Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 78: Anak Halus


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Di saat ratusan Pasukan Kaki Gunung yang telah kehilangan komandannya mengalami ketegangan dan ketakutan, tiba-tiba atmosfer itu berubah ketika muncul pergerakan di luar dari pasukan mereka.


“Cepat!” teriak satu suara lelaki dari sisi lain.


Para prajurit itu sontak berpaling ke arah yang sama. Mereka melihat ada lima orang lelaki sedang berlari turun ke jalan yang menikung, lalu hilang di balik kontur tanah bersemak belukar.


Melihat lima orang asing yang mereka duga adalah musuh yang menyerang secara gaib, seketika naik amarah para prajurit itu. Ketakutan mereka hilang separuh dengan ketegangan yang tetap terpelihara.


“Kejaaar!” teriak Wakil Komandan histeris sambil berlari duluan.


Semua prajurit yang masih sehat serentak berlarian ramai-ramai mengejar kelima orang yang lari menghilang di balik jalan yang menurun.


Mereka yang terluka, tetap berusaha ikut. Mereka tidak mau ditinggal lalu dibunuh oleh hantu.


Ketika tempat itu kosong dari prajurit hidup, tiba-tiba muncul begitu saja sosok seperti setan berpakaian serba hitam, tapi sangat cantik. Sosok itu tidak lain adalah Murai Manikam. Dialah pelaku pembunuhan Komandan Jendol Kolot dan pasukannya.


Murai Manikam memiliki ilmu yang bernama Diam-Diam. Ilmu itu membuatnya bisa bersembunyi di ruang lain di tempat yang sama. Itu ilmu persembunyian yang sangat tinggi. Selevel Joko Tenang saja tidak bisa mendeteksi keberadaan Murai jika gadis perawan matang itu bersembunyi dengan ilmu Diam-Diam.


Murai Manikam adalah orang lain yang menyaksikan kelahiran Joko Tenang di Hutan Angker puluhan tahun yang lalu. Dia ada di lokasi kelahiran, tetapi tidak terlihat dan tidak diketahui oleh Prabu Anjas Perjanalangit, ayahnya Joko Tenang. Karena ilmu itulah Murai Manikam dijuluki Anak Halus. Demikian ceritanya.


Setelah muncul sejenak, tanpa beranjak dari tempat berdirinya, Murai Manikam kembali lenyap begitu saja. Sebenarnya tidak lenyap, tapi bersembunyi di ruang alam yang lain di tempat itu juga. Jangan salah paham.


Berhitung tidak tidak sampai satu menit, tempat itu kosong dari orang hidup, yang tersisa hanya mayat-mayat pelaku perang.


Drap drap drap...!


Dalam hitungan beberapa menit kemudian, datanglah Panglima Kidul Segara dan pasukannya yang berjumlah seribu prajurit.


Apa yang dia saksikan sungguh membuatnya menahan panas di dalam kepala dan dada. Pemimpin mana yang tidak marah melihat para prajuritnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Jika matinya husnul khatimah dan rapi mungkin tidak masalah, ini mati dalam kondisi jasad yang acak-acakan.


“Upil keparat! Siapa yang melakukan ini semua?!” teriak Panglima Kidul Segara murka.


Namun, tidak ada satu komandan pun, atau prajurit pun yang berani menjawab. Jika ada yang menjawab, dapat dipastikan akan salah.


Beberapa prajurit segera memeriksa kondisi mayat-mayat itu. Mungkin ada yang pura-pura mati atau sebaliknya, pura-pura hidup.


Panglima Kidul Segara menjalankan kudanya ke dekat posisi mayat Komandan Jendol Kolot dan memerhatikannya.


“Gusti Panglima, jejak pasukan menuju ke bawah!” lapor Komandan Takada Jono yang juga berkuda. Sepertinya dia berdarah japjaw (Japan Jawi), tapi masih perlu dikonfirmasi kepada yang bersangkutan.


“Bawa separuh pasukan mengejar!” perintah Panglima Kidul Segara.


“Siap, Gusti!” sahut Komandan Takada Jono.


Komandan itu segera memberi isyarat perintah kepada pasukannya. Maka sekitar lima ratus prajurit segera bergerak mengikuti lari kuda Komandan Takada Jono.


Sementara Panglima Kidul masih diam di punggung kudanya sambil menikmati kemarahannya. Dia berpikir, dirinya harus menyelesaikan dulu musuh yang menyerang pasukannya.

__ADS_1


“Periksa ke pinggir sungai!” perintah sang panglima.


“Siap, Gusti!” sahut Komandan Awur Abang.


Komandan yang satu itu lalu memerintahkan satu pleton pasukannya untuk pergi ke arah sungai.           


Tiba-tiba....


Bleduk!


Tiba-tiba kedua kaki depan kuda Panglima Kidul Segara menekuk jatuh terlutuk ke tanah. Panglima yang tidak siap, jadi terjorok ke depan dengan kepala lebih dulu yang jatuh menuju tanah.


Para prajurit yang melihat itu jadi terkejut, lalu disusul oleh keterkejutan yang lebih syok lagi.


Set! Duk!


Sebelum kepala Panglima menyentuh tanah, tahu-tahu kepala itu telah terpisah dari lehernya dan jatuh menggelinding menjauhi tubuhnya yang tersungkur di tanah.


“Gusti Panglimaaa!” teriak Komandan Awur Abang dan para prajurit yang melihat kejadian mengerikan itu.


Sesss!


Belum turun rasa syok mereka melihat kematian Panglima Kidul Segara, tiba-tiba mereka dikejutkan lagi dengan munculnya dua sinar merah berpijar yang diam melayang di udara setinggi pinggang. Kedua sinar merah itu berposisi berjauhan, tetapi berdekatan dengan posisi depan pasukan.


“Cepat mundur! Cep...!”


Bluar bluar!


Tak ayal lagi, puluhan prajurit berpentalan dengan berbagai kondisi.


Kematian Panglima Kidul Segara yang langsung disusul serangan dua energi sinar yang ledakannya dahsyat, seketika membuat mental Komandan Awur Abang dan pasukannya terpukul.


Blar! Ctar! Duar! Jleger...!


Entah mimpi apa satu pasukan itu tadi malam. Selesai dua ledakan tadi, tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan yang sangat ramai dari daerah selatan yang tidak bisa mereka jangkau dengan mata. Bermacam-macam suara ledakan terdengar seperti beberapa jenis bom diledakkan secara bersamaan.


Meski ledakan ramai itu tidak mereka saksikan, tetapi menjadi pertanda buruk bagi mereka.


“Aak! Akk! Akk...!”


Seiring suara ledakan yang begitu ramai di kejauhan, samar-samar Komandan Awur Abang dan pasukannya mendengar pekik jeritan banyak orang.


Drap drap drap!


Dari arah sungai, pasukan satu pleton kembali dengan berlarian membawa wajahnya masing-masing yang ketakutan. Mereka telah menyaksikan kematian para prajurit pengangkut air di pinggir sungai.


“Ko-ko-komodo!” teriak prajurit paling depan melapor kepada Komandan Awur Abang. “Ko-ko-komandan, ma-ma-maksudku. Lapooor!”


Sesss!

__ADS_1


Belum lunas laporan si prajurit, tiba-tiba dua sinar merah berpijar kembali muncul menjadi momok yang menakutkan bagi para prajurit.


“Munduuur!” teriak Komandan Awur Abang sambil buru-buru menggebah kudanya untuk meninggalkan tempat itu.


“Aaa...!”


Tiba-tiba lagi, terdengar teriakan ramai orang dari balik jalan yang menurun.


“Munduuur! Musuh dataaang!” teriak Komandan Awur Abang yang semakin bingung dan kacau perasaannya, sama kacaunya dengan kondisi pasukannya.


Pasukan Kaki Gunung itu lari kocar kacir menjauhi tempat itu. Mereka hendak pulang ke pasukan utama.


Bluar bluar!


Kembali dua ledakan energi dahsyat terjadi saat dua sinar merah melesat menghantam secara acak pasukan yang paling belakang berlari.


“Aaa...!” teriak ramai prajurit Pasukan Kaki Gunung yang muncul dari balik jalan menurun dan ramai-ramai berlari agak mendaki. Mereka berlari sambil berteriak karena ketakutan.


Mereka terkejut pula melihat kondisi tempat itu. Semakin kacau kondisinya.


Itu adalah pasukan yang tadi dipimpin oleh Komandan Takada Jono. Entah apa yang terjadi dengan mereka.


Pasukan itu terus berlari menyusul pasukan yang lari kocar-kacir meninggalkan tempat itu.


Namun, tidak terlihat Komandan Takada Jono di antara para prajurit yang kabur mundur.


Tiba-tiba sosok Murai Manikam muncul begitu saja seperti keluar dari balik udara.


“Apa yang terjadi, Prajurit?” tanya Murai Manikam kepada prajurit yang sedang berlari. Dia iseng bertanya.


“Hantuuuu! Lariii!” teriak satu prajurit yang otomatis memengaruhi seluruh rekannya. Mereka kian terbirit-birit berlari.


Ratusan prajurit yang tersisa itu akhirnya habis pergi. Namun, tidak berapa lama.


“Woi woi! Jangan lari! Perang belum selesai!”


“Tunggu aku, Prajurit Pengecut!”


“Jangan lari kalian! Aku belum puas!”


Beberapa teriakan terdengar garang dan marah-marah, tapi tidak disertai suara lari manusia. Namun, teriakan-teriakan itu terdengar mendekat dan ada di balik jalan yang menurun.


Tidak berapa lama, muncullah puluhan lelaki berpakaian pendekar. Mereka hanya berjalan, tidak berlari atau seperti orang yang berlari mengejar.


“Hahaha!” tawa mereka ketika melihat keberadaan Murai Manikam di tempat itu.


“Pokoknya habis para prajurit itu,” kata Dengkul Baga kepada Murai Manikam.


“Kepala siapa itu?” tanya Sebilah Rengkuh sambil menunjuk kepala Panglima Kidul Segara dengan ujung toyanya.

__ADS_1


“Itu panglima mereka. Pasukan itu sudah kehilangan kepalanya. Mereka akan bingung. Jikapun mereka melanjutkan perjalanan ke timur, mereka akan terlambat. Apalagi jika sampai bertemu dengan Pasukan Ular Gunung,” kata Murai Manikam. (RH)


__ADS_2