
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Rincing Kila yang seharusnya menuju ke Hutan Malam Abadi, kini telah berdiri di depan Gerbang Naga, menunggu izin masuk dari dalam Istana yang sangat besar dan panjang tembok bentengnya.
Rincing Kila tidak pernah sampai ke Kadipaten Hutan Malam Abadi karena dia mengikuti petunjuk, yang dia dapat selama perjalanannya di dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil.
“Gusti Perwira, apakah Gusti mengenal Joko Tenang?” tanya Rincing Kila ketika sudah mendapat izin masuk di Gerbang Perbatasan Utara. Dia bertanya langsung kepada pemimpin Pasukan Penjaga Perbatasan di sana, yaitu Perwiratama Ubuk To Lo Na.
“Aku baru mendengar nama itu,” jawab Ubuk To Lo Na. “Yang aku kenal hanya pendekar yang bernama Joko Tingkir, Jagoan Kadipaten Hutan Malam Abadi.”
“Joko Tenang penguasa Hutan Malam Abadi. Dia pengusaha kayu yang menjual kayu ke negeri-negeri lain, termasuk ke Kerajaan Pasir Langit.” Rincing Kila kian memperjelas.
“Penguasa Hutan Malam Abadi adalah Gusti Adipati Babat Seta, atau Gusti Prabu Dira,” kata Ubuk To Lo Na. “Mungkin kau salah kabar atau kau telah dibohongi oleh seseorang.”
“Baiklah, Gusti. Aku akan langsung ke Hutan Malam Abadi,” kata Rincing Kila.
“Mampirlah ke kediaman Adipati Siluman Merah di Kadipaten Jalur Bukit. Pengetahuannya lebih lengkap tentang orang-orang ternama di Kerajaan Sanggana Kecil. Jika kau sampai di Hutan Malam Abadi, jangan sampai kau bertemu dengan orang yang bernama Joko Tingkir, nanti kau bisa terpikat. Hahaha!” ujar Ubuk To Lo Na yang berujung seloroh.
“Joko Tingkir itu berbibir merah?” tanya Rincing Kila untuk yang terakhir kalinya.
“Tidak. Joko Tingkir itu lelaki, bukan perempuan. Hahaha!” jawab sang perwiratama lalu tertawa lagi.
Untuk sampai di Kadipaten Hutan Malam Abadi, seseorang harus melewati Kadipaten Jalur Bukit lebih dulu jika dia masuk ke Sanggana Kecil lewat Gerbang Perbatasan Utara.
Ternyata, ketika lewat di Kadipaten Jalur Bukit, Rincing Kila mengikuti saran Perwiratama Ubuk To Lo Na. Dia memberanikan diri mampir ke kediaman Adipati Siluman Merah.
“Oh, Joko Tenang? Hahaha!” tawa adipati bertubuh tinggi tapi gendut itu, setelah mendengar Rincing Kila mengutarakan maksudnya, yaitu menanyakan tentang Joko Tenang. “Apakah kau tergila-gila dengan Joko Tenang, Nak?”
“Bukan aku, tapi junjunganku, Putri Kerajaan Pasir Langit,” jawab Rincing Kila.
“Oooh. Ya ya ya. Aku pernah mendengar bahwa putri Prabu Galang Digdaya sangat cantik jelita. Kalau disandingkan dengan Joko Tenang, sangat serasi, seperti langit dan langit,” kata adipati berkulit bersih tersebut.
“Jadi, Gusti Adipati mengenal Joko Tenang?” tanya Rincing Kila.
“Sangat kenal. Seorang yang sangat baik. Aku dulu adalah musuhnya, tetapi lihat sekarang, aku justru diberi kekuasaan dan derajat tinggi sebagai seoarang adipati,” jawab Adipati Siluman Merah. Jangan tanya kenapa namanya Siluman Merah, padahal kulitnya justru putih bersih. Dia pun saat itu tidak berbaju merah.
“Jadi benar Joko Tenang itu penguasa Hutan Malam Abadi?” tanya Rincing Kila.
__ADS_1
“Benar. Namun, jika kau mau bertemu dengan Gusti Joko Tenang di Kadipaten Hutan Malam Abadi, kau tidak akan bertemu, karena dia tidak ada di sana, tetapi ada di Istana,” kata Siluman Merah.
“Di Istana?” ucap Rincing Kila heran.
“Aku tanya kau lebih dulu, Nak Rincing. Apakah Joko Tenang yang kau cari itu seorang lelaki berbibir merah alami?” tanya sang adipati.
“Benar, Gusti.”
“Pergilah ke Istana dan menghadaplah kepada Gusti Prabu Dira. Joko Tenang yang kau cari itu tidak lain adalah nama kependekaran Gusti Prabu Dira. Bukan hanya penguasa Hutan Malam Abadi, tetapi penguasa Kerajaan Sanggana Kecil,” tandas Adipai Siluman Merah.
Meong!
Laksana tanpa sengaja menginjak ekor kucing garong yang sedang tidur di tengah jalan, sangat terkejut perasaan Rincing Kila. Dia ternganga dengan mata mendelik, seperti cewek Korea jika sedang kaget, butuh durasi loading untuk mencerna apa yang baru saja didengarnya.
“Maksud Gusti Adipati, Joko Tenang itu adalah Gusti Prabu Dira yang memiliki banyak istri itu?” tanya Rincing Kila lagi seolah-olah tidak percaya. Rupanya dia tahu siapa Prabu Dira.
“Hahaha...!” tawa kencang Adipati Siluman Merah, membuat Rincing Kila berharap sedang dikibuli. “Ya. Gusti Prabu memiliki dua ratu dan sembilan permaisuri, bukan selir. Total ada sebelas istri. Satu ratu di Kerajaan Sanggana Kecil dan satu ratu di Kerajaan Balilitan.”
Rincing Kila tidak berkedip memandang wajah Adipati Siluman Merah mendengar kenyataan itu, sampai-sampai sang adipati jadi kurang nyaman karena ditatapi terus, khawatir gadis cantik itu justru jatuh hati kepadanya yang sudah menuju tua.
“Jadi, Joko Tenang itu adalah Gusti Prabu Dira,” ucapnya ulang, kali ini pandangannya mengedar tanpa titik fokus, seperti orang yang melamun aktif, tubuhnya bergerak tapi pikirannya sedang kerja pabrik ke mana-mana.
Meski tidak tersangkut dengan perkara cintanya, Rincing Kila merasa teraduk-aduk perasaan dan pikirannya seperti tempoyak. Demi kebaikan junjungannya dan agar tidak salah informasi lagi, Rincing Kila bertekad membuktikan sendiri kebenaran informasi yang diungkap oleh Adipati Siluman Merah.
Maka, setelah berjuang di dalam perjalanan, kini Rincing Kila sudah berdiri di depan pintu Gerbang Naga. Permohonannya sudah masuk ke dalam Istana, tinggal menunggu izin masuk saja. Dalam masa menunggu itu, jantung Rincing Kila berdebar-debar. Padahal dia harus menunggu selama durasi pengurusan satu jenazah manusia.
Setelah berjemur di bawah terik matahari, akhirnya ada prajurit Istana yang datang kepada Rincing Kila.
“Nisanak Rincing Kila?” sebut si prajurit, seperti suster memanggil nama pasien yang mengantri.
“Benar,” jawab Rincing Kila, seketika jantung berdebarnya lenyap, berubah menjadi kegembiraan, karena prajurit yang menjemputnya bertanya berhias senyum. Mungkin karena Rincing Kila seorang gadis yang cantik.
Seorang tamu tidak boleh menunggang kuda di dalam lingkungan Istana, jadi Rincing Kila harus menuntung kudanya. Ada dua prajurit yang mengawalnya.
Setelah sebelumnya terpukau melihat keindahan, kerapian dan kemegahan ibu kota Sanggara, kini Rincing Kila dibuat takjub oleh kemegahan dan keindahan arsitektur Istana Sanggana Kecil, yang memiliki banyak bangunan-bangunan berbeda dengan warna dan model sendiri-sendiri, bahkan ada bangunan yang diselimuti oleh gumpulan asap merah yang bergulung-gulung.
Bangunan-bangunan itu tidak lain adalah istana-istana para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil.
Rincing Kila dibawa ke wisma peristirahatan. Karena dia tamu wanita, maka ada empat pelayan yang disediakan untuk melayaninya selama masa tunggu.
__ADS_1
Ternyata butuh hari berganti ketika seorang prajurit penjemput datang kepada Rincing Kila.
“Gusti Mahapatih Batik Mida bersedia menerima Nisanak,” kata prajurit penjemput tersebut.
Rincing Kila patuh. Dia ikut menghadap Mahapatih Batik Mida yang sudah pulang dari Kerajaan Pasir Langit beberapa hari lalu.
“Apakah kau seorang utusan Raja Kerajaan Pasir Langit atau utusan seorang pejabat Kerajaan Pasir Langit?” tanya Mahapatih setelah Rincing Kila menjura hormat di hadapannya, di sebuah ruangan yang memang adalah tempat kerjanya.
“Hamba pengawal Putri Ani Saraswani, Gusti Mahapatih,” jawab Rincing Kila.
“Sampaikan tujuanmu, Rincing!” perintah Mahapatih Batik Mida.
“Hamba ingin bertemu dengan Joko Tenang, Gusti,” ujar Rincing Kila.
Agak terbeliak Mahapatih Batik Mida mendengar nama “Joko Tenang” disebut.
“Apakah kau tahu bahwa niatanmu itu termasuk lancang, Rincing?” tanya Batik Mida agak keras.
Terkejut Rincing Kila mendengar perkataan sang mahapatih. Dia buru-buru turun bersujud sebagai tanda menyesal, seolah-olah dia sedang bersalah di depan Prabu Galang Digdaya.
“Ampuni hamba, Gusti. Hamba tidak mengerti apa kesalahan hamba. Hamba hanya ingin mencari kebenaran,” kata Rincing Kila.
“Bangunlah. Kau tamu di sini,” kata Batik Mida.
Rincing Kila pun bangun dengan wajah yang berkeringat, padahal suhu di ruangan itu sejuk. Jangan ditanya, apakah ruangan itu pakai AC atau kipas angin air embun atau tidak!
“Apakah kau tahu nama siapa yang kau sebut itu?” tanya Batik Mida.
Dag dig duglah jantung Rincing Kila. Dia takut jawabannya akan dianggap lancang lagi. Ia pun akhirnya memutuskan menjawab sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Adipati Siluman Merah.
“Nama pendekar dari Gusti Prabu Dira, Gusti,” jawab Rincing Kila ngeri-ngeri pahit.
“Jika kau tahu, mengapa menyebut nama Joko Tenang di dalam Istana?” hardik Batik Mida.
“Ampuni hamba, Gusti Mahapatih,” ucap Rincing Kila.
“Kau diampuni. Kau adalah tamu kami,” kata Batik Mida. “Gusti Prabu sedang tidak ada di Istana. Apakah kau ingin bertemu dengan Gusti Ratu? Aku bisa mengajukan permohonanmu jika kau mau.”
Terdiamlah Rincing Kila mendengar itu. Dia jadi bingung. (RH)
__ADS_1