
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Dari atas sebuah bukit, Murai Manikam dan kelima puluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana mengintai pergerakan Pasukan Kaki Gunung yang masih ada empat ribuan prajurit.
Pasukan Kaki Gunung saat itu memilih untuk berkemah. Mereka harus melakukan konsolidasi antarkomandan. Jika mereka masih memiliki panglima, akan mudah mengikuti perintah meski berat. Dengan tidak adanya panglima, maka ego para komandan pun mengedepan untuk menjadi pemimpin sementara. Akibatnya, para komandan harus melakukan pertemuan darurat.
Kondisi itu sukses memaksa mereka terlambat bergerak menuju ke timur.
“Ada utusan, Ketua!” sahut Lengking kepada Murai Manikam di atas bukit yang jauh dari pusat perkemahan.
Murai Manikam berbalik dan memandang ke arah posisi Lengking. Dilihatnya ada seorang lelaki berpakaian serba cokelat gelap. Lelaki itu adalah salah satu dari lima lelaki yang sebelumnya menghadap kepada Permaisuri Yuo Kai. Lelaki utusan itu segera menghadap kepada Murai Manikam.
“Lapor, Pendekar. Gusti Permaisuri Negeri Jang memerintahkan Pendekar dan Pasukan Hantu Sanggana untuk mengawal Gusti Permaisuri memasuki ibu kota Digdaya. Pasukan Gajah Besi yang seharusnya mengawal Gusti Permaisuri Negeri Jang, terhadang oleh Pasukan Kaki Gunung di perbatasan Kadipaten Senengek,” lapor prajurit telik sandi itu.
“Ke mana kami harus pergi?” tanya Murai Manikam.
“Aku akan memandu jalan,” kata prajurit itu.
“Lengking, kirim satu pendekar untuk menyampaikan pergerakan kita kepada Gusti Permaisuri Tangan Peri. Sampaikan pula bahwa Pasukan Kaki Gunung wilayah selatan sedang berhenti bergerak untuk sementara,” perintah Murai Manikam.
“Baik,” jawab Lengking, selaku Wakil Ketua Pasukan Hantu Sanggana.
Maka, pasukan pendekar yang dipimpin oleh Murai Manikam bergerak cepat menempuh perjalanan menuju ke ibu kota Kerajaan Pasir Langit.
Mereka harus bertemu malam di tengah jalan. Namun, malam berlaku sombong karena tidak menyapa mereka sedikit pun.
Sementara itu di perbatasan Kadipaten Senengek, ketegangan meliputi Pasukan Kaki Gunung yang dipimpin langsung oleh Senopati Kampala. Belum ada pasukan tambahan yang datang bergabung.
Di seberang perbatasan, sekitar lebih seratus tombak, ada tiga ribu Pasukan Gajah Besi yang berkumpul, jauh lebih sedikit dari Pasukan Kaki Gunung yang berjumlah sepuluh ribu prajurit.
Berlipat-lipatnya jumlah Pasukan Kaki Gunung yang menghadang, membuat Panglima Raksasa Biru menahan pasukannya. Dia berpendapat, perlu strategi matang untuk berperang melawan jumlah musuh yang lebih tiga kali lipat jumlahnya.
Posisi kedua pasukan dipisahkan oleh sealiran sungai yang lebarnya sedang, tetapi ada jembatan batu yang cukup lebar sebagai penghubung. Jika pasukan tidak mau basah, satu-satunya jalan kering adalah jembatan itu. Sungai itu bukanlah Sungai Nadi Api yang menjadi rute Pasukan Ular Gunung Kerajaan Sanggana Kecil.
Bo Fei, Pendekar Pengawal Dewi Bunga Permaisuri Negeri Jang, sudah bergabung di tengah-tengah Pasukan Gajah Besi. Kedatangannya kepada pasukan itu untuk memerintahkan agar pasukan mempercepat lajunya. Namun ternyata, itu tidak memungkinkan.
Karena mempercepat Pasukan Gajah Besi tidak mungkin, jadi Bo Fei hanya menargetkan untuk membawa kereta kuda Permaisuri Negeri Jang sampai di luar ibu kota Digdaya, agar besok bisa digunakan oleh junjungannya.
__ADS_1
Setelah menugaskan sejumlah prajurit untuk mempelajari wilayah perbatasan, akhirnya diaturlah strategi dalam pertemuan terbatas antara Panglima Raksasa Biru, Bo Fei dan para komandan pasukan yang di kalangan mereka disebut perwiratama.
“Ada jalur yang memutari bukit untuk menghindari wilayah perkemahan Pasukan Kaki Gunung. Jalannya tidak begitu bagus untuk kereta kuda, tetapi dengan membawa dua puluh prajurit, kereta kuda bisa dengan mudah dipikul agar bisa dengan mudah masuk ke Kadipaten Senengek. Di sisi selatan ada jembatan bambunya dan bisa dilewati kuda tanpa harus turun ke sungai. Setelah itu, perjalanan ke arah Ibu Kota akan lebih mudah jika tidak berpapasan dengan pasukan musuh yang lain,” tutur Perwiratama Otot Bangkok, perwira berbadan besar yang memiliki otot-otot besar dan bulat-bulat. Dia yang tadi memimpin penjelajahan di wilayah perbatasan kadipaten.
“Jika demikian, aku tidak perlu menunggu pertemuan ini selesai untuk pergi. Siapkan dua puluh prajurit untuk ikut bersamaku melewati jalan itu malam ini juga,” tandas Bo Fei.
“Siapkan, Perwiratama!” perintah Panglima Raksasa Biru yang tinggi duduknya lebih tinggi dari berdirinya para komandan.
“Baik, Panglima,” ucap Perwiratama Otot Bangkok.
“Aku langsung berangkat, Panglima,” izin Bo Fei sembari menjura hormat.
“Hmmm!” gumam Panglima Raksasa Biru mengangguk.
Maka pergilah Bo Fei bersama dua puluh prajurit berbadan kekar dengan membawa kereta kuda milik Permaisuri Yuo Kai. Mereka bergerak cepat di dalam kegelapan dengan mengambil rute memutari bukit, lalu menyeberangi sungai. Mrereka memilih tidak memakai obor demi menghindari terpantau oleh patroli Pasukan Kaki Gunung di wilayah sekitar.
“Tenda-tenda persediaan makanan pasukan musuh ada di sisi utara. Kita cukup mengirim dua prajurit untuk melakukan pembakaran di sisi selatan. Di saat perhatian pasukan musuh ke sisi selatan, kita sergap sisi utara dan bakar persediaan makanannya. Setelah itu, mereka akan mengejar dan kita akan menghabisi pasukan itu di sungai,” kata Perwiratama Otot Bangkok setelah urusannya di luar selesai.
“Di saat pembakaran di sisi selatan, tambah puluhan prajurit kita untuk berteriak-teriak di kegelapan agar pasukan musuh yang mengejar ke selatan lebih banyak,” kata Perwiratama Gonggong Sewa yang sebelumnya telah membunuh Panglima Untut.
“Masukkan usulan Gonggong Sewa dalam rencana serangan!” perintah Panglima Raksasa Biru dengan suara basnya.
“Baik, Panglima,” ucap Otot Bangkok patuh.
Sisa Pasukan Kaki Gunung perbatasan tidak akan diperangi dengan syarat, Pasukan Gajah Besi dibiarkan lewat menuju ke Kadipaten Senengek dan tidak menyerang dari belakang. Demikianlah kenapa Pasukan Gajah Besi telah tiba di luar Kadipaten Senengek.
Sementara itu, Pasukan Kaki Gunung pimpinan Panglima Kampala tidak melakukan operasi malam terhadap pasukan musuhnya karena merasa tidak perlu melakukannya. Dengan jumlah yang lebih tiga kali lipat, mereka masih percaya diri akan mengalahkan Pasukan Gajah Besi di medan perang terbuka.
Namun, tidak bagi Pasukan Gajah Besi. Mereka perlu melakukan upaya untuk mengganggu mental perang Pasukan Kaki Gunung. Karena itulah mereka melakukan operasi malam terhadap kemah besar Pasukan Kaki Gunung.
Operasi malam Pasukan Gajah Besi dibagi menjadi empat kelompok. Dua prajurit bertugas menyusup ke sisi selatan kamp perkemahan, lima puluh prajurit bertugas hanya mendekat di sisi selatan di dalam kegelapan, dua puluh prajurit bertugas menyusup di sisi utara kamp, dan seribu prajurit mendekam di area sungai sisi utara kamp.
Untuk dua prajurit dan lima puluh prajurit, mereka harus menyeberangi sungai lewat air. Mereka bergerak tanpa ada cahaya sedikit pun. Semua prajurit harus maju cukup jauh untuk sampai ke dekat kamp. Saking senyapnya pergerakan puluhan prajurit itu, mereka tidak terdeteksi oleh pasukan jaga musuh sedikit pun.
Kamp Pasukan Kaki Gunung diterangi oleh obor di mana-mana, sehingga cukup terang. Kemah itu luas, seperti sebuah kota kemah kecil.
“Kebakaraaan! Kebakaraaan!” teriak prajurit jaga di kemah Pasukan Kaki Gunung di sisi selatan.
Tahu-tahu sudah ada lima tenda kosong yang terbakar, lengkap dengan gerobak yang memuat lipatan tenda tidak terpakai.
__ADS_1
Sejumlah prajurit di area itu segera berkeluaran, berlarian untuk memadamkan api yang cepat membesar membumbung tinggi, sehingga bisa dilihat oleh semua penghuni perkemahan, termasuk mereka yang ada di sisi utara, sisi terjauh.
Sejumlah prajurit segera mengambil air dengan ember dari tong-tong kayu yang ada. Suasana mendadak ramai oleh teriakan-teriakan para prajurit untuk memadamkan api.
Seorang komandan segera datang ke lokasi.
“Kenapa bisa terbakar?” tanya sang komandan yang bernama Unggul Kerok.
“Tidak tahu, Gusti! Tiba-tiba saja sudah terbakar!” jawab serorang prajurit dengan berteriak keras, menunjukkan bahwa dirinya berperan penting dalam upaya memadamkan api.
Sudah menjadi trik di kalangan prajurit, agar dinilai berperan penting, seseorang perlu berteriak jika berbicara.
Plak!
“Tidak usah mengajak aku ribut!” bentak Komandan Unggul Kerok setelah menggampar wajah anak buahnya. Ternyata dia tersinggung dengan volume suara anak buahnya itu.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Tiba-tiba terdengar teriakan liar banyak lelaki dari dalam wilayah kegelapan di sisi selatan. Bisa dibayangkan bisingnya jika ada lima puluh orang berteriak liar dan keras seperti itu secara bersamaan.
Terkejut Komandan Unggul Kerok dan para prajurit yang mendengar teriakan massal dari dalam kegelapan itu. Mereka semua langsung memandang ke arah selatan yang sangat gelap.
Melihat kegelapan itu, suara-suara teriakan yang disertai dengan suara tertawa itu seolah-olah adalah teriakan setan-setan malam. Suasana itu justru membuat sebagian dari mereka merinding.
“Ayo kejar! Itu pasti Pasukan Gajah Besi yang menyusup!” teriak seorang prajurit pemberani.
Teriakannya ternyata menggerakkan rekan-rekannya yang merinding menjadi ikut berani. Para prajurit yang sudah bersenjata tombak dan bertameng segera bergerak untuk mengejar.
“Tahaaan!” teriak Komandan Unggul Kerok.
Teriakan itu membuat para prajurit berhenti berlari dan menengok ke arah komandannya.
“Itu hanya pancingan untuk menjebak kita! Tahan, jangan terpancing!” seru Komandan Unggul Kerok.
Patuhlah para prajurit itu.
“Kejaaar!” teriak seseorang tiba-tiba dari sisi kamp yang lain, yang agak jauh dari titik kebakaran.
“Kejaaar!” teriak banyak prajurit sambil berlari keluar dari lingkungan kamp, tapi itu prajurit pasukan di sisi lain.
__ADS_1
Ternyata seorang komandan lain yang mendengar suara berisik dari kegelapan selatan terpancing, sehingga dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar ke selatan. Ada ratusan prajurit yang berlarian ke selatan dengan membawa obor.
“Komandan Juluk kerbau!” maki Komandan Unggul Kerok kesal kepada rekan sepangkatannya, yang telah memerintahkan pasukannya mengejar suara-suara teriakan liar itu. (RH)