Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Setibanya di dalam lingkungan Istana, Putri Ani Saraswani tidak langsung menuju ke Wisma Keputrian, tapi menuju ke sisi ujung barat Istana. Di sana ada Wisma Penyelidik Istana.


Setibanya di halaman Wisma Penyelidik Istana, Putri Ani turun dari kudanya. Para prajurit jaga segera menjura hormat.


Putri Ani langsung menuju ke pintu dari bangunan terbesar yang ada di wisma tersebut. Rincing Kila mengikuti dengan membawa dua bilah pedang tanpa sarung maupun celana.


Sementara Pasukan Pengaman Putri berdiri dalam barisan di halaman wisma. Mereka tetap rapi, meski napas mereka memburu dan wajah berkeringat setelah berlari mengikuti sang putri.


Ketika Putri Ani dan Rincing Kila berjalan masuk melewati dua prajurit yang menjura hormat, tampak Rempak Tujuh sedang berjalan menyongsong, sepertinya dia sudah diberi tahu leih dulu bahwa Putri Ani datang.


“Sembah hormatku, Gusti Putri,” ucap Rempak Tujuh dan dua orang asistennya.


“Bangunlah, Kepala!” perintah Putri Ani.


Rempak Tujuh dan kedua asistennya kembali tegak.


Putri Ani memberi perintah kepada Rincing Kila dengan gerakan wajahnya.


Rincing Kila menyodorkan dua bilah pedang dengan dua tangan kepada si lelaki. Rempak Tujuh mengambilnya dan memerhatikan langsung ke pangkal bilah. Sepertinya dia sudah mengerti maksud dari Putri Ani.


“Pedang ini buatan Penempa Busur di wilayah Kerajaan Teluk Busung. Pedang ini sama seperti pedang yang membunuh Menteri Balelewa,” kata Rempak Tujuh. “Apakah ini pedang orang yang telah menyerang Gusti Putri?”


“Apakah kalian sudah mengetahui siapa yang membunuh Paman Aduh Mantang dan Paman Balelewa?” Putri Ani justru balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rempak Tujuh.


“Hanya dugaan kuat, Gusti Putri. Gusti Prabu sangat menduga orang di balik penyerangan ini adalah Gusti Pangeran Tirta Gambang,” jawab Rempak Tujuh jujur.


“Apakah hanya berdasarkan bukti pedang kalian menuduh adikku?” tanya Putri Ani lagi.


“Bukti kedua adalah pembunuh Menteri Balelewa meloloskan diri lewat lorong rahasia yang ada di dekat Kolam Merah. Dari orang-orang yang mengetahui jalan rahasia itu, hanya Gusti Pangeran yang terhubung dengan wilayah Teluk Busung,” jelas Rempak Tujuh.


“Awalnya aku sangat yakin bahwa pembunuh yang kami bunuh telah berbohong dengan menyebut adikku sebagai orang yang memerintah mereka. Namun, mengetahui asal para pembunuh itu, aku jadi ragu. Namun, adikku sibuk berguru di Lembah Gelagah dan dia tidak dibekali harta banyak. Dengan apa dia membayar para pembunuh itu?” kata Putri Ani.


“Apa yang Gusti Putri katakan memang benar. Namun, semua itu akan menjadi jelas setelah Gusti Pangeran dihadapkan kepada Gusti Prabu,” tandas Rempak Tujuh.


“Maksudmu, Ayahanda mengirim orang untuk menjemput adikku?” tanya Putri Ani.


“Benar, Gusti Putri,” jawab Rempak Tujuh.


“Rempak Tujuh, apakah kau percaya bahwa adikku tega membunuhku?” tanya Putri Ani.

__ADS_1


“Hamba tidak percaya dan ingin tidak percaya. Namun, kedalaman hati seseorang sulit diukur dan diterka dasarnya,” jawab Rempak Tujuh.


“Kau memang benar, Rempak. Hati orang siapa yang tahu. Namun, aku tetap percaya, Tirta Gambang telah difitnah oleh seseorang,” tandas Putri Ani. Lalu katanya, “Jika kalian sudah menduga kuat siapa pelakunya, seharusnya kalian membebaskan keluarga Paman Aduh Mantang dan para prajuritnya dari penjara.”


“Aku berencana membebaskan mereka besok pagi, Gusti Putri. Aku harus menunggu waktu yang baik,” kata Rempak Tujuh.


“Aku beri tahu kepadamu sebagai data tambahan penting. Aku dua kali diserang. Pertama oleh enam orang pembunuh. Empat orang kami bunuh dan dua orang berhasil kabur. Serangan kedua oleh satu orang pembunuh yang kami bunuh. Penyerang terakhirlah yang mengaku bahwa dia diperintah oleh adikku,” tutur Putri Ani.


“Terima kasih atas pemberitahuan Gusti Putri,” ucap Rempak Tujuh sembari menjura hormat.


“Aku tahu kau sangat menjunjung tinggi hukum Kerajaan Pasir Langit. Jangan sampai aku mendengar pengaduan tentang penghukuman yang melampaui batas, Rempak,” kata Putri Ani setengah mengancam.


“Baik, Gusti Putri,” ucap Rempak Tujuh tanpa bantahan.


Putri Ani Saraswani lalu berbalik dan melangkah ke luar. Rincing Kila mengikuti tanpa mengambil kembali dua pedang yang dia serahkan kepada Rempak Tujuh.


Putri Ani Saraswani kembali menaiki kudanya. Demikian pula halnya Rincing Kila. Mereka menuju ke Wisma Keputrian, tapi lewat di depan Wisma Kementerian Keuangan. Di belakang mereka, Pasukan Pengaman Putri tetap setia mengikuti. Ketika kuda berhenti, mereka pun ikut berhenti.


“Di mana Gusti Menteri?” tanya Putri Ani kepada dua orang wanita berpakaian pendekar warna biru gelap yang berjaga di depan wisma selain prajurit Istana biasa. Uniknya, kedua wanita yang rambutnya diikat sederhana itu memanggul besi tebal berbentuk jangkar di bahu kiri, dengan rantai panjang yang melilit di pinggang dan bahu kanan.


Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila mengenal kedua wanita berusia kisaran kepala empatan itu. Mereka adalah anggota Empat Jangkar Maut. Semua anggota Empat Jangkar Maut adalah wanita berusia setara.


“Ada di dalam, Gusti,” jawab salah satu dari mereka tanpa berinisiatif pergi untuk memanggil karena memang tidak ada perintah itu. Putri Ani hanya bertanya.


“Benar, Gusti,” jawab wanita pendekar tersebut.


Dari dalam wisma muncul Menteri Badaragi yang dikawal oleh Ronda Galo. Ternyata di belakang sang menteri ada pula dua wanita lain berperawakan sama dengan dua wanita di depan wisma.


“Paman, apakah kau baik-baik saja?” tanya Putri Ani yang memang sangat akrab dengan sang menteri.


“Hamba baik-baik saja, Gusti Putri,” jawab Badaragi sembari tersenyum.


“Satu orang pembunuh menyerang di kediaman Paman, tapi berhasil kami gagalkan atas bantuan Joko Tenang,” ujar Putri Ani.


“Apa?!” kejut Badaragi. Lalu tanyanya cepat, “Bagaimana dengan putriku?”


“Aman,” jawab Putri Ani menenangkan.


Legalah Badaragi mendengar itu.


“Gusti Putri bersama Joko?” tanya Badaragi karena menemukan satu keganjilan.


“Benar. Dia yang menyelamatkan aku dua kali dari kematian,” jawab Putri Ani.

__ADS_1


“Aku permisi, Paman,” ucap Putri Ani lalu menggebah kudanya.


“Iya, Gusti!” sahut Badaragi telat, karena kuda sang putri telah berlari lebih dulu.


Setibanya di depan Wisma Keputrian, ternyata di teras wisma telah ada Prabu Galang Digdaya yang berdiri menunggu. Sepertinya kepulangan sang putri telah dilaporkan kepada sang raja.


Melihat keberadaan ayahnya, berubah mengeraslah raut muka Putri Ani Saraswani. Wajah itu menjadi dingin dan beku.


“Hormatku, Gusti Prabu,” ucap Putri Ani setibanya di depan ayahandanya. Tidak ada senyum sedikit pun pada wajahnya.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” ucap Rincing Kila, Komandan Ati Urat dan pasukannya sembari turun berlutut dan para prajurit bersujud.


“Bangkitlah!” perintah Prabu Galang.


Maka sang putri kembali tegak dan yang lainnya bangkit berdiri.


“Bubarkan pasukanmu, Komandan!” perintah Putri Ani tanpa memandang kepada sang komandan.


“Baik, Gusti,” ucap Komandan Ati Urat.


“Apakah kau baik-baik saja, Nak?” tanya Prabu Galang kepada Putri Ani, menunjukkan kekhawatirannya.


“Gusti Prabu tidak usah mencemaskanku seperti Gusti Prabu tidak peduli dengan cinta dan perasaanku,” kata Putri Ani. Meski nadanya datar, tetapi menyindir ayahnya.


“Kenapa kau masih mengenang lelaki yang bersalah?” tanya Prabu Galang bernada tidak suka.


“Yang salah adalah ayahnya, bukan Kakang Agi Lodya!” Putri Ani mulai meninggikan suaranya, mendebat sang raja.


“Gusti Putri, tolong jaga sikap,” ucap Rincing Kila mengingatkan junjungannya.


“Terima kasih karena Gusti Prabu telah datang untuk melihat kondisiku,” ucap Putri Ani kembali merendahkan suaranya.


Memang, bagaimanapun juga, selain sebagai ayahnya, lelaki gagah itu juga adalah raja Kerajaan Pasir Langit.


“Ibundamu sangat mengkhawatirkanmu, Nak,” ujar Prabu Galang Digdaya.


“Gusti Prabu berdusta. Jika Ibunda mengkhawatirkanku, dia pasti datang ke sini. Gusti Prabu pasti telah menutupi apa yang terjadi dari Ibunda Permaisuri. Jika tidak ada hal penting, izinkan aku beristirahat. Aku perlu ketenangan setelah dua kali orang suruhan adikku ingin membunuhku,” kata Putri Ani.


Melebar lingkar mata Prabu Galang Digdaya mendegar kata “dua kali”.


“Namun, aku percaya bahwa adikku telah difitnah oleh seseorang,” tandas Putri Ani. “Aku mohon izin, Gusti Prabu.”


Setelah menghormat, Putri Ani melangkah pergi meninggalkan ayahnya yang tetap berdiri diam. Entah apa yang dipikirkan oleh pria bertubuh kekar itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2