Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 77: Serangan Hantu


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


“Jendol Kolot, kemari!” panggil Panglima Kidul Segara yang sudah merasa lama menunggu.


“Hamba, Gusti Panglima!” sahut Komandan Jendol Kolot sambari berlari datang menghadap.


“Apakah yang mengambil air sudah kembali?” tanya sang panglima yang duduk di sepotong kayu.


“Belum, Gusti,” jawab Komandan Jendol Kolot.


“Jangan-jangan mereka berenang. Kirim orang untuk memerintahkan bergegas. Kita harus cepat berangkat!” perintah Panglima dengan ekspresi merengut.


“Baik, Gusti,” ucap Jendol Kolot.


Komandan itu segera berlari dengan pakaian perangnya yang berat. Dia pergi ke kumpulan pasukannya untuk memerintahkan anak buahnya sendiri. Memerintah anak buah sendiri lebih enteng daripada memerintah anak buah orang lain.


Tidak berapa lama, dua prajurit berkuda segera melaju pergi menuju ke arah sungai yang jaraknya sepeminuman susu panas.


Tidak berapa lama, kedua prajurit itu tiba sebelum sungai. Mereka berhenti dengan keterkejutan dan rasa syok. Mereka melihat puluhan rekan-rekan mereka bergelimpangan penuh darah tapi minus nyawa.


Set set!


Tanpa jeritan, kedua prajurit berkuda itu jatuh dari kudanya setelah dahi mereka ditancapi lesatan paku beracun dari atas sebatang pohon. Memang, hanya wajah anggota tubuh si prajurit yang bebas dari pelindung.


Setelah itu, dua orang pendekar wanita berpakaian sama warna hijau, tapi beda model, melompat turun dari atas pohon. Mereka langsung mengambil alih kedua kuda yang bingung mengenali siapa tuannya.


Kedua pendekar wanita itu dikenal dengan julukan Perempuan Paku-Paku, bagian dari Pasukan Hantu Sanggana.


“Hihihi!” Mereka tertawa sambil menggebah kudanya dan membawanya pergi ke tempat lain.


Singkat cerita.


Panglima Kidul Segara menyentilkan jari kelingkingnya, membuang upil yang diperolehnya. Jangan tanya itu upil siapa!


“Jendol Kolooot!” teriak Panglima Kidul dengan ekspresi gusar.


“Hamba, Gusti Panglimaaa!” sahut Komandan Jendol Kolot sambil berlari datang menghadap.


“Kenapa pasukan pengangkut air belum juga kembali? Jangan jawab!” bentak Panglima Kidul marah.


Komandan Jendol pun diam tidak menjawab.

__ADS_1


“Kau pimpin lima ratus pasukan menyusul ke sungai. Jika terjadi sesuatu, cepat kirim laporan!” perintah Panglima Kidul Segara yang sudah menduga kuat bahwa ada yang terjadi terhadap pasukan pengangkut air.


Komandan Jendol Kolot pun hanya mengangguk tanpa menjawab. Setelah menjura hormat, dia segera berbalik dan pergi.


Tidak berapa lama, Komandan Jendol Kolot memimpin langsung sekitar lima ratus prajurit infanteri dengan seragam berpelindung ketat, bersenjatakan tombak dan pedang, serta bertameng besar.


Sebagai seorang komandan, Jendol Kolot justru tidak berpelindung selengkap pasukannya dan hanya membawa pedang, juga tidak berperisai. Alasanya untuk membedakan antara pemimpin dengan pasukannya. Padahal sebenarnya karena gengsi. Malu jika seorang komandan butuh pakaian pelindung seribet pakaian prajuritnya.


Namun, rasa gengsi itulah yang menjadi jalan petaka bagi Komandan Jendol Kolot.


Di saat Jendol Kolot dan pasukannya baru mau mendekati lokasi pertarungan sebelumnya, tiba-tiba....


Set! Serrr!


Tiba-tiba leher Komandan Jendol Kolot yang tidak berpelindung mengeluarkan aliran darah yang deras dari garis di kulit leher yang menganga. Itu seiring tubuhnya yang tersentak mengejang dalam berdirinya. Leher itu seperti telah disembelih tanpa terlihat senjata yang menyembelihnya. Tahu-tahu robek dengan rapi.


Melihat komandannya berdiri mengejang dan ada darah yang mancur dari leher, para prajurit yang ada di belakang atau di dekatnya jadi terkejut bukan main.


“Komandan! Komandan Jendol!” sebut para prajurit itu dengan tegang. Mereka bingung karena pemimpin mereka tahu-tahu kondisinya seperti itu tanpa ada yang tahu kenapa.


Akhirnya Komandan Jendol Kolot tumbang tanpa bernyawa lagi. Tubuhnya ditahan oleh beberapa prajurit.


Melihat kejadian aneh itu, salah satu prajurit segera berlari pergi, bermaksud melapor ke Panglima Kidul Segara.


Breg breg breg!


Ratusan prajurit itu segera bergerak membentuk formasi lingkaran beberapa lapis dengan badan menghadap ke luar. Tameng mereka rapatkan sehingga membentuk pagar yang rapat.


Seesss!


Tiba-tiba di tengah-tengah lingkaran yang mereka saling belakangi muncul dua bola sinar merah berpijar yang melayang setinggi pinggang mereka.


“Bubar! Bubar formasi! Ada serangan di tengah-tengah!” teriak beberapa prajurit di tengah formasi yang paling dekat dengan kedua sinar merah berpijar itu. Mereka panik bukan main sambil mendorong punggung rekan mereka dengan tameng.


Prajurit barisan luar hanya bisa bingung mendengar teriakan kepanikan itu tanpa bergerak bubar. Mereka hanya menengok ke belakang.


Bluar bluarr!


Akhirnya, kedua sinar merah berpijar itu meledak dahsyat, sangat megejutkan karena terjadi di posisi belakang mereka.


Para prajurit lingkaran terdalam berpentalan menabrak barisan di depan mereka. Suara ledakan energi sinar itu terdengar jauh oleh Panglima Kidul Segara dan pasukannya, membuat mereka memandang langit, mencoba menelisik arah sumber suara tersebut.


Sementara itu, ada belasan prajurit yang tewas dengan pakaian dan tameng hancur di pusat lingkaran. Ada pula belasan prajurit yang menderita luka parah karena ledakan itu berdaya kuat dan sifatnya menghancurkan.

__ADS_1


Sontak formasi lingkaran berlapis itu bubar mengurai diri untuk melihat apa yang terjadi di pusat formasi.


Sesss!


Tiba-tiba muncul lagi dua sinar merah berpijar, kembali mengejutkan pasukan itu.


“Munduuur!” teriak Wakil Komandan cepat.


Para prajurit yang dekat dengan kedua sinar itu buru-buru bergerak mundur mengosongkan titik tengah.


Sess sess! Bluar bluar!


Tidak disangka, tidak sama seperti sebelumnya, kedua sinar merah itu justru melesat ke dua arah yang berbeda dan menghantam dua kelompok prajurit yang berposisi berdesakan.


Para prajurit itu berpentalan, bahkan ada yang tubuhnya rusak. Tameng-tameng mereka tidak berguna banyak. Lagi-lagi belasan orang tewas dan puluhan terluka.


Ratusan pasukan itu seketika dilanda tekanan mental. Mereka jadi takut karena menghadapi penyerang yang tidak terlihat wujudnya. Mereka jadi memandang ke segala arah mencari si pelaku, tetapi yang mereka lihat hanyalah wajah-wajah rekan sendiri, sesama manusia yang ketakutan.


Suara ledakan dahsyat itu kembali didengar oleh Panglima Kidul Segara dan pasukannya. Dia lalu mengajak dua orang komandan untuk membawa seribu prajurit. Panglima Kidul Segara memimpin langsung menuju ke lokasi ledakan.


Belum juga Panglima melangkah jauh, satu prajurit dari pasukan Komandan Jendol Kolot datang dengan berlari kencang tanpa perisai. Panglima Kidul Segara menghentikan langkahnya.


“Lapor, Gusti Panglimaaa!” teriak prajurit itu dengan wajah banjir peluh. Dia berhenti sembari menghormat kepada junjungannya. “Komandan Benjol tewas dibunuh hantu!”


“Komandanmu tewas dibunuh hantu?” sebut ulang Panglima Kidul Segara terkejut, sangat mengerutkan kening.


“Benar, Gusti. Penyerangnya tidak terlihat,” tandas prajurit pelapor itu.


“Jika tidak terlihat, berarti bersembunyi, Tolol!” maki Panglima Kidul Segara marah.


“Komandan Jendol disembelih oleh hantu, Gusti Panglima. Jika bersembunyi, bagaimana bisa menyembelih? Hayyo!” otot si prajurit yang tidak gentar disebut “Tolol”.


“Minggir!” bentak Panglima Kidul Segara kesal sambil maju menyepak si prajurit.


Si prajurit terpaksa menerima tendangan itu. Jika dia menghindar, justru akan terus dikejar.


“Kuda!” panggil Panglima Kidul Segara.


Kuda yang dipanggil pun langsung datang.


“Silakan, Gusti!” ucap prajurit yang menuntun kuda.


Panglima Kidul Segara segera menaiki kudanya. Kedua komandan yang ikut dengan juga segera naik ke kudanya. Seribu prajurit dibiarkan jalan kaki. (RH)

__ADS_1


__ADS_2