
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Hancurkaaan!” teriak Panglima Raksasa Biru lantang membahana sambil menunjuk pasukan yang posisinya lebih tinggi.
“Seraaang!” teriak para komandan pembawa panji-panji Pasukan Gajah Besi.
“Eeeaaakkkrrr!” teriak para prajurit Pasukan Gajah Besi menyeramkan, sambil serentak bergerak maju berlari dan berlompatan dengan sangat cepat.
Seperlima dari Pasukan Gajah Besi berlari serentak, bahkan ada yang melompat-lompat seperti seekor monyet, tapi sebenarnya lebih mirip seekor pendekar.
Terbeliak Panglima Untut dan pasukannya melihat cara bergerak para prajurit pasukan musuh.
“Perkuat barisan pertahanan!” teriak Panglima Untut kepada pasukannya.
Brek!
Hanya dengan satu gerakan serentak yang menimbulkan suara keras, dua barisan terdepan membentuk formasi benteng kokoh dengan perisai besarnya.
Barisan pertama Pasukan Kaki Gunung menutupi dirinya dengan tameng yang rapat. Rapat ke tanah dan rapat ke samping. Sementara tombak terulur panjang lurus ke depan. Jika ada yang menabrak, bisa dipastikan akan tertusuk tombak.
Barisan kedua merapatkan diri ke belakang barisan pertama. Perisai besar mereka diangkat dan diposisikan miring di atas kepala-kepala mereka, sementara tombak-tombak mendongak miring ke atas.
Formasi itu seperti benteng kokoh tanpa celah angin dan berpayung pada atas kepala.
Ternyata, pergerakan enam ratus prajurit Pasukan Gajah Besi tidak langsung menyerang. Separuh dari mereka yang bergerak, tiba-tiba berhenti di titik yang sudah masuk jangkauan anak panah.
Dengan cara berkelompok-kelompok, para prajurit bercangkang besi itu melakukan posisi merunduk seperti berdirinya binatang berkaki empat. Jadi banyak tercipta kumpulan-kumpulan cangkang besi.
Kolompok di sisi belakang membangun kelompok cangkang yang lebih rendah, kelompok di depannya agak lebih tinggi, dan yang paling depan terdiri dari formasi tumpukan, sehingga lebih tinggi lagi.
Panglima Untut dan pasukannya tidak bisa menerka apa yang akan dilakukan oleh barisan depan Pasukan Gajah Besi. Kenapa mereka justru membuat formasi seperti pertahanan juga.
“Panah!” teriak Panglima Untut kepada pasukan panah di tanah tinggi samping kanan pertahanan.
Set set set...!
Ratusan prajurit panah yang sudah siap tinggal melepas ekor panahnya masing-masing.
Teng teng teng...!
__ADS_1
Hujan panah terjadi yang menghujani formasi cangkang Pasukan Gajah Besi yang berada dalam jarak jangkauan panah. Terdengar suara nyaring banyaknya dentingan besi ketika mata anak panah yang juga berbahan besi mengenai cangkang-cangkang besi.
Hasilnya, tidak ada satu pun anak panah yang bisa menembus pertahanan cangkang besi.
“Eeeaaakkkrrr!” teriak separuh dari pasukan yang masih berlarian mendatangi formasi cangkang.
Dak dak dak...!
Ratusan prajurit berbadan besar dan bercangkang besi di punggungnya, berlari dan melompat naik ke formasi cangkang besi. Di atas formasi itu, mereka berlari sebanyak dua langkah, lalu melompat ke atas formasi cangkang nomor dua yang lebih tinggi, lalu berlanjut melompat ke cangkang nomor tiga yang lebih tinggi.
Dari formasi cangkang nomor tiga yang terdiri dari tumpukan kokoh para prajurit, prajurit yang berlari melakukan lompatan yang tinggi mengudara dan jauh ke depan.
Aksi itu dilakukan oleh ratusan prajurit yang terbang menyerbu benteng perisai yang bertombak panjang-panjang. Itu seperti aksi bunuh diri demi mendobrak pertahanan musuh.
Ada satu kondisi yang perlu dijelaskan dan merupakan kemampuan wajib bagi setiap prajurit Pasukan Gajah Besi.
Ketika formasi cangkang nomor tiga dibuat, para prajurit terdepan yang posisinya berhadapan langsung dengan pasukan terdepan musuh, mereka setengah berdiri. Ingat, semua prajurit Pasukan Gajah Besi tidak memakai pelapis besi untuk badan depannya, sehingga sisi depan mereka terbuka tanpa pelindung.
Kondisi itu sangat jelas memancing pasukan benteng tameng berinisiatif melemparkan tombak untuk menombak prajurit musuh yang diam dalam formasi, sementara badan depannya terbuka.
Namun, Panglima Untut dan pasukannya hanya bisa terkejut setelah melihat sejumlah tombak mengenai dada atau perut prajurit Pasukan Gajah Besi. Tombak-tombak itu jatuh ke tanah tanpa ada yang menancap di tubuh prajurit. Kesimpulannya, ternyata badan depan mereka kebal. Pantas saja badan depan para prajurit Pasukan Gajah Besi itu tidak berpelindung, beda dengan kepala, punggung dan anggota tubuh lainnya.
Kembali kepada para prajurit Pasukan Gajah Besi yang berlari menaiki atas formasi cangkang, yang puncaknya mereka berlompatan terbang jauh. Ratusan orang berlesatan sambil berteriakan seperti setan-setan sedang beranak, sangat berisik.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!”
Bruakr! Bruakr! Bruakr!
Belum lagi pasukan panah melepaskan panahnya, belasan sosok bercangkang besi sudah lebih dulu sampai kepada mereka, menghantam seperti peluru-peluru raksasa.
Para prajurit Gajah Besi menghantam barisan pasukan panah dengan beberapa gaya. Ada yang menghantam dengan mengedepankan cangkangnya, ada yang main tabrak saja dengan badan depannya, ada yang main sepak, dan ada yang langsung pukul alias menancapkan mata tombak di tinju tangannya. Yang pasti, tidak ada gaya kupu-kupu, apalagi gaya enam sembilan.
Pasukan panah itu dibuat berantakan oleh hantaman-hantaman tubuh yang sangat keras. Bukan lagi seperti dihantam sapi atau kerbau, tapi seperti diseruduk gajah hamil.
Set set set...!
Masih ada prajurit panah yang sempat melepaskan panahnya kepada prajurit cangkang yang datang, tetapi panah-panah yang mengenai dada dan perut musuh berpentalan karena kebal.
Gelombang serangan itu datang bersusulan hingga mencapai puluhan orang.
__ADS_1
Setelah menabrak pasukan panah, puluhan prajurit Gajah Besi langsung mengamuki prajurit panah Pasukan Kaki Gunung.
Ada perlawanan dari para prajurit pasukan panah. Meski mereka terlempar oleh hantaman, tetapi mereka juga cepat bangkit lalu mencabut pedang. Pertempuran sengit pun terjadi di atas tanah tinggi.
Tang ting tang ting...!
Terdengar nyaring suara peraduan pedang dan besi perisai.
Tuk!
Seorang prajurit Kaki Gunung berhasil menusuk perut seorang prajurit Gajah Besi. Prajurit Kaki Gunung mendelik terkejut karena ujung pedangnya tidak bisa menembus kulit perut lawannya.
“Weaaakkrr!” teriak prajurit Gajah Besi dengan mata melotot dan pamer lubang-lubang gigi gerahamnya kepada lawan.
Tsuk!
“Akk!” jerit prajurit Kaki Gunung saat prajurit Gajah Besi maju cepat menonjok dadanya yang berpelindung rompi kulit tebal.
Namun, tinju prajurit Kaki Gajah yang bertombak sanggup menembus lapisan kulit tersebut hingga menusuk dada.
Seperti itulah salah satu contoh pertarungan prajurit kedua pasukan.
Para prajurit pasukan panah gugur satu demi satu oleh tinju-tinju bertombak dari prajurit Gajah Besi.
Selain kalah tenaga, pasukan panah juga kalah kesaktian, kalah alat peindung dan kalah spirit. Meski jumlah prajurit Gajah Besi yang menyerang mereka jauh lebih sedikit, tetapi mereka yang jumlahnya ratusan prajurit dibuat kacau balau. Pakaian lapis kulit mereka tidak sanggup melindungi dengan sempurna dari tinju-tinju tombak yang kuat.
Sementara itu di sisi lain.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!”
Bdruakk bdruakk bdruakk...!
Selain berisik suara teriakannya, suara hantaman tubuh prajurit-prajurit Pasukan Gajah Besi ke barisan benteng perisai Pasukan Kaki Gunung juga terdengar keras. Bukan hanya satu hantaman, tapi puluhan hantaman.
Uniknya para prajurit Gajah Besi yang menyerang ke benteng perisai, mereka meringkukkan tubuhnya dengan punggung diarahkan ke barisan musuh, yang artinya mengedepankan cangkang besinya.
Jika diurai secara slow motion, kejadiannya seperti ini.
Prajurit-prajurit berotot besar itu memeluki kedua lututnya saat di udara, sehingga pose mereka seperti janin dalam rahim emaknya. Jadi, ketika mereka menghantam benteng perisai, cangkang besi yang menghantam di saat tubuhnya berlindung di balik cangkang agar terhindar dari tusukan tombak.
__ADS_1
Ketika cangkang menghantam benteng perisai yang rapat, otomatis mereka terkena mata tombak yang menjulur seperti duri-duri raksasa. Namun, karena yang ditusuk oleh tombak-tombak itu adalah besi berbidang cembung, maka tombak akan terpeleset dan cangkang besi akan terus masuk di antara sela-sela tombak sehingga menghantam perisai. Kondisi itu terjadi sama pada setiap hantam.
Pasukan Kaki Gunung barisan terdepan dan kedua seperti sedang dihantami oleh peluru batu manjanik yang dilempar dari jauh. Pertahanan kuda-kuda dan kekuatan berjemaah mereka terguncang hebat. (RH)