
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Drap drap drap...!
Satu pasukan prajurit berlari dalam barisan. Jumlah mereka sebanyak dua puluh empat orang. Prajurit terdepan dan paling belakang membawa obor di tangan kirinya. Cahaya obor membuat warna seragam mereka terlihat, yaitu kuning-cokelat. Mereka semua bersenjatakan pedang yang sudah dihunus.
Ternyata pasukan itu diiringi oleh seorang prajurit berkuda. Dari pencahayaan obor yang temaram, bisa dikenali tampang prajurit berkuda tersebut. Wajahnya sudah populer sepopuler namanya, yaitu Brabean, wakilnya Komandan Rambut Awut.
Pasukan itu berhenti di jalanan depan rumah Nangita, salah satu dari Trio Istri Pelaut. Sesuai arahan dari pemimpinnya, pasukan itu bergerak memecah dan berlari ke dua arah, lalu bertemu kembali dengan posisi sudah mengepung sebuah rumah. Yang dikepung bukanlah rumah Nangita, tetapi rumah sewa yang posisinya berseberangan jalan, yaitu rumah sewa yang ditinggali oleh Joko Tenang.
Sementara itu, rumah tampak hening. Ada cahaya dian di dalam rumah, tapi sangat temaram.
Dua orang prajurit naik ke teras rumah sewa.
Bdak!
Serentak keduanya menendang pintu dengan tenaga sapi. Pintu terbuka paksa. Ruangan kosong terpampang. Keduanya segera masuk dan bergerak ke tirai nomor satu yang merupakan tirai pintu kamar.
Salah satu membuka tirai dengan ujung pedangnya, tapi badan agak ke samping posisinya. Dia mengintip. Zonk. Tidak ada pemandangan syur atau adegan panas. Pemuda berbibir merah pun tidak mereka temukan.
“Kosong, Wakil Kepala!” teriak salah satu dari prajurit itu, setelah memastikan hanya mereka berdua yang ada di dalam rumah sewa itu.
Tak!
“Akk!” jerit satu orang prajurit yang mengepung di luar rumah. Dia langsung memegangi jidatnya yang dihantam sesuatu.
Seketika semua prajurit memandang kepada rekannya itu dengan perasaan tegang.
“Wakil Kepala! Jidatku berdarah! Jidatku berdaraaah! Aaakk...!” teriak si prajurit panik setelah melihat tangannya berlumur darah. Ujung-ujungnya dia berteriak histeris seolah-olah sudah sakratul maut.
Setelah itu, para prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota mencari-cari ke area sekitar sosok pelaku pelemparan sesuatu kepada rekan mereka.
__ADS_1
“Wuaaah!” teriak beberapa prajurit kompak saat mereka memandang ke satu arah.
Semuanya seketika berekspresi ketakutan dan tubuhnya gemetar. Dua orang prajurit menunjuk ke arah jauh yang membuat Brabean dan pasukannya beralih memandang ke satu arah.
“Wuaaah!” pekik Brabean dan pasukannya terkejut pula, benar-benar terkejut.
Sesuatu yang mereka saksikan adalah sinar merah menyilaukan di kejauhan. Namun, sinar merah itu berwujud macan besar yang berdiri menyeramkan, seolah-olah siap berlari ke arah mereka.
Penampakan itu berhasil membuat Brabean dan pasukannya gemetar.
“La-la-lariii!” teriak Brabean jadi tergagap, padahal dia tidak punya niat untuk gagap.
Dia lebih dulu menggebah kudanya untuk kabur, meninggalkan pasukannya yang kemudian lari tunggang langgang dengan barisan yang berantakan.
Tidak butuh sampai sepuluh kali memites kutu di kepala, rumah sewa itu kini telah sepi dan sunyi. Suara bisik-bisik di kediaman Nangita pun tidak terdengar. Rupanya Nangita dan pelayannya diam-diam mengintip dari dalam rumahnya untuk melihat suara gaduh di rumah sewa.
“Kenapa pasukan itu kabur seperti melihat setan?” tanya Nangita berbisik kepada pelayannya, mereka sama-sama bertelanjang bahu dan saling menempel lengan dan sisi kepala, memperebutkan lubang. Maksudnya lubang di dinding papan rumah.
“Jangan-jangan ... Joko Tenang itu setan,” bisik pelayannya.
Tidak ada yang menjawab tanda tanya dan dugaan di dalam otak Nangita dan pelayannya. Dari posisi di dalam rumah itu, mereka memang tidak bisa melihat keberadaan makhluk sinar merah menyilaukan mata karena banyak pepohonan yang menghalangi pandangan.
Namun, makhluk sinar itu telah hilang dan tidak ada sinar yang menyala lagi.
Ternyata, kemunculan makhluk sinar itu juga disaksikan oleh dua anak manusia yang bersembunyi cukup jauh dari rumah sewa. Mereka berdua juga melihat pergerakan Pasukan Keamanan Ibu Kota yang dipimpin oleh Brabean.
Kedua orang itu tidak lain adalah Putri Ani Saraswani dan Kalawit, pendekar tukang intip yang diandalkan oleh sang putri. Namun, Putri Ani dan Kalawit tidak berbicara sekata pun.
Tidak berapa lama, dari dalam kegelapan, tempat tadi munculnya makhluk sinar berwujud macan, berjalan sosok gagah berambut panjang lurus sepunggung menuju ke rumah sewa. Sosok itu tidak lain adalah Joko Tenang.
“Joko,” ucap Putri Ani Saraswani lirih tapi hatinya sumringah. Mimpi yang membuatnya mendadak rindu untuk bertemu Joko Tenang, menuntutnya untuk pergi ke tempat itu, terlebih kondisi Wisma Keputrian tidak kondusif.
Baru saja Putri Ani ingin berlari menuju kepada Joko Tenang, tiba-tiba ada suara yang akrab di pendengaran berasal dari kejauhan.
__ADS_1
Drap drap drap...!
Dari kejauhan terdengar lagi suara lari banyak kaki, seperti suara lari satu pasukan prajurit. Apakah Pasukan Keamanan Ibu Kota pimpinan Brabean kembali lagi dengan nyali yang baru? Jangan dijawab!
Suara lari itu membuat Joko Tenang berhenti di depan tangga rumah sewanya. Nangina dan pelayannya di dalam rumah seberang jalan jadi tegang lagi. Mereka juga bisa menerka apa yang datang.
Tidak berapa lama, satu pasukan prajurit berseragam cokelat-cokelat muncul mendekat. Jumlah mereka lebih banyak dari pasukan pimpinan Brabean sebelumnya, yakni empat puluh orang. Ada tiga prajurit berkuda yang memimpin. Ada enam prajurit yang membawa obor.
Pasukan bersenjata tombak panjang dan bertameng tinggi itu tidak lain adalah Pasukan Kaki Gunung, elemen utama dari pasukan yang dimiliki oleh Kerajaan Pasir Langit.
Sama seperti yang dilakukan oleh pasukan sebelumnya, pasukan itu langsung memecah diri melakukan pengepungan terhadap Joko Tenang dan rumah sewanya. Sementara ketiga prajurit berkuda berdiri di depan Joko Tenang yang tetap tenang.
Meski sudah pernah bertemu dengan prajurit Pasukan Kaki Gunung, tetapi Joko Tenang belum pernah bertemu dengan ketiga prajurit berkuda itu. Sesuai kata pepatah “belum kenal maka tidak ada senyum gratis untukmu”, ketiga prajurit berkuda itu tidak memberi senyum sedikit pun. Demikian pula Joko Tenang, dia tidak mau senyumnya mubazir untuk sesama jenis.
“Gusti, prajurit itu bertindak kurang ajar,” kata Kalawit berbisik kepada Putri Ani, tetapi pastinya jaga jarak bibir dari sang putri.
“Biarkan, aku ingin tahu alasan pasukan itu ingin meringkus Joko,” kata Putri Ani tanpa beralih pandangannya dari Joko Tenang.
Terjadi perdebatan antara Joko Tenang dan ketiga prajurit berkuda yang dengan angkuh duduk tinggi di kudanya. Sementara Pasukan Kaki Gunung telah memposisikan tombaknya siap tusuk dan tameng begitu rapat membentuk pagar setinggi dada.
“Menyerahlah, Kisanak. Kau ditahan!” kata salah satu prajurit berkuda yang bernama Bagi Taweng. Dia berkedudukan sebagai Prajurit Wira, pangkat keprajuritan dalam Pasukan Kaki Gunung di bawah pangkat komandan.
“Apa salahku? Aku datang hanya untuk berdagang. Dan aku adalah pelanggan Gusti Menteri Keuangan,” tanya Joko Tenang.
“Kau orang asing yang sangat mencurigakan. Kau harus ditahan!” tandas Bagi Taweng.
“Jika hanya berdasarkan kecurigaan aku disalahkan, aku juga bisa mencurigai kalian bahwa kalian telah melanggar perintah. Batas waktuku untuk meninggalkan Ibu Kota adalah besok pagi, tapi kalian sudah menyergapku sebelum pagi,” kata Joko Tenang.
Terbeliak Bagi Taweng dan kedua rekannya mendengar perkataan Joko Tenang itu.
“Siapa yang memberi perintah kepada kalian?” tanya Joko Tenang yang menyudutkan pemimpin pasukan itu.
Memang, penyergapan dini hari itu mereka lakukan karena kedengkian Brabean selaku orang nomor dua dalam keamanan Ibu Kota. Meski dia tidak bisa melawan Joko Tenang, tetapi dia merasa memiliki pasukan yang bisa digunakan untuk membuat Joko Tenang tahu rasa. Karena provokasinya itulah Pasukah Kaki Gunung jadi ikut terlibat untuk mempersulit Joko Tenang. Jadi, penyergapan itu bukan perintah langsung dari garis komando Pasukan Kaki Gunung.
__ADS_1
“Kau tidak perlu tahu!” bentak Bagi Taweng. Lalu perintahnya kepada pasukannya, “Ringkus orang ini!” (RH)