Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)* 


Pertarungan di gerbang barat Ibu Kota yang menelan banyak korban di pihak Pasukan Keamanan Ibu Kota dan Pasukan Kaki Gunung, menjadi cerita menggemparkan. Bukan hanya cerita di kalangan militer Kerajaan Pasir Langit, tetapi juga cerita memprihatinkan di kalangan pejabat Istana dan warga Ibu Kota.


Nama baik Pasukan Kaki Gunung terasa tercoreng karena mereka kalah di tangan satu orang pendekar.


Nama Reksa Dipa yang berjuluk Pendekar Serat Darah segera ditetapkan sebagai buronan kerajaan kelas atas. Nama dan julukannya segera disebar ke seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Pasir Langit.


Sama halnya dengan majikannya, yaitu Joko Tenang. Dia juga menjadi buronan kelas atas yang nantinya akan naik menjadi buronan nomor satu, lebih mahal dari buronan pembunuh dua orang menteri kerajaan.


Rincing Kila datang memasuki Wisma Keputrian yang dijaga ketat oleh Pasukan Pengaman Putri dan kini ditambah puluhan Pasukan Kaki Gunung. Penambahan pasukan di Wisma Keputrian jelas merupakan perintah Prabu Galang Digdaya.


“Gusti Putri!” panggil Rincing Kila kepada Putri Ani yang berbaring meringkuk membelakanginya.


Namun, Putri Ani bergeming. Dia diam dan tubuhnya masih erat memeluk guling yang sekeras gedebog pisang. Apakah dia tidur? Jangan dijawab!


Rincing Kila tahu bahwa Putri Ani tidak tidur. Terlihat dari jari jempol kakinya yang sesekali bergerak. Atau Putri Ani sedang bermimpi sehingga jempol kakinya bergerak. Ah, tidak mungkin, ini sudah senja, bukan waktunya bermimpi. Itu pikir Rincing Kila.


“Gusti Putri!” panggil Rincing Kila dengan naik satu oktaf lagi.


Benar dugaan Rincing Kila, sang putri tidak tidur, buktinya tangannya bergerak menutup telinga. Itu gestur bahwa Putri Ani tidak mau mendengar suara pengawalnya itu.


Memang, Putri Ani sedang marah kepada Rincing Kila karena kesalahan informasinya yang menyatakan bahwa Joko Tenang belum beristri. Melihat tingkah junjungannya yang menurutnya seperti anak kecil, Rincing Kila hanya mengurut dada.


“Aku membawa kabar yang berkaitan dengan Joko Tenang,” kata Rincing Kila lagi.


Mendengar itu, kepala Putri Ani langsung berputar, menengok kepada pengawalnya itu. Wajah itu tampak sembab. Meski kering, tetapi kentara sekali bekas air mata yang pernah membanjir di wajah itu.


Meski tidak bertanya, tapi pergerakan wajah itu sudah menyimbolkan pertanyaan.


“Pasukan Keamanan Ibu Kota dan Pasukan Kaki Gunung dikalahkan oleh seorang pendekar bernama Pendekar Serat Darah,” kata Rincing Kila.

__ADS_1


Mendengar itu, Putri Ani yang tetap cantik di kala wajahnya sembab, mengembalikan wajahnya membelakangi Rincing Kila.


“Pendekar itu mengaku anak buah Joko Tenang,” lanjut Rincing Kila.


Agak melebar lingkar mata Putri Ani mendengar itu, tetapi dia tidak menengok kepada pengawalnya.


“Karena itulah dia ingin ditangkap oleh pasukan yang berujung kematian banyak prajurit,” tambah Rincing Kila.


Namun, Rincing Kila melihat Putri Ani bergeming. Melihat sang putri tidak bereaksi lagi, Rincing Kila memutuskan berbalik untuk pergi.


“Rincing Kila, pergilah ke Hutan Malam Abadi, cari tahu tentang Joko Tenang!” perintah Putri Ani tanpa mengubah posisi tubuhnya.


Rincing Kila segera berbalik lagi menghadap kepada sang putri.


“Baik, Gusti,” ucap Rincing Kila.


“Pastikan informasi yang kau kumpulkan tidak salah lagi!” tekan sang putri.


Putri Ani tidak menjawab lagi. Rincing Kila pun tidak menunggu. Dia segera pergi, meninggalkan putrinya yang sedang meratapi nasib cintanya dan kini pikirannya semakin berkecamuk.


Setelah kepergian pengawalnya, Putri Ani Saraswani tiba-tiba bangkit. Dia beranjak dan masuk ke ruangan yang lebih dalam.


Putri Ani masuk ke sebuah ruangan yang memiliki pintu pengaman yang berlapis. Ternyata ruangan itu adalah ruang mandi yang menyatu dengan ruang ganti, di mana terdapat banyak pakaian indah milik sang putri.


Singkat cerita dan waktu, Putri Ani telah tampil segar dengan pakaian ala-ala pendekar berwarna putih dan jingga, seindah warna telur asin dibelah. Perhiasannya dikurangi sehingga yang tersisa hanya giwang dan cincin. Selain itu, Putri Ani juga mengambil sebuah pedang bagus berwarna merah kemerah-merahan dan membawa sebuntal kain yang berisi pakaian dan kepeng. Sepertinya Putri Ani ingin pergi.


Putri Ani membuka sebuah pintu rahasia yang ada di dinding di balik rak pakaiannya. Dia pun hilang masuk ke dalam lorong gelap setelah menutup kembali pintu rahasianya.


Sementara itu, di Aula Kegarangan, Prabu Galang Digdaya sedang melakukan pertemuan darurat dengan para pejabat militernya.


Hadir dalam pertemuan itu, di antaranya: Mahapatih Olo Kadita, Panglima Istana Banta Ufuk, Komandan Pasukan Pengaman Putri Ati Urat, Panglima Pasukan Kaki Gunung Batin Sadar, Senopati Kampala, Kepala Pasukan Keamanan Ibu Kota Komandan Rambut Awut, Laksamana Dudung Kulo, dan perwakilan para pendekar yang mengamankan para pejabat menteri. Pertemuan itu cukup ramai.

__ADS_1


Khusus Senopati Kampala dan Laksamana Dudung Kulo, mereka baru sampai di Ibu Kota siang itu. Kedua pemimpin militer yang membawahi pasukan besar itu memang jarang berada di Istana, mereka memiliki markas besar sendiri. Ibaratnya, Senopati Kampala menguasai pasukan angkatan darat dan Laksamana Dudung Kulo menguasai pasukan angkatan laut.


“Untuk hari ini, hanya kekacauan di batas barat Ibu Kota yang memakan korban dari pasukan itu. Selebihnya hanya perlawanan para pendekar yang marah karena merasa terganggu dengan pembersihan yang kita lakukan, Gusti Prabu,” lapor Komandan Rambut Awut.


“Jadi pendekar sakti itu mengaku sebagai anak buah Joko Tenang?” tanya Prabu Galang untuk lebih meyakinkan dirinya.


“Menurut laporan anak buah hamba demikian, Gusti. Jadi kedatangannya ke Ibu Kota semata-mata untuk menemui junjungannya yang bernama Joko Tenang, yang katanya tamu Gusti Menteri Badaragi. Gusti Putri juga memerintahkan kami untuk menangkap Joko Tenang hidup-hidup,” kata Komandan Rambut Awut.


“Jadi, Joko Tenang sudah benar-benar meninggalkan Ibu Kota?” tanya Prabu Galang kembali ingin memastikan.


“Setelah menghajar pasukanku yang menyergapnya di rumah sewanya tadi malam, Joko Tenang pergi bersama Gusti Putri dan menghilang, Gusti Prabu,” kata Panglima Batin Sadar.


“Terakhir, Joko Tenang muncul di Rumah Makan Muara Jerit dari dalam sungai. Kondisi mereka basah kuyup. Menurut prajuritku yang berjaga di Rumah Makan Muara Jerit, Joko Tenang tiba-tiba menghilang dan Gusti Putri dalam kondisi menangis,” tambah Komandan Rambut Awut pula.


“Menangis?” sebut ulang Prabu Galang terkejut dan heran.


“Mohon ampun, Gusti,” ucap Komandan Ati Urat minta izin untuk bicara pula. “Saat pulang di waktu subuh, kondisi Gusti Putri sangat berbeda. Gusti terlihat sangat sedih. Selama hari ini Gusti Putri tidak pernah keluar dari Wisma Keputrian. Makanan yang dibawakan pagi dan siang oleh pelayan, tidak dimakannya.”


“Kurang ajar!” maki Prabu Galang marah sambil memukul tangan kursinya yang tidak bersalah. “Beraninya Joko Tenang itu berbuat tidak senonoh kepada putriku!”


Terkejut para perwira militer itu mendengar perkataan raja mereka yang seolah-olah sudah menjadi kesimpulan. Jika benar Putri Ani telah dianu-anu oleh Joko Tenang, tentu itu akan menjadi musibah dan aib besar, karena mereka tahu keteguhan cinta sang putri terhadap mendiang kekasihnya. Jika benar Putri Ani telah ternoda, mereka sangat yakin bahwa Joko Tenang telah memperkosa sang putri tadi malam. Itu kira-kira analisa dadakan di dalam kepala mereka.


“Mahapatih, pimpin pertemuan ini. Nanti laporkan semuanya!” perintah Prabu Galang Digdaya sambil bangun berdiri.


“Baik, Gusti,” ucap Mahapatih Olo Kadita.


Dengan wajah yang menunjukkan memendam amarah, Prabu Galang Digdaya pergi meninggalkan aula pertemuan itu. Kedua pendekar pengawalnya mengikuti di belakang.


Singkat cerita.


Prabu Galang Digdaya ternyata pergi ke Wisma Keputrian. Tidak ada yang menghalanginya untuk masuk ke Wisma Keputrian. Namun, sang prabu harus kecewa karena di sana tidak ada Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila.

__ADS_1


Maka murkalah Prabu Galang mendapati kondisi itu. Habislah para prajurit jaga dari Pasukan Pengaman Putri karena mereka tidak tahu ke mana hilangnya sang putri. Mereka hanya melaporkan tentang kepegian Rincing Kila. (RH)


__ADS_2