
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Ternyata kepulangan Rincing Kila ke Istana Pasir Langit lebih dulu dibandingkan oleh Putri Ani Saraswani. Pengawal itu justru kebingungan mencari majikannya karena dia sebelumnya tidak tahu bahwa sang putri juga pergi.
Rincing Kila mendapat kabar dari Komandan Ati Urat bahwa sang putri juga menghilang setelah kepergiannya.
Berbeda dengan Prabu Galang Digdaya yang merasa telah menjadi korban tipu-tipu dari Prabu Dira Pratakarsa Diwana. Pertama, dengan bebas Prabu Dira berada di Ibu Kota. Prabu Galang merasa kerajaannya telah diobok-obok oleh sorang raja sakti dari kerajaan lain. Kedua, dia masih menganggap Prabu Dira telah memanfaatkan Putri Ani Saraswani yang lugu dan memperkosanya, sehingga kini sang putri menghilang.
Prabu Galang sedikit pun tidak terpengaruh tentang cerita rumah tangga Prabu Dira yang bahagia dan harmonis dengan banyak istri yang cantik-cantik dan sakti-sakti. Baginya itu hanya cerita dongeng untuk mengelabui dunia luas dan menjerat gadis lugu dan cantik jelita seperti putrinya.
Sebelumnya, sempat ada beberapa laporan telik sandi yang menyatakan mereka melihat keberadaan sang putri yang sedang berkuda menuju pulang, tanpa diketahui pulang dari mana. Namun, hingga hari itu, Putri Ani tidak kunjung terlihat kuku kakinya.
“Bagaimana jika putri kita hamil di luar pernikahan, Kakang Prabu?” tanya Permaisuri Titir Priya cemas, setelah Prabu Galang Digdaya curhat kepada istrinya tentang cerita Rincing Kila. “Daripada menjadi aib besar bagi Istana, aku lebih setuju jika putri kita dinikahkan dengan Prabu Dira.”
“Tidak, Prabu Dira telah mensiasati aku. Dia sengaja mengirim istri dan mahapatihnya. Di saat yang sama, dia justru berkeliaran di dekat istanaku dan berpura-pura menjadi penjual kayu. Yang lebih menyakitkan hatiku, meski aku tidak akur dengan putriku, prabu mata keranjang itu juga menjamah tubuh putriku dengan seenaknya. Jangan-jangan dia orang di belakang pembunuhan kedua menteriku. Adegan penyelamatannya terhadap Ani hanyalah sandiwara belaka, agar dia terlihat sebagai seorang pahlawan,” kata Prabu Galang Digdaya. “Aku benar-benar ingin menantangnya bertarung.”
“Bukankah Kakang Prabu mengatakan sudah mencurigai Mahapatih Olo Kadita sebagai dalang dari pembunuhan itu? Buktinya, adiknya Sangka Ulet kini diatur menggantikan posisi mendiang Aduh Mantang dan Menteri Perdagangan Hasil Laut kini dijabat oleh Ampi Dewata, kakak ipar dari istrinya,” bantah Permaisuri Titir Priya.
Memang, beberapa hari setelah kematian kedua menterinya, Prabu Galang mengangkat pangkat Sangka Ulet menggantikan mendiang Aduh Mantang sebagai Menteri Ketahanan Pangan dan Ampi Dewata sebagai Menteri Perdagangan Hasil Laut, menggantikan posisi mendiang Balelewa. Kedua orang itu direkomendasikan oleh Mahapatih Olo Kadita dan Prabu Galang Digdaya menyetujui.
__ADS_1
Selama ini, Mahapatih Olo Kadita adalah salah satu orang kepercayaan Prabu Galang. Namun, saat melihat orang pertama non keluarga yang mengunjungi Pangeran Tirta Gambang adalah Rayu Pelangi, putri dari sang mahapatih, Prabu Galang seketika menaruh curiga kepada mahapatihnya.
Prabu Galang Digdaya pun kemudian mencari penguatan atas kecurigaannya. Dengan kematian dua menteri, terbukti dua anggota keluarga besar Mahapatih Olo Kadita bisa naik menjadi menteri. Mungkin jika Menteri Badaragi berhasil dibunuh juga, kakak ipar Mahapatih yang saat ini menjadi bawahan sang menteri akan dipromosikan juga sebagai menteri pengganti. Itu analisa Prabu Galang yang terbaru.
Selain itu, Mahapatih Olo Kadita juga tahu tentang beberapa jalan rahasia di dalam lingkungan Istana, termasuk jalan rahasia dekat Kolam Merah yang digunakan pembunuh melarikan diri usai membunuh Menteri Balelewa.
Mahapatih Olo Kadita pun memiliki akses yang luas ke wilayah Kerajaan Teluk Busung. Itu karena selama ini Prabu Galang mempercayai sang mahapatih untuk mengirim utusan ke Perguruan Tunas Mahkota dan untuk perkara penting lainnya.
Namun, Prabu Galang tidak mau langsung bertindak karena dia ingin juga membasmi para orang bayaran yang berasal dari Kerajaan Teluk Busung.
“Bisa saja Prabu Dira bersekongkol dengan Mahapatih Olo,” tandas Prabu Galang.
“Jika Ani menjadi istri kedua belas Prabu Dira, kira-kira apa yang akan terjadi?” tanya Prabu Galang, bernada melunak. Sepertinya ada masukan dari istrinya yang diamini oleh otaknya.
“Putri kita tidak akan menjadi pewaris tahta dan akan beralih kepada Pangeran Tirta. Kakang Prabu dan aku akan menjadi mertua Prabu Dira. Kerajaan kita akan memiliki sekutu yang sangat kuat. Tidak mungkin Prabu Dira akan merebut kekuasaan milik mertuanya. Dan kemungkinan besar putri kita akan melupakan dendamnya kepada Kakang Prabu,” jawab Permaisuri Titir Priya.
Prabu Galang Digdaya terdiam sambil memonyongkan kedua bibirnya. Setelah itu dia manggut-manggut.
“Jika Kakang Prabu khawatir kekuasaan Kerajaan Pasir Langit digerogoti oleh Kerajaan Sanggana Kecil, Kakang Prabu bisa mengajukan perjanjian,” kata Permaisuri Titir Priya lagi.
“Tapi harga diriku akan tercoreng. Aku raja sakti, sangat memalukan jika harus menyerah dengan keadaan,” tandas sang prabu.
__ADS_1
“Kehormatan Kakang Prabu akan lebih tercoreng jika kita terlambat menyelamatkan perut putri kita. Yang utama sekarang adalah menemukan Ani, memingitnya, dan memastikannya apakah dia hamil atau tidak. Prabu Dira bukanlah lelaki yang mandul. Jadi pusakanya perlu dicemaskan jika masuk kepada wanita yang bukan istrinya. Apalagi anak kita adalah putri mahkota saat ini,” kata sang permaisuri.
“Telik sandi sudah melihat keberadaannya menuju pulang ke Ibu Kota, tetapi kenapa dia tidak muncul-muncul?” ucap Prabu Galang.
Lalu di manakah Putri Ani Saraswani? Jika menghitung waktu, seharusnya dia yang lebih dulu pulang ke Istana dibandingkan Rincing Kila.
Putri cantik jelita itu memang belum kembali ke Istana, tetapi sebenarnya dia sangat dekat dengan Ibu Kota.
Sekedar bocoran, sebenarnya Putri Ani Saraswani berada di sekitar Muara Jerit. Bukan di air muaranya atau di Rumah Makan Muara Jerit, tetapi di dalam hutan seberang muara atau sungai.
Di dalam hutan yang sering ada monyet bibir putih jejeritan, sang putri sedang uzlah alias mengasingkan diri. Sudah tiga hari dia kemping di hutan tersebut, tapi tidak jauh dari tepian muara. Dia bahkan sesekali iseng memandang ke arah Rumah Makan Muara Jerit yang tetap beraktivitas meski tanpa dirinya.
Jika Putri Ani bersembunyi di hutan itu, jelas tidak ada telik sandi kerajaan yang akan menemukannya.
Di hutan itu, sang putri melakukan perenungan dan meratapi nasib cintanya yang semrawut. Namun, kondisi psikis itu tidak sampai membawanya ke dalam kondisi gelap pikiran. Dia seorang putri dan seorang yang terpelajar.
Namun keesokan paginya, ada satu hal yang membuatnya terkejut. Ketika dia sedang ke pinggir muara untuk mengambil air, ketika pandangannya memandang ke seberang, dia melihat ada seseorang berambut panjang lurus dan berompi merah terang, sedang duduk di bagian pinggir Rumah Makan Muara Jerit, tepatnya di tempat Putri Ani dan Rincing Kila pernah mendapat serangan. Kala itu rumah makan belum beroperasi karena tidak menjual sarapan.
“Joko!” sebut Putri Ani lirih.
Seketika itu juga muncul rasa bahagia yang besar di dalam hati Putri Anim karena selama beberapa hari ini dia memendam rindu yang teramat sangat. Namun pada saat yang bersamaan, pikirannya juga membuatnya marah dan bingung. Maka tergado-gadolah otak dan hati Putri Ani. (RH)
__ADS_1