Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Di sebuah sungai kecil, tepatnya di atas sebongkah batu besar di tengah-tengah sungai, duduk bersila Panglima Untut. Dia mengenakan pakaian biasa seperti nelayan desa. Pangkal kayu kailnya dia duduki dengan senar lurus masuk ke dalam air yang cukup dalam bagi anak kecil. Jika tangannya tidak memegangi kail, lalu kedua tangannya sedang apa? Jangan dijawab!


Kedua tangannya sedang menguliti buah pisang. Ada satu tandan pisang matang di sisi kanannya. Itu makanan kesukaannya. Panglima Untut makan pisang dengan tertib, tidak lupa memerhatikan kebersihan. Buktinya kulit pisang yang dimakannya tidak berserakan. Sehabis makan, kulitnya dia buang ke air yang mengalir.


Sementara di arah hulu, ada sejumlah lelaki buto dan setengah bugil sedang mandi sekaligus bermain air. Para lelaki yang jumlahnya belasan itu adalah para prajurit Pasukan Kaki Gunung yang sedang tidak bertugas.


Mereka asik bersenda gurau, tertawa-tawa dan berteriak-teriak seperti simpanse di hutan, wujud dari kegembiraan mereka, meski sedang berada di perbatasan timur dan jauh dari orangtua, istri dan anak.


Panglima Untut terkejut ketika melihat ada limbah manusia mengambang mengalir dengan santai dan tenang di dekat tali pancingnya, tapi itu membuat sang panglima gusar.


“Woi, Monyet Kudis!” teriak Panglima Untut keras sambil memandang dan menunjuk ke arah belasan prajuritnya.


Belasan prajurit itu terkejut diteriaki oleh Panglima Untut. Mereka kompak berhenti bergurau dan menjadi tegang.


“Siapa yang berak sembarangan di sana, hah?!” bentak Panglima Untut. “Nanti tahi kalian dimakan oleh ikan yang aku pancing, lalu dimakan oleh aku!”


“Hahaha!” tawa para prajurit yang telanjang itu.


“Siapa yang suruh tertawa, hah?!” bentak Panglima Untut yang membuat mereka sontak kembali terdiam, bahkan ada yang berdiri buto tanpa malu belum sunat.


“Gusti Panglimaaa!” teriak seorang prajurit berseragam cokelat-cokelat dari pinggir sungai.


Panglima Untut dan para prajurit yang sedang mandi berpaling melihat kepada prajurit itu.


 “Kenapa?!” tanya Panglima Untut membentak, membuat si prajurit tercekat.


Namun, prajurit itu tetap harus menyampaikan kabar penting yang dia bawa.


“Ada pasukan menuju ke sini, Panglimaaa!” jawab si prajurit pembawa pesan dengan berteriak.


“Tidak usah teriak, Monyet! Aku tidak tuli!” bentak Panglima Untut. “Kau bilang apa tadi?”


“Ada pasukan menuju ke sini,” lapor si prajurit datar.


“Tidak kedengaran, Monyet!” teriak Panglima Untut lagi yang ujungnya makian.


“Aaadaaa, paaasuuukaaan, meeenuuujuuu, ke siiiniii!” sahut si prajurit slow motion seperti bicara kepada orang tuli atau orang bego.


“Hahaha!” tawa para prajurit di hulu.


“Apa?!” pekik Panglima Untut terkejut.


“Ada pasukan menuju ke sini, Gusti Panglimaaa!” teriak si prajurit kesal.


“Aku sudah dengar, Monyet!” bentak Panglima Untut.


Tiba-tiba Panglima Untut melompat langsung jauh ke pinggir sungai, meninggalkan kail dan pisangnya. Padahal tali kailnya sedang bergerak-gerak ditarik ikan.

__ADS_1


Panglima Untut mendarat di dekat si prajurit.


“Minggir!” bentak Panglima Untut sambil mendorong bahu si prajurit, membuat anak buahnya terdorong jatuh ke sungai.


“Hahaha...!” tawa belasan prjurit yang sedang mandi.


“Kalian, siap-siap!” perintah Panglima Untut kepada para anak buahnya itu.


Panglima Untut lalu berkelebat pergi. Dia menuju ke atas sebuah bukit.


Di atas bukit itu sudah ada beberapa prajurit dari Pasukan Kaki Gunung. Saat panglima mereka datang, mereka menjura hormat. Ada satu bendera cokelat berbentuk segitiga berkibar di atas tiang kayu. Itu bukan bendera tanda segitiga pengaman, tetapi itu bendera Pasukan Kaki Gunung yang terkenal.


Dari sana mereka memandang jauh ke sebuah jalan yang diapit oleh kebun jagung dan kebun labu. Yang Panglima Untut saksikan adalah satu pasukan besar yang dipimpin oleh seekor gajah.


“Itu jelas bendera Kerajaan Sanggana Kecil. Tapi pasukan apa itu? Monyet Kutuan!” ucap Panglima Untut yang berbuntut makian. Lalu perintahnya, “Kirim pesan ke Istana bahwa pasukan Kerajaan Sanggana Kecil menyerang perbatasan timur!”


“Baik, Gusti Panglima!” ucap salah satu prajurit, lalu segera berbalik pergi.


“Beri tanda perang!” perintah Panglima Untut.


“Baik, Gusti Panglima,” ucap satu prajurit patuh.


Prajurit itu lalu berbalik pergi mengambil sesuatu di gubuk kecil yang ada di tempat itu. Sesuatu itu adalah terompet tanduk.


Fot! Fot fot! Fooot...!


Fot! Fot fot! Fooot...!


Prajurit tadi kembali meniup terompet tanduknya dengan nada yang sama.


Para prajurit Pasukan Kaki Gunung yang tersebar di daerah itu segera bergerak ke basis pertahanan utama perbatasan timur. Baik yang sedang bertugas ataupun yang sedang free, mereka segera berlari buru-buru.


Para prajurit yang sedang mandi di sungai segera naik dan memakai seragam mereka dengan lengkap. Yang sedang makan segera meninggalkan makanannya tanpa acara minum lagi, rela seret demi panggilan Ibu Pertiwi.


Para komandan pasukan memobilisasi pasukannya menuju ke garis pertahanan timur. Tempat itu adalah sebuah pinggiran lembah di kaki sebuah bukit. Tidak ada bangunan benteng.


Drap drap drap...!


Seiring berjalannya waktu, kaki bukit telah dipenuhi oleh ribuan prajurit-prajurit berseragam cokelat-cokelat dengan penuh perlengkapan perlindungan dari kulit. Sebagian besar pasukan bersenjatakan tombak panjang dengan pedang di tangan dan tameng besar setinggi dada.


Ada pula pasukan panah yang ditempatkan di tanah tinggi di sisi kanan. Ratusan pasukan panah itu menghadap ke arah jalan yang diblokir oleh sekitar empat ribu pasukan yang membentuk pagar berlapis-lapis.


Drak drak drak...!


Dari kejauhan terdengar suara berisik peraduan benda keras yang begitu ramai. Sumber suara itu masih terhalang oleh hamparan pepohonan di lembah.


Drak drak drak...!


Suara bising itu kian lama kian keras terdengar yang menunjukkan kian mendekat posisinya. Dan tidak lama kemudian, muncullah seekor gajah yang didandani seperti mau ikut karnaval. Sang gajah bahkan memiliki helm pelindung kepala. Kedua gading panjangnya berhias untaian rantai sebagai pemanis. Tubuhnya dilapisi kain tebal warna biru terang berumbai-rumbai benang emas.

__ADS_1


Panglima Untut dan ribuan pasukannya terkejut. Mereka terkejut bukan karena norak melihat gajah, tetapi terkejut melihat orang yang menunggangi gajah. Penunggangnya lelaki yang sangat besar dan mukanya berwarna biru, yaitu Panglima Raksasa Biru.


Di belakang gajah muncul sepuluh kuda yang dua penunggangnya membawa bendera Kerajaan Sanggana Kecil dan panji Pasukan Gajah Besi.


Setelah itu, barulah terlihat pasukan pejalan kaki yang terlihat seperti pasukan kura-kura monster. Kemunculan mereka dengan otomatis membuat mereka bisa melihat barikade Pasukan Kaki Gunung di kaki bukit.


Hingga akhirnya, tiga ribu Pasukan Gajah Besi terlihat, cukup memberi efek gentar bagi personel Pasukan Kaki Gunung. Pasalnya, jika Pasukan Kaki Gunung mengenakan pelindung dari kulit tebal, Pasukan Gajah Besi mengenakan pelindung dari besi, ditambah perawakan para prajuritnya yang bikin minder.


Melihat ada atmosfer kegentaran di barisan pasukannya, Panglima Untut segera berteriak.


“Kita Pasukan Kaki Gunung yang tidak terkalahkan, bukan Pasukan Kaki Gajah! Jangan pernah takut, Monyeeet!” teriak Panglima Untut yang dikalangan prajuritnya dijuluki Panglima Buntut Monyet. Itu karena namanya “Untut” dan sering menyebuti prajuritnya “Monyet”.


Akhirnya Pasukan Gajah Besi mendekat dan berhenti dalam jarak di luar jangkauan panah.


“Akkrrr!” teriak Panglima Raksasa Biru menggelegar sambil mengangkat kepal tangan kanannya tinggi-tinggi sehingga bulu ketiaknya yang tandus tidak terlihat.


“Eeeaaakkkrrr!” teriak garang seluruh prajurit Pasukan Gajah Besi sambil mengangkat kepal tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan model rambut ketiaknya masing-masing dan menebarkan aroma penyemangat perang, yang mereka sebut “Aroma Gajah Perang”.


“Akkrrr!” teriak Panglima Raksasa Biru lagi dengan gaya yang sama.


“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!” teriak Pasukan Gajah Besi semakin beringas dan liar.


Pasukan Kaki Gunung terbeliak melihat gaya Pasukan Gajah Besi yang seperti orang kesurupan. Mendengar teriakan mereka, hewan-hewan melata, serangga-serangga hingga burung-burung jadi sawan.


Jadi, posisi Pasukan Gajah Besi jauh lebih rendah dibanding pasukan Kerajaan Pasir Langit. Untuk sampai ke posisi Pasukan Kaki Gunung, Pasukan Gajah Besi harus agak mendaki.


Panglima Raksasa Biru memberi kode tangan agar ada yang maju.


Seorang prajurit berkuda segera menggebah kudanya berlari maju seorang diri.


Prajurit berkuda berhenti di depan Pasukan Kaki Gunung dan masuk dalam jarak jangkauan panah.


“Pasukan Gajah Besi Kerajaan Sanggana Kecil ingin menuju ibu kota Digdaya. Biarkan kami lewat atau kehancuran bagi kalian!” teriak si prajurit berbadan tinggi besar dan berotot bulat-bulat.


“Monyeeet! Panah!” teriak Panglima Untut tanpa sopan-sopannya kepada utusan.


Set set set!


Tiga prajurit panah dalam barisan pasukan panah di sisi samping, melepaskan anak panah kepada prajurit utusan. Namun, dengan mudahnya prajurit itu menangkis ketiga panah menggunakan besi pelindung tubuhnya.


Melihat itu, murkalah Panglima Raksasa Biru dan pasukannya.


“Hancurkaaan!” teriak Panglima Raksasa Biru lantang membahana.


“Seraaang!” teriak para komandan pembawa panji-panji Pasukan Gajah Besi.


“Eeeaaakkkrrr!” teriak para prajurit Pasukan Gajah Besi menyeramkan, sambil serentak bergerak maju dengan berlari dan berlompatan dengan sangat cepat.


Terbeliak terkejut Pasukan Kaki Gunung melihat pergerakan para prajurit musuh yang tidak diduga-duga. (RH) 

__ADS_1


__ADS_2