
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Komandan Rambut Awut pergi meninggalkan kediaman Menteri Keuangan karena dia memang banyak tugas yang harus dikerjakan. Agar Istana bisa aman, minimal Ibu Kota harus aman lebih dulu. Dia tidak tahu bahwa pembunuh Menteri Balelewa masuk lewat laut, bukan lewat Ibu Kota, termasuk para penyerang Putri Ani Saraswani di Rumah Makan Muara Jerit.
Tinggallah Joko Tenang yang kini dikelilingi oleh tiga gadis cantik dengan Putri Ani sebagai kembang primadonanya.
Rincing Kila memberikan buntalan kain yang dibawanya kepada Putri Ani Saraswani. Sang putri membuka kain itu untuk melihat pakaian yang dibawa oleh pengawalnya.
“Tadi kau hendak ke mana, Badira?” tanya Rincing Kila.
“Pergi ke Istana untuk mengingatkan Ayah,” jawab Badira.
“Aku ingin ganti pakaian, Badira,” ujar Putri Ani.
“Di kamarku saja, Gusti,” jawab Badira.
“Baik,” ucap Putri Ani.
“Kakang Joko, kalian berdua menunggulah di teras. Atau Kakang Joko mau ikut?” kata Badira lalu menggoda.
Mendengar tawaran sahabatnya itu, Putri Ani segera mencengkeram tengkuk Badira dan menariknya, tapi tidak keras.
“Hihihi!” tawa Badira sambil mengikuti langkah sang putri yang pada ujungnya tersenyum malu sendiri.
Sementara Joko Tenang hanya tersenyum. Rincing Kila menatap curiga kepada Joko Tenang.
“Kenapa?” tanya Joko Tenang kepada Rincing Kila yang menatapnya tidak normal.
“Joko, apakah kau sudah punya suami?” tanya Rincing Kila.
“Belum,” jawab Joko Tenang jujur sesuai dengan pertanyaan.
“Oooh,” ucap Rincing Kila manggut-manggut.
Joko Tenang lalu berjalan menuju ke teras, di mana meja di sana ada seperangkat perlengkapan minum yang disediakan oleh pelayan sejak tadi, tapi tidak sempat digubris oleh Joko Tenang dan sang putri.
Sementara itu, Badira dan Putri Ani masuk ke dalam rumah utama. Badira menunjukkan kamarnya sebatas pintu.
“Aku tunggu di luar, Gusti,” kata Badira.
“Iya, tapi jangan kau goda Joko,” kata Putri Ani dengan tatapan yang mengancam.
“Hihihi!” tawa Badira lalu berbalik pergi membawa tawanya.
Putri Ani kemudian hanya tersenyum sambil membuka pintu kamar sahabatnya itu.
Sambil memegangi pakaiannya yang berwarna hijau muda seterang daun muda, Putri Ani Saraswani melihat ke seantero kamar Badira yang cukup besar untuk ukuran kamar seorang diri.
Setelah itu, Putri Ani hendak melepas bajunya, tentunya rompi milik Joko Tenang yang lebih dulu harus dia lepas.
Namun, belum juga rompi itu dikendorkan dari bahu Putri Ani, tiba-tiba satu sosok lelaki berpakaian hitam-hitam dan berkumis hitam muncul dari balik lemari besar yang posisinya di belakang sang putri.
__ADS_1
Gerakan lelaki itu senyap dengan ujung pedang melesat menusuk punggung Putri Ani.
Set! Tek! Brak!
“Akk!” pekik terkejut sang putri dengan tubuh terdorong ke depan menabrak meja rias milik Badira.
Meski merasakan sakit pada punggungnya, Putri Ani bereaksi dengan cepat berbalik dan mengibaskan tendangan bertenaga dalam tinggi.
Penyerang pembokong itu terkejut karena ternyata pedangnya tumpul, padahal lancip. Namun, tusukan itu hanya mendorong sang putri tanpa melukainya, apalagi membunuhnya.
Tendangan mengibas dari sang putri membuat lelaki berwajah jelas itu melompat mundur, tetapi kemudian dengan cepat melompat seperti macan melewati atas kepala korbannya.
Bset!
Saat dalam lompatannya dia perposisi di udara, tapi sudah di belakang sang putri, lelaki itu mengibaskan tangan kirinya yang bebas dari utang sehingga muncul sekilatan sinar putih tipis yang membeset punggung sang putri.
Entah penyusup itu sengaja atau memang tidak pandai diri? Dia dua kali menyerang bagian tubuh Putri Ani yang sama, padahal sebelumnya pedang dia tidak bisa melukai punggung sang putri.
Pada percobaan kedua dengan serangan yang berbeda, lelaki itu menargetkan posisi yang sama. Hasilnya, Putri Ani Saraswani tidak menderita luka apa-apa karena terlindungi oleh rompi pusaka milik Joko Tenang. Sinar putih yang menyerangnya justru terserap masuk ke dalam rompi.
Baru saja Putri Ani mau menyerang balik, tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa terlihat ada yang membukanya.
Bdakk! Bruakr!
Pada saat yang sama, tahu-tahu tubuh lelaki berkumis hitam itu terpental keras dan menabrak meja rias Badira sehingga hancur berantakan. Tubuh lelaki berpedang itu sudah tergeletak di lantai dengan pedang yang terlempar jauh. Namun, kini ada orang lain di dalam kamar itu, yaitu Joko Tenang alias pemuda berbibir merah.
“Joko!” sebut Putri Ani Saraswani terkejut melihat pemuda yang ditaksirnya itu tahu-tahu sudah ada di dalam kamar.
“Ti-ti-tidak,” ucap Putri Saraswani tergagap. Entah bumbu dapur apa yang membuatnya tergagap seperti itu saat menjawab pertanyaan Joko Tenang. “Aku diselamatkan oleh rompimu, Joko.”
“Hahaha!” tawa kencang lelaki penyusup itu tiba-tiba.
Terkejut Putri Ani Saraswani mendengar tawa keras lelaki penyerang di dalam kamar itu. Dia heran sambil menatap lelaki berpakaian hitam yang tergeletak di lantai dengan tegang.
“Gusti Putri!” teriak Rincing Kila dan Badira yang muncul di pintu kamar dengan wajah panik.
“Hahaha!” tawa lelaki berpakaian hitam sambil memegangi perutnya. “Hahahak!”
Rincing Kila dan Badira memandang heran kepada lelaki itu.
Di belakang kedua wanita itu telah tiba para prajurit Keamanan Rumah Menteri.
“Seret orang itu ke luar!” perintah Joko Tenang.
“Biar aku bunuh dia!” teriak Rincing Kila sambil mencabut pedangnya.
“Kita butuh keterangannya,” kata Putri Ani Saraswani.
“Prajurit, seret orang itu ke luar!” perintah Badira.
“Hahaha...!” tawa lelaki itu berkepanjangan yang membuat semua orang keheran-heranan, kecuali Joko Tenang.
__ADS_1
Para prajurit itupun masuk ke dalam dan menarik lelaki yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali tertawa terbahak-bahak. Prajurit menyeretnya hingga ke luar rumah. Di luar, suasana sudah ramai oleh prajurit, pelayan dan para pegawai Menteri Keuangan. Mereka datang untuk tahu apa yang terjadi di dalam rumah.
“Apa yang kau lakukan kepadanya, Joko?” tanya Putri Ani Saraswani.
“Hanya membuatnya tertawa,” jawab Joko enteng. “Aku rasa kondisi kamar sudah aman, silakan berganti pakaian, Gusti Putri. Atau perlu aku temani?”
Mendengar tawaran Joko Tenang, terkesiap sepasang mata Putri Ani dengan pipi yang merona merah muda kemuda-mudaan. Rupanya Joko Tenang mulai berani menggoda sang putri.
“Terima kasih, biar aku ditemani oleh Rincing saja, sesama wanita,” kata Putri Ani Saraswani seraya tersenyum malu.
“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang sambil berjalan keluar dari kamar dan ke luar rumah.
Badira pun keluar. Tinggallah Rincing Kila yang menemani junjungannya untuk berganti pakaian. Memang, setelah itu tidak ada lagi penyusup yang tiba-tiba muncul menyerang.
“Hahaha! Tolong hentikan tawaku ini! Aku lelah tertawa!” teriak lelaki berpakaian hitam yang kini meringkuk di tanah halaman.
“Hahaha!” tawa mereka yang menonton kejadian unik tersebut.
Joko Tenang pun membiarkan lelaki berkumis hitam itu terus tertawa, meski terdengar berisik.
“Kau apakan dia, Kakang?” tanya Badira.
“Hanya mencubitnya agar dia tertawa bahagia,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum yang membuat hati Badira berdebar-debar.
Tidak berapa lama, Putri Ani keluar dengan penampilan yang sejuk berwarna hijau muda yang kemuda-mudaan.
“Dia belum berhenti tertawa?” tanya Putri Ani Saraswani heran.
“Menunggu Gusti Putri untuk bertanya,” jawab Joko Tenang dengan tenang.
“Hahaha! Aku tidak tahu! Hahahak!” teriak lelaki itu lebih dulu sambil tertawa terbahak-bahak.
“Siapa namamu?” tanya Putri Ani serius kepada lelaki yang kini seperti kecoa terbalik.
“Aku tidak tahu! Hahaha!” jawab lelaki tersebut.
“Iris betisnya!” perintah Putri Ani.
Set!
“Aaaakk! Hahaha...!” jerit lelaki itu saat pedang Rincing Kila menyayat betis kirinya, lalu kembali tertawa terbahak-bahak.
“Siapa namamu?” tanya sang putri lagi.
“Namaku Jalu Si Kumis Hitam! Hahaha...!” jawab lelaki itu akhirnya. Lalu dia kembali tertawa.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Putri Ani lagi.
“Pangeran Tirta Gambang! Hahaha...!” jawab lelaki yang mengaku bernama Jalu Si Kumis Hitam.
“Apa?!” pekik ketiga gadis itu terkejut bukan main. (RH)
__ADS_1