
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Bdruakk bdruakk bdruakk...!
Hantaman bersusulan puluhan prajurit bercangkang besi terhadap benteng perisai membuat barisan pertama dan kedua Pasukan Kaki Gunung goyah.
Sebagian prajurit di barisan depan tidak kuat menahan hantaman di perisai-perisai mereka, membuat mereka terdorong dan benteng perisai terbongkar. Bukan hanya benteng perisai terbongkar, tetapi mereka juga berjatuhan.
Melihat ada sisi benteng perisai pasukan musuh yang terbongkar, prajurit yang terbang menyusul memilih menjatuhkan tubuhnya ke titik itu, membuat barisan depan Pasukan Kaki Gunung kian berantakan.
Banyak dari prajurit Gajah Besi, yang usai menghantam benteng perisai, mereka menggelinding mundur. Namun, mereka kembali berlari maju seperti banteng kesurupan.
“Eeeaaakkkrrr!” teriak seorang prajurit Gajah Besi menunjukkan wajah garang sambil mendatangi benteng perisai.
Tuk tuk!
Dua tombak panjang menusuk dada dan perut prajurit itu, menahan laju larinya.
“Huwwakkrr!” Seperti manusa primitif yang tidak mengenal bahasa, prajurit itu hanya berteriak mendelik. Bukan karena kesakitan ditusuk dua tombak, tetapi untuk meledek dua prajurit pemilik tombak yang bersembunyi di balik perisainya.
Dia meledek karena dua tombak runcing itu tidak melukai kulit dada dan perutnya.
Tak! Tap!
Tiba-tiba prajurit Gajah Besi itu menghantamkan kedua tinjunya ke kedua batang tombak sehingga patah. Yang patah tombaknya, bukan tangannya. Semoga tidak salah paham.
Aksi itu dilanjutkan majunya si prajurit dan mencengkeram sisi atas perisai salah satu prajurit lawan dan menariknya dengan kuat.
Prajurit pemilik perisai tidak kuat bertahan, sehingga dia tertarik maju. Setelah itu, prajurit Kaki Gunung mendapat serangan tinju bertombak bertubi-tubi.
“Akk! Akk!” jerit prajurit Kaki Gunung berulang, ketika mata tombak di tinju lawan menembus pakaian lapis kulitnya berkali-kali.
Celah yang terbuka di benteng perisai segera diburu oleh para prajurit Gajah Besi dengan datang berlari dan berlompatan.
Brakr! Brakr! Brakr!
Ada pula para prajurit Gajah Besi yang menghantamkan cangkang besinya ke perisai yang melindungi kepala. Hasilnya, prajurit pemilik perisai jatuh terduduk karena tidak kuat menahan daya hantaman itu.
Sementara para prajurit Gajah Besi yang menghantam jatuh berguling ke belakang barisan kedua dan ke depan barisan ketiga yang belum bergerak. Mereka menunggu perintah sang panglima.
Namun, dengan jatuhnya prajurit musuh ke depan barisan mereka, dan jumlah prajurit itu hanya beberapa, sejumlah prajurit Kaki Gunung baris tiga berinisiatif maju menyerang dengan menusukkan tombaknya.
Prajurit kekar itu berlari mundur dengan cepat, menjaga jarak dari lima mata tombak yang mengincar badan depannya.
__ADS_1
Saat punggungnya mendekati punggung barisan kedua Pasukan Kaki Gunung, prajurit Gajah Besi itu tiba-tiba melompat dengan pose seperti kodok mengudara, membuat lima tombak lewat di bawahnya dan menusuk punggung dua prajurit di barisan kedua.
Tsuk tsuk!
“Aaak! Akk!” jerit dua prajurit Kaki Gunung di barisan dua yang sedang fokus bertahan menghadapi bombardir manusia cangkang.
Tsuk tsuk!
“Aakk! Akh!”
Sementara prajurit Gajah besi yang melompat seperti kodok terbang, menghantamkan kedua tinju bertombaknya ke wajah dua prajurit yang menyerangnya.
“Weaaakkkrrr!”
Berbeda dengan rekannya yang sama-sama mendarat di ruang antara barisan dua dan tiga Pasukan Kaki Gunung. Dia mendapat tusukan lima mata tombak di badan depannya.
Sambil mengencangkan seluruh otot dada dan perut, prajurit itu melangkah mundur karena di dorong lima mata tombak yang rapat, tapi tidak melukainya. Ingat, prajurit Gajah Besi kebal badan depannya.
Srekk! Ctar!
Prajurit itu akhirnya menahan dorongan dengan sepatu besi menahan di tanah. Seiring itu, dia mengadu kedua tinjunya di atas batang-batang tombak.
Satu ledakan nyaring yang disertai percikan sinar putih menyilaukan terjadi, membuat kelima prajurit pemilik tombak refleks pejamkan mata. Ternyata ledakan singkat itu menghancurkan batang tombak sehingga berpatahan beberapa bagian.
Kondisi kelima lawannya yang memejamkan mata, membuat si prajurit Gajah Besi langsung mengamuk menusukkan tombak di tinju besinya berulang-ulang.
Melihat benteng perisai barisan pasukannya jebol dan bisa dihancurkan, Panglima Untut murka dan segera ambil keputusan.
“Bubarkan barisan benteng perisai! Lawan musuuuh!” teriak Panglima Untut.
Maka barisan satu dan dua Pasukan Kaki Gunung segera membongkar benteng perisainya dan beralih jadi balas menyerang. Akhirnya, terciptalah pertempuran satu prajurit lawan satu prajurit atau dua prajurit lawan satu prajurit.
“Barisan tiga dan empat formasi Badak Berduri! Barisan lima dan enam pasang panah tombak!” teriak Panglima Untung.
“Siap!” sahut Pasukan Kaki Gunung serentak pada barisan tiga sampai enam.
Barisan tiga dan empat segera membubarkan barisan. Mereka menciptakan kelompok-kelompok membuat formasi seperti binatang mamalia besar menggunakan perisai yang dirapatkan. Tombak-tombak menjadi duri-duri raksasanya. Itulah formasi Badak Berduri.
Jumlah badak-badakan yang dibuat cukup banyak.
Sementara pasukan barisan lima dan enam memasang alat-alat panah besar yang anak panahnya adalah tombak. Itu semua dipersiapkan lebih dulu karena pertempuran masih berlangsung di depan.
Satu per satu prajurit dari Pasukan Kaki Gunung bertumbangan. Sulit bagi mereka untuk membunuh prajurit Pasukan Gajah Besi yang kebal dan berpelindung besi.
Di sisi lain, pasukan panah bertewasan di tanah tinggi. Mayat pasukan panah sengaja ditumpuk menggunung agar dilihat pasukan yang menutup jalan kaki bukit. Tujuannya untuk menjatuhkan mental Pasukan Kaki Gunung.
__ADS_1
“Munduuur!” teriak komandan pasukan panah demi menyelamatkan sisa pasukannya.
Maka pasukan panah yang belum mati cepat mundur menyelamatkan nyawa.
“Jangan mundur, Monyeeet!” teriak Panglima Untut gusar mendengar komando anak buahnya.
“Kita tidak akan menang, Panglimaaa!” teriak komandan panah tersebut dari tempat yang sudah cukup jauh.
Pasukan Gajah Besi yang menyerang pasukan panah di tanah tinggi, beralih terjun ke dalam pertempuran di jalanan.
Sementara itu, enam ratus prajurit Pasukan Gajah Besi gelombang kedua sudah bersiap-siap.
Ada sejumlah prajurit yang membawa wadah besar, berisi kendi-kendi kecil bertutup. Mereka berjalan di depan semua prajurit. Prajurit yang didatangi akan mengambil satu kendi.
Ketika keenam ratus prajurit sudah memegang kendinya masing-masing, maka komandan pasukan yang berpangkat perwiratama, segera berteriak memberi perintah.
“Pasukan Gajah Besi Panji Empat, Lima, Enam, majuuu!” teriak perwiratama yang bernama Gonggong Sewa sambil menunjuk ke depan.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!” teriak enam ratus prajurit itu sambil berlari ramai-ramai.
Ada pula sejumlah prajruit itu melompat jauh ke depan, mendahului rekan-rekannya di depan. Memang, tidak ada perintah untuk teratur dalam lari, yang penting mereka semua sampai ke medan perang.
Tidak ada lagi formasi tumpukan cangkang besi sebagai landasan untuk melompat, semua sudah bergabung dalam pertempuran.
Tujuan dari pasukan gelombang kedua adalah menyerbu formasi Badak Berduri dan pasukan lapis berikutnya. Karenanya, pasukan itu berlari terus melewati pertempuran di depan yang hampir habis karena prajurit Pasukan Kaki Gunung mau habis.
Melihat Pasukan Gajah Besi gelombang kedua telah berdatangan, Panglima Untut pun memeri perintah.
“Tombak Badaaak!” teriak Panglima Untut teruntuk pasukan formasi Badak Berduri.
Set set set...!
Tsuk! Tsuk! Tsuk!
“Akk! Akk! Aaak!” jerit lima prajurit Gajah Besi dengan tubuh terlempar mundur dan di perutnya ada tombak bersinar hijau menancap.
Sebelumnya, dari dalam setiap formasi Badak Berduri berlesatan tombak bersinar hijau. Satu Badak Berduri melesatkan satu tombak bersinar menyambut serbuan Pasukan Gajah Besi gelombang kedua.
Ada lebih dua puluh tombak bersinar hijau yang melesat. Sebanyak lima prajurit Gajah Besi tidak sempat menghindar, sementara yang lainnya menghindar.
Ternyata, tombak bersinar itu mempan terhadap ilmu kebal prajurit Gajah Besi, sehingga mereka yang terkena harus tewas.
Pasukan formasi Badak Berduri ternyata hanya memiliki satu peluang untuk menembakkan tombak sinar hijau, karena pergerakan pasukan musuh sangat cepat. Tahu-tahu pasukan bercangkang sudah mendekati para Badak Berduri.
Di sisi lain, Perwiratama Gonggong Sewa pergi mengincar Panglima Untut. Tujuannya adalah memenggal kepala ular, agar pasukannya tidak perlu membunuh ribuan prajurit pasukan Kerajaan Pasir Langit. (RH)
__ADS_1