
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Ketika rombongan Joko Tenang dan permaisurinya sampai di depan benteng kerajaan, terpampanglah pemandangan yang sepertinya bukan sambutan yang bersahabat. Pasalnya, di depan benteng kayu Istana yang tinggi dan lebar tergelar pasukan dalam jumlah besar.
Yang membedakan pasukan penyambutan yang ramah dengan pasukan yang siap perang adalah dari formasi dan sikap berdiri prajuritnya.
Ribuan pasukan yang berbaris teratur di depan benteng, siap dengan formasi tameng yang membentuk benteng prajurit yang berlapis-lapis. Tombak-tombak dalam posisi siaga, bukan mode kondisi aman. Bendera dan panji-panji pasukan berkibar kencang. Itu artinya pasukan tersebut siap berperang dan siap menahan gempuran.
Adapula ratusan pasukan berkuda yang disiapkan. Semua penunggangnya dalam kondisi siap perang.
Bukan hanya itu, di atas benteng pun berbaris pasukan panah dengan busur-busur jumbo yang dua kali lipat dari busur biasa. Di beberapa titik, ada senjata besar seperti menara kecil. Itu adalah senjata manjanik yang bisa menembakkan batu besar atau bola api penghancur.
Di tengah-tengah ada sebuah tenda besar terbuka berwarna biru berenda-renda kuning. Di bawah tenda ada satu meja dan dua kursi. Di sisi belakangnya berdiri sejumlah lelaki berpakaian bagus, tetapi bernuansa pakaian perang. Di belakangnya lagi berdiri barisan pendekar kerajaan.
Ketika rombongan kereta kuda sudah memasuki tanah lapang di depan benteng, ada formasi Pasukan Kaki Gunung yang bergerak berlari teratur menutup jalan mundur bagi rombongan Joko Tenang. Namun, itu bukan tindakan yang membuat Joko Tenang dan pasukannya bereaksi.
“Gusti Prabu, Prabu Galang Digdaya sepertinya tidak ingin membiarkan kita masuk ke dalam Istana. dia menyambut kita di depan benteng Istana,” kata Riskaya dari balik dinding bilik.
“Kami hanya ingin bertemu dengan Prabu Galang. Kami tidak akan keluar jika Prabu Galang tidak datang,” kata Joko Tenang.
“Baik, Gusti,” ucap Riskaya patuh.
“Pemilihan tempat penyambutan menunjukkan bahwa pertempuran sangat mungkin akan terjadi,” kata Permaisuri Yuo Kai.
“Bukankah senjata Serat Sutra sudah lama tidak memakan korban?” kata Joko Tenang seraya tersenyum manis kepada istri pertamanya itu.
Akhirnya kereta kuda dan rombongannya tiba di dekat tenda terbuka yang menaungi sebuah meja dan dua kursi kayu yang saling berhadapan. Di atas meja tidak apa-apa. tidak ada nasi goreng atau sekedar segelas es kelapa untuk pelepas dahaga.
Di sana ada para pejabat militer dan sipil Kerajaa Pasir Langit yang dipimpin oleh Mahapatih Sementara Badaragi.
Riskaya turun lalu maju ke hadapan Badaragi. Murai Manikam dan Bo Fei mengawal di belakangnya. Kedatangan tiga wanita cantik dewasa itu membuat para pejabat merasa puber kali ketiganya.
__ADS_1
Riskaya menjura hormat seperlunya tanpa penyebutan kepada Badaragi. Riskaya dan Badaragi baru kali ini bertemu dan komunikasi lewat chat pun tidak pernah, jadi belum saling kenal.
“Aku Pengawal Prabu Dira. Dengan siapa aku berhadapan?” tanya Riskaya dengan tatapan yang dingin, tidak ada kesan ramah-ramahnya atau sekedar memberi senyum pemanis.
“Aku Badaragi, Mahapatih Sementara,” jawab Badaragi.
“Lebih baik jadilah mahapatih tetap, karena Mahapatih Olo Kadita sudah mati,” kata Riskaya sekedar iseng memberi saran.
“Apa?!” kejut Badaragi dan para pejabat di belakangnya.
“Gusti Prabu Dira dan Permaisuri Negeri Jang hanya ingin bertemu dengan Prabu Galang Digdaya,” ujar Riskaya.
“Harap Gusti Prabu Dira dan Gusti Permaisuri menunggu. Gusti Prabu Galang dalam perjalanan ke mari,” kata Badaragi.
Sementara itu, di dalam benteng Istana, Putri Ani Saraswani ingin melihat apa yang terjadi di depan benteng. Mendengar bahwa hampir semua kekuatan Kerajaan Pasir Langit dikumpulkan di depan benteng Istana, Putri Ani segera mengajak Rincing Kila untuk pergi ke benteng.
Di atas benteng kayu kerajaan, pasukan panah dipimpin oleh dua orang berpangkat prajurit wira. Keduanya menjura hormat tanpa bertanya kepada Putri Ani Saraswani.
“Belum, Gusti,” jawab salah satu satu Prajurit Wira.
Putri Ani yang diam-diam terlibat upaya pemberontakan menjadi cukup tegang memandang ke depan sana. Dia dapat melihat dengan jelas keberadaan kereta kuda mewah. Dia pun bisa mengenali sosok cantik Riskaya, karena pengawal Prabu Dira itu besar.
“Gusti, Prabu Dira membawa pasukan pendekar. Sepertinya akan terjadi pertempuran besar,” kata Rincing Kila.
Putri Ani tidak berkomentar.
Drap drap drap…!
Dari arah dalam Istana terdengar suara lari kuda dan putaran roda kayu yang kasar terhadap jalanan lingkungan Istana. Putri Ani dan Rincing Kila segera menengok.
Sebuah kereta terbuka nan mewah berkuda empat melaju dengan dikawal oleh sekitar tiga puluh prajurit berkuda, plus dua orang pendekar. Kereta kuda warna hitam itu memiliki patung macan dari kayu hitam di sisi kanan dan kirinya. Ada payung warna biru terang dengan rumbai-rumbai warna perak. Tiang payung warna emas.
__ADS_1
Satu-satunya orang yang duduk di kursi berkain emas kereta adalah sosok Prabu Galang Digdaya. Dia tampil gagah dengan tampang seram seperti singa meski bermahkota emas. Dia bertelanjang dada. Namun, badannya dilengkapi oleh asesori emas permata yang mahal. Kedua lengan kekarnya dicekik gelang emas. Kedua pergelangan tangannya ada gelang logam merah. Celananya berwarna hitam dengan sabuk cokelat berhias rantai emas dan kain kebat warna putih.
Keempat kuda berseragam warna biru terang itu terus berlari melewati Gerbang Pemuja Langit, lewat di bawah Putri Ani berada.
Prabu Galang Digdaya hanya memandang putrinya sebentar di atas benteng. Putri Ani pun membalas tatapan ayahnya dengan dingin.
Tidak lama berselang setelah rombongan Prabu Galang keluar dari benteng, ada rombongan kereta kuda lain yang datang dari arah dalam lingkungan Istana. Kali ini kereta kudanya berbilik tertutup dan hanya ditarik oleh dua ekor kuda. Ada sepuluh kuda yang mengikutinya. Penunggangnya wanita semua dengan ciri pakaian seperti pendekar.
Namun, kereta kuda itu tidak menuju ke Gerbang Pemuja Langit, tetapi mendekati tangga menuju ke atas benteng.
Para prajurit yang tahu rombongan siapa itu, segera menjura hormat.
“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri!” ucap mereka seraya turun berlutut menghormat, menyambut keluarnya sosok cantik Permaisuri Titir Priya yang berpakaian biru terang, ramai oleh asesoris emas permata sebagai seorang istri raja.
Rupanya Permaisuri Titir Priya ingin memantau dari jauh pertemuan penting yang terjadi. Dia pun bertemu dengan putrinya di atas benteng.
“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” seru para pejabat dan prajurit di sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan kereta kuda Prabu Galang.
“Di mana Prabu Dira Pratakarsa Diwana?!” teriak Prabu Galang Digdaya dari atas kereta kuda setelah kereta itu benar-benar berhenti tidak jauh dari tenda biru.
Teriakan bernada marah itu terdengar jelas oleh Joko Tenang dan istrinya.
Riskaya lalu membukakan pintu bilik kereta. Namun, agak terkejut Riskaya karena yang ada di dalam bilik kereta hanya Permaisuri Yuo Kai seorang.
“Silakan, Gusti Prabu Galang!” sahut Joko Tenang yang tiba-tiba sudah berdiri di sisi salah satu kursi di bawah tenda biru.
Para pejabat dan pendekar, termasuk Prabu Galang sendiri cukup terkejut. Sebab, sekejap yang lalu, kursi itu kosong dari manusia.
Terdiam Prabu Galang. Ini kali pertama dia melihat sosok dan paras Joko Tenang alias Prabu Dira Pratakarsa Diwana, orang yang dia anggap telah merudapaksa putrinya.
“Tampan sekali. Jika seandainya dia tidak membuat masalah denganku, aku tidak akan keberatan jika Ani menjadi permaisuri keseratusnya,” batin Prabu Galang Digdaya.
__ADS_1
Perhatian Prabu Galang kemudian lebih tertarik untuk memandang sosok nan indah yang keluar dari bilik kereta. Permaisuri Yuo Kai memang tampil sangat cantik dan berwibawa dengan jubah merah terangnya. (RH)