Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 91: Perang


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Prabu Galang Digdaya duduk menatap wajah cantik jelita bermata sipit di hadapannya. Seandainya saja dia diizinkan menikah lagi dan wanita itu bukan istri Prabu Dira Pratakarsa Diwana. Seandainya saja….


Namun, Permaisuri Yuo Kai alias Permaisuri Negeri Jang adalah milik Prabu Dira alias Joko Tenang.


Saat itu, di tengah kurungan ribuan prajurit Istana dan Pasukan Kaki Gunung, Prabu Galang Digdaya, Joko Tenang dan Permaisuri Yuo Kai sedang saling berhadapan.


Prabu Galang Digdaya duduk di kursi berseberangan meja dengan Permaisuri Yuo Kai yang duduk penuh keanggunan. Sementara Joko Tenang berdiri di sisi kanan istrinya.


Satu tombak di belakang Prabu Galang Digdaya berdiri tangan kanannya dan tangan kirinya. Bukan berarti kedua tangan Prabu Galang memiliki kaki sendiri, tetapi tangan kanan dan kiri yang dimaksud adalah pengawal kepercayaan sebelah kanan dan kiri, meski terkadang mereka berdua sering tukar posisi. Semoga pahamnya tidak tersesat.


Di belakang lagi barulah Mahapatih Sementara Badaragi dan Panglima Istana Banta Ufuk. Di belakang lagi barulah para pejabat menteri.


Sementara itu, satu tombak di belakang Joko Tenang dan Permaisuri Yuo Kai berdiri Riskaya, Murai Manikam dan Bo Fei. Di belakangnya lagi, lima puluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana sudah siap bertempur habis-habisan jika memang terompet perang ditiup.


Setelah beradu tatap dengan Permaisuri Yuo Kai yang memiliki tatapan dingin, diam tapi mematikan, Prabu Galang lalu memandang kepada Joko Tenang.


“Kenapa kau menyerang kerajaanku, Prabu Dira?” tanya Prabu Galang dengan tatapan tajam.


“Aku ingin menyelamatkan negeri-negeri di Tanah Jawi dan seluruh rakyatnya. Namun, Raja Kerajaan Pasir Langit menghalangi. Jadi, aku harus menghancurkan satu penguasa demi menyelamatkan penguasa-penguasa yang lain bersama rakyatnya,” jawab Joko Tenang.


“Kau mengatasnamakan keselamatan bangsa Tanah Jawi untuk merebut kekuasaanku. Kau benar-benar raja tamak Prabu Dira,” desis Prabu Galang. “Sampai-sampai cara licik kau lakukan. Seorang raja besar memperkosa putri dari raja yang menjadi musuhnya.”


Kali ini terbeliak Joko Tenang, tapi tidak bagi Permaisuri Yuo Kai.


“Tuduhan apa yang sedang Gusti Prabu arahkan kepadaku?” tanya Joko Tenang.


“Kau telah memperkosa Putri Ani putriku!” tuding Prabu Galang Digdaya sambil menunjuk wajah Joko Tenang.


Melihat sikap Prabu Galang lancang seperti itu, ingin rasanya Permaisuri Yuo Kai memotong jari telunjuk itu dengan senjata Serat Sutra. Namun, Permaisuri Negeri Jang masih menahan diri. Penting untuk menuntaskan dialog agar tidak salah paham seperti Prabu Galang Digdaya.


“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang. “Itu tidak benar, Gusti Prabu. Meski aku dan Putri Ani saling mencintai, tetapi kami tidak akan melakukan perbuatan hina seperti itu. Kami tidak akan berlama-lama menyampaikan tujuan kami kepada Gusti Prabu. Silakan Permaisuri Negeri Jang.”

__ADS_1


“Dengarkan aku bicara, Gusti Prabu,” kata Permaisuri Yuo Kai. “Suamiku sebagai Raja Kerajaan Sanggana Kecil telah menyepakati sebuah perjanjian dengan satu orang penting di Istana ini.”


Terbeliak Prabu Galang mendengar itu. Dugaannya langsung tertuju kepada mendiang Mahapatih Olo Kadita. Mahapatih Sementara Badaragi tadi sudah membisikkan kepada Prabu Galang tentang nasib Mahapatih Olo Kadita.


“Dari lima tuntutan yang diberikan oleh sekutu kami itu, tiga di antaranya harus Gusti Prabu ketahui. Pertama, sekutu kami meminta agar kami menculik Mahapatih OIo Kadita. Kami sudah menculik Mahapatih Olo Kadita dan dia dibunuh oleh sekutu kami,” kata Permaisuri Yuo Kai.


Terkejut Prabu Galang mendengar itu. Itu artinya dugaan persekutuan Mahapatih Olo Kadita dengan Prabu Dira terbantahkan. Pikiran Prabu Galang langsung berkecamuk, menduga-duga siapa sebenarnya pejabat yang menjadi sekutu Prabu Dira.


‘Tuntutan kedua adalah menggulingkan Gusti Prabu Galang Digdaya dari tahta tanpa membunuhnya dan tidak membunuh permaisuri, putri dan pangeran,” kata Permaisuri lagi.


“Apa?!” teriak Prabu Galang murka.


Brakr!


Prabu Galang langsung menggebrak meja, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan halus yang berlesatan ke segala arah. Namun, ribuan serpihan yang melesat sedikit pun tidak menyentuh Joko Tenang dan Permaisuri Yuo Kai, karena serpihan itu tertahan oleh tenaga dalam pasangan suami istri tersebut.


Energi yang pecah juga tidak membuat Joko Tenang dan istrinya terdorong sedikit pun. Permaisuri Yuo Kai tetap tenang duduk di kursinya, bahkan sepasang mata sipitnya yang indah tidak berkedip ketika ribuan serpihan kayu halus menyerang.


Pada saat yang bersamaan, semua pejabat dan pasukan kedua pihak terkejut. Pada saat itu pula mereka menyimpulkan perang telah dimulai dan tinggal menunggu perintah. Keterkejutan di barisan pasukan membuat para prajurit otomatis siaga dan pasang kuda-kuda.


Press!


Tiba-tiba Joko Tenang menyalakan sinar hijau menyilaukan mata di tangan kanannya.


Prabu Galang terkejut karena dia langsung bisa merasakan kekuatan energi ilmu Surya Langit Jagad milik Joko Tenang.


Prabu Galang tiba-tiba melesat terbang mundur seperti adegan aktor laga yang ditarik tali kawat saat syuting. Dia mendarat dengan halus di atas bak kereta kudanya.


Ketika semua orang menunggu perintah perang dari Prabu Galang, sang prabu justru tidak juga berteriak. Itu artinya perang ditahan dulu. Mungkin Prabu Galang masih memiliki omongan yang ingin diomongkan kepada raja lawannya.


Ternyata Joko Tenang memadamkan kembali sinar hijau menyilaukan di tangannya, padahal Prabu Galang sudah siap menghadapi kesaktian tingkat tinggi itu.


Selagi Prabu Galang belum memerintahkan peperangan, para pejabat sipil semodel Mahapatih Sementara Badaragi dan para menteri segera mundur menuju ke Gerbang Pemuja Langit.

__ADS_1


“Prabu Dira! Hentikan peperangan dan nikahi putriku!” seru Prabu Galang lantang.


“Aku akan menikahi Putri Ani, tapi aku tetap punya perjanjian untuk menggulingkanmu dari tahta, Gusti Prabu!” seru Joko Tenang.


“Kau menginginkan perang, Prabu Dira. Maka akan aku kabulkan!” teriak Prabu Galang murka. Lalu teriaknya keras membahana, “Bunuh semua orang Kerajaan Sanggana Kecil! Seraaang!”


Wess wess!


Mendengar perintah perang dari Prabu Galang, justru Joko Tenang dan Permaisuri Yuo Kai yang melesat lebih dulu menyerang raja tuan rumah. Pergerakan suami istri itu sangat cepat, sehingga terlihat seolah-olah menghilang. Namun, tidak bagi Prabu Galang. Dia bisa melihat dengan jelas pergerakan kedua lawannya.


Clap!


Seiring itu, Prabu Galang tiba-tiba laksana menghilang dari atas kereta kudanya.


Clap!


Tepat ketika Joko Tenang dan istrinya mendarat di kereta kuda milik Prabu Galang, Joko Tenang langsung menghilang pula. Dia menghilang bukan masuk ke alam gaib, tetapi terlihat menghilang karena terlalu cepat gerakannya. Joko Tenang mengejar Prabu Galang.


Saat Permaisuri Yuo Kai mendarat di kereta kuda, kedua pendekar kepercayaan Prabu Galang, yaitu Kucari dan Kutuwan cepat melesat menyergap sang permaisuri.


Nama pendekar tangan kanan Prabu Galang baru kali ini disebut agar tidak mendapat bully dari masyarakat.


Riskaya dan Bo Fei juga berkelebat cepat di belakang kedua junjungannya. Mereka berdua segera dihadang oleh Empat Jangkar Maut, yaitu Adila dan ketiga sahabat seprofesinya.


Khusus Murai Manikan, dia langsung lenyap dari pandangan semua orang.


Set set set…!


Saat mendengar perintah perang dari rajanya, pasukan yang pertama merespons adalah pasukan panah. Mereka yang berposisi di sisi kanan dari pasukan Sanggana Kecil, langsung melepaskan panah-panah mereka ke arah Pasukan Hantu Sanggana.


Namun, seperti sekumpulan lalat yang diusir, semua pendekar Pasukan Hantu Sanggana dan prajurit Pasukan Gajah Besi melesat menyebar ke segala arah. Selain memang menghindari hujan panah, mereka semua langsung menyerang pasukan Kerajaan Pasir Langit lebih dulu.


Hujan panah pun hanya menyasar kereta kuda mewah milik Permaisuri Yuo Kai dan tanah kosong. Kuda-kuda kereta pun menjadi korban hujan panah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2