
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Pagi itu, Pasukan Keamanan Ibu Kota dan Pasukan Kaki Gunung ramai melakukan penyisiran di seluruh bagian ibu kota Digdaya. Target operasi adalah orang non warga Ibu Kota.
Setiap orang asing diperiksa dengan digeledah barang bawaannya dan ditanya tujuan kunjungannya ke kota itu. Yang jelas, para prajurit itu tidak mencari narkoba atau majalah porno, belum eranya.
Orang yang kedapatan membawa racun, mereka akan ditangkap untuk diinterogasi lebih mendalam di ruang penyiksaan.
Para pendekar yang berdalih datang ke kota itu semata-mata untuk berburu kuliner, diminta untuk pergi meninggalkan Ibu Kota.
Orang-orang yang datang karena alasan mengunjungi keluarga, akan dilakukan konfirmasi kepada keluarga yang dimaksud. Jika tidak terbukti, maka mereka akan ditangkap.
Operasi besar-besaran itu jelas menghancurkan acara para warga yang sudah teragenda. Tidak jarang para pendekar yang tersinggung dan marah. Mereka lebih memilih melawan bertarung dengan para prajurit.
Jika lawan mereka hanya Pasukan Keamanan Ibu Kota, mungkin para pendekar itu masih bisa bergaya. Namun, ketika mereka dikeroyok oleh Pasukan Kaki Gunung, mereka harus menyerah dan berakhir di penjara. Bagi pendekar yang membunuh prajurit, maka otomatis wajib mati.
Operasi militer itu membuat dua per tiga kegiatan warga di Ibu Kota jadi tersendat hingga tidak berjalan.
Namun, ketika matahari sudah naik menuju puncak, masalah di hari itupun dimulai.
Di saat para pendekar diusir-usir dari kota Digdaya, ada seorang pendekar berkuda yang justru datang memasuki kota tersebut. Pendekar itu tidak lain adalah Reksa Dipa, Ketua Pasukan Pengawal Bunga.
Reksa Dipa yang datang seorang diri itu dihentikan di gapura barat oleh Pasukan Keamanan Ibu Kota.
“Aku Reksa Dipa, Pendekar Serat Darah. Aku datang untuk menemui junjunganku yang ada di kota ini,” jawab Reksa Dipa setelah ditanya oleh prajurit penjaga perbatasan barat Ibu Kota.
“Semua orang asing yang ada di Ibu Kota ini sudah diusir. Kau dilarang masuk!” tegas pemimpin prajurit yang sebutlah bernama Ulakan.
“Tidak. Aku harus masuk. Aku sudah mendapat perintah untuk datang ke kota ini!” tandas Reksa Dipa.
Memang sebelumnya, rombongan Reksa Dipa yang pergi mencari pembuat kapal besar di Pantai Segadis mendapat perintah untuk datang ke ibu kota Digdaya membawa laporan.
Pada salah satu batang gapura di tempat itu, Reksa Dipa melihat tanda jiplakan kaki kucing besar. Itu menunjukkan bahwa Joko Tenang ada di kota itu.
“Keras kepala!” bentak Ulakan. Lalu tanyanya, “Siapa junjunganmu?”
“Pendekar Joko Tenang,” jawab Reksa Dipa mantap.
Mendengar jawaban Reksa Dipa, terbeliak Ulakan. Sebelumnya, Komandan Rambut Awut sudah memberi perintah untuk menangkap Joko Tenang hidup-hidup jika ditemukan. Namun, sampai saat itu, ujung rambut Joko Tenang tidak terlihat oleh mereka.
Mendengar Reksa Dipa adalah anak buah Joko Tenang, maka Ulakan segera memberi perintah.
__ADS_1
“Tangkap!” teriak Ulakan.
“Hiaaat!” teriak enam orang prajurit bersenjata tombak sambil menusukkan ujung senjatanya dari sisi samping kiri Reksa Dipa. Yang diarah adalah bagian paha ke bawah.
Trakr!
Reksa Dipa tidak perlu menghindar, dia cukup menangkis dengan kibasan kaki yang menghantam kepala tombak yang tidak tumpul itu sekaligus, bahkan mematahkan keenam tombak itu sekaligus. Maklum, tendangan Reksa Dipa bukan tendangan pemain sepak bola, tetapi tendangan pendekar yang bertenaga dalam.
“Panggil bantuan!” perintah Ulakan dengan ekspresi tegang.
Seorang prajurit segera menyiapkan busur dan anak panah. Sementara rekannya membakar ujung anak panah yang dibalut oleh kain basah berminyak.
Set!
Prajurit itu lalu memanah lurus ke langit. Sepertinya dia bermaksud memanah bintang yang tidak tampak.
Sementara itu, enam prajurit yang mengeroyok Reksa Dipa sudah berjengkangan di tanah.
Reksa Dipa pun menepak bokong kudanya agar pergi dari tempat itu, membiarkan majikannya bertarung sendiri.
“Hiaaat!” teriak enam prajurit lain sambil maju menusukkan tombaknya masing-masing. Bagi prajurit, jika tidak teriak saat latihan atau bertempur, amalannya kurang afdol.
Trakr!
Setelah mematahkan tombak-tombak para prajurit itu, Reksa Dipa menghajar satu per satu keenam prajurit itu, membuat mereka bertumbangan. Namun, kedua belas prajurit yang sudah dihajar, kembali berbangunan.
Karena tombaknya sudah berpatahan, mereka mencabut senjata lain yang mereka miliki, yaitu pisau berburu. Mereka berdua belas bergerak mengurung Reksa Dipa.
Sementara Ulakan dan beberapa prajurit lainnya tidak berani maju karena mereka melihat Reksa Dipa tampaknya tangguh. Dia memilih menunggu pasukan bantuan. Apakah itu sesama Pasukan Keamanan Ibu Kota sehingga mereka bisa mengeroyok lebih ramai, atau Pasukan Kaki Gunung sehingga mereka bisa lepas dan cuci tangan.
“Hiaaat!” teriak salah satu prajurit sebagai pemulai serangan, dengan cara berusaha menikam Reksa Dipa.
Dak! Bek!
“Hukh!” keluh si prajurit ketika tangannya yang menggenggam pisau ditangkis dan berlanjut dengan satu hantaman pukulan ke perut.
Selanjutnya, para prajurit yang lain berbarengan atau sendiri-sendiri menyerangkan pisaunya. Namun, nasibnya sama seperti prajurit pertama.
Gerakan Reksa Dipa yang cepat dan bertenaga kuat, dengan mudah mengelak dan menyarangkan pukulan satu demi satu. Terlihat jelas sekali, seperti sekumpulan murid melawan seorang master.
Set!
“Aaak!” jerit Ulakan keras dan panjang.
__ADS_1
Entah bagaimana ceritanya, di saat Reksa Dipa sedang menghajar prajurit yang mengeroyoknya satu per satu, tiba-tiba ada satu pisau yang tahu-tahu melesat dan menancap di paha kiri Ulakan. Di saat Ulakan jatuh terduduk sambil menjerit kesakitan, Reksa Dipa tidak meliriknya sedikit pun dan sekali pun, seolah-olah pelaku pelesatan pisau itu bukan dirinya.
Drap drap drap...!
Tiba-tiba dari satu arah muncul berlari puluhan prajurit berseragam cokelat-cokelat yang bersenjatakan tombak panjang dan bertameng besar.
Pasukan Kaki Gunung itu dipimpin oleh seorang Prajurit Wira yang bernama Glalapan. Dia menunggang kuda.
“Kepung!” teriak Glalapan memberi perintah.
Drap drap drap! Jreg jreg!
Puluhan prajurit itu berlari mengelilingi Reksa Dipa sehingga membentuk lingkaran. Mereka lalu berhenti dan memasang perisai seleher mereka dengan dipukulkan di tanah. Mereka membentuk dinding melingkar rapat dengan perisai lebarnya. Sementara ujung tombak terpasang di sela-sela tameng dan tinggal tusuk.
Para prajurit yang tadi dihajar oleh Reksa Dipa buru-bura keluar dari formasi agar mereka tidak kadung terjebak di dalam pengepungan Pasukan Kaki Gunung. Kini mereka serahkan nasib Reksa Dipa kepada Pasukan Kaki Gunung.
“Tusuk!” perintah Glalapan dari atas kudanya.
Drap! Set!
Separuh dari pasukan yang mengepung itu bergerak serentak maju dua langkah sambil menusukkan tombaknya. Tidak seperti serangan Pasukan Keamanan Ibu Kota yang menargetkan paha ke bawah yang bertujuan hanya melumpuhkan, kali ini serangan mata tombak menargetkan badan yang bertujuan membunuh.
Lebih banyaknya senjata yang datang dari sebelumnya, membuat Reksa Dipa tidak menggunakan tendangannya. Dia memilih melompat sambil ketiaknya mengeteki beberap batang tombak, lalu kakinya naik menendangi tameng prajurit dengan cara berlari beberapa depa saja.
Dak dak dak...!
Tendangan itu hanya menggoyahkan tameng-tameng besar. Formasi pengepungan itu cukup kuat.
Drap! Set!
Serangan kedua dilakukan oleh sebagian prajurit lainnya sambil menusukkan tombaknya ke arah Reksa Dipa yang baru turun menginjak tanah.
Rekas Dipa cepat melompat melenting naik mengudara.
Wes wes!
Saat tubuh Reksa Dipa di udara, tiba-tiba dari dalam tubuhnya melesat keluar dua sosok lain Reksa Dipa. Keduanya melesat ke dua arah sambil kedua tangan mreka mengeluarkan sinar merah.
Zess zess! Bluar bluar!
“Aak! Akk! Akh!” jerita para prajurit yang dipentalkan oleh ledakan sinar merah yang menghancurkan tameng-tameng mereka. Tameng-tameng mereka tidak bisa menahan kekuatan sinar merah dari ilmu Sukma Bayang Wujud milik Reksa Dipa.
Prajurit yang terkena langsung pukulan itu harus tewas. Sementara rekan kanan kirinya yang ikut terpental harus terluka dari ringan hingga parah. (RH)
__ADS_1