
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Di kediaman Mahapatih Olo Kadita yang ada di dalam Istana, sang mahapatih sedang melakukan pembicaraan dengan Menteri Keuangan Badaragi. Bisa disebut terlalu pagi kedatangan Badaragi meski matahari sudah terbit di langit.
“Orang itu berasal dari Hutan Malam Abadi? Berarti dia adalah orang suruhan Prabu Dira, Raja Kerajaan Sanggana Kecil?” sebut ulang Mahapatih Olo Kadita dengan tatapan yang tajam kepada Badaragi. Tatapan yang mengandung kecurigaan.
“Aku tidak tahu tentang itu, Gusti,” jawab Badaragi.
“Jika dia berasal dari Hutan Malam Abadi, siapa pun itu, jelas sangat mencurigakan. Gusti Prabu telah menolak tawaran kerja sama dari Kerajaan Sanggana Kecil yang ingin menginjak-injak kedaulatan Pasir Langit. Meski kayu ini sangat kita butuhkan untuk banyak pembangunan yang kokoh, tetapi jika memiliki maksud lain, kita tidak butuh. Sampaikan kepada orang itu, jika tidak mau ditangkap, suruh orang itu pergi jauh-jauh dari Ibu Kota. Besok Pasukan Kaki Gunung akan memastikan dia tidak berada di Ibu Kota lagi,” tegas Mahapatih Olo Kadita.
“Baiklah, Gusti,” ucap Badaragi. “Lalu bagaimana dengan pembunuhan Aduh Mantang, Gusti?”
“Aku yakin pembunuhnya adalah pendekar bayaran dari luar Ibu Kota. Sejumlah kasus pembunuhan biasanya adalah orang dekat yang sangat dikenal oleh korban. Kita tunggu saja laporan dari Rempak Tujuh,” kata Mahapatih Olo Kadita. “Bahkan bisa saja pembunuh itu berkaitan dengan Balilitan atau Sanggana Kecil.”
Totong totong totong...!
Tiba-tiba kedua pejabat tinggi itu dikejutkan oleh suara kentongan bernada cepat.
“Ada penyerang?” terka Badaragi.
Belum lagi Mahapatih menanggapi, tiba-tiba suara kentongan di dalam lingkungan Istana itu disusul oleh suara teriakan dari jauh.
“Ada pembunuuuh! Ada pembunuuuh!”
Teriakan berasal dari luar.
Mahapatih Olo Kadita dan Menteri Badaragi segera beranjak dan keluar ke teras kediaman kayu besar tersebut.
Totong totong totong...!
Di depan, mereka melihat banyak pasukan keamanan Istana berlarian dengan cepat ke satu arah, yaitu arah barat lingkungan Istana.
“Jandabaru! Bawa pasukanmu lewat gudang makanan! Hadang pembunuh itu di kolam merah!” teriak seorang lelaki berpenampilan punggawa prajurit kepada pemimpin pasukan yang muncul dari timur.
“Siap, Komandan!” teriak pemimpin prajurit yang bernama Jandabaru. Dia segera berbelok dan diikuti oleh puluhan prajurit bertombak.
“Talang Karat!” teriak Mahapatih Olo Kadita memanggil orang yang tadi disebut ‘Komandan’.
__ADS_1
Komandan Talang Karat menengok ke sumber panggilan.
“Siapa yang dibunuh?!” teriak Mahapatih Olo Kadita.
“Gusti Menteri Balelewa, Gusti!” teriak Komandan Talang Karat.
“Apa?!” pekik Mahapatih Olo Kadita dan Menteri Badaragi terkejut bukan main.
Tanpa saling mengajak, kedua pejabat itu segere berjalan menuju ke ruang kerja Menteri Balelewa yang menjabat sebagai Menteri Perdagangan Hasil Laut, salah satu orang yang diduga oleh Putri Ani Saraswani akan menjadi target bunuh.
Bukan hanya Mahapatih dan Menteri Keuangan yang bergerak ke arah barat, tetapi sejumlah pejabat menteri dan lainnya yang sudah berkantor di Istana segera ke satu arah.
Sementara para prajurit keamanan Istana terus mengalir menuju ke sisi selatan diiringi suara kentongan yang bertalu-talu. Sepertinya orang yang melakukan pembunuhan lari ke arah selatan Istana.
Akhirnya Mahapatih dan yang lainnya tiba di sebuah bangunan panggung besar yang megah dan memiliki papan besar yang menjadi plang nama dari bangunan itu. ‘Wisma Kementerian Perdagangan Hasil Laut’ adalah bunyi tulisan timbul yang tertera pada papan plang. Di depan bangunan itu ada patung-patung beberapa model ikan dan satu patung cumi besar.
Wisma itu sudah diamankan oleh para prajurit. Dari arah lain muncul Rempak Tujuh bersama dengan dua asistennya. Dia juga baru masuk ke Istana setelah dari kediaman mendiang Menteri Aduh Mantang.
“Gusti!” ucap Rempak Tujuh sembari menjura hormat kepada Mahapatih Olo Kadita.
Mahapatih Olo Kadita berjalan melewati penjagaan prajurit yang diikuti oleh Rempak Tujuh dan dua asistennya. Sementara Menteri Keuangan dan menteri lainnya tidak diizinkan untuk masuk ke TKP. Itu sudah aturan.
“Dua menteri dibunuh dalam satu hari,” ucap Mahapatih Olo Kadita.
Rempak Tujuh mendekati mayat menteri yang bernama Balelewa itu. Dia memeriksa pedang yang menancap pada kedua bahu sang menteri. Dia melihat ada guratan pada pangkal bilah pedang berwujud simbol busur.
“Pedang ini buatan Penempa Busur yang ada di wilayah Kerajaan Teluk Busung,” kata Rempak Tujuh. Sebagai ahli di bidang pnyelidikan, dia memang memiliki banyak pengetahuan umum. Apalagi yang berkaitan dengan senjata, ia pun mempelajari, meski lebih banyak kepada teori saja.
“Kerajaan Teluk Busung?” sebut ulang Mahapatih Olo Kadita. “Kerajaan itu termasuk sekutu Kerajaan Sanggana Kecil yang kemarin mengirim ratu dan mahapatihnya untuk menawarkan kerja sama dengan kita dan Gusti Prabu menolaknya.”
“Gusti Prabu tibaaa!” teriak seorang prajurit di luar wisma.
Mendengar itu, Mahapatih dan Rempak Tujuh segera keluar. Setibanya di luar, mereka melihat kedatangan Prabu Galang Digdaya dengan wajah yang menunjukkan memendam kemarahan.
Semua prajurit dan pejabat turun menghormat. Prajurit menghormat sampai bersujud, sementara para pejabat sebatas berlutut.
“Bangkitlah!” seru Prabu Galang Digdaya yang dikawal oleh dua pengawal pribadinya yang berpakaian pendekar. Seorang lelaki dan seorang perempuan.
__ADS_1
Prabu Galang Digdaya masuk lebih dulu ke dalam wisma. Pemandangan yang dia saksikan seketika membuat darahnya yang sudah mendidih kian mendidih. Rumus ekonominya yaitu mendidih kali mendidih sama dengan mendidih kuadrat.
“Siapa pun orang di balik serangan ini, dia benar-benar telah menantangku!” desis Prabu Galang Digdaya pelan, tapi bernada geram.
Sementara itu, di sisi selatan lingkungan Istana.
Pasukan yang dipimpin oleh Jandabaru sudah melewati gudang makanan dan menuju ke kolam merah.
Kolam merah adalah kolam besar bertepian batu-batu merah yang memelihara berbagai ikan hias. Tempat itu diperindah oleh berbagai tanaman hias dan sejumlah pancuran air dari tebing batu buatan yang membentengi tempat itu.
Pasukan Jandabaru bertemu dengan pasukan lain dari arah yang berlawanan, tapi sama-sama pasukan dalam Istana yang berseragam sama. Setelah itu, mereka jadi bingung sendiri.
“Mana dua orang pembunuh itu?” tanya pemimpin prajurit yang satunya kepada Jandabaru.
“Kami tidak menemukan siapa-siapa,” bantah Jandabaru.
“Apa yang kalian lakukan?!” teriak Komandan Talang Karat yang datang berlari dari sisi belakang. “Di mana pembunuh itu?”
“Tadi kedua pembunuh itu jelas-jelar berlari ke arah sini, tapi Jandabaru mengaku tidak bertemu dengan mereka,” jelas pemimpin prajurit yang namanya tidak mau disebutkan, mungkin dia malu jika terekspos media.
“Keparat, keparat, keparat!” maki berulang Komandan Talang Karat sambil memandang ke sekeliling.
Namun, dia tidak menemukan orang yang mencurigakan yang layak disebut pembunuh. Yang ada hanya para prajurit yang jumlahnya lebih seratus orang.
“Periksa semua semua tempat di sekitar sini. Pembunuh itu pasti bersembunyi di sekitar tempat ini!” perintah Komandan Talang Karat.
Maka pasukan itupun segera menyebar ke tempat-tempat yang kira-kira bisa dipakai tempat bersembunyi.
Tidak berapa lama, ada tiga ekor kuda datang berlari. Mereka tidak sekaum saja, ada kaum manusia yang menunggangi mereka.
Kuda terdepan ditunggangi oleh Panglima Istana Banta Ufuk, orang militer nomor satu di lingkungan Istana. Dia bersama dua orang pengawalnya alias tangan kanan dan tangan kiri. Dua tangan serep.
Kedatangan sang panglima disambut oleh Komandan Talang Karat.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Panglima Banta Ufuk tanpa turun dari kudanya.
“Dua pembunuh berpakaian putih hilang di sekitar tempat ini, Gusti Panglima!” lapor Komandan Talang Karat.
__ADS_1
Panglima Banta Ufuk memandang ke arah tanaman rambat yang menyelimuti dinding batu. Mamun, rasanya tidak mungkin jika ada seseorang yang berlindung di balik tanaman rambat itu, karena pasti akan terlihat tonjolan tubunya, kecuali tubuh orang itu setipis triplek. (RH)