emasku,” kata Putri Ani berubah lebih ceria.


“Tentu,” ucap Joko Tenang sembari tersenyum pula, membuat gadis cantik jelita itu merasa enggan untuk berpisah, meski pada hakikatnya mereka belum memiliki ikatan hati.


Senyum kebahagiaan tidak akan menutupi suasana hati, itulah yang ditunjukkan oleh bibir sang putri.


Dia kemudian beralih kepada Rincing Kila.


“Ambil kuda!” perintah Putri Ani.

__ADS_1


Rincing Kila lalu pergi untuk mengambil kuda.


“Bangunlah!” perintah Putri Ani kepada Komandan Ati Urat dan pasukannya.


Setelah kuda datang bersama Rincing Kila, Putri Ani Saraswani segera naik ke pelana, demikian pula dengan Rincing Kila.


Sebelum pergi meninggalkan halaman itu, Putri Ani Saraswani masih menyempatkan diri memandang Joko Tenang dan tersenyum lembut lagi manis. Joko Tenang pun membalas senyuman itu dengan senyuman yang tidak kalah gurih.


Dengan membawa rasa bahagia, Putri Ani Saraswani menggebah pelan kudanya yang diikuti oleh Rincing Kila.


Komandan Ati Urat pun segera berlari kecil mengikuti kuda, demikian pula dengan pasukannya yang segera ikut.


Tinggallah Joko Tenang dan Badira.


Ketika kuda sudah keluar dari halaman, Putri Ani melarikan kudanya lebih kencang. Namun, itu bukan masalah bagi Pasukan Pengaman Putri. Pasukan itu bisa berlari kencang juga mengikuti kuda yang berlari sedang. Sebagai pasukan khusus, mereka sudah dilatih untuk itu, bahkan jika seandainya kuda itu berlari sekencang di medan perang, mereka pun tetap bisa mengejar.


“Gusti Putri! Kenapa Gusti memperkenalkan Joko Tenang kepada Komandan Ati Urat sebagai kekasih?” tanya Rincing Kila protes, dengan kuda mereka berlari berdampingan.


“Karena aku kesal dengan Ati Urat!” jawab Putri Ani.


“Gusti Putri kesal atau memang jatuh hati kepada Joko Tenang?” tanya Rincing Kila.


“Gusti Putri yakin ingin jatuh hati kepada Joko Tenang?” tanya Rincing Kila sembari terus menggebah kudanya sejajar dengan kuda junjungannya.


Sementara di belakang, Pasukan Pengaman Putri berlari kencang dengan barisan yang tetap teratur.


“Aku tidak berniat jatuh hati, tapi perasaanku bahagia jika dekat dengan Joko!” jawab Putri Ani dengan suara kencang. “Nyawaku sudah dua kali diselamatkan oleh Joko. Bagaimana aku tidak jatuh hati?”


“Baiklah!” kata Rincing Kila. Setelah itu dia tidak berkomentar lagi.


Sementara itu, Joko Tenang pamit kepada Badira. Dia berjalan kaki meninggalkan kediaman Menteri Keuangan. Joko ingin kembali ke rumah sewanya.


Ternyata perjalanan Joko Tenang tidak semulus rambut panjangnya.


“Hei! Kau!”


Tiba-tiba ada suara keras yang didengar oleh Joko Tenang. Semua warga sekitar seketika memandang kepada seorang prajurit berseragam cokelat-cokelat yang menunjuk kepada Joko Tenang, sehingga perhatian warga beralih terfokus kepada Joko.


Joko Tenang yang juga menengok kepada si prajurit melihat ada beberapa prajurit Pasukan Kaki Gunung dan prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota.

__ADS_1


Joko Tenang mengenali seseorang, yaitu Brabean yang berkedudukan sebagai Wakil Kepala Keamanan Ibu Kota, alias wakilnya Komandan Rambut Awut.


“Ke mari, Kau!” panggil si prajurit Pasukan Kaki Gunung dengan wajah garang dan sepasang mata yang mendelik.


Joko Tenang menurut. Dia datang mendekati kumpulan prajurit itu dengan tenang dan wajah yang datar. Dia sengaja tidak memandang kepada Brabean yang berdiri di belakang.


“Ada apa memanggilku, Prajurit?” tanya Joko Tenang.


“Kau bukan warga ibu kota Digdaya. Siapa kau?” tanya si prajurit yang berseragam komplit itu, masih bernada galak.


“Aku Joko Tenang, pengusaha kayu yang menjadi tamu Gusti Menteri Keuangan,” jawab Joko Tenang yang membuat prajurit pasukan khusus itu terbeliak, karena Joko menyebut nama ‘Menteri Keuangan’, salah satu menteri tingkat tinggi.


“Oh,” desah si prajurit sembari manggut-manggut. Lalu dengan nada datar dia berkata, “Jika demikian, kau boleh pergi.”


Joko Tenang lalu berbalik hendak pergi. Melihat kondisi itu, Brabean terbeliak tidak terima. Dia ingin segera menghampiri prajurit yang menanyai Joko Tenang tadi. Namun, dia buru-buru menahan langkah dan buang wajah ke arah lain, pura-pura mengagumi bintang di kala siang hari. Itu karena Joko Tenang berbalik lagi dan bertanya kepada si prajurit tadi.


“Oh ya, Prajurit. Aku sedang membeli kopi Gusti Menteri dalam jumlah besar. Karena aku orang baru di sini, jadi aku tidak tahu ke mana harus mencari jasa pengiriman. Gusti Putri Ani memberi tahu aku agar bertanya saja kepada prajurit. Apakah kau tahu?”


Kembali terbeliak si prajurit mendengar nama Putri Ani disebut. Jelas itu menunjukkan bahwa Joko Tenang kenal dengan Putri Ani Saraswani.


“Oh itu. Di-di-di sisi selatan Ibu Kota ada Pengirim Lintas Dunia. Mereka biasa mengirim barang ke berbagai kerajaan, bahkan ke pulau,” jawab si prajurit agak tergagap di awal.


“Pengirim Lintas Dunia,” sebut ulang Joko Tenang agar lebih hafal nama itu. Lalu tanyanya, “Siapa namamu, Prajurit?”


Terkejut si prajurit ditanya nama. Dia jadi menduga-duga bahwa pendekar berbibir merah itu akan melaporkannya kepada Putri Ani Saraswani. Namun, daripada berbohong yang lebih berisiko, dia tetap menjawab dengan jujur.


“Namaku Ajianji,” jawab si prajurit pelan. Nada dan sikap kegarangan sedikit pun tidak terdengar dan terlihat lagi.


“Terima kasih, Ajianji,” ucap Joko Tenang seraya tersenyum.


“Iya,” ucap si prajurit yang merasa terintimidasi oleh kewibawaan Joko Tenang.


Setelah itu, Joko benar-benar berbalik dan pergi.


Setelah itu pula, Brabean mendekati Ajianji dari belakang.


“Kenapa kau tidak berbuat apa-apa kepadanya, Aji?” tanya Brabean kesal dan kecewa.


“Orang itu tamu Menteri Keuangan dan kenal dengan Gusti Putri. Kau mau membuatku dipenggal gegara pesananmu?” omel Ajianji.

__ADS_1


“Aaah!” teriak Brabean kesal sendiri sambil memukul angin dan menghentak bumi. (RH)


__ADS_2