Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Ada lima ribu prajurit Pasukan Kaki Gunung berkemah di seberang perbatasan utara wilayah Kerajaan Teluk Busung, tepatnya di Lembah Kumaha. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Panglima Perbatasan Selatan, Kidul Segara.


Pasukan itu sudah satu pekan lamanya berkemah di Lembah Kumaha. Akibatnya, jalur penghubung orang dan perdagangan jadi terputus. Para musafir dan misi dagang terpaksa harus menunggu ketegangan di perbatasan berakhir atau kembali ke asal.


Pasukan perbatasan Kerajaan Teluk Busung juga bersiap di celah pegunungan. Mereka harus bersiap jika-jika perang tidak terhindarkan. Panglima Pasukan Wilayah Utara Senopati Gunduk Turu memimpin langsung tujuh ribu pasukan Kerajaan Teluk Busung. Meski lebih banyak dua ribu pasukan, tetapi kualitas pasukan jauh berbeda.


Hari ini adalah batas waktu yang dijanjikan oleh Kerajaan Teluk Busung untuk menyerahkan dua kelompok yang diminta oleh Pasukan Kaki Gunung, yaitu kelompok Penempa Busur dan Kelompok Manusia Atas.


Karena hingga siang rombongan tawanan belum juga datang dikirim, Panglima Kidul Segara memobilisasi pasukannya untuk bersiap di garis depan.


Namun ternyata, Kerajaan Teluk Busung menepati janjinya.


Akhirnya ada rombongan prajurit berkuda yang datang ke basis perkemahan Pasukan Kaki Gunung. Ada sekitar dua puluh prajurit berkuda yang diikuti oleh lima puluh prajurit pejalan kaki. Mereka membawa sebanyak empat puluh orang yang dalam kondisi diikat oleh rangkaian rantai panjang yang saling terhubung, sambung-menyambung menjadi satu.


Crek crek crek...!


Terdengar suara pergesekan besi yang halus tapi ramai.


Orang-orang yang dibelenggu rantai terdiri dari dua kelompok berdasarkan pakaian yang mereka kenakan. Ada sebanyak dua belas orang berpakaian hitam tapi kelebihan kain, terutama pada bagian tangannya. Sementara dua puluh delapan lainnya berseragam merah gelap dengan baju tanpa lengan.


Pemimpin rombongan itu adalah seorang komandan pasukan yang bernama Komandan Teguk Perkara. Dia ditemui langsung oleh Panglima Kidul Segara.


“Sesuai permintaan Gusti Panglima. Ini adalah pemimpin Kelompok Manusia Atas,” kata Komandan Teguk Perkara sambil mencengkeram tengkuk seorang lelaki separuh baya berpakaian hitam yang posisinya paling depan dalam rangkaian belenggu.


Lelaki itu terlhat mengerenyit takut ketika Komandan Teguk Perkara akan mencengkeram tengkuknya.


Plak!

__ADS_1


Dengan kasarnya, Komandan memukul kepala lelaki yang jauh lebih tua darinya.


“Namanya Koro Kalong. Mereka semua sudah dilumpuhkan dengan racun pelemah tenaga. Gusti Panglima bisa lihat, mereka semua kondisinya lemah,” kata Komandan Teguk Perkara.


Dia lalu beralih ke tawanan yang lain. Dia mencengkeram kasar tengkuk seorang lelaki berbadan cukup besar dan berotot, tapi ekspresi wajahnya seperti tidak memiliki gairah hidup ataupun gairah bercinta.


“Ini pemimpin Penempa Busur, namanya Karpa Amuk,” kata Komandan Teguk Perkara.


“Jadi mereka sudah tidak berbahaya lagi?” tanya Panglima Kidul Segara untuk lebih memastikan.


Dak!


“Aaak!” jerit tawanan yang bernama Karpa Amuk saat tulang kering kanannya ditendang begitu saja oleh Komandan Teguk Perkara. Dia sampai jatuh terlutut.


“Aku rasa tugasku selesai, Gusti Panglima. Oh ya, ada sedikit hadiah dari Gusti Prabu Maninggal Kalo,” kata Komandan Teguk Perkara.


Dia lalu pergi ke kudanya dan mengambil sekotak kayu kecil. Benda yang bobotnya terlihat berat itu lalu diserahkan kepada Panglima Kidul Segara.


“Sampaikan salam terima kasihku kepada Gusti Prabu atas kerja samanya. Pasukanku akan kembali,” kata Panglima Kidul Segara.


“Baik, Gusti,” ucap Komandan Teguk Perkara.


Panglima Kidul Segara lalu memerintahkan sejumlah prajuritnya untuk mengambil alih empat puluh orang tawanan yang dibawa oleh pasukan Kerajaan Teluk Busung.


Komandan Teguk Perkara dan pasukannya lalu pergi meninggalkan perkemahan Pasukan Kaki Gunung di Lembah Kumaha.


Setelah itu, Panglima Kidul Segara juga memerintahkan pasukan bersiap unuk pulang.


Beberapa hari sebelumnya di Kerajaan Teluk Busung.

__ADS_1


Pemimpin Penempa Busur dan Kelompok Manusia Atas dipanggil menghadap kepada Prabu Maninggal Kalo. Pemimpin Penempa Busur bernama Karpa Amuk. Namun, wajahnya sangat berbeda dengan Karpa Amuk yang diserahkan kepada Pasukan Kaki Gunung sebagai tawanan. Karpa Amuk yang ini jauh lebih tua dengan rambut yang sudah putih.


Dia datang menghadap bersama anak buahnya yang berjumlah puluhan dan berbadan kekar-kekar.


Adapun pemimpin Kelompok Manusia Atas bernama Koro Kalong. Namun, Koro Kalong yang ini berbeda wajahnya dengan Koro Kalong yang menjadi tawanan dan diserahkan kepada Pasukan Kaki Gunung. Pakaiannya sama persis. Dia datang bersama sebelas anak buahnya yang berpakain hitam, tapi kelebihan bahan.


“Aku ingin kalian berdua tidak berdusta. Apakah kalian telah terlibat dalam pembunuhan pejabat Kerajaan Pasir Langit?” tanya Prabu Maninggal Kalo.


“Hamba dan orang-orang hamba tidak terlibat sedikit pun, Gusti,” kata Karpa Amuk sembari menjura takzim.


“Hamba pun demikian, Gusti Prabu,” jawab Koro Kalong.


“Lima ribu Pasukan Kaki Gunung kini berada di perbatasan utara. Mereka akan menyerang jika aku tidak menyerahkan kalian dan kelompok kalian. Pembunuh menteri Pasir Langit menggunakan senjata buatan Penempa Busur. Dan orang-orang Kelompok Manusia Atas juga menyerang di sana,” ujar Prabu Maninggal Kalo yang didampingi oleh Penasihat Lidah Datar.


“Mohon ampun, Gusti. Senjata buatan kami dipakai tidak hanya oleh para prajurit Kerajaan Teluk Busung, tetapi oleh banyak pendekar dan juga oleh kerajaan lain. Jadi, tidak bisa senjata buatan kami dijadikan bukti bahwa kami adalah pelaku pembunuhan. Kami membuat senjata, bukan memakai senjata,” kata Karpa Amuk membela diri.


Prabu Maninggal Kalo manggut-manggut tanda menerima alasan pemimpin Penempa Busur.


“Bagaimana denganmu, Koro Kalong?” tanya sang prabu.


“Mohon ampun, Gusti. Hamba pun tidak terlibat persekongkolan dengan pihak manapun. Namun, bisa jadi yang terlibat adalah Kelompok Manusia Atas yang dipimpin oleh Ki Pulung. Kelompok Manusia Atas sejatinya telah pecah menjadi dua. Kelompok yang aku pimpin lebih kepada memelihara diri dengan meningkatkan kesaktian. Sangat berbeda dengan kelompok yang dipimpin oleh Ki Pulung. Kelompok Ki Pulung lebih cenderung memperkaya kelompok dengan cara menerima jasa pembunuhan. Jika Gusti Prabu ingin meringkus kelompok Ki Pulung, hamba bisa menunjukkan tempat persembunyiannya,” kata Koro Kalong.


“Aku mempercayai kata-kata kalian. Kalian akan aku tukar dengan para tahanan. Para tahanan itu akan memakai pakaian yang kalian kenakan. Pakaian kalian akan diganti dengan yang baru,” kata Prabu Maninggal Kalo.


Maka dihadirkanlah sebanyak empat puluh tahanan yang dipakaikan baju Penempa Busur dan Kelompok Manusia Atas.


Keempat puluh tahanan itulah yang dianggap sebagai anggota dua kelompok yang diminta oleh Pasukan Kaki Gunung.


“Kalian akan dikirim ke Kerajaan Pasir Langit untuk kondisi yang lebih baik. Kalian di sana akan dipekerjakan. Jika selama tiga purnama kalian bekerja dengan baik, ada kemungkinan kalian akan dibebaskan dan dijadikan pekerja tetap yang diupah dengan bayaran normal,” kata Penasihat Lidah Datar memberi briefing kepada para tahanan itu.

__ADS_1


Padahal itu semua dusta.


“Tapi ingat, kalian harus menurut dan tidak boleh membongkar penyamaran kalian,” tekan Penasihat Lidah Datar. (RH)


__ADS_2