
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Prabu Dira Pratakarsa Diwana datang dari sisi dalam Istana Ratu Serigala dengan digandeng tangannya oleh permaisuri mungilnya, Permaisuri Sandaria. Wanita bermata tertutup tapi tersenyum lebar itu seolah-olah ingin menunjukkan kemesraannya kepada para madunya, yang sudah kebal dengan provokasi semacam itu. Namun, entah kalau pelaku provokasi itu non muhrim.
Meski sudah beranak satu, tetapi tingkah kemanjaan Permaisuri Sandaria tetap terpelihara dengan baik. Meski buta, kemanjaan Permaisuri Sandaria terkesan genit. Namun, meski terkesan genit, tetapi tetap saja terlihat lucu bagi para istri lain sang prabu.
Kecuali Permaisuri Nara, Ratu Tirana dan istri yang lain hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Permaisuri Serigala.
Kedatangan Prabu Dira disambut dengan berdirinya semua istri. Sambil tersenyum manis yang bagi istrinya tetap manis meski sudah kenyang menikmati selama sepuluh tahun, Prabu Dira menyalami istrinya satu demi satu. Tentu salamnya bukan bersalaman tangan, tetapi salam ciuman bibir tanpa gerakan merujak. Semua ciuman kadar dan porsinya sama, agar tidak ada merasa terlebihkan atau merasa terkurangkan.
Itu salam khusus jika tidak di muka umum. Jika di muka umum tentunya hanya kecup kening. Para pelayan yang mendampingi para junjungannya dianggap obat nyamu bakar.
Prabu Dira lalu duduk di sisi ratunya.
“Bagaimana kabar kalian ditinggal olehku beberapa pekan?” tanya Prabu Dira sembari tersenyum.
“Rindu. Hihihi!” jawab Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Kusuma Dewi bersamaan. Lalu mereka tertawa heboh sendiri, membuat Ratu dan permaisuri lainnya ikut tertawa lebih rendah.
“Bagaimana kabar Kakak Permaisuri Geger Jagad dan Putra Mahkota, Kakang?” tanya Ratu Tirana lembut.
“Tentunya salam dari saudara kalian Permaisuri Geger Jagad untuk kalian. Untuk sementara ini, Permaisuri Geger Jagad belum bisa pulang karena dia sedang membantu Raja Istana Kabut Kuning berperang dan menguatkan pertahanan kerajaan itu,” kata Prabu Dira.
“Berarti Kakak Permaisuri Geger Jagad akan lama baru kembali,” kata Permaisuri Sandaria.
“Itu lebih baik. Dia di sini hanya mengurung diri. Di Kerajaan Kabut Kuning dia lebih berguna bagi orang satu negeri,” kata Permaisuri Nara.
Ratu Tirana dan Permaisuri Ginari manggut-manggut tanda membenarkan perkataan Permaisuri Nara.
Memang, selama sepuluh tahun tingal di Kerajaan Sanggana Kecil, Permaisuri Dewi Ara alias Permaisuri Geger Jagad jarang sekali berbaur dengan Ratu dan para permaisuri yang lain, dia lebih memilih menyepi diri di dalam istananya. Bahkan ketika menjadi ratu, Permaisuri Geger Jagad juga jarang muncul jika tidak untuk mengurusi perkara super penting.
“Bagaimana dengan Putra Mahkota setelah ikut mengembara ke seberang lautan?” tanya Permaisuri Kusuma Dewi antusias.
“Tambah sakti. Dia bahkan memimpin perang laut,” kata Prabu Dira.
“Hah! Memimpin perang di laut?” kejut Permaisuri Kerling Sukma.
__ADS_1
“Memang yang memimpin adalah Permaisuri Geger Jagat, tetapi Arda Handara sebagai rajanya,” jelas Prabu Dira.
“Hah! Raja?” kejut Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Kusuma Dewi bersamaan, mewakili keterkejutan Ratu Tirana dan permaisuri lainnya.
“Bagaimana bisa anak sepuluh tahun menjadi raja?” tanya Permaisuri Nara.
“Raja Istana Kabut Kuning telah dibunuh oleh Kerajaan Puncak Samudera, sehingga menyisakan putri mahkota yang ternyata usianya baru empat belas tahun....”
“Aku kira putri mahkota Negeri Pulau Kabut adalah wanita dewasa,” kata Ratu Tirana memotong kata-kata Prabu Dira.
“Ketika Permaisuri Geger Jagad ingin kembali pulang karena bantuan kita sudah selesai dan berhasil membebaskan Negeri Pulau Kabut, mereka masih takut dengan serangan balasan dari Kerajaan Puncak Samudera. Maka hasil dari perundingan antara Permaisuri Geger Jagad dengan Keluarga Istana Kabut Kuning, Pangeran Arda Handara dinikahkan dengan Putri Mahkota....”
“Apa?!”
Kali ini hampir semua istri itu memekik terkejut, kecuali Permaisuri Nara.
“Pangeran Arda Handara menikah dengan Putri Mahkota yang empat tahun lebih tua darinya?” tanya Permaisuri Kusuma Dewi.
“Hihihi! Putri Mahkota pasti dapat burung mungil,” kata Permaisuri Sandaria yang tertawa membayangkan apa yang dialami oleh Pangeran Arda Handara yang sudah menikah di usia sepuluh tahun.
“Hihihi!” tawa Permaisuri Ginari dan Permaisuri Yuo Kai mendengar perkataan Permaisuri Sandaria.
“Hihihi...!” Permaisuri Sandaria terus tertawa mendengar perkataan sang ratu. Lalu katanya, “Kita akan segera menimang cucu. Hihihi!”
“Kalian tidak perlu khawatir tentang itu. Permaisuri Geger Jagad sudah membuat aturan. Suami istri kecil itu baru boleh main ranjang jika usia mereka sudah dewasa. Meski mereka berstatus sebagai suami istri, mereka hanya sebatas mengikat cinta dan ibunya mengawasi dengan ketat,” jelas Prabu Dira.
Legalah Ratu Tirana dan para permaisuri.
“Dengan pernikahan tersebut, Permaisuri Geger Jagad bisa memiliki alasan untuk tetap tinggal di Negeri Pulau Kabut dan negeri itu juga bisa memiliki seorang raja. Tapi menurutku, Arda Handara akan lebih ganas daripada aku tentang urusan wanita. Selain sudah beristri di usia kecil, ternyata di Negeri Orang Separa, negerinya orang-orang kerdil, ada tiga gadis yang sudah mengantri untuk dinikahi oleh Arda Handara,” kata Prabu Dira.
“Hah! Apa?!” pekik semua istri itu kian terkejut, termasuk Permaisuri Nara. Kali ini Permaisuri Guru tidak bisa menahan ekspresinya. Sementara Permaisuri Sandaria tidak tertawa lagi.
“Hahaha!” Hanya Prabu Dira yang tertawa kencang.
“Kakang Prabu jangan bergurau,” tukas Permaisuri Nara.
“Tidak. Aku tidak bergurau. Aku hanya tertawa melihat reaksi kalian,” tandas Prabu Dira.
__ADS_1
“Terserah Putra Mahkota nanti mau istri berapa. Aku tidak peduli. Yang aku peduli, jika Pangeran Arda sudah menjadi raja di Negeri Pulau Kabut, lalu siapa putra mahkota di Sanggana Kecil?” kata Permaisuri Kerling Sukma serius.
“Aku sudah membicarakan hal itu dengan Permaisuri Geger Jagad. Gelar Putra Mahkota tetap melekat pada Pangeran Arda, meski dia sekarang sebagai raja muda di Negeri Pulau Kabut. Ketika dia dewasa, barulah keputramahkotaannya akan kita bahas secara serius,” jawab Joko Tenang.
“Bagaimana dengan hasil penyamaran Kakang Prabu di Kerajaan Pasir Langit?” tanya Permaisuri Nara mengalihkan topik pembicaraan, padahal mereka masih ingin mendengar kejutan-kejutan kabar dari Pangeran Arda Handara.
“Tidak berjalan baik. Prabu Galang Digdaya cukup pintar dan sombong. Rasa curiganya tinggi. Semua tawaran kerja sama kita ditolaknya. Ketika aku mencoba masuk dengan cara menawarkan kayu sonokeling yang kita miliki, dia pun langsung curiga karena aku mengaku berasal dari Hutan Malam Abadi. Pada saat yang sama, ternyata ada musuh yang ingin membunuh Putri Ani Saraswani, putri Prabu Galang,” papar Prabu Dira.
“Dan Kakang Prabu menolong putri cantik jelita itu, kemudian putri dari Prabu Galang itu jatuh cinta kepada Kakang Prabu?” tanya Permaisuri Nara menerka.
Deg!
Terkejut Joko Tenang di dalam hati mendengar tebakan istri tuanya yang awet muda itu. Bukan hanya Prabu Dira yang terkejut, tetapi juga Ratu Tirana dan para istri yang lain. Namun, belum lagi Prabu Dira menduga-duga, Permaisuri Nara sudah berkata lagi.
“Keterkejutan hati Kakang Prabu membenarkan terkaanku,” kata Permaisuri Nara.
“Aku tidak bisa membohongimu, Permaisuriku,” kata Prabu Dira kepada Permaisuri Nara. “Tapi aku sudah meninggalkannya agar putri itu menganggapku lelaki yang tidak layak.”
“Apakah putri itu tahu bahwa Kakang Prabu adalah Raja Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Permaisuri Yuo Kai.
“Tidak. Dia hanya tahu bahwa aku adalah penjual kayu yang tampan, sakti, suka menolong dan tidak sombong,” jawab Prabu Dira yang membuat Ratu Tirana dan Permaisuri Ginari tersenyum lebar.
“Jika cara itu gagal, lebih baik kita serang saja Kerajaan Pasir Langit. Kita menang, kita kuasai. Selesai,” usul Permaisuri Kerling Sukma.
“Perang akan memakan banyak korban. Itu hanya cara terakhir,” tegas Prabu Dira. “Aku menyewa jasa pengantar barang yang bernama Pengirim Lintas Dunia ke Kadipaten Hutan Malam Abadi. Mereka akan memimpin pengiriman kayu-kayu kita masuk ke wilayah Kerajaan Pasir Langit. Tadi aku turun menemui Pasukan Hantu Sanggana di tengah jalan. Aku memerintahkan mereka untuk bergabung dengan orang-orang Pengirim Lintas Dunia. Sebelum Reksa Dipa datang menemuiku di ibu kota Kerajaan Pasir Langit, aku sudah pulang. Jadi, aku belum mendapat kabar tentang hasil pencarian Garis Merak dan orang-orangnya.”
“Lalu, bagaimana caranya agar rencana kita terwujud, Kakang Prabu?” tanya Ratu Tirana.
“Aku berencana untuk menyusupkan para pendekar Pasukan Hantu Sanggana ke ibu kota Digdaya dan Pantai Segadis di saat suasana ibu kotanya sudah tenang. Mereka sedang sibuk mengamankan pusat pemerintahan dari para pendekar asing. Oh ya, Permaisuri Serigala. Kirim telik sandimu untuk mengumpulkan informasi di Istana Kerajaan Pasir Langit dan untuk menjadi penyambung lidahku kepada Garis Merak dan kelompoknya.”
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Permaisuri Sandaria yang rangkap jabatan sebagai Menteri Keamanan dan Telik Sandi.
“Cara itu terlalu lama. Jika kau dekat dengan putri itu, lebih baik manfaatkan saja dia,” kata Permaisuri Nara.
“Maksud, Permaisuri Guru?” tanya Permaisuri Kerling Sukma cepat karena dia curiga dengan kata-kata gurunya yang menjadi madunya itu.
“Kakang Prabu lebih tahu tentang maksudku,” kata Permaisuri Nara penuh tanda tanya.
__ADS_1
Prabu Dira justru terbeliak dan mengangkat kedua alisnya. (RH)